Perkembangan era globalisasi sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di zaman ini. Berbagai tata cara, pola hidup dan pandangan sosial turut serta mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Di tengah menggeliatnya perkembangan zaman itu, ternyata  masih terdapat masyarakat yang mempertahankan pola kehidupan dengan paradigma kearifan lokal. Biasanya masyarakat tersebut akan beranggapan bahwa, semua perkembangan baik itu bidang teknologi maupun tata cara dan pandangan hidup, tidak semua dapat diterapkan terutama di Indonesia. Ada beberapa yang harus disaring dan ditimbang terlebih dahulu untuk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan bermasayarakat.

Kearifan Lokal di Dunia Pertanian

Kearifan lokal merupakan refleksi norma dan nilai dalam masyarakat terhadap terhadap lingkungan yang diyakini sebagai oikos ( bahasa Yunani; keluarga atau rumah tangga ) yang harus dilestarikan. Kearifan lokal sebagai bentuk identitas yang melekat pada sebuah bangsa yang harus dilestarikan. Kearifan lokal menyimpan keluhuran dan keberadaban dalam sebuah bangsa dan memiliki makna yang diupenuhi falsafah kehidupan yang penuh makna dan dapat menciptakan keseimbangan dalam tata kehidupan.

Berbicara mengenai dunia pertanian, sektor inilah yang paling kompleks dan memberikan kontribusi besar bagi kehidupan suatu bangsa. Selain hal pangan, ada juga sisi lain yang turut serta yaitu,  sebagai pembentuk identitas suatu bangsa.

Kearifan lokal Pertanian Indonesia di  Era Revolusi Industri 4.0

Perkembangan teknologi digital zaman sekarang sangat mempengaruhi bidang pertanian. Sejak manusia masih mengandalkan tenaga manual  pertanian hingga kini teknologi digital dalam era revolusi 4.0, interaksi manusia dengan pertanian tidak pernah terputus sebagai sumber kehidupan. Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan di dalamnya telah ikut mengubah cara bertani dari masa ke masa, seiring dengan perubahan pola pandang manusia terhadap pertanian.

Di era semakin majunya teknologi  pertanian, masih ada masyarakat Indonesia yang mempertahankan pertanian dengan paradigma kearifan lokal ( local wisdom ). Pengetahuan dan kebudayaan lokal menjadi tahapan teknis pertanian yang masih dijalankan di beberapa daerah di Indonesia misalnya, di Sumatera Barat ada ritual yang disebut “Mambiak Padi”, Suku Dayak memiliki tradisi “Aruh Baharain” dan Suku Jawa ada tradisi sedekah bumi dan di Jawa Barat terdapat tradisi menghormati  padi pada masyarakat sunda “ Wawacan Sulanja”. Kearifan lokal berkembang sebagai sistem kepercayaan  yang berdampak pada konservasi lingkungan. Dampak yang ditimbulkan adalah harmonisasi rantai sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kearifan lokal menjadi simbol bahwa masyarakat menghargai dan merawat tradisi leluhur dan juga menjadi simbol bahwa petani menjaga budaya agraris pada suatu daerah. (  paktanidigital..com )

Dalam konteks Revolusi Industri 4.0 kedua variabel tersebut seharusnya saling melengkapi satu sama lain, saling mengakomodasi ide dan inovasi dalam rangka mewujudkan pertania yang berkelanjutan.Kearifan lokal pertanian mampu membentuk Local knowledge ( pengetahuan local )  yang dapat diambil pelajarannya secara filosofis dan pragmatis dan  teknologi pertanian muncul sebagai respon efektiffitas serta peningkatan produksi. Jikalau kedua hal tersebut dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik maka sistem pertanian yang terpadu tanpa menghilangkan sisi ke – Indonesiaan yang menjunjung tinggi nilai keluhuran dan kelestarian lingkungan dapat terlaksa dengan baik.

Oleh Ricky Gusnia D ( Mahasiswa IPB University )

Pustaka :

https://paktanidigital.com/artikel/kearifan-lokal-pertanian-dalam-era-teknologi-digital/

Foto oleh Sharon McCutcheon dari Pexels

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur perlindungan hewan telah disahkan.

Pada tahun 1967, seorang petani asal inggris dan seorang aktivis animal welfare, Peter robert, memprotes dan melawan tindakan kekerasan pada hewan dengan membentuk Compassion in World Farming. Tindakan Peter itu dilatarbelakangi oleh peternakan intensif broiler yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan.

Five of Freedom (FoF) (5 Kebebasan)

Puncaknya pada tahun 2004, Office International des Epizooties (OIE) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengeluarkan standar-standar animal welfare yang mengatur kondisi hewan di bawah pengaturan manusia. FoF yaitu:
1. Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
2. Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman)
3. Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan rasa sakit)
4. Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiahnya)
5. Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan penderitaan)

Islam Memperlakukan Hewan

Isam muncul pada abad ke-7 yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk memberikan rahmat (kasih sayang) kepada semesta alam seperti dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107. Definisi alam yg dimaksud disini adalah selain Allah. Jadi kasih sayang Nabi SAW kepada manusia, jin, hewan, tumbuhan, mikroba, virus, dan makhluk Allah yang lain.

Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan hewan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Allah. Islam memandang hewan dan makhluk hidup lain sebagai hamba Allah yang sama-sama beribadah kepada-Nya. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”

Islam memandang hewan secara proporsional, tidak seperti faham animal right yang melarang bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk konsumsi, pakaian, objek penelitian, dan pembebanan dalam suatu pekerjaan. Islam melegalkan bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk tujuan konsumsi, untuk kendaraan, atau untuk tujuan-tujuan lain. Ini dijelaskan oleh Allah dalam al-quran surat Ghofir Ayat 79-80:

“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan (79). Dan bagi kamu (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain padanya (hewan ternak itu) dan agar kamu mencapai suatu keperluan (tujuan) yang tersimpan dalam hatimu (dengan mengendarainya). Dan dengan mengendarai binatang-binatang itu, dan di atas kapal mereka diangkut (80).”

Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat hadist, dimana beliau mengasihi kucing, burung, anjing, dan hewan-hewan lain.

“Diriwayatkan dari Sa’ad Bin Jubair berkata: suatu ketika aku dihadapan Ibnu Umar, kemudian ada sekelompok orang lewat yang menjadikan sasaran lempar seekor ayam betina. Saat melihat ada Ibnu Umar, mereka berpisah menjauhinya. Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini ? Sesungguhnya Nabi SAW melaknat orang yang melalukan seperti ini (sasaran lempar) kepada hewan” (HR Bukhari No. 5515).

Pada abad ke-12 , jauh sebelum muncul isu animal welfare di barat, seorang ulama dengan gelar Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam telah merumuskan dan memerinci hak-hak hewan yang harus dipenuhi oleh manusia bila memeliharanya. Hal itu ditulis oleh beliau dalam sebuah kitab Qawaaid Al-Ahkam fi Mashaalih Al-Anam, Juz 1 Halaman 167:

ﺣﻘﻮﻕ البهائم ﻭاﻟﺤﻴﻮاﻥ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺯﻣﻨﺖ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻻ ﻳﺤﻤﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻄﻴﻖ ﻭﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺆﺫﻳﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺑﻜﺴﺮ ﺃﻭ ﻧﻄﺢ ﺃﻭ ﺟﺮﺡ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺇﺫا ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﻤﺰﻕ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺒﺮﺩ ﻭﺗﺰﻭﻝ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻭﺃﻻ ﻳﺬﺑﺢ ﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺑﻤﺮﺃﻯ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻔﺮﺩﻫﺎ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﺒﺎﺭﻛﻬﺎ ﻭﺃﻋﻄﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺫﻛﻮﺭﻫﺎ ﻭﺇﻧﺎﺛﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﺑﺎﻥ ﺇﺗﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺬﻑ ﺻﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺮﻣﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻪ ﺃﻭ ﻳﺮﺩﻳﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺤﻠﻞ ﻟﺤﻤﻪ.

Hak-hak hewan ternak atas manusia yaitu:

  1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari jenis hewan-hewan tersebut, walaupun hewan-hewan tersebut telah menua atau sakit yang tidak dapat diambil manfaatnya;
  2. tidak membebani hewan-hewan tersebut melebihi batas kemampuannya;
  3. tidak mengumpulkan di antara hewan tersebut atau antara hal-hal yang membuat hewan tersebut terluka, baik dari jenisnya atau selain dari jenisnya dengan mematahkan tulangnya, menusuk, atau melukainya;
  4. menyembelihnya dengan baik jika menyembelihnya, tidak menguliti kulitnya dan tidak pula mematahkan tulang hingga hewan tersebut menjadi dingin dan hilang hidupnya, tidak menyembelih anak hewan tersebut di depannya, namun mengisolasinya;
  5. membuat nyaman kandang dan tempat minumnya,
  6. menyatukan antara jantan dan betina bila telah datang musim kawin;
  7. tidak membuang buruannya,
  8. tidak menembak dengan apapaun yang mematahkan tulangnya atau membunuhnya dengan benda-benda yang menyebabkan tidak halal dagingnya.

Korelasi Animal Welfare dan Syariat Islam

Bila kita mencermati isi dalam five of freedom dengan nash-nash dalam alqur’an, hadist, atupun hukum fiqih pada uraian di atas tidak bertentangan. Keduanya sejalan dalam konteks memerlakukan hewan. Oleh karena itu, animal welfare yang dalam hal ini direpresentasikan dengan FoF tidak bertentangan dengan syariat islam dan bahkan sejalan dengan syariat islam.

Hamzah Alfarisi
(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB & Khadim Ma’had Jawi)

Kajian Pertanian Pupuk merupakan kegiatan menambahkan hara yang dibutuhkan oleh tanaman berdasarkan kesediaan kandungan hara dalam tanah. Memupuk merupakan salah satu dari serangkaian teknis budidaya yang sangat penting untuk dilakukan. Memupuk juga harus sesuai dengan keperluan tanaman dan daya dukung lahan. Misal anak remaja memerlukan makan nasi dan lauk sepiring sekali makan sedangkan daya dukung finansialnya atau uang sakunya hanya cukup untuk setengah piring. Kalau makanan yang dimakan kurang maka pertumbuhan anak tersebut akan sedikit terganggu meskipun tidak langsung berdampak secara nyata. Namun, di akhir pertumbuhan ketika teman sebaya sudah dewasa dia memiliki ketinggian yang lebih rendah daripada teman sebaya yang dapat memenuhi kebutuhan sepiringnya ditambah segelas susu setiap kali makan. Sudah tentu kekurangan finansial itu dapat dipenuhi dengan input yang berasal dari luar seperti santunan atau bantuan langsung. Begitu pula pada tanaman. Tiap tanaman memiliki kandungan hara yang berbeda-beda untuk memenuhi siklus hidupnya. Padi dan jagung memiliki kebutuhan hara yang berbeda pula. Selain itu, daya dukung lahan berupa kemampuan lahan dalam menyediakan hara yang cukup bagi tumbuh kembang tanaman. Tiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tanah berat yang memiliki >60% liat dengan tanah ringan yang memiliki >60% pasir tentu memiliki kandungan hara yang berbedabeda pula. Tanaman memiliki siklus hidup yang terbagi dalam 2 fase yaitu fase vegetative dan fase generatif. Kedua fase ini tentu juga memiliki kebutuhan hara yang berbeda karena memiliki tujuan yan berbeda. Belum lagi kalau tanaman kita terkena hama dan penyakit atau sarana dan prasarana untuk menunjang pokok kebutuhan tanaman sangat terbatas. Ditambah anomaly iklim yang sulit untuk diramalkan. Untuk itu diperlukan skill lebih dan insting yang matang dalam menjadi seorang agronomis. Ketabahan dan kesabaran untuk terus mengenali dan mempelajari tanaman tidak hanya berhenti dalam waktu kuliah saja tetapi sepanjang usia, karena pengalaman adalah guru terbaik bagi manusia. Oleh Ahmad Fauzi Ridwan KMNU IPB

Kajian Pertanian

Pupuk merupakan kegiatan menambahkan hara yang dibutuhkan oleh tanaman berdasarkan kesediaan kandungan hara dalam tanah. Memupuk merupakan salah satu dari serangkaian teknis budidaya yang sangat penting untuk dilakukan. Memupuk juga harus sesuai dengan keperluan tanaman dan daya dukung lahan.

Misal anak remaja memerlukan makan nasi dan lauk sepiring sekali makan sedangkan daya dukung finansialnya atau uang sakunya hanya cukup untuk setengah piring. Kalau makanan yang dimakan kurang maka pertumbuhan anak tersebut akan sedikit terganggu meskipun tidak langsung berdampak secara nyata. Namun, di akhir pertumbuhan ketika teman sebaya sudah dewasa dia memiliki ketinggian yang lebih rendah daripada teman sebaya yang dapat memenuhi kebutuhan sepiringnya ditambah segelas susu setiap kali makan. Sudah tentu kekurangan finansial itu dapat dipenuhi dengan input yang berasal dari luar seperti santunan atau bantuan langsung. Begitu pula pada tanaman.

Tiap tanaman memiliki kandungan hara yang berbeda-beda untuk memenuhi siklus hidupnya. Padi dan jagung memiliki kebutuhan hara yang berbeda pula. Selain itu, daya dukung lahan berupa kemampuan lahan dalam menyediakan hara yang cukup bagi tumbuh kembang tanaman. Tiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tanah berat yang memiliki >60% liat dengan tanah ringan yang memiliki >60% pasir tentu memiliki kandungan hara yang berbedabeda pula.

Tanaman memiliki siklus hidup yang terbagi dalam 2 fase yaitu fase vegetative dan fase generatif. Kedua fase ini tentu juga memiliki kebutuhan hara yang berbeda karena memiliki tujuan yan berbeda. Belum lagi kalau tanaman kita terkena hama dan penyakit atau sarana dan prasarana untuk menunjang pokok kebutuhan tanaman sangat terbatas. Ditambah anomaly iklim yang sulit untuk diramalkan. Untuk itu diperlukan skill lebih dan insting yang matang dalam menjadi seorang agronomis. Ketabahan dan kesabaran untuk terus mengenali dan mempelajari tanaman tidak hanya berhenti dalam waktu kuliah saja tetapi sepanjang usia, karena pengalaman adalah guru terbaik bagi manusia.

Oleh Ahmad Fauzi Ridwan

KMNU IPB

Harga gula ketahanan gula sudah ditentukan pada angka Rp 12.500/kg sedangkan harga gula rafinasi jauh dibawah harga yang ditetapkan yaitu berkisar Rp 4000-5000/kg. memang untuk saat ini gula impor tentu lebih efektif dalam tataran bahan baku dan pengolahan menjadi gula. Namun, hal ini merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan bidang gula. Ancaman tesebut berupa ketergantungan terhadap gula impor yang sewaktu-waktu bisa mahal harganya karena kita tidak mampu berproduksi lagi. Kondisi pertebuan saat ini tentu sudah lebih naik dari tahun 2016. Mengingat pada tahun tersebut efek la nina mnyebabkan hujan terus menerus. Memang dalam segi produktivitas tergolong besar namun dalam hal rendemen menjadi kecil. Luas areal tebu menurun secara signifikan dalam 20 tahun terakhir. Terutama setelah diberlakukannya Undang-undang yang membebaskan pemilik lahan untuk menanam sesuai keinginan mereka. Alih fungsi lahan produktif menjadi bangunan sudah menjadi ancaman yang menjadi kenyataan. Pusat industri, pembangunan infrastruktur dan perumahan sudah menggeser tanaman-tanaman pangan terutama tebu. Perluasan areal tebu sangat sulit dilakukan karena persaingan antar komoditas palawija dan hortikultura sangatlah tinggi. Tidak hanya itu, areal kas desa terkadang sudah terlebih dahulu dipesan untuk ditanam komoditas bukan tebu. Mau tidak mau tanaman tebu beralih ke lahan-lahan marjinal. Silakan datang ke wilayah-wilayah kerja pabrik gula jika ingin bukti secara nyata. Tenaga kerja semakin sulit manjadikan biaya garap semakin tinggi. Sehingga harga pokok produksi menjadi kalah bersaing dengan negara-negara lain. Tenaga yang sedikit ditambah kebutuhan tenaga kerja komoditas lain tentu membuat upah buruh semakin mahal. Perlu adanya kebijakan nasional terkait industry gula dari hulu hingga hilir. Harga ditekan subsidi dicabut tentu paradigma menuju swasembada gula semakin jauh karena petani sebagai mitra sejati pabrik gula menganggap bisnis tebu kurang menguntungkan lagi. Kalau hal ini sampai terjadi, tidak menutup kemungkinan bahwa konsumsi gula nasional sekitar 5 juta ton akan diimpor semua. Tentu akan semakin mudah bagi pengekspor untuk mengendalikan negara sebab negara tidak mampu berdikari serta kita sudah sangat tergantung dengan gula dari negara lain. Oleh Ahmad Fauzi Ridwan

Kajian Pertanian

Harga gula sudah ditentukan pada angka Rp 12.500/kg sedangkan harga gula rafinasi jauh dibawah harga yang ditetapkan yaitu berkisar Rp 4000-5000/kg. memang untuk saat ini gula impor tentu lebih efektif dalam tataran bahan baku dan pengolahan menjadi gula.

Namun, hal ini merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan bidang gula. Ancaman tesebut berupa ketergantungan terhadap gula impor yang sewaktu-waktu bisa mahal harganya karena kita tidak mampu berproduksi lagi. Kondisi pertebuan saat ini tentu sudah lebih naik dari tahun 2016. Mengingat pada tahun tersebut efek la nina mnyebabkan hujan terus menerus. Memang dalam segi produktivitas tergolong besar namun dalam hal rendemen menjadi kecil.

Luas areal tebu menurun secara signifikan dalam 20 tahun terakhir. Terutama setelah diberlakukannya Undang-undang yang membebaskan pemilik lahan untuk menanam sesuai keinginan mereka. Alih fungsi lahan produktif menjadi bangunan sudah menjadi ancaman yang menjadi kenyataan. Pusat industri, pembangunan infrastruktur dan perumahan sudah menggeser tanaman-tanaman pangan terutama tebu.

Perluasan areal tebu sangat sulit dilakukan karena persaingan antar komoditas palawija dan hortikultura sangatlah tinggi. Tidak hanya itu, areal kas desa terkadang sudah terlebih dahulu dipesan untuk ditanam komoditas bukan tebu. Mau tidak mau tanaman tebu beralih ke lahan-lahan marjinal. Silakan datang ke wilayah-wilayah kerja pabrik gula jika ingin bukti secara nyata.

Tenaga kerja semakin sulit manjadikan biaya garap semakin tinggi. Sehingga harga pokok produksi menjadi kalah bersaing dengan negara-negara lain. Tenaga yang sedikit ditambah kebutuhan tenaga kerja komoditas lain tentu membuat upah buruh semakin mahal.

Perlu adanya kebijakan nasional terkait industry gula dari hulu hingga hilir. Harga ditekan subsidi dicabut tentu paradigma menuju swasembada gula semakin jauh karena petani sebagai mitra sejati pabrik gula menganggap bisnis tebu kurang menguntungkan lagi.

Kalau hal ini sampai terjadi, tidak menutup kemungkinan bahwa konsumsi gula nasional sekitar 5 juta ton akan diimpor semua. Tentu akan semakin mudah bagi pengekspor untuk mengendalikan negara sebab negara tidak mampu berdikari serta kita sudah sangat tergantung dengan gula dari negara lain.

Oleh Ahmad Fauzi Ridwan

KMNU IPB

Pertanian Modern - Menurut Hartono (1985) Pekarangan merupakan sebidang tanah yang mempunyai batas-batas tertentu, yang diatasnya terdapat bangunan tempat tinggal dan mempunyai hubungan fungsional baik ekonomi, biofisik maupun sosial budaya dengan penghuninya.Sementara menurut Soemarwoto dan Otto (1991), Pekarangan merupakan lahan yang merupakan area ruang terbuka dimana keberadaannya mengelilingi bangunan rumah dengan pemanfaatan sebagai tambahan pendapatan keluarga maupun berfungsi sebagai ketahanan pangan khususnya di kawasan pedesaan. Pekarangan biasanya ditandai dengan beberapa karakter, yaitu: letaknya di sekitar rumah atau tempat tinggal, mempunyai bentuk beraneka ragam, biasa digunakan sebagai tempat produksi pertanian bagi pemiliknya, memiliki batas-batas yang jelas. Pembatas pekarangan selain pagar juga biasa dengan tanaman pembatas (Diwanti 2018).Jika dikelola dengan baik pekarangan rumah dapat memberikan manfaat bagi kehidupan keluarga seperti : tempat bermain, tempat rekreasi, sumber pangan dan juga sebagai sumber pendapatan. Pemanfaatan lahan pekarangan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan bisa mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Dalam pelaksanaannya, terdapat 3 nilai pemanfaatan lahan pekarangan yaitu nilai konservasi, ekonomi, dan pangan.Fungsi pekarangan secara umum:Sumber pangan keluarga, seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, buah-buahan serta ternak dan ikan.Sumber obat-obatan atau apotik hidup.Sumber bumbu, rempah masakan.Sumber pupuk organik. Sumber keindahan/Estetika.Manfaat pekarangan rumah untuk keluarga antara lain :Pemenuhan gizi keluarga : ada beberapa tanaman, ternak dan ikan yang dapat dipelihara di pekarangan dan menghasilkan makanan yang dibutuhkan keluarga.Seperti umbi-umbian sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan lemak.Sebagai lumbung ternak : hasil dari usaha pekarangan dapat diambil sewaktu-waktu dan tidak ada musim pacekliknya.Apotik hidup : pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat yang ada di pekarangan.Menambah penghasilan : pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual sebagai sumber pendapatan keluarga karena banyak komoditas yang tidak membutuhkan lahan yang luas untuk membsudidayakannya.Menghasilkan bahan bangunan : jenis tanaman pohon seperti bambu, kelapa, nangka dan tanaman lainnya yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan bahan bangunan dan kerajinan rumah tangga.Sebagai tempat rekreasi keluarga : pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya.

Pertanian Modern – Menurut Hartono (1985) Pekarangan merupakan sebidang tanah yang mempunyai batas-batas tertentu, yang diatasnya terdapat bangunan tempat tinggal dan mempunyai hubungan fungsional baik ekonomi, biofisik maupun sosial budaya dengan penghuninya.

Sementara menurut Soemarwoto dan Otto (1991), Pekarangan merupakan lahan yang merupakan area ruang terbuka dimana keberadaannya mengelilingi bangunan rumah dengan pemanfaatan sebagai tambahan pendapatan keluarga maupun berfungsi sebagai ketahanan pangan khususnya di kawasan pedesaan. Pekarangan biasanya ditandai dengan beberapa karakter, yaitu: letaknya di sekitar rumah atau tempat tinggal, mempunyai bentuk beraneka ragam, biasa digunakan sebagai tempat produksi pertanian bagi pemiliknya, memiliki batas-batas yang jelas. Pembatas pekarangan selain pagar juga biasa dengan tanaman pembatas (Diwanti 2018).

Jika dikelola dengan baik pekarangan rumah dapat memberikan manfaat bagi kehidupan keluarga seperti : tempat bermain, tempat rekreasi, sumber pangan dan juga sebagai sumber pendapatan. Pemanfaatan lahan pekarangan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan bisa mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Dalam pelaksanaannya, terdapat 3 nilai pemanfaatan lahan pekarangan yaitu nilai konservasi, ekonomi, dan pangan.

Fungsi pekarangan secara umum:

  • Sumber pangan keluarga, seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, buah-buahan serta ternak dan ikan.
  • Sumber obat-obatan atau apotik hidup.
  • Sumber bumbu, rempah masakan.
  • Sumber pupuk organik.
  • Sumber keindahan/Estetika.

Manfaat pekarangan rumah untuk keluarga antara lain :

  1. Pemenuhan gizi keluarga : ada beberapa tanaman, ternak dan ikan yang dapat dipelihara di pekarangan dan menghasilkan makanan yang dibutuhkan keluarga.
  2. Seperti umbi-umbian sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan lemak.
  3. Sebagai lumbung ternak : hasil dari usaha pekarangan dapat diambil sewaktu-waktu dan tidak ada musim pacekliknya.
  4. Apotik hidup : pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat yang ada di pekarangan.
  5. Menambah penghasilan : pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual sebagai sumber pendapatan keluarga karena banyak komoditas yang tidak membutuhkan lahan yang luas untuk membsudidayakannya.
  6. Menghasilkan bahan bangunan : jenis tanaman pohon seperti bambu, kelapa, nangka dan tanaman lainnya yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan bahan bangunan dan kerajinan rumah tangga.
  7. Sebagai tempat rekreasi keluarga : pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya.

Daftar Pustaka

Diwanti DP. 2018. Pemanfaatan pertanian rumah tangga (pekarangan rumah) dengan teknik budidaya tanaman sayuran secara vertikultur. Jurnal Pengabdian Masyarakat. 1(3): 101-107

Hartono. 1998. Pengolahan Sampah Organik. Erlangga. Jakarta

Soemarwoto, Otto. 1991. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta : Penerbit Djabatan.

Oleh : MA

PengertianFathul Qorib - Al mawat, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam ar Rafi’i di dalam kitab Asy Syarh ash Shagir, adalah lahan yang tidak berstatus milik dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang. Sedangkan, Ihya’ al Mawat ialah mengolah bumi yang mati. Adapun yang dimaksud bumi yang mati ialah lahan yang belum dimanfaatkan.SyaratSyarat Ihya’ al Mawat ada dua. Pertama ialah orang yang mengolah bergama islam. Maka bagi orang islam hukumnya sunnah mengolah bumi mati, baik dengan izin imam ataupun tidak. Kecuali jika ada hak yang bersinggungan dengan bumi mawat tersebut. Seperti imam membatasi sebagian dari bumi mawat, kemudian ada seseorang yang ingin mengolahnya, maka ia tidak bisa memilikinya kecuali dengan izin dari imam, demikian menurut pendapat al ashah. Syarat yang kedua yaitu bumi tersebut harus merdeka-tidak bersatatus milik-yang dimiliki oleh orang islam. Lahan yang pernah dihuni namun sekarang sudah tidak lagi, maka statusnya adalah milik orang yang memilikinya jika memang diketahui, baik orang islam atau kafir dzimmi. Urusannya diserahkan pada keputusan imam, mau dijaga, atau dijual dan hasil penjualannya dijaga.Tata CaraTerdapat empat cara dalam ihya al Mawat berdasarkan tujuan dari pengolahan bumi mawat tersebut. Pertama,  jika orang yang mengolah ingin mengolah lahan mawat menjadi sebagai rumah, maka dalam hal ini disyaratkan harus memagari lahan tersebut dengan membangun pagar dengan sesuatu yang terlaku secara adat di tempat tersebut, yaitu berupa bata, batu atau bambu. Selain itu, disyaratkan harus memberi atap diatas sebagian lahan dan memasang pintu. Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kedua, Jika yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai ladang, maka ia harus mengumpulkan tanah di sekelilingnya, meratakan lahan tersebut dengan mencangkul bagian-bagian yang agak tinggi di sana, menimbun bagian-bagian yang berlubang/rendah, mengatur pengairan pada lahan tersebut dengan menggali sumur atau menggali saluran air. Ketiga, Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kempat,  jika yang mengolah lahan mawat ingin membuat kebun, maka ia harus mengumpulkan tanah dan membuat pagar di sekeliling lahan kebun tersebut jika memang hal itu telah terlaku. Di samping itu, juga disyaratkan harus menanam sesuatu menurut pendapat al madzhab.Pemberian AirKetika seseorang menemukan suatu sumber air, maka tidak wajib diberikan pada orang lain secara mutlak. Kewajiban memberikan air tersebut hanya diberlakukan dengan tiga syarat. Syarat pertama, air tersebut lebih dari kebutuhannya, maksudnya orang yang memiliki air tersebut. Jika air itu tidak lebih, maka ia berhak mendahulukan dirinya sendiri dan tidak wajib memberikannya pada orang lain. Syarat kedua, air tersebut dibutuhkan oleh orang lain, baik untuk dirinya sendiri atau binatangnya.Hal ini ketika di sana terdapat padang rumput yang digunakan untuk mengembalakan binatang ternak, dan tidak mungkin mengembala di sana kecuali dengan memberi minum air. Namun, tidak wajib baginya memberikan air tersebutuntuk tanaman atau pohon orang lain. Syarat ketiga, air tersebut masih berada di tempatnya, yaitu tempat keluarnya air baik sumur atau sumber. Sehingga, ketika air ini sudah diambil di dalam sebuah wadah, maka tidak wajib diberikan menurut pendapat shahih. Ketika wajib untuk memberikan air, maka yang dikehendaki dengan ini adalah mempersilahkan binatang ternak orang lain untuk mendatangi sumur, jika pemilik air tidak terganggu pada tanaman dan binatang ternaknya sendiri. Jika ia terganggu dengan kedatangan binatang ternak tersebut, maka binatang ternak tersebut dicegah untuk mendatangi sumur, dan bagi para pengembalanya yang harus mengambilkan air untuk binatang-binatang ternaknya.Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)Oleh: Ustadz M. Ainun Na’imJumat, 15 November 2019

Pengertian

Fathul Qorib – Al mawat, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam ar Rafi’i di dalam kitab Asy Syarh ash Shagir, adalah lahan yang tidak berstatus milik dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang. Sedangkan, Ihya’ al Mawat ialah mengolah bumi yang mati. Adapun yang dimaksud bumi yang mati ialah lahan yang belum dimanfaatkan.

Syarat

Syarat Ihya’ al Mawat ada dua. Pertama ialah orang yang mengolah bergama islam. Maka bagi orang islam hukumnya sunnah mengolah bumi mati, baik dengan izin imam ataupun tidak. Kecuali jika ada hak yang bersinggungan dengan bumi mawat tersebut. Seperti imam membatasi sebagian dari bumi mawat, kemudian ada seseorang yang ingin mengolahnya, maka ia tidak bisa memilikinya kecuali dengan izin dari imam, demikian menurut pendapat al ashah. Syarat yang kedua yaitu bumi tersebut harus merdeka-tidak bersatatus milik-yang dimiliki oleh orang islam. Lahan yang pernah dihuni namun sekarang sudah tidak lagi, maka statusnya adalah milik orang yang memilikinya jika memang diketahui, baik orang islam atau kafir dzimmi. Urusannya diserahkan pada keputusan imam, mau dijaga, atau dijual dan hasil penjualannya dijaga.

Tata Cara

Terdapat empat cara dalam ihya al Mawat berdasarkan tujuan dari pengolahan bumi mawat tersebut. Pertama,  jika orang yang mengolah ingin mengolah lahan mawat menjadi sebagai rumah, maka dalam hal ini disyaratkan harus memagari lahan tersebut dengan membangun pagar dengan sesuatu yang terlaku secara adat di tempat tersebut, yaitu berupa bata, batu atau bambu. Selain itu, disyaratkan harus memberi atap diatas sebagian lahan dan memasang pintu. Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kedua, Jika yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai ladang, maka ia harus mengumpulkan tanah di sekelilingnya, meratakan lahan tersebut dengan mencangkul bagian-bagian yang agak tinggi di sana, menimbun bagian-bagian yang berlubang/rendah, mengatur pengairan pada lahan tersebut dengan menggali sumur atau menggali saluran air. Ketiga, Jika orang yang mengolah ingin menjadikan mawat sebagai kandang binatang ternak, maka cukup membuat pagar yang lebih rendah dari pagarnya rumah, dan tidak disyaratkan harus membuat atap. Kempat,  jika yang mengolah lahan mawat ingin membuat kebun, maka ia harus mengumpulkan tanah dan membuat pagar di sekeliling lahan kebun tersebut jika memang hal itu telah terlaku. Di samping itu, juga disyaratkan harus menanam sesuatu menurut pendapat al madzhab.

Pemberian Air

Ketika seseorang menemukan suatu sumber air, maka tidak wajib diberikan pada orang lain secara mutlak. Kewajiban memberikan air tersebut hanya diberlakukan dengan tiga syarat. Syarat pertama, air tersebut lebih dari kebutuhannya, maksudnya orang yang memiliki air tersebut. Jika air itu tidak lebih, maka ia berhak mendahulukan dirinya sendiri dan tidak wajib memberikannya pada orang lain. Syarat kedua, air tersebut dibutuhkan oleh orang lain, baik untuk dirinya sendiri atau binatangnya.Hal ini ketika di sana terdapat padang rumput yang digunakan untuk mengembalakan binatang ternak, dan tidak mungkin mengembala di sana kecuali dengan memberi minum air. Namun, tidak wajib baginya memberikan air tersebutuntuk tanaman atau pohon orang lain. Syarat ketiga, air tersebut masih berada di tempatnya, yaitu tempat keluarnya air baik sumur atau sumber. Sehingga, ketika air ini sudah diambil di dalam sebuah wadah, maka tidak wajib diberikan menurut pendapat shahih. Ketika wajib untuk memberikan air, maka yang dikehendaki dengan ini adalah mempersilahkan binatang ternak orang lain untuk mendatangi sumur, jika pemilik air tidak terganggu pada tanaman dan binatang ternaknya sendiri. Jika ia terganggu dengan kedatangan binatang ternak tersebut, maka binatang ternak tersebut dicegah untuk mendatangi sumur, dan bagi para pengembalanya yang harus mengambilkan air untuk binatang-binatang ternaknya.

Kajian Fiqih (Kitab Fathul Qorib)

Oleh: Ustadz M. Ainun Na’im

Jumat, 15 November 2019

KMNU IPB - “Mau diberi bantuan atau tidak, petani akan tetap menanam.”Kalimat itu muncul di cerita WA dari Gus Ridwan. Kiranya menjadi petani tidak pernah mudah sejak dahulu.Petani memang selalu dianggap rendah dari sudut manapun. Sejak dari anak-anaknya sendiri sampai pemimpinnya petani selalu dicap tidak bisa apa-apa.Nasib tak pernah diidolakan dari sudut manapun akan tetap melekat. Jangankan diidolakan, diakui jasanya saja tidak. Mungin sampai suatu saat tidak ada petani lagi .Respon pemerentah malahmenerbitkan UU Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang beberapa poin berpotensi merugikan petani sebagai pelestari keanekaragaman benih lokal dan tradisi pemuliaan tanaman secara tradisional. Maka dari itu, terus menanam menjadi sebuah bentuk perlawanan.Petani melawan dengan cara memberi makan yang dilawan. Seperti kisah suku Inca yang mengocorkan emas cair di mulut penjelajah Eropa yang rakus.Ini adalah bentuk perlawanan tingkat tinggi. Sekarang jelas siapa yang sebenarnya kalah.Bukankah tanpa petani kita semua modyar?Baca lebih lanjut“Download PDF Isi RUU SBPB 2019 yang Berpotensi Rugikan Petani”

KMNU IPBPertanian Berkelanjutan

“Mau diberi bantuan atau tidak, petani akan tetap menanam.”

Kalimat itu muncul di cerita WA dari Gus Ridwan. Kiranya menjadi petani tidak pernah mudah sejak dahulu.

Petani memang selalu dianggap rendah dari sudut manapun. Sejak dari anak-anaknya sendiri sampai pemimpinnya petani selalu dicap tidak bisa apa-apa.

Nasib tak pernah diidolakan dari sudut manapun akan tetap melekat. Jangankan diidolakan, diakui jasanya saja tidak. Mungin sampai suatu saat tidak ada petani lagi .

Respon pemerentah malahmenerbitkan UU Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang beberapa poin berpotensi merugikan petani sebagai pelestari keanekaragaman benih lokal dan tradisi pemuliaan tanaman secara tradisional. Maka dari itu, terus menanam menjadi sebuah bentuk perlawanan.

Petani melawan dengan cara memberi makan yang dilawan. Seperti kisah suku Inca yang mengocorkan emas cair di mulut penjelajah Eropa yang rakus.

Ini adalah bentuk perlawanan tingkat tinggi. Sekarang jelas siapa yang sebenarnya kalah.

Bukankah tanpa petani kita semua modyar?

Baca lebih lanjut

“Download PDF Isi RUU SBPB 2019 yang Berpotensi Rugikan Petani”