Foto oleh Sharon McCutcheon dari Pexels
, ,

Kesejahteraan Hewan dalam Islam

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur…
PengertianFathul Qorib - Al mawat, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam ar Rafi’i di dalam kitab Asy Syarh ash Shagir, adalah lahan yang tidak berstatus milik dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang. Sedangkan, Ihya’ al Mawat ialah mengolah bumi yang mati. Adapun yang dimaksud bumi yang mati ialah lahan yang belum dimanfaatkan.SyaratSyarat Ihya’ al Mawat ada dua. Pertama ialah orang yang mengolah bergama islam. Maka bagi orang islam hukumnya sunnah mengolah bumi mati, baik dengan izin imam ataupun tidak. Kecuali jika ada hak yang bersinggungan dengan bumi mawat tersebut. Seperti imam membatasi sebagian dari bumi mawat, kemudian ada seseorang yang ingin mengolahnya, maka ia tidak bisa memilikinya kecuali dengan izin dari imam, demikian menurut pendapat al ashah. Syarat yang kedua yaitu bumi tersebut harus merdeka-tidak bersatatus milik-yang dimiliki oleh orang islam. Lahan yang pernah dihuni namun sekarang sudah tidak lagi, maka statusnya adalah milik orang yang memilikinya jika memang diketahui, baik orang islam atau kafir dzimmi. Urusannya diserahkan pada keputusan imam, mau dijaga, atau dijual dan hasil penjualannya dijaga.Tata CaraTerdapat empat cara dalam ihya al Mawat berdasarkan tujuan dari pengolahan bumi mawat tersebut. Pertama,  jika orang yang mengolah ingin mengolah lahan mawat menjadi sebagai rumah, maka dalam hal ini disyaratkan harus memagari lahan tersebut dengan membangun pagar dengan sesuatu yang terlaku secara adat di tempat tersebut, yaitu berupa bata, batu atau bambu. Selain itu, disyaratkan harus memberi atap diatas sebagian lahan dan memasang pintu. Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kedua, Jika yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai ladang, maka ia harus mengumpulkan tanah di sekelilingnya, meratakan lahan tersebut dengan mencangkul bagian-bagian yang agak tinggi di sana, menimbun bagian-bagian yang berlubang/rendah, mengatur pengairan pada lahan tersebut dengan menggali sumur atau menggali saluran air. Ketiga, Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kempat,  jika yang mengolah lahan mawat ingin membuat kebun, maka ia harus mengumpulkan tanah dan membuat pagar di sekeliling lahan kebun tersebut jika memang hal itu telah terlaku. Di samping itu, juga disyaratkan harus menanam sesuatu menurut pendapat al madzhab.Pemberian AirKetika seseorang menemukan suatu sumber air, maka tidak wajib diberikan pada orang lain secara mutlak. Kewajiban memberikan air tersebut hanya diberlakukan dengan tiga syarat. Syarat pertama, air tersebut lebih dari kebutuhannya, maksudnya orang yang memiliki air tersebut. Jika air itu tidak lebih, maka ia berhak mendahulukan dirinya sendiri dan tidak wajib memberikannya pada orang lain. Syarat kedua, air tersebut dibutuhkan oleh orang lain, baik untuk dirinya sendiri atau binatangnya.Hal ini ketika di sana terdapat padang rumput yang digunakan untuk mengembalakan binatang ternak, dan tidak mungkin mengembala di sana kecuali dengan memberi minum air. Namun, tidak wajib baginya memberikan air tersebutuntuk tanaman atau pohon orang lain. Syarat ketiga, air tersebut masih berada di tempatnya, yaitu tempat keluarnya air baik sumur atau sumber. Sehingga, ketika air ini sudah diambil di dalam sebuah wadah, maka tidak wajib diberikan menurut pendapat shahih. Ketika wajib untuk memberikan air, maka yang dikehendaki dengan ini adalah mempersilahkan binatang ternak orang lain untuk mendatangi sumur, jika pemilik air tidak terganggu pada tanaman dan binatang ternaknya sendiri. Jika ia terganggu dengan kedatangan binatang ternak tersebut, maka binatang ternak tersebut dicegah untuk mendatangi sumur, dan bagi para pengembalanya yang harus mengambilkan air untuk binatang-binatang ternaknya.Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)Oleh: Ustadz M. Ainun Na’imJumat, 15 November 2019
, ,

Fathul Qorib Ihya Al Mawat : Mengolah Bumi Yang Mati

Pengertian Fathul Qorib - Al mawat, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam ar Rafi’i di dalam kitab Asy Syarh ash Shagir, adalah lahan yang tidak berstatus milik dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang. Sedangkan, Ihya’ al Mawat…
PEMIJAHAN MERUPAKAN PROSES PENGELUARAN SEL TELUR OLEH INDUK BETINA DAN SPERMA OLEH INDUK JANTAN YANG KEMUDIAN DIIKUTI DENGAN PERKAWINAN. PEMIJAHAN MERUPAKAN MATA RANTAI DALAM SIKLUS HIDUP YANG MENENTUKAN KELESTARIAN KEHIDUPAN SUATU SPESIES IKAN. PROSES PEMIJAHAN AKAN DIIKUTI DENGAN PROSES PEMBUAHAN, EMBRIOGENESIS, DAN DILANJUTKAN DENGAN PENETASAN SERTA PERKEMBANGAN IKAN DARI LARVA MENUJU IKAN DEWASA. PROSES PEMIJAHAN PADA SETIAP JENIS IKAN MEMPUNYAI KEBIASAAN YANG BERBEDA TERGANTUNG PADA FAKTOR EKSTERNAL DAN FAKTOR INTERNAL. Faktor Eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar tubuh ikan dan mampu mempengaruhi proses pemijahan. Faktor ekternal tersebut meliputi curah hujan, suhu, tumbuhan atau substrat tempat pemijahan, ikan jantan, kualitas air, dan lainnya. Pada umumnya, di alam ikan akan memijah pada musim hujan. Hal ini dikarenakan adanya fluktuasi suhu perairan yang dapat merangsang hormon dalam tubuh ikan sehingga merangsang ikan untuk memijah. Sedangkan dalam kegiatan budidaya, ikan dapat memijah kapan saja dengan melakukan manipulasi lingkungan yang sesuai dengan kondisi saat ikan memijah di alam. 2. Faktor internal Faktor internal merupakan faktor yang berasal dalam tubuh ikan dan dapat mempengaruhi proses pemijahan yang terjadi. Faktor internal meliputi kematangan gonad, ketersediaannya hormon androgen dan astrogen, serta hormon gonadotropin. Di dalam tubuh ikan, proses pemijahan terjadi dikarenakan adanya stimulus yang ditangkap oleh panca indra dan diteruskan ke hipotalamus. Hipotalamus kemudian akan memproduksi releasing hormon gonadotropin yang akan merangsang kelenjar hipofisa untuk memproduksi hormon gonadotropin dan pada ahirnya akan dialirkan darah ke testis dan ovarium dan merangksang gonad untuk membentuk hormon steroid yagn menjadi mediator proses pemijahan. EMBRIOGENESIS MERUPAKAN PROSES PEMBELAHAN SEL DAN DIFERENSIASI SEL DARI EMBRIO YANG TERJADI PADA SAAT TAHAP-TAHAP AWAL DARI PERKEMBANGAN MAKHLUK HIDUP. TAHAPAN EMBRIO DIMULAI DARI FETILISASI YAITU PENYATUAN SEL TELUR DAN SPERMA. ZIGOT TERBENTUK SETELAH ADANYA FERTILISASI DAN MENGALAMI PEMBELAHAN. TERDAPAT BEBERAPA FASE DALAM PERKEMBANGAN EMBRIO YAITU FASE MORULA, FASE BLASTULA, FASE GASTRULA, FASE DIFERENSIASI DAN FASE ORGANOGENESIS (ARYULINA 2009). Fase morula ditandai dengan adanya pembelahan sel yang dimulai dari satu menjadi dua, empat hingga membelah menjadi 36 sel. Pembelahan yang cepat terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub fungsional. Pada fase blastula terjadi pembagian sitoplasma ke dalam dua kutub yang dibentuk pada fase morula. Terjadi perbedaan konsentrasi pada kedua kutub tersebut. Sitoplasma pada kutub fungsional lebih sedikit dibanding dengan kutub vegetatif. Konsentrasi sitoplasma menetukan arah pertumbuhan selanjutnya. Blastosol merupakan rongga yang terbentuk diantara kutub fungsional dan kutub vegetatif. Embrio yang memiliki blastosol disebut blastula dan proses pembentukannya disebut blastulasi. Setelah fase blastula selesai maka dilanjutkan dengan fase gastrula (Aryulina 2009). Pada fase glastrula, diferensiasi terjadi pada embrio dengan mulai menghilangnya blastosol. Sel-sel pada kutub fungsional akan membelah dengan cepat sehingga sel-sel pada kutub vegetatif membentuk lekukan ke arah dalam (invaginasi). Invaginasi akan membentuk dua formasi, yaitu lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm). Ektoderm akan menjadi kulit dan bagian endoderm akan menjadi berbagai macam saluran. Pada fase akhir gastrula telah terbentuk bagian endoderm, mesoderm dan eksoderm (Aryulina 2009). Prosedur Pemijahan Ikan Lele (Clarias sp.) Persiapan Wadah Wadah pemijahan berupa kolam beton dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian dikeringkan seharian dan dicek kondisi kolam ada yng bocor atau tidak. Setelah itu kolam diisi air dan kakaban (tempat melekatnya telur ikan lele) di letakan dan ditata rapi di dalam kolam. Seleksi Induk Indukan lele yang digunakan adalah indukan yang sudah matang gonad dan siap untuk dipijahkan. Induk betina yang siap memijah dicirikan dengan bagian perutnya yang membuncit karena terisi telur atau dapat dilakukan pengecekan menggunakan kateter, sedangkan pada jantan dicirikan dengan bagian papilanya (alat kelamin) yang berwarna kemerahan. Cara membedakan jenis kelamin ikan dapat dilakukan melalui ciri kelamin primer dan ciri kelamin sekunder. Ciri kelamin primer dari ikan lele jantan yaitu alat kelamin jantan berbentuk runcing dan memanjang. Kantong sperma (testes) berjumlah 2 buah yang berbentuk pipih memanjang serta berwarna putih. Pada ikan lele betina, ciri kelamin primer ditunjukkan dengan bentuk alat kelamin yang bulat (oval) dan mempunyai kantong telur (ovarium) sebanyak 2 buah (Mahyuddin 2007). Sedangkan ciri kelamin sekunder pada lele jantan, warna badan yang dimiliki lebih gelap, mengeluarkan sperma apabila diurut, kepala lebih pipih, alat kelamin terlihat meruncing, dan gerakannya aktif. Pada ikan lele betina, memiliki ciri badan yang lebih cerah, alat kelamin dekat dengan sirip berbentuk bulat menonjol dan berubang, bentuk kepala cembung, dan gerakannya relatif lamban (AgroMedia 2007). Gambar 1. Alat kelamin lele betina (a), Alat kelamin jantan (b), Ovarium (c), dan kantong sperma (d). Pemijahan Proses pemijahan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu pemijahan secara alami, pemijahan secara semi alami, dan pemijahan secara buatan. Pemijahan alami dilakukan dengan cara menyatukan induk jantan dan betina yang sudah matang gonad ke dalam wadah yang sudah disiapkan. Pemijahan secara semi alami dilakukan dengan cara memberi rangsangan berupa hormon yang disuntikan ke tubuh induk jantan dan betina sebelum dimasukan ke dalam wadah pemijahan. Pemijahan secara buatan dilakukan dengan cara ikan diberi rangsangan berupa suntikan hormon, kemudian ikan di masukkan ke dalam kolam yang terpisah antara jantan dan betina. Setelah kurang lebih 7-8 jam dari waktu penyuntikan, ikan di keluarkan dan gonad jantan dan betina diambil dan dibuahi secara manual di dalam wadah berupa mangkok atau lainnya. Berikut ini merupakan tabel fekunditas atau banaykanya telur yang terdapat dalam 1 kg ikan lele. Tabel 1. Fekunditas Ikan lele Clarias sp. Spesies Perlakuan Fekunditas Literatur (butir/kg) Sumber literatur Ikan Lele Clarias sp. Alami 20000-60000 (Suyanto 2007) Semi alami 4.000-60.000 (Utomo 2006) Buatan 60.000 (Gufran 2010)   Daftar pustaka AgroMedia, Redaksi. 2007. Lele Ikan Berkumis Paling Populer. Jakarta: AgroMedia. Aryulina D. 2009. Biologi: Jilid 3. Jakarta: Erlangga Mahyuddin, Kholish. 2007. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta: Penebar Swadaya Suyanto,Rachmatun.2007. Budidaya Ikan Lele (ed. Revisis).Jakarta:Niaga Swadaya Suyanto, S.Rachmatun. 2008. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya. Utomo D S C. 2006. Efektivitas aromatase inhibitor­ melalui perendaman pada larva ikan lele sangkuriang, Clarias sp., yang berumur 0,2, dan 4 hari setelah menetas. Skripsi. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institutt Pertanian Bogor. Bogor Kontributor: Ahmad Mukhlis Hidayat Lulusan Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB 2011

Pemijahan dan Embriogenesis Ikan Lele (Clarias sp.)

Pemijahan merupakan proses pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan yang kemudian diikuti dengan perkawinan. Pemijahan merupakan mata rantai dalam siklus hidup yang menentukan kelestarian kehidupan suatu spesies ikan.…