Karya : Ricky Gusnia

 

Aku kau dan mereka adalah kita

Diriku dirimu dan dirinya adalah diri kita

Bergumul menjadi satu dan mendarah daging

Dalam satu mimpi dan cita abadi

Yang getarannya selalu bergerilya dalam diri

Yang menyatu dalam hembusan nafas yang terhirup setiap  saat

 

Perjuanganku dan perjuangan mereka

Tanpa cacat sedikitpun dan sempurna

Pengabdianku dan pengabdian mereka

Kupersembahkan tanpa ada pamrih dan sukarela

Namun apa dayalah kami sebagai manusia yang tetap butuh imbalan yang setara

Karena kami punya anak dan istri juga , bukankah kau juga begitu ?

 

Akulah manusia ladang yang ingin hidup kalian bahagia

Keringatku keringat mereka

Kupersembahkan semua untukmu Tuan

Tapi janganlah kau anggap rendah diriku atas profesiku

Bukankah kau juga tau  Sabda Bung Karno , Pangan hidup mati bangsa !

Aku memanggilmu duhai pemimpin dan para pemuda

Untuk berjuang dan berkarya bersama demi negara

Serat Kalatidha, Pupuh (Bait) 1, Gatra (Baris) 1

R Ng. Ronggo Warsito merupakan salah seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keberkahan ilmu “weruh sadurunge winarah” yang bermakna tahu sebelum orang lain tahu. Begitu banyak karya sastra yang digubahnya dalam bentuk tembang macapat yang ringkas namun memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Tidak jarang gubahan R. Ng. Ronggo Warsito masih relevan di jaman abad melenium seperti saat ini. Menurut pendapat banyak ahli, R. Ng. Ronggo Warsito sebenarnya menggambarkan kejadian kejadian pada masa tersebut, namun banyak juga kejadian yang beliau gubah dalam serat yang ditulis memiliki kemiripan pada masa-masa selanjutnya. Dalam pemilihan diksi kata Jawa, beliau sangat dalam dan mengerti penggunaan bahasa Jawa yang sesuai untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada saat itu.

Mangkya Darajating Praja – Serat Kalatidha, Bab 1, Baris 1

Pemilihan kata mangkya (baca : mangkyo) yang memiliki arti sangat luas digunakan oleh beliau di awal Serat, mangkya memiliki terjemahan Bahasa Indonesia tampak, terlihat, diketahui, dan memiliki padanan kata dengan katon, kaweruhan, pengerten, dsb. Beberapa peneliti menafsirkan kata mangkya dengan kata yang menunjukkan waktu yang berarti sekarang. Bahasa yang dipakai dalam serat ini menggunakan serat sastra yang indah dan tidak semua orang dapat menafsirkan dengan mudah sehingga tidak jarang para peneliti dan ahli pun memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan serat yang ditulis oleh para Pujangga jaman dahulu, tidak hanya R. Ng. Ronggo Warsito tetapi juga pujangga lainnya.

Kata kedua menggunakan diksi darajating (baca : darojating) yang memiliki arti martabatnya. Kata dasar dari darajating adalah darajat yang sebelumnya ditambahi imbuhan ing untuk menunjukkan kepunyaan dari subyek. Sedangkan, kata ketiga adalah praja, kita sering sekali mendengar kata praja, dan sangat mudah untuk dilafalkan namun tidak jarang pelafal dari kata praja tidak mengetahui makna dari praja itu sendiri.

Praja memiliki arti yang sangat luas begitu juga dengan makna yang sangat dalam. Praja bisa diartikan dengan prajurit, pasukan, pemerintah, keraton, batalion, dan sebagainya. Penggunaan kata praja sangat luas, sehingga banyak penulis menggunakan kata praja untuk konteks yang ingin disampaikannya. Pengartian kata praja secara singkatnya dapat dilihat pada konteks tulisannya. Penggunaan kata praja di praja muda karana (pramuka) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-pp), kelas jelas memiliki arti yang berbeda , karena secara konteks sudah berbeda. Praja di pramuka bermakna jiwa sedangkan praja di Satpol PP adalah pasukan atau angkatan militer.

Jadi penggunaan kalimat mangkya darajating praja diartikan oleh beberapa ahli sebagai “martabat negara tampak”. Yang bermakna bahwa martabat asli dari suatu negara telah tampak dengan jelas dan tidak perlu ditutupi. Kondisi keraton pada saat itu menunjukkan sesuatu yang jelas, sehingga tidak perlu ditutupi apa-apa, kalaupun berbohong sama halnya dengan menyembunyikan diri di balik satu jari telunjuk, sangat tampak jelas. Kondisi seperti itulah yang hendak digambarkan oleh R. Ng. Ronggo Warsito. Kondisi yang dapat dilihat bersama, dan mengejutkannya, sekarang juga terjadi mangkya darajating praja yang dapat ditafsir masing-masing oleh para pembaca yang budiman.

Sumber Pustaka :

Permana CP, Nurhayati E. Ragam bahasa Serat Kalatidha serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Jawa siswa SMPN 7 Yogyakarta. Jurnal Lingtera. 1(1): 39-53.

Ronggowarsito. 2015. Zaman Edan Cetakan 4. Yogyakarta (ID): Penerbit Forum.

(Cak Bim)

Alkisah, setelah kewafatannya, dalam sebuah mimpi, Abu Bakar As-Syibli ditanya oleh Allah: "Wahai As-Syibli, tahukah engkau apa yang menyebabkan ku mengampuni segala dosamu" "Sebab amal sholeh ku, Ya Allah" Jawab Asy-Syibli "Bukan" kata Allah. "Sebab ibadah-ibadah ku yang ikhlas" Jawab As-Syibli lagi "Bukan, As-Syibli" Kata Allah "Wahai Allah, sebab hajiku, puasaku, dan sholatku" Jawab Asy-Syibli untuk yang ketiga kalinya "Bukan itu" Kata Allah "Sebab hijrahku bersama orang-orang sholeh dan mencari ilmu" Jawabnya lagi untuk yang keempat "Bukan" kata Allah lagi "Lalu, sebab apa ya Allah, engkau mengampuniku ?" Tanya As-Syibli balik "Tidakkah Engkau ingat ? Suatu ketika kamu berjalan di sebuah perkampungan di kota Baghdad. Engkau menemukan anak kucing kecil yang sedang kedinginan. Kucing itu meringkuk karena sangat kedingina. Karena rasa belasa kasihanmu, engkau mengambilnya. Lalu, kamu masukkan kucing itu ke dalam bajumu untuk menghangatkannya." Tanya Allah "Hamba ingat kejadian itu, Ya Allah" Jawab As-Syibli "Sebab belas kasihanmu kepada kucing itulah, aku belas kasihan kepadamu dan Ku ampuni segala dosamu" Tegas Allah. Kisah ini diceritakan dalam kitab "Nashoihul Ibad" karya ulama nusantara Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi atau sering disebut Imam Nawawi Al-Bantani. Kitab ini merupakan syarah dari Kitab "Al-Munabbihat ala Al-Isti'dat li Yaum Al-Ma'ad" karya Shihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-'Astqalani. Kisah As-Syibli ini mengajarkan kepada kita bahwa amal-amal sholeh yang kita anggap besar tidak dapat menjamin ampunan dan rahmat Allah. Namun, justru amal-amal kecil yang kita anggap sepele bisa menjadi washilah untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah. By: @alfarisi_hamzah

Alkisah, setelah kewafatannya, dalam sebuah mimpi, Abu Bakar As-Syibli ditanya oleh Allah:

“Wahai As-Syibli, tahukah engkau apa yang menyebabkan ku mengampuni segala dosamu”

“Sebab amal sholeh ku, Ya Allah” Jawab Asy-Syibli

“Bukan” kata Allah.

“Sebab ibadah-ibadah ku yang ikhlas” Jawab As-Syibli lagi

“Bukan, As-Syibli” Kata Allah

“Wahai Allah, sebab hajiku, puasaku, dan sholatku” Jawab Asy-Syibli untuk yang ketiga kalinya

“Bukan itu” Kata Allah

“Sebab hijrahku bersama orang-orang sholeh dan mencari ilmu” Jawabnya lagi untuk yang keempat

“Bukan” kata Allah lagi

“Lalu, sebab apa ya Allah, engkau mengampuniku ?” Tanya As-Syibli balik

“Tidakkah Engkau ingat ? Suatu ketika kamu berjalan di sebuah perkampungan di kota Baghdad. Engkau menemukan anak kucing kecil yang sedang kedinginan. Kucing itu meringkuk karena sangat kedingina. Karena rasa belasa kasihanmu, engkau mengambilnya. Lalu, kamu masukkan kucing itu ke dalam bajumu untuk menghangatkannya.” Tanya Allah

“Hamba ingat kejadian itu, Ya Allah” Jawab As-Syibli

“Sebab belas kasihanmu kepada kucing itulah, aku belas kasihan kepadamu dan Ku ampuni segala dosamu” Tegas Allah.

Kisah ini diceritakan dalam kitab “Nashoihul Ibad” karya ulama nusantara Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi atau sering disebut Imam Nawawi Al-Bantani. Kitab ini merupakan syarah dari Kitab “Al-Munabbihat ala Al-Isti’dat li Yaum Al-Ma’ad” karya Shihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-‘Astqalani.

Kisah As-Syibli ini mengajarkan kepada kita bahwa amal-amal sholeh yang kita anggap besar tidak dapat menjamin ampunan dan rahmat Allah. Namun, justru amal-amal kecil yang kita anggap sepele bisa menjadi washilah untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah.

Oleh: @alfarisi_hamzah

1. "Masker dapat mencegah penularan corona". Ini tidak tepat. Sebenarnya, masker (yang umum diperjualbelikan untuk bedah) tidak dibuat untuk memblok partikel corona, namun hanya berfungsi membantu bila seseorang yang terinfeksi corona tidak menyebarkan virus darinya. Masker berfungsi untuk mencegah titik-titik air dari hasil respirasi keluar ke lingkungan. 2. "Anak-anak tidak dapat terserang virus corona" Pendapat ini juga salah. Anak-anak bukan tidak dapat terinfeksi korona namun mereka sedikit yang terpapar virus korona, sehingga kasus corona pada anak-anak lebih sedikit. Bila anak-anak terinfeksi corona, mereka sepertinya kemungkinan kecil bisa parah. 3. "Kemungkinan terinfeksi virus corona lebih besar dari pada terinfeksi flu" Pendapat ini tidak akurat. Para ilmuwan menghitung nilai R0 untuk menghitung berapa potensi virus dapat menyebar. Baru-baru ini ditemukan bahwa nilai R0 SARS-CoV sekitar 2.2, itu artinya seseorang yang terinfeksi akan menularkan kira-kira 2.2 orang lain. Sedangkan flu memiliki nilai R0 sebesar 1.3. 4. "Virus corona hanya bentuk mutasi dari flu biasa". Pendapat ini salah, karena virus korona adalah keluarga besar virus. SARS-CoV-2 membagikan 90% genetiknya dengan virus korona yang menginfeksi kelelawar 5. "Virus dapat dibuat di laboratorium" Hingga sekarang, belum ada fakta atau penelitian yang mendukung pendapat ini. SARS-CoV-2 menyerupai 2 virus korona yang lain, yang merangsang pecah penyebarannya (outbreaks) pada dekade baru-baru ini. SARS-CoV-2, SARS-CoV, dan MERS-CoV berasal dari kelelawar 6. "Terinfeksi Virus Korona dapat membunuhmu" Sebanyak 18% orang yg terinfeksi virus korona degan kondisi sedang, sekitar 13.8% parah, dan 4.7% kritis 7. "Kamu akan tahu ketika kamu telah terinfeksi" Pernyataan ini tidak akurat. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi mungkin tidak muncul gejala sama sekali. Gejala COVID-19 sama seperti flu dan demam biasa. Gejala umum COVID-19 adalah demam, batuk-batuk, dan sudah bernafas. Gejala yang jarang sekali terjadi yaitu pusing, muak, muntah, dan ingusan. 8. "Vitamin C akan menjagamu dari COVID-19" Belum ada bukti, kalau vitamin C meningkatkan kekebalan tubuh untuk menghadapi COVID-19. Vitamin C menyediakan kebutuhan yang esensial pada tubuh manusia, dan mendukung fungsi normal sistem kekebalan. Minum banyak vitamin C tidak akan menurunkan risiko terinfeksi COVID-19 9. "Kamu tidak boleh menerima paket dari Cina" Menurut WHO, menerima surat atau paket dari Cina aman. Virus korona tidak mampu bertahan lama di sebuah benda seperti surat dan paket 10. "Musim dingin dan Salju dapat membunuh COVID-19" Ini juga tidak benar. Suhu tubuh normal manusia adalah 36.5 sampai 37 derat celcius. Alih bahasa: @alfarisi_hamzah Sumber: Video Hashem Al-Ghaili, fb.me/sciencenaturepage

1. “Masker dapat mencegah penularan corona“.

Ini tidak tepat. Sebenarnya, masker (yang umum diperjualbelikan untuk bedah) tidak dibuat untuk memblok partikel corona, namun hanya berfungsi membantu bila seseorang yang terinfeksi corona tidak menyebarkan virus darinya. Masker berfungsi untuk mencegah titik-titik air dari hasil respirasi keluar ke lingkungan.

2. “Anak-anak tidak dapat terserang virus corona

Pendapat ini juga salah. Anak-anak bukan tidak dapat terinfeksi korona namun mereka sedikit yang terpapar virus korona, sehingga kasus corona pada anak-anak lebih sedikit. Bila anak-anak terinfeksi corona, mereka sepertinya kemungkinan kecil bisa parah.

3. “Kemungkinan terinfeksi virus corona lebih besar dari pada terinfeksi flu”

Pendapat ini tidak akurat. Para ilmuwan menghitung nilai R0 untuk menghitung berapa potensi virus dapat menyebar. Baru-baru ini ditemukan bahwa nilai R0 SARS-CoV sekitar 2.2, itu artinya seseorang yang terinfeksi akan menularkan kira-kira 2.2 orang lain. Sedangkan flu memiliki nilai R0 sebesar 1.3.

4. “Virus corona hanya bentuk mutasi dari flu biasa”.

Pendapat ini salah, karena virus korona adalah keluarga besar virus. SARS-CoV-2 membagikan 90% genetiknya dengan virus korona yang menginfeksi kelelawar

5. “Virus dapat dibuat di laboratorium”

Hingga sekarang, belum ada fakta atau penelitian yang mendukung pendapat ini. SARS-CoV-2 menyerupai 2 virus korona yang lain, yang merangsang pecah penyebarannya (outbreaks) pada dekade baru-baru ini. SARS-CoV-2, SARS-CoV, dan MERS-CoV berasal dari kelelawar

6. “Terinfeksi Virus Korona dapat membunuhmu”

Sebanyak 18% orang yg terinfeksi virus korona degan kondisi sedang, sekitar 13.8% parah, dan 4.7% kritis

7. “Kamu akan tahu ketika kamu telah terinfeksi”

Pernyataan ini tidak akurat. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi mungkin tidak muncul gejala sama sekali. Gejala COVID-19 sama seperti flu dan demam biasa. Gejala umum COVID-19 adalah demam, batuk-batuk, dan sudah bernafas. Gejala yang jarang sekali terjadi yaitu pusing, muak, muntah, dan ingusan.

8. “Vitamin C akan menjagamu dari COVID-19”

Belum ada bukti, kalau vitamin C meningkatkan kekebalan tubuh untuk menghadapi COVID-19. Vitamin C menyediakan kebutuhan yang esensial pada tubuh manusia, dan mendukung fungsi normal sistem kekebalan. Minum banyak vitamin C tidak akan menurunkan risiko terinfeksi COVID-19

9. “Kamu tidak boleh menerima paket dari Cina”

Menurut WHO, menerima surat atau paket dari Cina aman. Virus korona tidak mampu bertahan lama di sebuah benda seperti surat dan paket

10. “Musim dingin dan Salju dapat membunuh COVID-19”

Ini juga tidak benar. Suhu tubuh normal manusia adalah 36.5 sampai 37 derat celcius.

Alih bahasa: @alfarisi_hamzah
Sumber: Video Hashem Al-Ghaili, fb.me/sciencenaturepage

Kominfo KMNU IPB

Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan pada diri seseorang termasuk penyandang disabilitas seharusnya menjadi sarana untuk berdamai dengan kondisi dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mulk: 1-2;“Mahasuci Dzat yang dalam genggamnya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya. Dia Mahamulia lagi Maha Mengampuni.”   Sosok dengan disabilitas dikenal dan turut mewarnai perkembangan agama Islam contohnya dalam dunia periwayatan (rawi) hadis Nabi saw. Sebenarnya tidak ada pelarangan seorang difabel atau penyandang disabilitas menjadi perawi hadis profesional. Aspek yang terpenting adalah sejauh mana orang tersebut memenuhi kriteria menjadi perawi yang kredibel. Paling tidak ada lima kriteria utama:Ketaatan menjalankan agama (adl),Memiliki hafalan yang baik (dabth),Dapat dibuktikan pertemuan dengan gurunya (ittishal sanad),Tidak bertentangan dengan hadis lain (syaddz), danTidak ada cacat yang tersembunyi (illat).Meskipun seseorang memiliki keterbatasan fisik namun dapat memenuhi kriteria tersebut dan adapat diuji secara adil menggunakan standar-standar ilmu hadis orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perawi yang andal dan periwayatannya dianggap sahih. Ibnu Hibban, seorang ulama hadis terkemuka dan kritikus professional perawi hadis, menyebutkan tidak kurang dari 14 orang perawi berkualitas penyandang disabilitas kebutaan di dalam kitabnya al-Tsiqat.Salah satu perawi  tersebut yaitu Abu Mu’awiyah yang bernama lengkap Muhammad bin Khazim al-Kufi. Abu Mu’awiyah dicatat pernah belajar kepada ulama-ulama besar seperti Hisyam bin Urwah, keponakan dari Aisyah, istri Nabi saw. Abu Mu’awiyah merupakan guru dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya merupakan kritikus rawi terkemuka yang sampai sekarang pernyataan mereka selalu dikutip. Salah satu sosok ulama penyandang disabilitas kebutaan lain adalah Hafsh bin Umar Abu Umar al-Dharir. Ibnu Hibban mencatat bahwa Hafsh bin Umar selain seorang perawi hadis yang andal juga ahli dan mengusai ilmu waris (fara’id), astronomi (hisab), sastra (puisi), sejarah Arab kuno, dan ilmu fikih.Hal ini menunjukkan bahwa pada masa kedua tokoh besar itu terdapat kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berkembang serta adanya apresiasi terhadap karya orang lain tanpa melihat kekurangan fisik yang ada pada seseorang. Dengan lingkungan yang mendukung dapat menimbulkan motivasi yang kuat dari dalam diri penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, sosok dengan karya dan prestasi besar dapat muncul dari penyandang disabilitas. (HR)Sumber: Huda MK. 2015. Para Ahli Hadis Difabel. Pekalongan (ID): Menara Publisher.

Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan pada diri seseorang termasuk penyandang disabilitas seharusnya menjadi sarana untuk berdamai dengan kondisi dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mulk: 1-2;

“Mahasuci Dzat yang dalam genggamnya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya. Dia Mahamulia lagi Maha Mengampuni.”   

Sosok dengan disabilitas dikenal dan turut mewarnai perkembangan agama Islam contohnya dalam dunia periwayatan (rawi) hadis Nabi saw. Sebenarnya tidak ada pelarangan seorang difabel atau penyandang disabilitas menjadi perawi hadis profesional. Aspek yang terpenting adalah sejauh mana orang tersebut memenuhi kriteria menjadi perawi yang kredibel. Paling tidak ada lima kriteria utama:

  1. Ketaatan menjalankan agama (adl),
  2. Memiliki hafalan yang baik (dabth),
  3. Dapat dibuktikan pertemuan dengan gurunya (ittishal sanad),
  4. Tidak bertentangan dengan hadis lain (syaddz), dan
  5. Tidak ada cacat yang tersembunyi (illat).

Meskipun seseorang memiliki keterbatasan fisik namun dapat memenuhi kriteria tersebut dan adapat diuji secara adil menggunakan standar-standar ilmu hadis orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perawi yang andal dan periwayatannya dianggap sahih. Ibnu Hibban, seorang ulama hadis terkemuka dan kritikus professional perawi hadis, menyebutkan tidak kurang dari 14 orang perawi berkualitas penyandang disabilitas kebutaan di dalam kitabnya al-Tsiqat.

Salah satu perawi  tersebut yaitu Abu Mu’awiyah yang bernama lengkap Muhammad bin Khazim al-Kufi. Abu Mu’awiyah dicatat pernah belajar kepada ulama-ulama besar seperti Hisyam bin Urwah, keponakan dari Aisyah, istri Nabi saw. Abu Mu’awiyah merupakan guru dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya merupakan kritikus rawi terkemuka yang sampai sekarang pernyataan mereka selalu dikutip. Salah satu sosok ulama penyandang disabilitas kebutaan lain adalah Hafsh bin Umar Abu Umar al-Dharir. Ibnu Hibban mencatat bahwa Hafsh bin Umar selain seorang perawi hadis yang andal juga ahli dan mengusai ilmu waris (fara’id), astronomi (hisab), sastra (puisi), sejarah Arab kuno, dan ilmu fikih.

Hal ini menunjukkan bahwa pada masa kedua tokoh besar itu terdapat kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berkembang serta adanya apresiasi terhadap karya orang lain tanpa melihat kekurangan fisik yang ada pada seseorang. Dengan lingkungan yang mendukung dapat menimbulkan motivasi yang kuat dari dalam diri penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, sosok dengan karya dan prestasi besar dapat muncul dari penyandang disabilitas. (HR)

Sumber: Huda MK. 2015. Para Ahli Hadis Difabel. Pekalongan (ID): Menara Publisher.

Habib Novel Alaydrus - Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”Ibu itupun menjawab,“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”Hikmah dibalik kisahBerpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.(Habib Novel)

Habib Novel Alaydrus – Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,

“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”

Ibu itupun menjawab,

“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Hikmah dibalik kisah

Berpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.

(Habib Novel)

Editor : MA

Seseorang mungkin pernah berkata : Jika hati mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat memahami, maka apa dosa mereka? Jika mata mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat melihat, maka apa dosa mereka? Begitu juga, jika telinga mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat mendengar, maka kenapa mereka disiksa? Kita katakan : Tidak! Allah tidak menciptakan mereka untuk disiksa. Tetapi mereka menyibukkan diri dengan hawa nafsu yang menguasai mereka. Akal mereka tidak memikirkan selain itu dan hanya merencanakan cara untuk memenuhi hawa nafsu tersebut. Mata mereka tidak melihat selain yang disenanginya. Begitu juga telinga mereka. Masing-masing dari mereka melihat apa yang bukan menjadi tujuan penglihatan dan mendengar apa yang bukan menjadi tujuan pendengaran.

Perbedaan antara pemahaman hati, penglihatan, dan pendengaran telinga adalah : Pemahaman hati berarti pemahaman terhadap perkata-perkara yang dihasilkan oleh penginderaan. Kita tahu bahwa penginderaan terjadi melalui panca indera. Kita tahu bahwa sutra itu halus dengan merabanya. Kita tahu bahwa kasturi itu wangi dengan membauinya. Dan kita tahu madu itu manis dengan mengecapnya.

Jadi, setiap alat pengindera melakukan penginderaan, yaitu benda-benda yang bisa diinderai. Setelah penginderaan terjadi, dalam hati manusia akan terbentuk sebuah konsep. Dan konsep ini akan menjadi matang hingga tercipta sebuah aksioma yang diterima kebenarannya begitu saja.

Semua orang tahu api itu membakar. Sebab, ketika pertama kali manusia menyentuh api ia tersengat olehnya, sehingga ia tahu api itu membakar. Hasil dari penginderaan ini kemudian berubah menjadi konsep.

Jadi, pengetahuan masuk ke dalam jiwa manusia melalui alat-alat pengindera zhahir. Selain pengindera zhahir, ada juga pengindera bathin (tidak zahir). Misalnya mengukur berat benda dengan mengangkatnya. Para ilmuwan telah menyadari hal itu dan menemukan pengindera yang dinamakan dengan indera otot. Sebab, ketika engkau mengangkat sesuatu kadang otot bekerja lebih keras, jika beban yang diangkat berat.

Ketika kita melihat seseorang dari dekat dan orang lain dari jauh, ini dinamakan indera jarak. Ada juga indera pembeda, yaitu yang dengannya dapat dibedakan ketebalan kain, misalnya.

Jadi, semua indera membangun konsep-konsep dalam jiwa manusia. Dan ketika konsep-konsep itu telah terbangun, terbentuklah aksioma-aksioma yang menetap dalam hati.

Maka dari itu, wahai segenap mata tirulah mata Nabimu. Ia melihat kebenaran seterang siang, Ia menatap sesama dengan cinta, dan Ia memandang dunia dan tak menganggapnya berharga. Jika mata ini sepertinya maka diri ini akan diizinkan menatap indah parasnya.

Wahai segenap telinga, seperti telinga Nabi maka mendengarlah. Telinga yang pandai menyimak firman Tuhannya, telinga yang tak bosan mendengar keluh kesah, dan telinga yang tak suka mendengar aib orang dibuka-buka. Jika kau meniru caranya mendengar, kelak di padang mahsyar kau akan mendengar Surat Ar-Rahman oleh Nabi dibacakan.

Wahai segenap hati, andai rasamu terciprat rasa hati Nabi, sedihmu adalah atas dosa dan maksiat. Bahagiamu atas ibadah dan taat. Hati Nabi kalau dibuka berisi rahmat yang siap ditebar kepada seluruh umat. Tak ada benci, iri, dengki, ataupun kesombongan. Dari sanalah bersumber darinya segala kebaikan. Andai… dengan hati Nabi hati ini tersambungkan. Sungguh, untuk diri ini Allah turunkan segenap kasih sayang. Dan bersama Nabi diri ini selalu berdampingan.

 

Referensi : Ishlahul Quluub karya Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi