,

Keringat Juang

Karya : Ricky Gusnia   Aku kau dan mereka adalah kita Diriku dirimu dan dirinya adalah diri kita Bergumul menjadi satu dan mendarah daging Dalam satu mimpi dan cita abadi Yang getarannya selalu bergerilya dalam diri Yang…
, ,

Ngaji Serat Kalatidha (1)

Serat Kalatidha, Pupuh (Bait) 1, Gatra (Baris) 1 R Ng. Ronggo Warsito merupakan salah seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keberkahan ilmu “weruh sadurunge winarah” yang bermakna tahu sebelum orang lain…
Alkisah, setelah kewafatannya, dalam sebuah mimpi, Abu Bakar As-Syibli ditanya oleh Allah: "Wahai As-Syibli, tahukah engkau apa yang menyebabkan ku mengampuni segala dosamu" "Sebab amal sholeh ku, Ya Allah" Jawab Asy-Syibli "Bukan" kata Allah. "Sebab ibadah-ibadah ku yang ikhlas" Jawab As-Syibli lagi "Bukan, As-Syibli" Kata Allah "Wahai Allah, sebab hajiku, puasaku, dan sholatku" Jawab Asy-Syibli untuk yang ketiga kalinya "Bukan itu" Kata Allah "Sebab hijrahku bersama orang-orang sholeh dan mencari ilmu" Jawabnya lagi untuk yang keempat "Bukan" kata Allah lagi "Lalu, sebab apa ya Allah, engkau mengampuniku ?" Tanya As-Syibli balik "Tidakkah Engkau ingat ? Suatu ketika kamu berjalan di sebuah perkampungan di kota Baghdad. Engkau menemukan anak kucing kecil yang sedang kedinginan. Kucing itu meringkuk karena sangat kedingina. Karena rasa belasa kasihanmu, engkau mengambilnya. Lalu, kamu masukkan kucing itu ke dalam bajumu untuk menghangatkannya." Tanya Allah "Hamba ingat kejadian itu, Ya Allah" Jawab As-Syibli "Sebab belas kasihanmu kepada kucing itulah, aku belas kasihan kepadamu dan Ku ampuni segala dosamu" Tegas Allah. Kisah ini diceritakan dalam kitab "Nashoihul Ibad" karya ulama nusantara Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi atau sering disebut Imam Nawawi Al-Bantani. Kitab ini merupakan syarah dari Kitab "Al-Munabbihat ala Al-Isti'dat li Yaum Al-Ma'ad" karya Shihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-'Astqalani. Kisah As-Syibli ini mengajarkan kepada kita bahwa amal-amal sholeh yang kita anggap besar tidak dapat menjamin ampunan dan rahmat Allah. Namun, justru amal-amal kecil yang kita anggap sepele bisa menjadi washilah untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah. By: @alfarisi_hamzah
, ,

Menolong Kucing Kecil Kedinginan, As-Syibli Diampuni Segala Dosanya

Alkisah, setelah kewafatannya, dalam sebuah mimpi, Abu Bakar As-Syibli ditanya oleh Allah: "Wahai As-Syibli, tahukah engkau apa yang menyebabkan ku mengampuni segala dosamu" "Sebab amal sholeh ku, Ya Allah" Jawab Asy-Syibli "Bukan" kata Allah. "Sebab…
1. "Masker dapat mencegah penularan corona". Ini tidak tepat. Sebenarnya, masker (yang umum diperjualbelikan untuk bedah) tidak dibuat untuk memblok partikel corona, namun hanya berfungsi membantu bila seseorang yang terinfeksi corona tidak menyebarkan virus darinya. Masker berfungsi untuk mencegah titik-titik air dari hasil respirasi keluar ke lingkungan. 2. "Anak-anak tidak dapat terserang virus corona" Pendapat ini juga salah. Anak-anak bukan tidak dapat terinfeksi korona namun mereka sedikit yang terpapar virus korona, sehingga kasus corona pada anak-anak lebih sedikit. Bila anak-anak terinfeksi corona, mereka sepertinya kemungkinan kecil bisa parah. 3. "Kemungkinan terinfeksi virus corona lebih besar dari pada terinfeksi flu" Pendapat ini tidak akurat. Para ilmuwan menghitung nilai R0 untuk menghitung berapa potensi virus dapat menyebar. Baru-baru ini ditemukan bahwa nilai R0 SARS-CoV sekitar 2.2, itu artinya seseorang yang terinfeksi akan menularkan kira-kira 2.2 orang lain. Sedangkan flu memiliki nilai R0 sebesar 1.3. 4. "Virus corona hanya bentuk mutasi dari flu biasa". Pendapat ini salah, karena virus korona adalah keluarga besar virus. SARS-CoV-2 membagikan 90% genetiknya dengan virus korona yang menginfeksi kelelawar 5. "Virus dapat dibuat di laboratorium" Hingga sekarang, belum ada fakta atau penelitian yang mendukung pendapat ini. SARS-CoV-2 menyerupai 2 virus korona yang lain, yang merangsang pecah penyebarannya (outbreaks) pada dekade baru-baru ini. SARS-CoV-2, SARS-CoV, dan MERS-CoV berasal dari kelelawar 6. "Terinfeksi Virus Korona dapat membunuhmu" Sebanyak 18% orang yg terinfeksi virus korona degan kondisi sedang, sekitar 13.8% parah, dan 4.7% kritis 7. "Kamu akan tahu ketika kamu telah terinfeksi" Pernyataan ini tidak akurat. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi mungkin tidak muncul gejala sama sekali. Gejala COVID-19 sama seperti flu dan demam biasa. Gejala umum COVID-19 adalah demam, batuk-batuk, dan sudah bernafas. Gejala yang jarang sekali terjadi yaitu pusing, muak, muntah, dan ingusan. 8. "Vitamin C akan menjagamu dari COVID-19" Belum ada bukti, kalau vitamin C meningkatkan kekebalan tubuh untuk menghadapi COVID-19. Vitamin C menyediakan kebutuhan yang esensial pada tubuh manusia, dan mendukung fungsi normal sistem kekebalan. Minum banyak vitamin C tidak akan menurunkan risiko terinfeksi COVID-19 9. "Kamu tidak boleh menerima paket dari Cina" Menurut WHO, menerima surat atau paket dari Cina aman. Virus korona tidak mampu bertahan lama di sebuah benda seperti surat dan paket 10. "Musim dingin dan Salju dapat membunuh COVID-19" Ini juga tidak benar. Suhu tubuh normal manusia adalah 36.5 sampai 37 derat celcius. Alih bahasa: @alfarisi_hamzah Sumber: Video Hashem Al-Ghaili, fb.me/sciencenaturepage
, , ,

10 Mitos dan Salah Paham Coronavirus

1. "Masker dapat mencegah penularan corona". Ini tidak tepat. Sebenarnya, masker (yang umum diperjualbelikan untuk bedah) tidak dibuat untuk memblok partikel corona, namun hanya berfungsi membantu bila seseorang yang terinfeksi corona tidak…
Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan pada diri seseorang termasuk penyandang disabilitas seharusnya menjadi sarana untuk berdamai dengan kondisi dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Mulk: 1-2;“Mahasuci Dzat yang dalam genggamnya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya. Dia Mahamulia lagi Maha Mengampuni.”   Sosok dengan disabilitas dikenal dan turut mewarnai perkembangan agama Islam contohnya dalam dunia periwayatan (rawi) hadis Nabi saw. Sebenarnya tidak ada pelarangan seorang difabel atau penyandang disabilitas menjadi perawi hadis profesional. Aspek yang terpenting adalah sejauh mana orang tersebut memenuhi kriteria menjadi perawi yang kredibel. Paling tidak ada lima kriteria utama:Ketaatan menjalankan agama (adl),Memiliki hafalan yang baik (dabth),Dapat dibuktikan pertemuan dengan gurunya (ittishal sanad),Tidak bertentangan dengan hadis lain (syaddz), danTidak ada cacat yang tersembunyi (illat).Meskipun seseorang memiliki keterbatasan fisik namun dapat memenuhi kriteria tersebut dan adapat diuji secara adil menggunakan standar-standar ilmu hadis orang tersebut dapat dikategorikan sebagai perawi yang andal dan periwayatannya dianggap sahih. Ibnu Hibban, seorang ulama hadis terkemuka dan kritikus professional perawi hadis, menyebutkan tidak kurang dari 14 orang perawi berkualitas penyandang disabilitas kebutaan di dalam kitabnya al-Tsiqat.Salah satu perawi  tersebut yaitu Abu Mu’awiyah yang bernama lengkap Muhammad bin Khazim al-Kufi. Abu Mu’awiyah dicatat pernah belajar kepada ulama-ulama besar seperti Hisyam bin Urwah, keponakan dari Aisyah, istri Nabi saw. Abu Mu’awiyah merupakan guru dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya merupakan kritikus rawi terkemuka yang sampai sekarang pernyataan mereka selalu dikutip. Salah satu sosok ulama penyandang disabilitas kebutaan lain adalah Hafsh bin Umar Abu Umar al-Dharir. Ibnu Hibban mencatat bahwa Hafsh bin Umar selain seorang perawi hadis yang andal juga ahli dan mengusai ilmu waris (fara’id), astronomi (hisab), sastra (puisi), sejarah Arab kuno, dan ilmu fikih.Hal ini menunjukkan bahwa pada masa kedua tokoh besar itu terdapat kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berkembang serta adanya apresiasi terhadap karya orang lain tanpa melihat kekurangan fisik yang ada pada seseorang. Dengan lingkungan yang mendukung dapat menimbulkan motivasi yang kuat dari dalam diri penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan minat mereka. Dengan begitu, sosok dengan karya dan prestasi besar dapat muncul dari penyandang disabilitas. (HR)Sumber: Huda MK. 2015. Para Ahli Hadis Difabel. Pekalongan (ID): Menara Publisher.
,

Penyandang Disabilitas dalam Dunia Perawi Hadis

Disabilitas yang disandang oleh seseorang tidak menghalangi orang tersebut untuk berkarya dan berprestasi. Sejatinya, ketidaksempurnaan merupakan sesuatu yang melekat pada setiap insan bahkan segala ciptaan. Ajaran Islam menekankan bahwa ketidaksempurnaan…
Habib Novel Alaydrus - Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”Ibu itupun menjawab,“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”Hikmah dibalik kisahBerpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.(Habib Novel)
,

Habib Novel Alaydrus : Hidup Atau Mati Aku Tetap Bahagia

Habib Novel Alaydrus - Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya, “Bu,bagaimana ibu masih…

Aksioma penginderaan

Seseorang mungkin pernah berkata : Jika hati mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat memahami, maka apa dosa mereka? Jika mata mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat melihat, maka apa dosa mereka? Begitu juga, jika telinga mereka diciptakan…