Categories
Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

[cerpen] Tidak Berkah

 

“Pasar Dramaga”, Aku baca nama sebuah pasar didekat kampusku yang kabarnya dua hari yang lalu sempat terjadi kebakaran ini. Ramai tetap pasar terlihat, terdengar dari jauh suara ribuan manusia saling bertransaksi atau sekedar melihat-lihat barang pasar.

Aku melewati dan menyusurinya. Tempat dimana katanya bertemunya penjual dan pembeli. “Nak, ini harganya berapa?” tanya nenek dengan suara yang sudah terbata-bata

Aku melihat seorang nenek yang sedang sibuk menawar harga tas baru. Sejenak aku mendekat dan mengamati apa yang dilakukan nenek tua itu.

Dengan cukup keropotan melayani banyaknya pembeli, penjual menjawab: “kalau itu, harganya… 100 ribu, Nek”.

“90 lah, Nak!!” dengan memelas nenek itu memohon.

“Tidak bisa Nek, itu dah dari sononya,” ucap penjual.

“Ya sudahlah turunkan jadi 95 ya..” rayu penjual sambil tersenyum simpul dipipinya.

“Baiklah Nak,”  kata nenek sembari menyodorkan uang pecahan seratus ribu kelihatannya.

“Waduh, sebentar nek, saya carikan kembaliannya dulu.”

Lelaki itu tiba-tiba berjalan ke belakang mencari uang kembaliannya.

Ditengah agak lamanya lelaki itu menghilang, tiba-tiba sang nenek mengambil satu tas lagi kemudian memberikan kepada seorang anak yang tiba-tiba datang meraih tas bergambar tokoh fim Naruto itu. Aku lihat sang anak hanya diam tanpa memberikan sepatah katapun dan dengan cepatnya meninggalkan dan menghilang dari kerumunan orang begitu saja.

Sesaat kemudian baliklah lelaki penjual tas dengan membawa pecahan uang yang ditunggu sang nenek.

“Ini Nek. Terimakasih ya,”

“Sama-sama nak”.

Dengan cepat sang nenek menghilang ditengah lautan manusia.

Aku yang penasaran dengan sengaja menemui sang penjual. Seperti ada kecurigaan dalam benak saya. Apakah harga tas seperti ini seharga 100ribu. Pikir saya dalam hati.

“Ada apa Mas, mau beli yang mana?” tiba tiba penjual itu bertanya.

“OUHH… mau tanya yang ini Mas, tas anak-anak ini berapa harganya, keliatannya bagus?” pura ku mencoba bertanya.

“Ou, buat adek Mas ya, itu harganya 50ribu saja mas”. Jawabnya.

Dalam hati saya kaget, whaat.

“Bukannya tadi Mas menawarkan tas yang sama ke nenek itu dengan harga 100?” heran saya.

“Oww… hehe, saya liat dia udah tua mas, pasti gak ngerti harga sebenarnya. Ya.. mas tau lah strategi pemasaran”, dengan tenang dan sedikit tertawa sinis ia menjawab. Seperti tidak merasa bersalah saja pikirku.

Aneh memang sekarang orang seperti tidak malu ketika bersalah. Seakan sudah menjadi hal biasa. Padahal dia juga dicurangi oleh nenek itu, tapi gak tahu.

“Ah… sama saja,” kata ku dalam hati. Aku tinggalkan penjual tadi .

Aku foto muka penjual tadi sejenak, kemudian ku tinggalkan tempat yang mengerikan itu. Aku lanjutkan perjalanan, orang-orang yang berlalu lalang. Seperti dikejar-kejar oleh waktu saja orang-orang dalam pasar ini. Mereka datang jam empat pagi, kemudian pulang pada sore hari. “Semoga saja mereka tidak meninggalkan kewajiban yang lima waktu tersebut.” Pikir ku  dalam hati.

Dengan tenang aku berjalan ditengah kerumunan sibuknya orang pasar, sambil tersenyum – senyum saja. Tidak ada satu pun orang yang menyapaku. Tidak seperti didesa sana. Mungkin mereka sudah mengerti siapa aku, bahwa aku bukan orang yang benar-benar ada nyata disana. Tapi hanya pengamat saja yang tak layak untuk disapa. Hehe tawaku dalam hati.

Beres dari pasar, aku melanjutkan kewajibanku sebagai mahasiswa. Jadwal sore itu adalah mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian. Saya ingat benar dosen pengampunya. Dr. Pambudi, dosen terbaik se-fakultas pertanian tahun lalu.

“Hei,” tiba-tiba suara merdu wanita memanggilku.

kubalikkan badan dan kulihat wajah Rora, teman sekelasku. “hay juga, PIP Bukan?” tanyaku padanya.

“Yap.. ayo masuk,” jawabnya

“Ayo,” jawabku dengan santai. PIP merupakan kependekan dari Pengantar Ilmu Pertanian. Biasalah. Di kampus ini segala sesuatu digunakan singkatan-singkatan.

Kuliah berlangsung seperti biasanya. Kali ini aku duduk paling belakang. Sejenak mengamati kesibukan para teman-teman dalam kelas.

Rora, teman yang tadi sempat tak sengaja berpapasan aku lihat langsung memasang headset dalam jilbabnya. Aku lihat dia memainkan tab seharga 15 jutanya itu dibawah meja. Kata temen-temen dia anak orang kaya memang.

Roy, sahabat se-daerahku ini aku lihat sedang mengantuk dan tertidur pulas di belakang. Seperti tidak ada waktu saja untuk beristirahat, tukas ku dalam hati.

Berbeda lagi dengan Andi. Mahasiswa yang terkenal sotoi ini malah meminjam HP Rora satunya kemudian dibuat main games Plant Vs Zombie. Mainan mahasiswa pertanian. Haha gile tu orang.

“Sepertinya anak-anak gak ada yang dengerin, San”. Bisik Anto dari sebelah kananku tiba-tiba.

“Ah.. masa..” jawabku tidak percaya.”Tu yang di depan,”, sambil ku arahkan telunjuk tangan kepada beberapa temen yang ada didepan.

“Bukan, mereka gak lagi nulis. Mereka lagi ngegambar. Kamu kan tahu hari ini tugas menggambar mata kuliah Hama Gudang harus di kumpulkan”, jawab Anto dengan gaya mencoba meyakinkan ku.

Sejenak aku gak percaya, tapi saya urungkan untuk mendebat anto. Dalam hati, nanti saja aku lihat apa yang mereka lakukan.

Usai kuliah aku dekati temen-temen yang tadi duduk didepan. Henik, Angga, Giga, Surya, Faiz, Nina, dan Nana. aku lihat mereka terburu-buru keluar. Aku lihat mereka menenteng buku gambar seperti buku gambar punyaku semester dulu. Maklum aku sudah mengambil mata kuliah itu kemaren.

Pikirku, aku harus menemui Anto.

“Antooo… “ ku panggil anto dari kejauhan. Terlihat dia membalikkan badan dan melihat kearahku sembari mengernyitkan dahi seakan tidak percaya aku yang manggil.

“Tadi aku lihat Henik dan kawan-kawan, merekaa….”.

“Sudah lah…..” potong anto menyela. “Benarkan?” tanya anto dengan kepedean.

Aku terdiam sejenak. Tak lama kemudian anto mengajakku duduk sebentar.

“Ayo duduk di tempat itu, San,”

Akuu iyakan permintaan teman ku satu ini. Aku duduk dibawah pepohonan palem. Suasana sore hari disertai sayup-sayup angin semriwing sore membuat kami tertenang sejenak. Setelah aku merasa tenang, Anto terlihat mulai membuka pembicaraan.

“Dahulu aku punya HP seharga 6 juta, San. Namun karena barang itu juga, aku terlena. Nilaiku hancur di semester tiga. Setiap kuliah, aku selalu main games, sengaja menunjukkan kepada temen-temen bahwa saya bisa punya barang bagus. Dari hape pula aku gak pernah belajar agama dengan guru langsung, jamannya internet San. padahal dulu sebelum ada HP aku sering datang ke musholla untuk mendengar tausyiyah ustadzku. Bahkan sekarang aku gak tau kabar beliau sekarang. Dari HP pula aku selalu tertidur ketika dikelas. Dari HP pula aku melupakan lingkungan sekitar, aku lebih sering chatingan dengan orang diluar sana dibandingkan dengan orang yang nyata ada disekitar ku. Aku foto segala kejadian-kejadian disekitarku. Bahkan ketika ada kebakaran pasar kemaren, aku foto kejadian itu dan aku posting sebagai DP BBM dan media sosial lainnya. Aku bahkan berlaga seperti wartawan saja. Aku sama sekali tak tergerak membantu memadamkannya.

Aku berpikir, sepertinya barang ini tak memberi kebaikan. Tak berpikir lama-lama, aku jual kembali barang itu. Sekarang aku berprinsip, jika suatu saat nanti aku punya barang apapun, Laptop, HP, Sepatu, Tas, TV, Rumah, dan lainnya,  bahkan ‘waktu’ sekalipun, jika tidak menjadikan aku lebih baik dibanding ketika aku nggak punya. Lebih baik aku jual saja barang itu. Meski aku beli barang itu dengan jelas-jelas uang halal punyaku sendiri, juga sekarang, aku manfaatkan anugerah pemberian Tuhan berupa waktu ini sebaik-baiknya.”

“Begitu, ya”, tanyaku terheran-heran.

“Tidak berkah San”, ucapnya

“Berarti kalo kita gak gunain waktu sebaik-baiknya, lebih baik kita mati dong, To”, jawabku dengan sedikit melebarkan mulut.

“Harusnya sih begitu San, hehehe,” ucap Anto sembari memperlihatkan lesung pipinya.

Cirebon, 25 Juli 2015

(Hasan Brissy, mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB 49)

Leave a Reply

Your email address will not be published.