Karya : Ricky Gusnia

 

Aku kau dan mereka adalah kita

Diriku dirimu dan dirinya adalah diri kita

Bergumul menjadi satu dan mendarah daging

Dalam satu mimpi dan cita abadi

Yang getarannya selalu bergerilya dalam diri

Yang menyatu dalam hembusan nafas yang terhirup setiap  saat

 

Perjuanganku dan perjuangan mereka

Tanpa cacat sedikitpun dan sempurna

Pengabdianku dan pengabdian mereka

Kupersembahkan tanpa ada pamrih dan sukarela

Namun apa dayalah kami sebagai manusia yang tetap butuh imbalan yang setara

Karena kami punya anak dan istri juga , bukankah kau juga begitu ?

 

Akulah manusia ladang yang ingin hidup kalian bahagia

Keringatku keringat mereka

Kupersembahkan semua untukmu Tuan

Tapi janganlah kau anggap rendah diriku atas profesiku

Bukankah kau juga tau  Sabda Bung Karno , Pangan hidup mati bangsa !

Aku memanggilmu duhai pemimpin dan para pemuda

Untuk berjuang dan berkarya bersama demi negara

Serat Kalatidha, Pupuh (Bait) 1, Gatra (Baris) 1

R Ng. Ronggo Warsito merupakan salah seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keberkahan ilmu “weruh sadurunge winarah” yang bermakna tahu sebelum orang lain tahu. Begitu banyak karya sastra yang digubahnya dalam bentuk tembang macapat yang ringkas namun memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Tidak jarang gubahan R. Ng. Ronggo Warsito masih relevan di jaman abad melenium seperti saat ini. Menurut pendapat banyak ahli, R. Ng. Ronggo Warsito sebenarnya menggambarkan kejadian kejadian pada masa tersebut, namun banyak juga kejadian yang beliau gubah dalam serat yang ditulis memiliki kemiripan pada masa-masa selanjutnya. Dalam pemilihan diksi kata Jawa, beliau sangat dalam dan mengerti penggunaan bahasa Jawa yang sesuai untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada saat itu.

Mangkya Darajating Praja – Serat Kalatidha, Bab 1, Baris 1

Pemilihan kata mangkya (baca : mangkyo) yang memiliki arti sangat luas digunakan oleh beliau di awal Serat, mangkya memiliki terjemahan Bahasa Indonesia tampak, terlihat, diketahui, dan memiliki padanan kata dengan katon, kaweruhan, pengerten, dsb. Beberapa peneliti menafsirkan kata mangkya dengan kata yang menunjukkan waktu yang berarti sekarang. Bahasa yang dipakai dalam serat ini menggunakan serat sastra yang indah dan tidak semua orang dapat menafsirkan dengan mudah sehingga tidak jarang para peneliti dan ahli pun memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan serat yang ditulis oleh para Pujangga jaman dahulu, tidak hanya R. Ng. Ronggo Warsito tetapi juga pujangga lainnya.

Kata kedua menggunakan diksi darajating (baca : darojating) yang memiliki arti martabatnya. Kata dasar dari darajating adalah darajat yang sebelumnya ditambahi imbuhan ing untuk menunjukkan kepunyaan dari subyek. Sedangkan, kata ketiga adalah praja, kita sering sekali mendengar kata praja, dan sangat mudah untuk dilafalkan namun tidak jarang pelafal dari kata praja tidak mengetahui makna dari praja itu sendiri.

Praja memiliki arti yang sangat luas begitu juga dengan makna yang sangat dalam. Praja bisa diartikan dengan prajurit, pasukan, pemerintah, keraton, batalion, dan sebagainya. Penggunaan kata praja sangat luas, sehingga banyak penulis menggunakan kata praja untuk konteks yang ingin disampaikannya. Pengartian kata praja secara singkatnya dapat dilihat pada konteks tulisannya. Penggunaan kata praja di praja muda karana (pramuka) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-pp), kelas jelas memiliki arti yang berbeda , karena secara konteks sudah berbeda. Praja di pramuka bermakna jiwa sedangkan praja di Satpol PP adalah pasukan atau angkatan militer.

Jadi penggunaan kalimat mangkya darajating praja diartikan oleh beberapa ahli sebagai “martabat negara tampak”. Yang bermakna bahwa martabat asli dari suatu negara telah tampak dengan jelas dan tidak perlu ditutupi. Kondisi keraton pada saat itu menunjukkan sesuatu yang jelas, sehingga tidak perlu ditutupi apa-apa, kalaupun berbohong sama halnya dengan menyembunyikan diri di balik satu jari telunjuk, sangat tampak jelas. Kondisi seperti itulah yang hendak digambarkan oleh R. Ng. Ronggo Warsito. Kondisi yang dapat dilihat bersama, dan mengejutkannya, sekarang juga terjadi mangkya darajating praja yang dapat ditafsir masing-masing oleh para pembaca yang budiman.

Sumber Pustaka :

Permana CP, Nurhayati E. Ragam bahasa Serat Kalatidha serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Jawa siswa SMPN 7 Yogyakarta. Jurnal Lingtera. 1(1): 39-53.

Ronggowarsito. 2015. Zaman Edan Cetakan 4. Yogyakarta (ID): Penerbit Forum.

(Cak Bim)

Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif. Yudhistira Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian. Bima Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat. Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Arjuna Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna. Nakula dan Sadewa Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya. Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.  [Septian Fajar Bima] edited by Mila

Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif.

Yudhistira

Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian.

Bima

Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat.

Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Arjuna

Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna.

Nakula dan Sadewa

Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya.

Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.

[Septian Fajar Bima] edited by Mila

 

بنی‌آدم اعضای یکدیگرند که در آفرينش ز یک گوهرند چو عضوى به‌درد آورَد روزگار دگر عضوها را نمانَد قرار تو کز محنت دیگران بی‌غمی نشاید که نامت نهند آدمی Human being are members of a whole In creation of one essence and soul If one member is afflicted with pain, other members will remain If you've no sympathy of human pain, The name of human you cannot retain     Coldplay memasukkan Syair berbahasa Parsi tersebut terlantun pada lagu terbaru sebuah band tersohor tersebut yang berjudul بنی‌آدم (Bani Adam). Suer, judulnya pakai bahasa Arab dan huruf hijaiyah! Syair tersebut merupakan karya Sa'di Shirazi, seorang sufi dan penyair terkenal dari abad-13. Syair yang sama juga dipajang di gedung PBB sebagai perlambang perdamaian. 22 November lalu Coldplay meluncurkan album baru yaitu Everyday Life setelah album A Head Full of Dreams mereka empat tahun lalu. Pada album ini, Coldplay membuat lagu-lagunya menjadi semacam himne kemanusiaan. Ungkapan “Music is the weapon of the future” terdapat dalam lirik lagu berjudul Arabesque. Nah, sepertinya Coldplay benar-benar membuat music di album ini menjadi “senjata” di masa depan dengan menyerukan perdamaian, cinta, persaudaraan dan kemanusiaan melalui lirik-lirik lagunya. Pada kaver album juga terdapat tulisan Salam wa Hub, perdamaian dan cinta. Video musik Everyday Life yang sarat akan pesan-pesan kemanusiaan pun dirilis sehari sebelum Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Tema-tema kemanusiaan yang diangkat seperti krisis imigran dan peperangan yang menyebabkan dampak-dampak berkelanjutan. Tema krisis imigran pun pernah diangkat Coldplay dalam single berjudul Aliens. Lagu tersebut merupakan bentuk dukungan dari Coldplay kepada para imigran yang melakukan perjalanan berbahaya  menerjang ombak Laut Mediterania. Lalu pada lagu Trouble in Town, Coldplay mencoba mengangkat isu ini lagi. Lirik lagu tersebut mengisahkan masalah-masalah yang dihadapi para migran seperti tindakan kekerasan oleh aparat, penghilangan identitas, dan tindakan diskriminatif lainnya. Dengan mengangkat isu-isu kemanusiaan dunia membuat saya teringat lagu Nasida Ria, Tahun 2000. Saya berpendapat bahwa, setelah dicermati, album Coldplay yang satu ini cukup “berat” dan penuh warna. Beberapa lagu dengan lirik balad diiringi dengan musik yang semangat dan ceria. Pada album ini sang vokalis, Chris Martin, kedapatan misuh pada lagu Guns, ini kejadian yang sangat jarang pada lagu-lagu Coldplay. Sedangkan pada lagu-lagu lain malah kesannya seperti doa ditambah dengan paduan suara sebagai pengiring menambah lagu-lagu seperti Church, BrokEn, When I Need a Friend, dan Old Friend menjadi semakin syahdu.  Sepertinya Coldplay hendak menampakkan sisi kemanusiaan. Bahwa segala hal, suka maupun duka, selalu silih berganti pada kehidupan manusia. Konsep dua album Sunrise dan Sunset juga merepresentasikan dualitas sekaligus harmoni. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Chris dalam sebuah wawancara, bahwa puisi dari Jalaluddin Rumi telah mengubah hidup dan pandangannya tentang keadaan yang dihadapinya. Puisi Rumi tersebut membuatnya menyadari bahwa segala keadaan yang menimpa diri manusia merupakan anugerah dan yang harus manusia lakukan adalah menerima dan berdamai dengannya. Puisi tersebut, yang kemudian disusul oleh cuplikan lagu gerejawi Amazing Grace, telah ia masukkan ke dalam lagu berjudul Kaleidoskop dari album sebelumnya sebagai apresiasi terhadap “pencerahan” yang ia dapatkan. Album ini memang mengambil nuansa timur tengah pada desain, setiap judul lagu memiliki terjemah Arabnya, dan bahkan penampilan live pertama mereka untuk album ini digelar di Yordania. Dengan inspirasi dari syair-syair Sufi, Coldplay berusaha membikin lagu-lagu yang manusiawi, reflektif, subtle, membubuhkan makna religius yang universal, dan tetap eargasm terlebih pada album terbarunya. Saya membayangkan apakah band ini akan beralih genre musik dan meluncurkan album religi? HEHE. (HR) tulisan ini terinspirasi dari tulisan berjudul Terinspirasi Sufisme, Coldplay Luncurkan Lagu Berjudul Bani Adam (بنی‌آدم)
بنی‌آدم اعضای یکدیگرند
که در آفرينش ز یک گوهرند

چو عضوى به‌درد آورَد روزگار
دگر عضوها را نمانَد قرار

تو کز محنت دیگران بی‌غمی

نشاید که نامت نهند آدمی
Human being are members of a whole
In creation of one essence and soul
If one member is afflicted with pain,
other members will remain
If you’ve no sympathy of human pain,
The name of human you cannot retain

 

 

Coldplay memasukkan Syair berbahasa Parsi tersebut terlantun pada lagu terbaru sebuah band tersohor tersebut yang berjudul بنی‌آدم (Bani Adam). Suer, judulnya pakai bahasa Arab dan huruf hijaiyah! Syair tersebut merupakan karya Sa’di Shirazi, seorang sufi dan penyair terkenal dari abad-13. Syair yang sama juga dipajang di gedung PBB sebagai perlambang perdamaian.

22 November lalu Coldplay meluncurkan album baru yaitu Everyday Life setelah album A Head Full of Dreams mereka empat tahun lalu. Pada album ini, Coldplay membuat lagu-lagunya menjadi semacam himne kemanusiaan. Ungkapan “Music is the weapon of the future” terdapat dalam lirik lagu berjudul Arabesque. Nah, sepertinya Coldplay benar-benar membuat music di album ini menjadi “senjata” di masa depan dengan menyerukan perdamaian, cinta, persaudaraan dan kemanusiaan melalui lirik-lirik lagunya. Pada kaver album juga terdapat tulisan Salam wa Hub, perdamaian dan cinta. Video musik Everyday Life yang sarat akan pesan-pesan kemanusiaan pun dirilis sehari sebelum Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Tema-tema kemanusiaan yang diangkat seperti krisis imigran dan peperangan yang menyebabkan dampak-dampak berkelanjutan.

Tema krisis imigran pun pernah diangkat Coldplay dalam single berjudul Aliens. Lagu tersebut merupakan bentuk dukungan dari Coldplay kepada para imigran yang melakukan perjalanan berbahaya  menerjang ombak Laut Mediterania. Lalu pada lagu Trouble in Town, Coldplay mencoba mengangkat isu ini lagi. Lirik lagu tersebut mengisahkan masalah-masalah yang dihadapi para migran seperti tindakan kekerasan oleh aparat, penghilangan identitas, dan tindakan diskriminatif lainnya. Dengan mengangkat isu-isu kemanusiaan dunia membuat saya teringat lagu Nasida Ria, Tahun 2000.

Saya berpendapat bahwa, setelah dicermati, album Coldplay yang satu ini cukup “berat” dan penuh warna. Beberapa lagu dengan lirik balad diiringi dengan musik yang semangat dan ceria. Pada album ini sang vokalis, Chris Martin, kedapatan misuh pada lagu Guns, ini kejadian yang sangat jarang pada lagu-lagu Coldplay. Sedangkan pada lagu-lagu lain malah kesannya seperti doa ditambah dengan paduan suara sebagai pengiring menambah lagu-lagu seperti Church, BrokEn, When I Need a Friend, dan Old Friend menjadi semakin syahdu

Sepertinya Coldplay hendak menampakkan sisi kemanusiaan. Bahwa segala hal, suka maupun duka, selalu silih berganti pada kehidupan manusia. Konsep dua album Sunrise dan Sunset juga merepresentasikan dualitas sekaligus harmoni. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Chris dalam sebuah wawancara, bahwa puisi dari Jalaluddin Rumi telah mengubah hidup dan pandangannya tentang keadaan yang dihadapinya. Puisi Rumi tersebut membuatnya menyadari bahwa segala keadaan yang menimpa diri manusia merupakan anugerah dan yang harus manusia lakukan adalah menerima dan berdamai dengannya. Puisi tersebut, yang kemudian disusul oleh cuplikan lagu gerejawi Amazing Grace, telah ia masukkan ke dalam lagu berjudul Kaleidoskop dari album sebelumnya sebagai apresiasi terhadap “pencerahan” yang ia dapatkan.

Album ini memang mengambil nuansa timur tengah pada desain, setiap judul lagu memiliki terjemah Arabnya, dan bahkan penampilan live pertama mereka untuk album ini digelar di Yordania. Dengan inspirasi dari syair-syair Sufi, Coldplay berusaha membikin lagu-lagu yang manusiawi, reflektif, subtle, membubuhkan makna religius yang universal, dan tetap eargasm terlebih pada album terbarunya. Saya membayangkan apakah band ini akan beralih genre musik dan meluncurkan album religi? HEHE. (HR)

tulisan ini terinspirasi dari tulisan berjudul Terinspirasi Sufisme, Coldplay Luncurkan Lagu Berjudul Bani Adam (بنی‌آدم)

DAKWAH ISLAM - Pada hakikatnya Bumi Nusantara adalah bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi, memiliki posisi strategis yang di lewati garis katulistiwa, diapit dua samudera dan terdiri dari ribuan pulau. Hampir semua tumbuhan bisa tumbuh karena saking suburnya Bumi Nusantara ini. Sumber air yang sangat jernih bermunculan dimana-mana tak jarang para pendatang yang tiba di Bumi Nusantara berdecak kagum dengan keindahan dan ke eksotisan Bumi Nusantara ini dan tidak berlebihan pula gelar the piece of heaven dianugerahkan kepadanya. Namun secara logika dibalik karunia tuhan yang paling indah ini akan timbul musibah dikalangan ulama lawas tempo dulu seperti walisongo dan ulama lawas lainnya.Lah kenapa kok musibah? Bukannya malah seharusnya bersyukur di tempatkan oleh sang Khaliq di bumi yang gemah ripa loh jinawi semua serba tersedia mulai dari yang udara sejuk,musim yang stabil, cuaca yang stabil tidak seperti timur tengah yang siangnya membakar kulit dan malamnya membekukan kulit. Barang tumbuhan yang bisa tumbuh pun juga terbatas palingan ya pohon kurma dan anggur lain halnya dengan Bumi Nusantara yang semua tumbuhan bisa tumbuh. Jika kita menggunakan logika maka seharusnya yang sambat adalah kanjeng Nabi Muhammad bukan malah ulama lawas yang ada di Bumi nusantara, eh usut punya usut ternyata justru karena saking suburnya,Islam sangat sulit untuk berkembang di Nusantara, mengapa demikian? Lah bagaimana orang pribumi ini mau masuk islam wong mereka sudah punya agama atau kepercayaan sebelum islam masuk ke Nusantara ada yang memeluk Hindu,Budha,Kejawen,Sunda wiwitan,agama leluhur dan banyak lagi yang lainya. Dan mereka sebenarnya sudah memiliki peradaban yang sangat baik bahkan sebelum Islam masuk contohnya adalah ketika masa kerajaan kalingga yang saking makmurnya dan saking adilnya raja pada waktu itu hampir tak pernah terjadi kasus pencurian, warga setempat sudah memiliki moral yang baik pada saat itu. Hukum ditegakkan dengan adil. Kesejehateraan yang merata sehingga sangat minim sekali terjadi konflik sosial dimasyarakatnya. Dengan kondisi sosial yang seperti itu dan kondisi sumber daya alam yang melimpah ajaran islam semakin sulit untuk diselundupkan ke hati mereka. Lah ya bagaiamana ketika wali songo menawarkan surga yang ada buah-buah segar, sungai dengan aliran air yang jernih, dimana khamr melimpah dan dihalalkan juga banyak bidadari yang cantik jelita. Iming-iming seperti ini akan tertolak mentah-mentah oleh kaum pribumi “lah ngapain nunggu masuk surga wong disisni buah sudah banyak,sumber air jernih mengalir dimana-mana, khamar juga banyak,wanitanya juga cantik-cantik lah terus ngapain harus masuk islam?’’ pikir mereka. Mungkin jika hal itu ditawarkan di arab sana bisa menjadi suatu yang menggiurkan. di arabkan panas,tanah gersang dsb.setelah di iming-imingi surga gak mempan walisongo mencoba menakut-nakutinya dangan neraka dan hisab serta hari pembalasan, dan ternyata hal ini juga ditolak karena mereka sudah mengenal konsep karma. Lah yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah kenapa sekarang di Bumi Nusantara ini mayoritas muslim?bagaimana cara berdakwah para ulama tempo dulu?, dan jika ada orang yang bertanya kepada saya mengapa kok kaum pribumi memeluk islam? Maka akan saya jawab secara teologi “ya karena hidayah.” Yawes kelar. tapi kan yah kurang etis kalo saya menjawab seperti itu(kurang greget gimana gitu). Maka saya akan menjawab bahwa alasan orang pribumi memeluk agama islam adalah karena walisongo mengajarkan akhlak secara nyata dan konkret tanpa harus melalui simbol-simbol keagamaan. Misalnya saat Sunan Kudus mengajari santri-santrinya beliau berkata”kalau kalian ingin berkurban mbok yo jangan berkurban dengan sapi lebih baik berkurban dengan 7 kambing kalo gak mau kambing yah berkurbanlah dengan kerbau toh ya kerbau dan sapi sama saja,kita harus menghormati saudara kita yang mensucikan sapi jangan sampai ibadah kita ini menyakiti hati mereka”. Lah karena akhlak seperti ini, banyak non muslim yang kagum dengan toleransi dari kanjeng Sunan Kudus ini dan banyak dari mereka yang berbondong-bondong memeluk agama Islam karena saking kagumnya dengan toleransi yang diajarkan kanjeng Sunan Kudus. Atau saat Sunan Kalijogo yang mengajarkan syahadat dengan wayang,sunan bonang dengan alat musiknya, para ulama lawas ini tidak serta merta mengkafirkan semua adat dan kebiasaan yang sudah terjadi dikalangan masyarakat pribumi waktu itu, tapi mereka masuk ke budaya dan mengakulturasinya dengan ajaran islam. Dan dalam mengajarkan syariat islam para ulama lawas ini juga tidak pernah kaku mereka lebih memilih metode yang luwes dan bisa diterima oleh budaya setempat dan penyampaiannya sesuai dengan kondisi pola pikir masyarakat yang mereka hadapi dan metode walisongo ini diwariskan turun temurun hingga saat ini.Ada contoh cara berkomunikasi yang tepat sasaran dan sesuai hati masyarakat. Cerita ini antara Kyai Bisri dan Kyai Wahab. Suatu hari ada seoarang yang datang dari kampung sowan ke kepesantrenn Kyai Bisri sesampainya disana si orang kampung tadi menyampaikan tujuannya yakni ingin konsultasi mengenai ibadah kurban yang akan dilaksanakannya. kurang lebih seperti ini “Kyai saya ingin berkurban Idul Adha”. “untuk berapa orang?’ jawab Kyai Bisri. “keluarga saya ada 8 kyai”. “nah kalau 8 itu berarti kurbannya sapi 1 dan kambing 1 atau kalo gak gitu yah kambing 8” nah karena pada dasarnya yang bertanya ini orang kampung maka imajinasi yang dipakai juga imajinasi ala orang kampung. Dia bilang”bisa ditawar gak kyai?kan ini anak saya kecil-kecil masak gak bisa kurban sapi satu yang gemuk biar bisa buat 8 orang, kalo nanti kambing delapan nanti di akhirat kita susah kordinasinya kyai,wong nonton dangdut ae anak saya yang paling kecil ketelisut apalagi nanti di Padang Mahsyar yang miliaran orang disana,nah kalo sapi 1 kambing 1 kan yah kasihan pak kyai masak kita yang lain sama-sama satu keluarga ada satu yang sendirian(yah gak bisa disalahkan kan imajinasi rakyat yah memang seperti itu hehe).’’ “gak bisa fiqihnya seperti itu’’jawab Kyai Bisri. Kyai Bisri ini memang terkenal fiqih sentris maka kalau A ya A gak bisa berubah sedikitpun.”oke kalau begitu gak jadi saja pak kyai’’. “yah gak papa lebih baik gak jadi karena fiqihnya seperti itu”, setelah itu si orang kampung ini pulang dan pergi menemui kyai Wahab lalu bertanya ke Kyai Wahab “kyai, misal kurban sapi satu untuk 8 orang bisa gak?”. “bisa”jawab Kyai Wahab. “lah katanya Kyai Bisri gak bisa soalnya fiqihnya seperti itu”. “ouh itukan fiqihnya Kyai Bisri kalo fiqih saya yah boleh, yawes kamu ikut saya aja”. Si orang kampung itu pun gembira bukan main.”beneran kyai, alhamdulillah jadi gini pak kyai kan keluarga saya itu 8 orang, niatnya itu mau kurban sapi satu yang gemuk biar nanti di Padang Mahsyar kita bisa rombongan bareng-bareng kalo pakek kambingkan kita sendiri-sendiri, nanti kordinasinya susah apalagi anak saya masih kecil-kecil kyai”. “oalah gitu toh,ya gapapa, eh anak kamu yang paling kecil umur berapa?”. “umur 3 tahun kyai”. Jawab orang kampung sigkat.”lah ini yang jadi masalah, kan anakmu kecil nanti naik ke sapinya susah mendingan kamu nambah kambing satu yo buat tangga anak kamu yang 3 tahun tadi jadi dia bisa naik kesapi bareng-bareng sekeluarga.”jelas kyai. “iya juga ya pak kyai anakku yang paling bungsu ntar naiknya susah, kalo gitu aku mau nambah satu kambing yang gemuk sekalian biar tangganya kuat buat satu keluarga, jadi aku kurban satu sapi gemuk buat tunggangan dan satu kambing gemuk buat tangga naik ke sapi.” “nah bagus udah sekarang cepet balik terus beli hewan kurban”. Lalu bergegaslah si orang kampung tadi untuk membeli sapi dan kambing yang disarankan oleh Kyai Wahab tadi. nah dari cerita tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa dengan komunikasi yang baik kita dapat merebut hati masyarakat tanpa meninggalkan syariat ataupun melanggar syariat. Dengan penyampaian seperti yang dilakukan Kyai Wahab tadi orang kampung itu tetap mau berkurban dan penjelasan Kyai Wahab tersebut dapat diterima oleh proporsi pola pikir orang kampung itu. Metode seperti inilah yang digunakan ulama lawas sehingga syariat islam dapat diterima dengan baik dan mendarah daging di hati masyarakatnya. Cerita tadi sanadnya nyambung kepada Gusdur dan tidak ada unsur mengunggulkan salah satu antara Kyai Wahab dengan Kyai Bisri. Kedua Kyai tersebut adalah orang yang alim dan sangat bijaksana namun diantara keduanya memiliki metode tersendiri dalam berdakwah.

DAKWAH ISLAM – Pada hakikatnya Bumi Nusantara adalah bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi, memiliki posisi strategis yang di lewati garis katulistiwa, diapit dua samudera dan terdiri dari ribuan pulau. Hampir semua tumbuhan bisa tumbuh karena saking suburnya Bumi Nusantara ini. Sumber air yang sangat jernih bermunculan dimana-mana tak jarang para pendatang yang tiba di Bumi Nusantara berdecak kagum dengan keindahan dan ke eksotisan Bumi Nusantara ini dan tidak berlebihan pula gelar the piece of heaven dianugerahkan kepadanya. Namun secara logika dibalik karunia tuhan yang paling indah ini akan timbul musibah dikalangan ulama lawas tempo dulu seperti walisongo dan ulama lawas lainnya.Lah kenapa kok musibah? Bukannya malah seharusnya bersyukur di tempatkan oleh sang Khaliq di bumi yang gemah ripa loh jinawi semua serba tersedia mulai dari yang udara sejuk,musim yang stabil, cuaca yang stabil tidak seperti timur tengah yang siangnya membakar kulit dan malamnya membekukan kulit. Barang tumbuhan yang bisa tumbuh pun juga terbatas palingan ya pohon kurma dan anggur lain halnya dengan Bumi Nusantara yang semua tumbuhan bisa tumbuh. Jika kita menggunakan logika maka seharusnya yang sambat adalah kanjeng Nabi Muhammad bukan malah ulama lawas yang ada di Bumi nusantara, eh usut punya usut ternyata justru karena saking suburnya,Islam sangat sulit untuk berkembang di Nusantara, mengapa demikian? Lah bagaimana orang pribumi ini mau masuk islam wong mereka sudah punya agama atau kepercayaan sebelum islam masuk ke Nusantara ada yang memeluk Hindu,Budha,Kejawen,Sunda wiwitan,agama leluhur dan banyak lagi yang lainya. Dan mereka sebenarnya sudah memiliki peradaban yang sangat baik bahkan sebelum Islam masuk contohnya adalah ketika masa kerajaan kalingga yang saking makmurnya dan saking adilnya raja pada waktu itu hampir tak pernah terjadi kasus pencurian, warga setempat sudah memiliki moral yang baik pada saat itu. Hukum ditegakkan dengan adil. Kesejehateraan yang merata sehingga sangat minim sekali terjadi konflik sosial dimasyarakatnya.

Dengan kondisi sosial yang seperti itu dan kondisi sumber daya alam yang melimpah ajaran islam semakin sulit untuk diselundupkan ke hati mereka. Lah ya bagaiamana ketika wali songo menawarkan surga yang ada buah-buah segar, sungai dengan aliran air yang jernih, dimana khamr melimpah dan dihalalkan juga banyak bidadari yang cantik jelita. Iming-iming seperti ini akan tertolak mentah-mentah oleh kaum pribumi “lah ngapain nunggu masuk surga wong disisni buah sudah banyak,sumber air jernih mengalir dimana-mana, khamar juga banyak,wanitanya juga cantik-cantik lah terus ngapain harus masuk islam?’’ pikir mereka. Mungkin jika hal itu ditawarkan di arab sana bisa menjadi suatu yang menggiurkan. di arabkan panas,tanah gersang dsb.setelah di iming-imingi surga gak mempan walisongo mencoba menakut-nakutinya dangan neraka dan hisab serta hari pembalasan, dan ternyata hal ini juga ditolak karena mereka sudah mengenal konsep karma. Lah yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah kenapa sekarang di Bumi Nusantara ini mayoritas muslim?bagaimana cara berdakwah para ulama tempo dulu?, dan jika ada orang yang bertanya kepada saya mengapa kok kaum pribumi memeluk islam? Maka akan saya jawab secara teologi “ya karena hidayah.” Yawes kelar. tapi kan yah kurang etis kalo saya menjawab seperti itu(kurang greget gimana gitu). Maka saya akan menjawab bahwa alasan orang pribumi memeluk agama islam adalah karena walisongo mengajarkan akhlak secara nyata dan konkret tanpa harus melalui simbol-simbol keagamaan. Misalnya saat Sunan Kudus mengajari santri-santrinya beliau berkata”kalau kalian ingin berkurban mbok yo jangan berkurban dengan sapi lebih baik berkurban dengan 7 kambing kalo gak mau kambing yah berkurbanlah dengan kerbau toh ya kerbau dan sapi sama saja,kita harus menghormati saudara kita yang mensucikan sapi jangan sampai ibadah kita ini menyakiti hati mereka”. Lah karena akhlak seperti ini, banyak non muslim yang kagum dengan toleransi dari kanjeng Sunan Kudus ini dan banyak dari mereka yang berbondong-bondong memeluk agama Islam karena saking kagumnya dengan toleransi yang diajarkan kanjeng Sunan Kudus. Atau saat Sunan Kalijogo yang mengajarkan syahadat dengan wayang,sunan bonang dengan alat musiknya, para ulama lawas ini tidak serta merta mengkafirkan semua adat dan kebiasaan yang sudah terjadi dikalangan masyarakat pribumi waktu itu, tapi mereka masuk ke budaya dan mengakulturasinya dengan ajaran islam.

Dan dalam mengajarkan syariat islam para ulama lawas ini juga tidak pernah kaku mereka lebih memilih metode yang luwes dan bisa diterima oleh budaya setempat dan penyampaiannya sesuai dengan kondisi pola pikir masyarakat yang mereka hadapi dan metode walisongo ini diwariskan turun temurun hingga saat ini.Ada contoh cara berkomunikasi yang tepat sasaran dan sesuai hati masyarakat. Cerita ini antara Kyai Bisri dan Kyai Wahab. Suatu hari ada seoarang yang datang dari kampung sowan ke kepesantrenn Kyai Bisri sesampainya disana si orang kampung tadi menyampaikan tujuannya yakni ingin konsultasi mengenai ibadah kurban yang akan dilaksanakannya. kurang lebih seperti ini “Kyai saya ingin berkurban Idul Adha”. “untuk berapa orang?’ jawab Kyai Bisri. “keluarga saya ada 8 kyai”. “nah kalau 8 itu berarti kurbannya sapi 1 dan kambing 1 atau kalo gak gitu yah kambing 8” nah karena pada dasarnya yang bertanya ini orang kampung maka imajinasi yang dipakai juga imajinasi ala orang kampung. Dia bilang”bisa ditawar gak kyai?kan ini anak saya kecil-kecil masak gak bisa kurban sapi satu yang gemuk biar bisa buat 8 orang, kalo nanti kambing delapan nanti di akhirat kita susah kordinasinya kyai,wong nonton dangdut ae anak saya yang paling kecil ketelisut apalagi nanti di Padang Mahsyar yang miliaran orang disana,nah kalo sapi 1 kambing 1 kan yah kasihan pak kyai masak kita yang lain sama-sama satu keluarga ada satu yang sendirian(yah gak bisa disalahkan kan imajinasi rakyat yah memang seperti itu hehe).’’ “gak bisa fiqihnya seperti itu’’jawab Kyai Bisri. Kyai Bisri ini memang terkenal fiqih sentris maka kalau A ya A gak bisa berubah sedikitpun.”oke kalau begitu gak jadi saja pak kyai’’. “yah gak papa lebih baik gak jadi karena fiqihnya seperti itu”, setelah itu si orang kampung ini pulang dan pergi menemui kyai Wahab lalu bertanya ke Kyai Wahab “kyai, misal kurban sapi satu untuk 8 orang bisa gak?”. “bisa”jawab Kyai Wahab. “lah katanya Kyai Bisri gak bisa soalnya fiqihnya seperti itu”. “ouh itukan fiqihnya Kyai Bisri kalo fiqih saya yah boleh, yawes kamu ikut saya aja”. Si orang kampung itu pun gembira bukan main.”beneran kyai, alhamdulillah jadi gini pak kyai kan keluarga saya itu 8 orang, niatnya itu mau kurban sapi satu yang gemuk biar nanti di Padang Mahsyar kita bisa rombongan bareng-bareng kalo pakek kambingkan kita sendiri-sendiri, nanti kordinasinya susah apalagi anak saya masih kecil-kecil kyai”. “oalah gitu toh,ya gapapa, eh anak kamu yang paling kecil umur berapa?”. “umur 3 tahun kyai”. Jawab orang kampung sigkat.”lah ini yang jadi masalah, kan anakmu kecil nanti naik ke sapinya susah mendingan kamu nambah kambing satu yo buat tangga anak kamu yang 3 tahun tadi jadi dia bisa naik kesapi bareng-bareng sekeluarga.”jelas kyai. “iya juga ya pak kyai anakku yang paling bungsu ntar naiknya susah, kalo gitu aku mau nambah satu kambing yang gemuk sekalian biar tangganya kuat buat satu keluarga, jadi aku kurban satu sapi gemuk buat tunggangan dan satu kambing gemuk buat tangga naik ke sapi.” “nah bagus udah sekarang cepet balik terus beli hewan kurban”. Lalu bergegaslah si orang kampung tadi untuk membeli sapi dan kambing yang disarankan oleh Kyai Wahab tadi. nah dari cerita tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa dengan komunikasi yang baik kita dapat merebut hati masyarakat tanpa meninggalkan syariat ataupun melanggar syariat. Dengan penyampaian seperti yang dilakukan Kyai Wahab tadi orang kampung itu tetap mau berkurban dan penjelasan Kyai Wahab tersebut dapat diterima oleh proporsi pola pikir orang kampung itu. Metode seperti inilah yang digunakan ulama lawas sehingga syariat islam dapat diterima dengan baik dan mendarah daging di hati masyarakatnya. Cerita tadi sanadnya nyambung kepada Gusdur dan tidak ada unsur mengunggulkan salah satu antara Kyai Wahab dengan Kyai Bisri. Kedua Kyai tersebut adalah orang yang alim dan sangat bijaksana namun diantara keduanya memiliki metode tersendiri dalam berdakwah.

Oleh:Jocker fine

 

Titik tanpa koma

Ikatan pasti yang mengandung makna

Ini masalah berhenti bukan hanya sekedar untuk berjeda diri

Sudah terlalu jauh kaki melangkah

Hingga lupa akan arah

Yah sekarang saat nya berhenti Seperti titik

Tak perlu ragu dan tak boleh surplus kendali lagi

Jeda biarkan yang lain terjeda tapi aku tidak

Aku harus titik

Titik yang akan menjadi penunjuk arah

Arah baru pembawa berkah

Titik tanpa koma

Keputusan mutlak tanpa ada toleransi

Sekali yakin maka harus tetap yakin

Pilihan hidup yang susah

Jangan sampai membuatmu gentar dan mencooba berubah arah

Yah itulah titik tanpa koma

Islam memperbolehkan peringkasan dan penggabungan dalam shalat atau shalat jamak qashar sebagai bentuk keringanan untuk musafir.

Hujan mengguyur kampus IPB serta malam yang terasa dingin. Hari itu bertepatan malam sabtu yang seperti biasa menjadi rutinitas anak KMNU IPB, yaitu kajian kitab di node ARL lt. 2. Satu-persatu anak KMNU hadir dan menempati tempat yang telah disediakan.
Teringat sebelum kajian dimulai. Datang seorang lak-laki yang memakai jaket hitam membawa karung yang kelihatan berat dengan memikul di bahunya. Karung tersebut berisi salah satunya tikar sejumlah sekitar 5-6 tikar. Punggungnya membawa tas berwarna merah hitam yang berisi pengeras suara untuk kajian. Badan dia yang basah karena terkena hujan, mungkin badannya menutupi karung atau tas agar tidak terkena hujan. Langsung dibukanya tikar tersebut dengan dibantu sedikit temen-temennya disitu. Memasang kabel terminal yang sumber listriknya sedikit jauh. Tak lupa juga memasang dan mengatur pengeras suaranya.
Sebelumnya, ada seorang perempuan yang rela sendirian menunggu sampai teman-teman yang lain datang untuk kajian atau menunggu pengurus membawa peralatan kajian. Tak lain halnya dia untuk mengetag tempat tersebut agar node ARL lt. 2 tidak dipakai orang lain. Sehingga KMNU tidak bingung mencari tempat buat kajian. Berkat mereka anak KMNU bisa merasakan nyamannya kajian. Banyak orang yang tidak tahu dibalik nyamannya kajian KMNU terkadang kita juga tidak berterima kasih kepada mereka.

Itulah salah satu ciri kader KMNU yang sebenarnya. Kader militan adalah orang yang ada disaat orang lain lain tidak ada, orang yang melakukan disaat oran lain tidak melakukan. Yang selalu ikhlas melakukannya. Kader KMNU adalah sosok relawan yang tak dibayar, bukan berarti tak bernilai tetapi tak ternilai.

Author : M. Tajuddin