Juvenile Deliquency dan Penanganannya melalui Peer Konseling

Oleh Muhammad Afifuddin AK, awardee Muamalat Scholarship

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)[1], data yang terkumpul dari laporan masyarakat dan pengakuan pelaku tindak kriminalitas yang tertangkap oleh polisi selama tahun 2007 tercatat 3145 remaja berusia kurang dari 18 tahun menjadi pelaku tindak kriminal, sedangkan pada tahun 2008 meningkat menjadi 3280 remaja dan tahun 2009 lebih banyak menjadi  4213 remaja. Ditelaah dari data tersebut, kasus kenakalan remaja yang tercatat mengalami kenaikan setiap tahunnya, sedangkan dari angka tersebut masih banyak kasus kenakalan remaja yang tidak tercatat atau tidak dilaporkan, baik dari pelaku atau dari korban itu sendiri.

Kenakalan remaja adalah penyimpangan perilaku dari norma, peraturan, dam hukum yang terbentuk dalam budaya masyarakat yang dilakukan oleh remaja. Remaja dimulai dari umur 12 tahun sampai 22 tahun, yaitu masa peralihan dari masa anak-anak yang rentan, karena masa pencarian jati diri dan mulai melangkah untuk mempersiapkan masa dewasa. Seperti pernyataan Santrock (2012), bahwa kenakalan remaja adalah kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Kategori kenakalan remaja dapat berupa terjadinya tawuran di lingkungan sekolah, membolos sekolah, pemakaian napza atau obat-obatan terlarang, pencurian, dan penyimpangan perilaku yang melanggar norma budaya dan peraturan hukum lainnya

Terjadinya kenakalan remaja bukan tanpa sebab, ada dua faktor yang menjadi penyebab timbulnya kenakalan remaja, yaitu faktor internal yang dipengaruhi oleh masalah yang terjadi dalam keluarga atau pendidikan moral dalam keluarga. Keluarga merupakan penentu pembentukan karakter dan moral anak, jika dalam sebuah keluarga terjadi gesekan seperti broken home dan tidak adanya bimbingan secara berkala atau pengabaian tanggung jawab orangtua terhadap anak dapat memicu awal dorongan anak untuk berperilaku menyimpang. Selain itu, bisa juga diamati dari cara mendidik, kebanyakan seorang anak akan menolak didikan yang kasar dan keras karena saat anak yang belum tahu apa-apa atau masih dalam proses perkembangan dari masa anak-anak ke masa remaja diberi tekanan dengan didikan yang keras dan kasar dapat membentuk karakter anak yang keras dan kasar juga. disebabkan penolakan tersebut, seorang anak akan melampiaskan apa yang menjadi bebannya di rumah dengan kegiatan diluar rumah yang membuatnya merasa nyaman. Maka peran penyebab faktor eksternal akan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pengembangan sikap dan moral anak. Faktor eksternal berasal dari teman sebaya atau kelompok sosial yang diikuti, jika anak menemukan tempat nyaman diluar rumah dan naluri seorang anak remaja suka mencoba-coba terhadap hal baru muncul, maka akan berdampak negatif jika teman sebaya atau kelompok sosial yang diikuti menyimpang dari norma atau hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Sedangkan Konseling sebaya menurut Hunainah (2012) merupakan tingkah laku yang saling membantu serta memperhatikan secara interpersonal diantara teman sebaya, dilakukan oleh individu non-profesional dalam bidang layanan konseling. Bimbingan konseling sebaya berlangsung dalam kehidupan sehari-hari seperti yang terjadi dilingkungan sekolah. Keterampilan yang dibutuhkan dalam membantu tersebut adalah keterampilan dalam mendengarkan dengan aktif, bersikap empati dan mampu memecahkan masalah. Kedudukan antar individu yang membantu dan yang dibantu adalah setara. Esensinya model konseling sebaya yaitu model konseling yang menggunakan kekuatan pengaruh teman sebaya. Alasannya pengaruh teman sebaya lebih besar dibanding guru maupun orang tua.

Astuti (2015) menjabarkan Konseling sebaya (peer counseling) adalah bantuan konseling yang di berikan oleh teman sebaya yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan untuk menjadi konselor sebaya, sehingga dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok. Bantuan berupa bimbingan diberikan kepada teman-teman yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya.

Muslikah (2016) mengemukakan unsur penting dalam konseling sebaya diantaranya, sebagai usaha yang memberikan bantuan yang bersifat interpersonal, dilakukan oleh pihak yang nonprofessional namun dibawah bimbingan professional konselor, dilakukan dalam rentan usia yang relatif sama, dan pelaksanaan dibawah bimbingan konselor ahli.

Dalam prakteknya, konseling sebaya atau biasa disebut dengan peer counseling akan menciptakan stigma lebih nyaman bagi remaja, karena gap umur yang terjadi antara remaja dan konselor profesional menyebabkan kebanyakan remaja merasa malu dan kurang percaya diri untuk mengungkapkan masalah yang terjadi. Gladding (2012) mengungkapkan bahwa dalam interaksi teman sebaya memungkinkan terjadinya proses identifikasi, kerjasama dan proses kolaborasi. Proses-proses tersebut akan mewarnai proses pembentukan tingkah laku yang khas pada remaja. Oleh karena itu, adanya peer counseling dalam lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi dapat mengurangi angka kenakalan remaja dan dampak yang lebih parah setelah terjadi kenakalan pada remaja.

Dalam rangka mencegah atau mengatasi kenakalan remaja dapat dimulai dari hal-hal kecil dalam diri sendiri. Sebagai generasi penerus bangsa, maka hal penting yang perlu digaris bawahi adalah peningkatan kualitas diri. Jika diri sendiri berusaha menjadi lebih baik, maka saat sudah menjadi orangtua diharapkan dapat mendidik anak dengan baik dan cerdas. Akan terjadi sebaliknya jika diri sendiri tidak mau meningkatkan kualitas diri, maka kualitas generasi setelahnya dapat dijamin menjadi generasi dengan kebobrokan moral tinggi. Terbukti dari banyak kasus kenakalan remaja yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Peran orang tua juga sangat penting dalam mencegah dan mengatasi permasalahan kenakalan remaja. Peran orangtua sebagai tenaga pendidik awal dalam proses perkembangan anak bertugas membimbing dan mengarahkan anak dengan memberikan sikap atau contoh perilaku yang baik terhadap anak. Membimbing masa remaja anak dengan kasih sayang dan pemahaman atau pengertian sikap baik dan buruk pada anak.

Sedangkan keterlibatan lingkungan, tatanan masyarakat, dan pemerintah dalam permasalahan remaja juga penting untuk diperhatikan, karena bagaimana keberlangsungan suatu masyarakat atau negara tergantung kualitas remaja sebagai generasi penerus. Penciptaan lingkungan yang damai dan ramah terhadap anak, dapat meminimalisir tingkat kriminalitas dan kenakalan remaja. Hal yang banyak menjadi tugas pemerintah adalah dari pengembangan ekonomi dan pendidikan, jika kualitas ekonomi masyarakat baik dan kualitas pendidikan anak dapat lebih fokus kepada pengembangan potensi anak, maka anak tidak akan merasakan krisis identitas dan tidak mengenal potensi diri sendiri sehingga menghambat dalam proses aktualisasi diri anak.

Daftar Pustaka

Astuti, Shofi Puji. (2015). Efektifitas Konseling Sebaya (Peer Counseling) dalam Menuntaskan Masalah Siswa. Tesis. Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik. 2010. Profil Kriminalitas Remaja 2010. Dalam https://www.bps.go.id/publication.

Gladding, S. 2012. Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Cetakan I. Edisi Ke Enam. Jakarta: Indeks.

Hunainah. (2012). Model dan  Implementasi Model Konseling Sebaya. Bandung: Rizqi Press.

Muslikah, Sigit H, dan Zaki NA. (2016). Pengembangan Model Peer Counseling Sebagai Media Pengalaman Praktik Konseling.  Indonesian Journal Guidance and Counseling, Vol. 5 No. 3.

Santrock, John W. 2012. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

[1] Badan Pusat Statistik. 2010. Profil Kriminalitas Remaja 2010. Dalam https://www.bps.go.id/publication.

Tetap Hidup dengan Tumpang Pitu

 

Oleh Muhammad Afifuddin Abdurrosyid Kamil, awardee Muamalat Scholarship

Dibalik kemajuan ekonomi Kabupaten Banyuwangi selama 10 terakhir, ternyata masih menyimpan sebuah rahasia besar berupa perampasan kesejahteraan yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan tambang emas. Perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kepada perusahaan tambang emas atas eksploitasi Bukit Tumpang Pitu yang berstatus sebagai hutan lindung, membuat masyarakat semakin tidak berdaya dalam memperjuangkan haknya. Tindakan represif yang selalu dilakukan oleh aparat kepada masyarakat saat aksi damai berlangsung membuat saya yakin bahwa perusahaan dan pemerintah sedang bekerjasama untuk membabat habis kekayaan alam di Hutan Lindung Bukit Tumpang Pitu tanpa mempedulikan nasib masyarakat setempat.

Demo aksi penolakan dan pemasangan listrik di tambang emas Tumpang Pitu yang terjadi pada tahun 2017 merupakan puncak kemarahan dari masyarakat Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggrahan, Kabupaten Banyuwangi. Kemarahan masyarakat ini dipicu oleh kehadiran perusahaan tambang yang dianggap telah melakukan pengerusakan ekosistem alam di kawasan hutan lindung tersebut. Hutan dan pantai yang menjadi lahan utama mata pencaharian mereka sudah tidak bisa lagi diandalkan, limbah tambang yang dibuang sembarangan tanpa melakukan kajian  AMDAL yang benar membuat seluruh mata air, pantai, dan tanah yang ada di kawasan tersebut tercemar. Sebagian masyarakat desa terpaksa pindah ke daerah lain karena kebutuhan ekonomi mereka tidak lagi dapat terpenuhi dan sebagian lagi memutuskan untuk bertahan memperjuangkan hak mereka. Selama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi masih belum mencabut izin dari perusahaan tambang di kawasan Bukit Tumpang Pitu, selama itu pula konflik antara masyarakat dengan perusahaan tambang akan terus berlanjut. Sampai saat essai ini ditulis, perusahaan tambang masih melakukan aktivitasnya dan masyarakat masih terus bertahan memperjuangkan hak yang telah dirampas oleh perusahaan.

Sejak Tahun 2012, setidaknya terdapat 4.998 hektar dan 6.623 hektar kawasan Hutan Lindung Bukit Tumpang Pitu yang dikuasi oleh PT BSI dan PT DSI (Grup PT Merdeka Copper Gold, Tbk). Tidak kurang dari 75% luas kawasan Bukit Tumpang Pitu terancam menjadi sebuah lubang galian raksasa. Kehancuran Bukit Tumpang Pitu akibat alih fungsi lahan membuat masyarakat takut kehilangan “pagar alam” yang selama ini telah melindungai mereka dari ancanaman tsunami seperti yang terjadi pada tahun 1994. Aktivitas eksploitasi ini tidak hanya menjadi sumber masalah konflik sosial antara masyarakat dengan perusahaan tambang, namun sudah mulai merambat ke permasalahan ekonomi dan isu lingkungan.

Berbagai upaya telah dicoba untuk mendamaikan kedua belah pihak, tak kurang dari puluhan negosiasi telah disepakati dan sebanyak itu pula kesepakatan tersebut dikhianati. Pada akhirnya masyarakat sudah terlalu geram dengan upaya-upaya damai yang dilakukan, sehingga mereka sudah bulat memutuskan untuk melawan dan melanjutkan konflik sampai perusahaan bersedia angkat kaki dari Bukit Tumpang Pitu sebelum kawasan tersebut benar-benar hancur. Hanya ada dua pilihan bagi masyarakat, pertama mereka harus membuat perusahaan angkat kaki dari kampung halaman mereka atau mereka sendirilah yang harus meninggalkan kampung halamannya.

Sampai saat ini belum ada solusi untuk permasalahan Bukit Tumpang Pitu. Oleh karena itu, masyarakat desa kawasan Bukit Tumpang Pitu mengajak seluruh lapisan masayarakat Banyuwangi untuk mendukung mereka. Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan semakin banyak perusahaan besar lain yang datang ke daerah Kabupaten Banyuwangi untuk melakukan pengerusakan alam seperti di Bukit Tumpang Pitu. Saya, sebagai bagian dari masyarakat terdampak hanya berharap untuk tetap bisa hidup bersama Bukit Tumpang Pitu baik dengan bantuan pemerintah maupun tanpa bantuan pemerintah.

Struktur Sosial Perempuan Nelayan dalam Perspektif Sains dan Agama  

Peran perempuan merupakan faktor penting dalam menstabilkan ekonomi keluarga masyarakat khususnya nelayan (capture fisheries).  Strategi yang ditempuh oleh rumah tangga nelayan dalam ketidakpastian ekonomi mendorong perempuan nelayan untuk ikut serta dalam mencari nafkah. Disisi lain perempuan nelayan juga lebih dominan dalam mengatur pengeluaran kebutuhan sehari-hari.

Pada umumnya perempuan nelayan hanya menjalankan fungsi domestik dan ekonomi, namun dalam aspek kemasyarakatan, perempuan nelayan mampu menciptakan pranata-pranata sosial yang penting bagi stabilitas social pada komunitas nelayan. Seperti kegiatan pengajian, simpan pinjam, dan arisan yang mempunyai arti penting dalam membantu mengatasi ketidakpastian penghasilan ekonomi keluarga. Selanjutnya, Apakah boleh seorang perempuan mencari nafkah? Bagaimana hukumnya?

Pertama: Pada dasarnya perempuan mempunyai kedudukan yang mulia didalam Islam, kodrat perempuan adalah untuk dimuliakan dan dilindingi. Oleh karena itu, dalam  rumah tangga laki-laki lah yang lebih berperan dalam mencari nafkah di luar rumah. Sedang istri berada di rumah mengatur urusan rumah tangga, mendidik dan membersamai anak.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Kedua : Berdasarkan dalil berikut, ulama memperbolehkan (dengan syarat):

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِر  الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِير.

Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

Adapun syarat-syarat tersebut diantaranya:

  1. Seorang perempuan bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga.
  2. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka.
  3. Dia bekerja pada bidang yang sesuai (dengan tabiat perempuan).
  4. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada di dilamnya hal-hal yang diharamkan Allah SWT (seperti  khalwat atau ikhtilat).
  5. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang.
  1. Pekerjaan yang ia kerjaan adalah pekerjaan yang halal.

Rumah Tangga merupakan dua istilah kata yang dikelola sedemikian rupa oleh sepasang manusia, suami dan istri  untuk saling melengkapi. Sebagaimana Sabda Rosulullah SAW :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At Tirmidzi)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Jika seorang perempuan melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana yang kamu kehendaki.”

Islam merupakan agama yang syamil mutakamil  (sempurna dan menyeluruh). Ajaran islam sangat komprehensif dan terperinci. Islam mengatur segala aspek kehidupan, tak terkecuali keluarga.   Terdapat puluhan ayat Al-Qur’an dan ratusan hadits Baginda Nabi SAW yang membahas permasalahan keluarga. Islam memang memberikan perhatian besar dalam hal penataan keluarga. Hal ini terbukti, bahwa seperempat bagian dari fiqh (hukum islam) yang dikenal dengan rub’ul munakahat  (seperempat masalah fiqih nikah) berbicara tentang keluarga.

Demikianlah, dalam berumah tangga idealnya tak bisa dibangun hanya oleh suami saja, istri juga memiliki  peran yang sangat penting. Begitupula sebaliknya, tanpa suami seorang istri akan kerepotan mengurus keluarga. Pada masing-masing laki-laki dan perempuan ada peran yang tak bisa digantikan.  Antara suami dan istri masing-masing saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Sekuat apapun laki-laki, tanpa perempuan ia takkan mampu meletakkan kata “tangga” setelah “ rumah”, begitupula sebaliknya.

Wallahu a’lam.

Penulis :

Akhmad Nurhijayat, SPi (Social-Ecological System Of The Oceans Lab – FPIK IPB)

Azif Muthon, Lc (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab)

Komunitas Berprestasi : Berprestasi Sambil Ngaji

Komunitas Berprestasi – Bagi sebagian mahasiswa, menulis atau membuat laporan praktikum menjadi hal yang tidak begitu menarik. Permasalahan ini bukan hanya karena topik yang membosankan, lebih jauh lagi karena waktu pengerjaannya yang tidak masuk akal (amat sangat mepet deadline). Akibatnya muncul permasalahan seperti ini, minat untuk terus mengembangkan inovasi menjadi menurun. Padahal hal ini jika dipelajari bersama – sama akan terasa lebih mudah dan cepat selesai.

Di KMNU ini telah berjalan selama tujuh angkatan Komunitas Berprestasi “Kompres” yang digagas oleh Ikrom Mustofa KMNU 48. Beliau merupakan mahasiswa berprestasi nasional II dan santri berprestasi nasional pada masanya.

Dengan di bawah naungan Divisi PSDM pada Kabinet An-Nahl, Kompres diarahkan tidak hanya untuk mahasiswa yang tertarik kepada bidang kepenulisan ataupun lomba ilmiah. Kompres diarah untuk pengembagan soft skill dari civitas KMNU, baik dibidang kepenulisan, debat, bahasa, maupun lain-lainnya. Kompres menjadi salah satu jalan untuk menemukan kepercayaan diri dan memantaskan diri demi hal-hal  yang idealnya dimipikan oleh mahasiswa, mislnya Duta IPB, Mapres, atau cabang yang lain dapat bergabung disini. Akan tetapi, semua itu butuh proses dan keistiqomahan untuk itu, pertemuan Kompres rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan kegiatan-kegiatan yang sudah tersusun dalam Kurikulum Kompres terbaru.

Kompres memilik visi  yaitu “Membentuk Generasi KMNU yang Berprestasi, Disiplin, dan Berbudi Pekerti Luhur Melalui Pengembangan Softskill”. Terkait dengan tujuan besar selanjutnya. Tahun ini Kompres merencanakan untuk dapat memfasilitasi pembuatan pasport bagi setiap anggotanya. Hal ini ditujukan agar suatu saat anggotanya dapat mengikuti berbagai kegiatan tidak hanya di dalam tapi juga di luar negeri. Semoga dengan dibuatnya paspor ini, setidaknya seluruh anggota Kompres dapat merasakan pengalaman ke luar negeri (sesuai salah satu impian yang dituliskan di Masa Pengenalan Kuliah Mahasiswa Baru hehe )

Dari seluruh tujuan besar yang telah direncanakan, sebenarnya terdapat satu hal besar yang ingin sekali dicapai, yaitu menjadikan  anggota Kompres sebagai generasi penerus yang memiliki semangat perjuangan para pendahulu NU dan KMNU. Suatu saat nanti, dengan apa yang sudah diperoleh selama menapkkan kaki di Kampus Inovasi terbaik bangsa ini, diharapkan mereka dapat bermanfata sesuai bidangnya masing-masing dan memberikan dampak bagi negara dan NU.

Akhirnya, dengan penuh semangat dibawah arahan para Pembina, Ketua KMNU, dan Divisi PSDM, serta tak lupa teman – teman semua dari KMNU, semoga salah satu program kerja ini dapat berjalan lancar sesuai yang direncanakan. Aamiin..

#AyooGabungKompres

Sekretariat KMNU IPB, 1 Desember 2019

Pertemuan Terakhir Di Semester Ganjil (Minggu Ketiga)

Kontributor : Yofi

Editor : Mila

Mahasiswa IPB Peringati Maulid Nabi bersama KMNU

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB telah menyelenggarakan acara peringatan Maulid Nabi di Koridor Media Center IPB, Fakultas Pertanian, pada sabtu (9/11). Rangkaian acaranya terdiri dari pembacaan Maulid Diba (teks sejarah dan selawat Nabi Muhammad) dan mauidhah hasanah.

Pembacaan maulid diba’ diiringi oleh tim hadroh KMNU IPB. Setelah itu, ada mauidhah hasanah yang dibawakan oleh Ust. Hamzah Alfarisi dan Ust. Ainun Naim. Adapun yang beliau sampaikan adalah refleksi dan esensi dari Maulid Nabi, cinta kepada Nabi Muhammad, serta pemaknaan Maulid Diba.

Acara ini dihadiri lebih dari 200 orang dan disirarkan langsung melalui akun instagram KMNU IPB (@kmnuipb). “Mahasiswa IPB ternyata punya antusiasme yang tinggi dengan tradisi perayaan Mauild Nabi sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad. Ini juga bukti bahwa sebenarnya warga Nahdliyin banyak pula di IPB,” tanggapan M. Afifuddin A. K., ketua KMNU IPB 2019/2020.

Rehat Setahun, Bertani dan Bersholawat Kembali Mewarnai Kampus Institut Pertanian Bogor

KMNU IPB – Bertani dan Bersholawat diagendakan kembali oleh mahasiwa Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) sekaligus anggota KMNU Institut Pertanian Bogor pada hari kamis (7/11) di Koridor Pinus Fakultas Pertanian IPB. Pada sambutannya di awal acara, Alif Ibrahim (KMNU IPB 55) sebagai ketua pelaksana mengaharapkan acara Bertani dan Bersholawat dapat dirutinkan kembali.  Tema acara ini, “Kembali ke khittah pertanian Nusantara”, dan konsep acara yang unik menarik minat mahasiswa hingga yang berasal dari  departemen dan fakultas lain.

Acara dimulai dengan pembacaan maulid dan sholawat lalu dilanjutkan dengan materi. Materi dibawakan oleh dua mahasiswa senior AGH, Ahmad Fauzi Ridwan (Mas Gus Ridwan) dan Abdul Mujiib (Ki Ngabdoel Lemper). Kedua pembicara menyampaikan bahwa pertanian haruslah selaras dengan ritme alam seperti yang dilakukan oleh leluhur dulu ketika revolusi hijau belum merebak di Nusantara. Tanah harus dijaga kualitasnya dengan sebaik mungkin, contohnya dengan memberi jeda tanam agar tanah dapat pulih setelah ditanami.

Rangkaian terakhir dari acara tersebut adalah tanya-jawab. Pertanyaan yang diajukan hadirin seputar pertanian organik serta hama dan penyakit. Ki Ngabdoel menekankan, “Mahasiswa IPB harus mengetahui agriculture principles.” Yaitu, pertanian yang selaras dengan alam. Mas Gus Ridwan menambahkan apabila lingkungan tumbuh tanaman sehat, maka tanaman akan sehat dan terhindar dari serangan hama maupun penyakit. Suasana yang dibentuk sepanjang acara yaitu santai dan akrab sambil menikmati hidangan kopi, kedelai rebus, dan bubur kacang hijau. [HR]