Categories
Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

[cerpen] Sampai Kapan?

Aku tak kuasa mendobrak kebiasaan lama. Kebiasaan biadab yang sudah menjadi hal biasa dalam jam’iyyah pemerintahan negeri ini. Korupsi ada di mana-mana, grativikasi ada di semua ada. Aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri. Malahan bisa aku pastikan besok-besoknya aku bisa lagi menjadi saksi.

Aku berdosa. Sungguh berdosa besar. Meski aku gak ikut menjadi aktor dalam skenario ini. Tapi aku tahu dan mengerti bahwa ini bukan perbuatan baik. bukankah orang yang membiarkan maling beraksi juga bisa dikatakan maling.

Aku orang lemah. Sungguh orang yang sangat lemah. Bukankah selemah-selamhnya iman adalah orang yang gak mampu menolak kebatilan dengan tangan dan lisannya.

“Ya Allahhh”…”ya Allah…..”, Ya Allah…”. aku menangis siang itu sendiri. Aku mundur menyendiri dalam kamar mandi kantor. Tak mampu aku perlihatkan sikapku ini didepan kawan sejawat kerja di pemerintahan. aku berjanji dalam hati suatu saat nanti akan menunjukkan sikap ketidak setujuanku bukan dengan tangisan, tapi dengan lisan dan tindakan. Karena hanya anak kecil saja yang menggunakan senjata tangisan untuk menolak ketidak adilan.

“Tapi kapan?” tanyaku menderu dalam hati. Tapi kapan aku bisa dengan terang membantah mereka. Untuk bicara saja aku gak mampu. Rasa takut dan sungkan menyelimuti diriku ini. Padahal rakyat secara terbuka telah mengangkatku menjadi wakilnya disini.

Aku masih saja mendengar perkataan busuk orang-orang pejabat diluar sana. Transaksi menjual negara terjadi lagi. Orang bersalah dibenarkan dan orang yang benar-benar benar disalahkan. Kekuasaan dibeli beberapa orang dan rakyat digadaikan. Aku lebih sering menghindar dan sembunyi dari pada tetap menyaksikan kedhaliman berjamaah ini. Aku tak mau menjadi bagian dari mereka. Tapi aku tahu, aku berkewajiban menolak itu. Aku adalah perwakilan masyarakat. “Tapi kapan!!!!, tapi kapan aku bisa dengan berani membantah, menindak, dan melaporkan mereka!!” tanyaku dalam hati. Aku masih saja tidak berani.

Aku ingat setahun lalu, mana kala aku dipaksa oleh teman-teman dan para sahabat serta masyarakat untuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.  Awalnya, aku gak menolak karena dalam diri ini aku tahu, aku bukan lah orang yang benar. tapi aku gak punya alasan untuk menolak permintaan dari warga masyarakat ditengah cerminan sikap anak kecil yang sering sekali diperlihatkan oleh para wakil rakyatnya di dewan terhormat. Memang aku tidak seperti mereka yang menggunakan kekuasaan dan harta untuk kursi singgasana. aku benar-benar diangkat oleh rakyat yang haus akan figur orang baik.

Aku memang mememiliki kelebihan. Kelebihan yang tidak semua orang miliki. Aku sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial di kampung. Sebagian hartaku aku berikan untuk membantu anak-anak yatim sekitar rumahku. Setiap hari aku mengajar anak-anak yang mengaji di musholla tepat sebelah rumahku. aku sering dimintai bantuan orang-orang yang memerlukan bantuan. Kata istriku, aku memang orang yang bisa dipercaya. Itu sebabnya aku menang telak dalam pemilihan DPR awal tahun ini kemarin. Tanpa uang, dan tanpa kekuasaan. Segala puji bagi Allah SWT.

Aku berasal dari keluarga sederhana. Sebuah keluarga di kampung kecil dekat pantai di pantai utara pulau Jawa. Aku anak pertama dari 10 bersaudara. Almarhum bapak saya terkenal sebagai orang yang keras. Dulu aku mengibaratkan bapak seperti geledek yang sedang menyambar membunuh syaraf-syaraf anaknya manakala sedang tersulut amarah. Sebagai anak tertua, akulah yang menjadi sasaran keamarahan bapak.

Didikan orang pesisir mungkin memang selalu keras. Aku seperti dikungkung oleh bapak, bagai dimasukkan kedalam sebuah karung gelap gulita. Beliau galaknya minta ampun. Beliau tak segan-segan memukul anak-anaknya dengan gagang kayu apabila kepergok kami tidak sholat. Tidak hanya itu, kami sering dimarah-marahi gak jelas. Kami di awasi selalu dalam segala tindakan kami. Aku masih ingat dahulu ketika masih berumur 8 tahun, aku dicubit bapak sampai memar gara-gara bapak terganggu ocehanku sendiri. Waktu itu aku berlaga memerankan tokoh pelawak Kirun yang aku idolakan dalam tivi. Memang aku tahu waktu itu bapak sedang tidur kecapean dari kerja. Tapi kan dulu aku masih kecil gak tahu apa-apa. Aku juga pernah di hajar tak ada ampun ketika umur 6 tahun, aku coret-coret tembok putih rumah. padahal aku berimajinasi menggambar sungai indah tempat main anak-anak kampung. Hampir setiap hari, dahulu aku seperti mendapatkan tekanan berat dari almarhum bapakku sendiri. Aku memang seperti dikungkung dalam karung dan digebukin saja. Karakter minder akhirnya menjadi sangat melekat dalam diriku ini.

Aku memang tipikal orang yang tidak banyak bicara. Sedikit sekali aku ngomong. Takut salah mungkin. Semarah apapun bapak, aku gak akan berani membantahnya. Meskipun dalam hati aku merasa tidak fair, karena tidak sepenuhnya aku yang salah.

Dalam perjalan menuju kedewasaan aku mulai merasakan keanehan dalam diriku. Pernah suatu kisah aku salah turun naik bus. Bukan salah sebenarnya, tapi itu karena salahku sendiri. Waktu itu aku naik bus mini pertama kali dalam seumur hidupku. Masa-masa pertama masuk kelas SMP. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh. Kurang lebih sekitar 5 km. Jarak yang lumayan jauh bagi seorang anak seperti ku. Dalam bus aku seharusnya bilang kepada kondektur berhenti di perempatan sekolah, tapi aku gak berani ngomong sama kondekturnya. Lidahku seperti kaku tak bisa digerakkan. Aku terus berpikir dan berpikir dalam hati. Hatiku meronta-ronta meminta lidahku supaya berbicara. Sampai akhirnya aku tertekan sendiri dalam bangku bus mini itu. Hatiku marah dan marah. Hatiku berteriak kerasss sekali “KIRIIIIIIII…….. KIRIIIII PAAKKKKKKKK!!!!!”. Tapi tak seorangpun mendengarnya. Skalilagi lidah ini menciut tak berdaya, tak takut dengan kemarahan hati kecilku. Akhirnya hati ini menangis menderu-deru melihat kecundangan lidah. Mata menjadi korbannya. Mataku tiba-tiba mengeluarkan air dan menetes kelantai dasar membasahi kaki salah seorangg ibu-ibu yang kebetulan duduk disebelahku.

“Kenapa Nak?, tanya ibu itu kepadaku. Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan baik beliau. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan beliau. Namun sesenggukan hidung ini menambah sukarnya lidahku mengeluarkan kata-kata. Hatiku skali lagi memberontak tak bisa dikendalikan. Kelihatannya hatiku semakin marah saja. Mataku semakin deras mengalirkan air mata. Seakan menjadi korban ketidak singkronnya dua organ yang lain itu.

“Mau turun?”, tanya ibu itu sekali lagi. Aku mencoba memerintahkan lidah sekali lagi untuk menjawab pertanyaan beliau dengan sepatah dua patah kata. Namun sekali lagi dia tidak mau. Aku berpikir apa yang bisa aku lakukan untuk menjawab pertanyaan ibu itu yang semakin mendesak. Melihat kemarahan hati yang semakin menjadi-jati, aku perintahkan kepala ini untuk mencari solusi. Akhirnya kepala bisa di ajak kompromi. Kepala aku angguk-anggukan untuk memberikan kode kepada sang ibu.

“Ow… baik ya.. jangan nangis”, ucap sang ibu sambil mengusap mataku yang memerah terbanjiri air mata.

“Pak.. kiri pak” teriak sang ibu.

“Kiri… kiri…., kiri… kiri!!” terdengar kondektur bus sedikit teriak memberikan kode kepada sopir untuk memberhentikan Bus sejenak. Aku seakan seperti orang yang dibuang dari bus kejurang.

Sebelum turun, sang ibu sempat mengatakan hati-hati kepadaku. Sang ibu juga yang membayar jasa angkutan itu untukku. Dalam hati aku ingin menolak kebaikan beliau, namun sepertinya lidah ini perlu belajar banyak untuk sekedar mengucapkan terimakasih kepada ibu itu.

Aku diturunkan lebih jauh dari tempat yang seharusnya. Kurang lebih, lebih jauh satu kilo meter dari tempat tujuan. Hati mengintruksikan kepadaku untuk berjalan saja menuju sekolahan. Otakku juga sepakat dengan hati, sebagai hukuman pada diriku yang tidak mampu mengendalikan lidahku ini. Toh aku juga sudah biasa berjalan dirumah.

Selepas kejadian itu aku sudah tidak berani naik bus lagi. Aku selalu berdalih belum saatnya naik bus, selama lidahku masih belum  bisa dikendalikan. Tapi aku gak pernah menentukan waktu kapan aku akan bisa mengendalikan lidahku ini. Jarak 5 kilo meter aku tempuh dengan jalan kaki. Uang saku pemberian bapak yang seharusnya buat ongkos naik bus aku simpan barangkali ada temen yang bisa aku bantu.

Tahun 1990, ketika aku duduk di kelas VIII SMP. Suasana lebaran menjadi hal yang meriah bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagiku. Hampir semua orang akan datang kerumah ku. Termasuk saudara bapak yang dari jauh. Bapak bilang mereka adalah sodara bapak yang tinggal di Depok. Orang yang sering bapak bilang sebagai pamanku  ini selalu membawa rombongan banyak ketika datang berkunjung kerumahku. Kurang lebih ada 20an orang.

Setiap sekali beliau datang, aku pasti ngumpet. Aku tidak berani memunculkan diriku ini dihadapan mereka. Kendati bapak selalu marah padaku atas sikap ini, tapi masa bodoh saja. Aku merasa lidahku ini masih belum siap untuk berbicara dengan beliau-beliau, apalagi bahasa mereka berbeda. Mereka pakai bahasa seperti yang ada di tivi, padahal dulu aku pernah dimarahin bapak ketika aku ngoceh sendiri menirukan gaya orang ngomong di tivi.

Sebelum mereka datang sampai mengucapkan salam masuk kerumah, saat itu juga aku melompat jendela kamarku dan meninggalkan rumah begitu saja. Aku berpikir supaya bapak tidak menemukanku di rumah dan aku gak akan kena marah. Jika nanti aku ditanya tadi kemana, aku tinggal jawab saja dari rumah mbah untuk halal bihalal.

Tahun 1993, ketika aku baru masuk tingkat SMA, aku juga masih ingat melekat kejadian kepecundanganku. Waktu itu aku sendiri dikelas. Tidak ada siapa-siapa memang. Aku berada sendiri dikelas bersama temanku laki-laki seorang. Aku duduk ditempat dudukku sendiri, tidak beranjak dari kursi kesayanganku didepan. Temanku yang bernama Jojo ini tidak tahu apa yang dilakukan di barisan bangku belakang. Suasana sepi kelas yang diisi hanya berdua, menunjukkan bahwa waktu itu masih dalam jam istirahat.

Tiba-tiba ada sekumpulan orang masuk begitu saja kedalam kelas. Dari wajah-wajahnya terlihat asing sekali bagiku, karena aku memang jarang sekali main ke kelas lain. Dia ternyata tidak mendatangiku, tapi lanjut begitu saja berjalan ke belakangku.

“PLAKKKKK… PLAAAKKK….” Terdengar suara kulit bertemu kulit dari depan. Aku terkagetkan, tapi aku gak punya nyali untuk melihat apa yang terjadi. Kali ini kepalaku yang tak bisa dikendalikan. Dia tak mau diajak untuk menoleh kebelakang.

“BROOKK….., BANG……. BRUKK”, terdengar seperti suara tinjuan yang melayang keperut. Suara seperti orang jatuh tersungkur terdengar begitu keras dari telingaku. Aku kira hanya telinga ini saja yang masih mau diajak kompromi.

Hatiku marah.. marahh besar. Dia meronta-ronta seakan menghukum diri ini yang tak bisa diajak kompromi. Hatiku teriak keraaasss.. keras sekali. Kalau dia bisa bicara, yang paling pertama dia marahi adalah diriku ini, bukan segerombolan orang yang datang tadi. Sesaat kemudian mata ini mulai bereaksi, air mata seperti mau menghujam sudah tidak betah lagi berada dalam diriku ini. Aku tahan sekuat-kuatnya, aku tak ingin air mata ini jatuh sia-sia.

Sesaat kemudian, aku lihat orang-orang ini keluar meninggalkan aku berdua. Dalam penglihatan yang kabur aku melihat mereka merasa puas dengan apa yang mereka lakukan.

Otakku mulai berjalan, dia menganalisis mengapa si Jojo sampai di hajar sama mereka. Aku pernah dengar Jojo pernah punya hutang dengan anak kelas lain. Mungkin ini yang menjadikan Jojo sampai dihakimi mereka karena tidak mampu bayar hutang, pikirku.

Tak terasa, air mata sudah melewati rambut halus mata. Tubuh seakan mulai tidak bisa dikendalikan, seakan begitu marah dengan kepala, kaki, tangan, lidah yang tidak tergerak melihat kejadian itu. Air mata pergi meninggalkan mata begitu saja, jatuh tak berguna kedasar lantai. Hidung mulai membuat tubuhku sesenggukan. Air ludah mulai keluar.

Tinggal hati saja yang masih baik. hatiku mengajakku untuk membantu dan menghalangi orang-orang itu menghajar Jojo. Begitu baiknya hati ini, pikirku. Tapi apa daya seluruh badanku terasa kaku membekku. Aku hanya terdiam saja ditempat duduk kursiku, tak beranjak sedikitpun dari tempat. Hanya hati ini saja yang teriak-teriak memarahi orang-orang itu dan tubuh mungil ku ini. Padahal otakku juga menginstruksikan untuk bergerak melawan orang-orang itu.

Tubuh telah bisa aku gerakkan. Otakku mengintruksikan tubuhku untuk keluar kelas menuju toilet sekolahan. Aku memarahi tubuhku dalam kamar mandi kecil yang aku kunci rapat-rapat. Aku biarkan air mata jatuh semakin deras. Aku memukili kaki, tangan, kepala ku ini yang sedari tadi tak mau mengikuti intruksi hati. Sekali lagi aku menjadi pecundang. Aku basuh wajah tangan kaki dengan air wudhu, semoga mereka nurut dan berani, serta bisa kompromi. Hatiku berucap bahwa suatu saat nanti aku akan melatih diriku ini menjadi berani dan tidak lagi menjadi pecundang.

1994, aku telah duduk di bangku akhir level SMA. Pernah suatu ketika aku menjatuhkan Laptop temanku, Wida. Wida memang orang yang aku kagumi dari kelas satu. Wataknya yang baik, berparas menawan sungguh menarik hati ini untuk segera menyatakan cinta pada nya.

Di waktu siang, tidak sengaja aku jatuhkan Laptop Wida. Aku berusaha mengambil buku disebelah Laptop Wida, namun Laptop tersenggol dan terjatuh kelantai. Tidak ada seorang pun kala itu. Aku bereskan laptop Wida dan mencoba mengecek terjadi kerusakan atau tidaknya. Aku coba menekan tombol power yang tepat disebelah keyboard. Aku gak mampu menghidupkan kembali laptop itu. Kegelisahan mulai muncul. Hatiku semakin was-was dengan apa yang telah aku lakukan. Sekarang giliran keringat yang tak bisa dikendalikan. Air keringat membasahi seluruh tubuhku, seakan marah besar dengan tubuhku. Pikiran terasa panas membara, tak bisa membuat otak pikiran jernih.

Waktu menunjukkan pukul 10.00, suara bel tanda masuk kembali dari jam istirahat telah berbunyi. Aku semakin gelisah tiada tara. Keringat semakin marah dan tidak betah bersemayam dalam tubuhku ini. Sekan memengaruhi otakku saja, pikirku juga tak bisa dikendalikan. Dia mengajakku merapihkan Laptop seperti sedia kala dan mengajak tubuhku keluar menuju kamar mandi. Hatiku mencoba mencegah semua organ tubuhku ini untuk bersedia mengikuti otak. Tapi apa daya, sepertinya aku belum siap untuk mengendalikan semuanya. Dengan mudahnya kaki ini mau mengikuti perintah otak tolol ku ini. Tangan juga, seperti susah sekali dikendalikan oleh sebongkah daging kecil dalam dada ini. Aku membiarkan sekali lagi air mata marah. Dia keluar sebegitu banyak dibanding biasanya. Hatiku semakin marah dengan semuanya. Mulai saat itu, aku berjanji tidak akan sampai mendekati Wida sekali lagi. Semoga hanya doa hati saja yang selalu menyelimuti gadis yang aku kagumi itu, karna hanya hati saja yang layak berdoa untuknya.

Sekali lagi aku merasa belum siap untuk mengendalikan semua organ tubuhku, hanya hati saja yang bisa jernih sejernih air telaga yang tak berdosa. Tapi sampai kapan.

 

Cirebon, 30 Juli 2015

(Hasan Brissy, mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB 49)

Leave a Reply

Your email address will not be published.