Categories
Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

[cerpen] JIHAD

“Nok!!, Nook, Nok”, terdengar seseorang yang sepertinya memanggil seorang gadis.

“Nok!! Nok!!, suara serak-serak basah laki-laki ini tiba-tiba semakin nyaring saja. Ku tahan untuk menoleh kebelakang, aku sedang membawa belanjaan masak yang lumayan banyak. Mungkin orang usil, ku tak mau orang-orang preman kaya kmaren dengan mudah jahil padaku.

Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundakku dari belakang. Kubalikkan badan dan kulihat wajah pak Channan.

“Eh bapak.., maaf pak, hehehe” ucapku sungkan. Aku gak enak karna prasangkaku salah.

“Lagi ngapain pagi-pagi di pasar?” tanya pak Chanan,

“Hehe, belanja pak.” Jawabku dengan senyuman.

“Masak sendiri tah? Tanya beliau sekali lagi dengan logat khas Cirebon.

“Iya pak”, jawabku sambil melihat barang-barang yang ada dimotor beliau.

“Ow.. sendirian tah? Yang lain mana?” Tanya lagi salah imam musholla dekat tempat kontrakanku ini keheranan, sembari menurunkan barang-barang beliau di sebuah tempat seperti Ruko.

“Mau ini gak? Ambil satu bungkus.”

“Itu krupuk apa pak? Tanyaku pada sebuah bungkus plastik yang berisikan semacam kerupuk.

“Kerupuk Jengkol, enak loohh”, sahut pak Chanan mencoba meyakinkanku.

“Eh, nggak pak terimakasih”, ucapku sambil ku letakkan telapak tangan didepan dada .

Aku memang tipikal orang yang gak suka dengan jengkol, karena baunya. Meski sudah berbentuk kerupuk sekalipun tetap saja aku phobia dengan produk pertanian satu ini.

“Bapak, saya duluan ya”. aku tinggalkan beliau di Pasar. Beliau kelihatannya sedang berbelanja kerupuk banyak sekali. Aku lihat ayah dari 4 anak ini menggotong bungkus kerupuk memenuhi bagian kosong motor bermerk supra Fit kehitaman. Dalam hati ku pikir beliau sedang ada persiapan acara, mengingat sekarang memang masih dalam suasana lebaran.

Aku sedang KKN di sebuah desa di Cirebon, tepatnya di desa babakan gebang. Sebuah desa yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Brebes. Cukup jauh memang dengan kota Cirebon, kurang lebih sekitar satu jam perjalanan. Dalam suasana tugas KKN, aku sempatkan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Aku kenal dengan bapak Chanan dari musholla At-Taqwa dekat kontrakan tempat aku tinggal sementara. Lokasi Musholla hanya berjarak 50 meter saja. Beliau ku duga seorang tokoh masyarakat sekitar. Dalam ilmu komunikasi yang aku pelajari di kampus, tokoh masyarakat merupakan stake holder yang merupakan juga Opinion leader yang perlu didekati ketika ada program melakukan pengembangan masyarakat

Aku baru saja balik dari daerah asal, meski dari kecil tinggal di Depok, tapi semua keluarga besarku ada di Sidoarjo Jawa Timur.

Dalam suasana masih lebaran ini, aku sempatkan datang  silaturrahmi ke rumah Pak Chanan, selain kerumah Kuwu (kepala desa). Malam selepas sholat Isya berjamaah, aku sampaikan kepada beliau maksud ku untuk berkunjung halal bihalal dengan keluarga beliau.

Pukul 20.00 waktu setempat, ku langkahkan kakiku bersama temen-temen sekontrakan menuju rumah sederhana beliau. Kami disambut hangat oleh keluarga beliau. Suasana ramai terdengar obrolan santai didepan rumah beliau yang dihiasi jajanan lebaran yang khas. Ku lihat kurang lebih ada 7 orang yang sedang santai didepan rumah ditemani obrolan-obrolan renyah.

“Eh.. jangan ngumpet, sini-sini!!” Perintah pak Chanan seketika setelah beliau melihat kami muncul dari arah gerbang depan rumah.

dengan agak sedikit sungkan, kami bersama melangkahkan kaki dengan pelan mendekati singgasana beliau. Dalam suasana itu, Suara jangkrik dan tonggeret memecah heningnya malam Cirebon. Sahut menyahut bagai suara instrumen musik kekinian.

Ucapan minal ai’idzin wal faidzin kami sampaikan kepada beliau, seraya memohon maaf atas segala kesalahan. Kami langsung dibawakan segelas teh tawar hangat bikinan sang ibu. Dari dalam terlihat anak-anak beliau sedang bermain riang tanpa menghiraukan waktu dinginnya malam.

Setelah kami dipaksa beliau untuk mencicipi jajanan lebaran, tak menunggu lama kemudian, Pak Chanan mulai membuka obrolan.

“Begitu mbak kerjaan saya setiap pagi, menungguin barang itu”. Ucap pak Chanan menjelaskan

Ku ucapkan maaf sekali lagi karena pagi itu aku tidak merasa terpanggil. Ku pikir itu orang-orang jail yang manggil-manggi saja, bukan beliau. Eh.. ternyata pak Chanan.

“Abisnya, dia gak mau dikasih krupuk nya. Enak lo mas, krupuk jengkol”, lanjut bapak berkomentar kepada temen ku Andi.

Aku sedikit menyunggingkan pipiku.

“Bapak jualan kerupuk dari pagi sampai jam berapa pak?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan

“Saya bukan jualan mbak” jawab beliau dengan tenang.

“Saya sedang jihad mbak”, lanjut pak Chanan

“Jihad bagai mana pak” tanya Andi dan riski kepada beliau

“Jika saya meniatkan jualan, kalau saya untukng bisa jadi saya sombong, dan kalau saya rugi saya akan ngedumel”, timpal pak Chanan.

“Nah.. kalau saya niatkan jihad, saya tidak akan seperti itu mbak, kerjaan saya tadi akan selalu bernilai ibadah”, sahut Beliau sekali lagi. “Jihad kan berarti melakukan sesuatu untuk kepentingan Allah, Anak dan Istri saya itu titipan dari Allah yang wajib bagi saya untuk menafkahi. Dengan saya menafkahi mereka berarti saya telah melakukan kegiatan atas kepentingan Allah”, lanjut pak Chanan.

Kami terdiam. Mata dan mulut kami tenang tak bergerak sambil mendengarkan penjelasan beliau.

“Jadi di dunia ini ada tiga rizki mbak, mas,” lanjut pak Chanan.

“Yang pertama adalah rizky otomatis, Rizki yang harus di jemput, dan Rizki yang harus diminta”, hela pak Chanan bercerita.

“Rizky yang otomatis diberikan Allah secara Cuma-Cuma mbak, dan biasanya setiap orang seperti tidak sadar” lanjut beliau

Dalam hati aku menjawab dengan menduga rizki otomatis itu seperti mata dan lainnya.

“Rizky otomatis itu seperti nafas, detak jantung, mata yang melihat, tangan, telinga mendengar, dan lainnya”, lanjut pak Chanan menjelaskan.

Alhamdulillah bener, kataku dalam hati. Aku senyum-senyum sendiri.

“Rizki yang kedua perlu dijemput mbak. Rizki ini adalah rizki seperti riski yang sudah dijatah oleh Allah kepada makhluknya. Yang bisa menjemput Rizki ini adalah manusia, hewan dan tumbuhan. Rizki jenis ini seperti rizki yang saya jemput setiap paginya itu mbak, mas. Jangan bilang rizki yang seperti itu harus dicari. Ngapain dicari, wong Allah sudah menyediakan kok. Seperti hara dalam tanah yang sudah disediakan oleh Allah, tanaman kan hanya menjemput rizki itu, dengan akarnya. Ya gak, kalian kan ada yang dari pertanian?” Sambil menunjukkan jemari telunjuk kepada kami.

“Ya pak”, timpal Andi.

Aku tersenyum sambil kualihkan sejenak pandangan kepada Andi.

“Dan rizki yang terakhir adalah rizki yang harus diminta. Ud uuni Astajib lakum, mintalah kepadaKu pasti akan Aku kabulkan. Ini hanya bisa dilakukan oleh manusia saja”. Senyum beliau.

“Nah, yang saya lakukan tadi pagi itu jihad mbak, jadi jihad itu gak cuman perang mbak, apalagi boom bunuh diri yang dilakukan teroris-terosis itu, bukan jihad itu namanya”.

 

Cirebon, 28 Juli 2015

(Hasan Brissy, mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB 49)

Leave a Reply

Your email address will not be published.