Malu dan Takdim Terhadap Santri

Jujur ketika saya masih kecil, saya suka sekali dengan cerita cerita bernafaskan islami, mulai dari sejarah sejarahnya, hingga shirah nabawiyah, dan salah satu tokoh sahabat yang saya idolakan adalah Sayyidina Umar Ibn Khattab yang menurut saya beliau adalah salah satu santri dari Kanjeng Nabi. Bahkan saya ada kepikiran bagaimana agar Islam ini diterima seluruh manusia tanpa terkecuali, bukan main pemikiran saya waktu kecil, sangat muluk muluk dan sangat minim literasi, ya maklum namanya juga anak kecil, yang Alhamdulillah memiliki Ghirah yang sangat tinggi terhadap agama yang saya anut.

Saya waktu TK mengaji di pengajian yang berada di lingkungan Muhammadiyah yang masuknya hanya setiap sore jam 3 sore selesai jam 5. Mulai dari belajar alif, ba, ta, dst. Masuk SD saya bertemu dengan guru agama yang bisa dibilang NU kenthel, Pak B namanya, semakin saya senang dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sempat ketika itu saya pikirkan. Mengapa mata pelajarannya adalah “pendidikan” bukan pengajaran? Pertanyaan itu terjawab oleh beliau, tanpa saya tanyakan terlebih dahulu. Bahwa beda jauh antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan tidak sekadar mengajar di lebih dari itu,jauh makna harfiahnya dari pengajaran, pendidikan itu yang ngemong, ya bersopan, ya bersantun, ya bertata, ya berkrama, ya belajar, ya memahami, ya memaknai, dan sangat luas artinya. Pada intinya pengajaran/pelajaran adalah secuil arti (bukan makna) dari pendidikan. Dari uraian yang singkat dari Guru tersebut saya sangat tertarik dengan pesantren akhirnya.

Iya pesantren, saya punya cita cita besar untuk menjadi seorang santri, namun saya selalu tidak mampu menempuhnya saya rasa. Saya selalu segan menjadi santri. Dulu selepas SD saya sempat punya keinginan 50% masuk di pesantren dan menjadi santri. Ketika itu ayah saya (Allahumaghfirlah) menyarankan saya untuk masuk Gontor saja kalo pingin jadi santri. Tetapi harapan saya adalah di Lirboyo. Kenapa di Lirboyo? Ya jelas, karena guru SD saya nyantri di Lirboyo, saya sangat takjub dengan Lirboyo, tidak tanggung tanggung, bahkan saya mengidolakan tokoh tokohnya, seperti Kiai Agus Maksum Jauhari, Wali Pendekar dari Lirboyo.

Ya, saya sangat mengagumi pesantren, tetapi seperti terjadinya hari ini, saya bukanlah santri. Jadi, saya malu terhadap para santri santri. Saya selalu takdim pada para santri santri, karena jujur menjadi santri bagi saya adalah suatu tugas yang berat. Iya itu tadi, menjadi santri harus bersedia dididik, yang mana saya belum tentu bisa mengiyakan semua pendidikan di pesantren, walaupun saya tahu itu baik dan bagus. Seperti menghafal Alquran, muroti, bandongan, dsb itu sangat bagus. Tetapi saya merasa mungkin saya tidak sanggup melakoninya. Kemudian saya masuk SMP, suatu hal yang baru karena baru lulus dari SD, saya dididik oleh Bu Nurul, Guru Agama masa SMP, juga seperti Pak Bahrun, Bu Nurul adalah NU kenthel. Saya semakin takjub dengan pendidikan santri, padahal saya berada di lingkungan SMP, saya semakin malu dengan para santri, yang ya bisa dikata, SMP mulai tergerus akhlaknya, dan ini membuat saya seharusnya mawas diri. SMP memberi kenangan untuk menjadi siswa. Iya siswa yang sedikit mbalelo, karena itu adalah watak saya, yang tidak jarang mbalelo terhadap guru saya.

Selepas lulus SMP, ternyata teman teman saya ada yang meneruskan nyantri, bahkan adik kelas saya ada yang juga nyantri. Nyantri di Gontor tepatnya, saya tertegun dan malu. Masuk SMA, seperti biasa, yang saya sukai adalah pelajaran sejarah dan matematika, namun saya masuk MIPA, karena saya suka matematika, dan menurut saya, sejarah dapat dipelajari lebih secara otodidak dengan banyak membaca. Benar saya masuk MIPA, tetapi saya masih sangat doyan dengan sejarah, pelajaran sejarah bisa dibilang saya sangat menyukainya, hanya satu tahun saya tidak menyukai sejarah, lebih dikarenakan cara mengajar pengajarnya yang terlalu melihat tulisan daripada memahami tulisan, saya sangat membenci hal tersebut. Tetapi mau dikata apa? Pengajar lebih berkuasa daripada siswanya. Setelah itu saya mulai menikmati sejarah seperti  air kelapa yang masuk ke dalam kerongkongan, segar dan tanpa hambatan. Memahami sejarah begitu mudah dan menyenankan dengan Bu Sumilah sebagai gurunya. Mengalir dan mengalir.

Selepas SMA, saya kuliah di Peternakan, masih sangat suka dengan sejarah, hingga saya membeli buku Atlas Walisongo, tulisan dari Kiai Agus Sunyoto, yaitu Ketua LESBUMI NU. Dalam buku tersebut dijelaskan, siapa santri sebenarnya? Dari mana asal kata santri sebenarnya? Saya baca dan ternyata santri berasal dari kata sastri, sastri berasal dari sastra, jelas sudahlah bahwa santri bermakna pembelajar sastra. Ini merupakan pengertian yang tinggi, sastra tidak hanya mencakup tulisan-tulisan indah namun juga berisi makna yang mendalam. Suluk dalam budaya jawa merupakan sastra, tembang juga merupakan sastra, pantun juga merupakan sastra. Jadi, santri ini sangat sangat luas cakupannya, seperti yang saya tuliskan di paragraf pertama, tidak hanya belajar, tetapi juga bersantun, bersopan, dst. Semakin malu dan takdim terhadap santri. Saya dengan teman teman saya yang dari pesantren, saya selalu merasa takdim dan hormat. Tidak peduli itu adik tingkat saya waktu kuliah. Saya takdim terhadap para santri, terlebih lagi, memang pesantren selalu mengmbangkan santri santri yang kondang kapracondang, dan tak jarang memiliki aji yang linuwih. Seperti Gus Dur, Gus Mus, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Habib Luthfi, Cak Nun, dan Cak Nur. Di kontrakan saya juga adalah lulusan pesantren dan saya kalau orang barat simbol penghormatan adalah angkat topi, saya angkat blangkon dalam batin saya. Hingga sekarang, salah satu cita-cita saya masih sama, menjadi santri.

Tulisan oleh Gandawastraatmaja

Langit di Ufuk Barat : Harmoni Manusia dengan Alam

Jadi saya akan membahas mengenai tema pertanian dalam arti luas namun dengan topik lebih spesifik tentang pranata mangsa: harmoni antara manusia dan alam. Pertama nanti mengenai dunia pertanian, kedua nelayan, ketiga tentang fenomena alam. Sehingga harmoni manusia dengan alam tidak hanya terjadi pada petani tapi juga terjadi pada nelayan serta leluhur-leluhur kita.

Oiya bismillah ila akhirihi, tulisan ini lebih kepada ekosistem langit yang dibuat tanpa pondasi serta ajaran leluhur untuk senantiasa harmoni kepada alam semesta. Dari judul dulu ya gaes, itu diambil pas perjalanan menuju lamongan, fenomena sekumpulan awan yang membentuk wujud tertentu mungkin bagi botanis kejawen mempercayai ada makna tersirat didalamnnya.

 Manusia dan alam memiliki ikatan yang saling membutuhkan. Pelestarian alam dan keseimbangannya perlu dijaga agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan iklim. Iklim yang berubah memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan pertanian. Petani Jawa masih ada sebagian yang melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu cara untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian adalah penggunaan kalender pranata mangsa sebagai ketentuan untuk mengolah lahan pertanian (Harini et al. 2019). Pemahaman petani jawa untuk memanfaatkan fenomena alam sebagai pedoman berocok tanam dengan sistem pranatamongso merupakan salah satu bentuk kemampuan manusia memahami lingkungan yang melahirkan praktek pengelolaan lingkungan berbasis kearifan ekologi (Anariza 2016).

Sebagaimana kalender tanam leluhur atau pranata mangsa. Pranata Mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan dan “mangsa” berarti masa atau musim. Jadi pranata mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahunnya. Pranata Mangsa didasarkan atas peredaran matahari tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern dan alat-alat pertanian modern. Murni berdasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya1.

Menurut wisnubroto (1995) pranata mangsa dapat dimanfaatkan sebagai pedoman berbagai kegiatan terutama dalam bidang bercocok tanam. Pembagian umurnya cukup teliti yang dapat disejajarkan dengan kalender Gregorian sampai batas tertentu sesuai dengan keadaan meteorology. Menurut Wisnubroto (1998) banyak petani di Jawa tengah dapat memprakirakan secara semikuantitatif permulaan musim hujan dan permulaan musim kemarau dan juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi supaya terhindar dari hama dan penyakit.

Lihat? Bagaimana leluhur dulu melakukan observasi bahasa kerennya riset ratusan tahun sampai menghasilkan teorema pranata mangsa yg umumnya berlaku di jawa. Sebab daerah lain memiliki kearifan lokalmya masing-2. Lanjut lagi, sekali lagi kita dapat melihat bagaimana langit dikelola sedemikian rupa dengan ciri-2 nya sehingga menjadi titen dan disempurnakan terus menerus menjadi aturan musim di jawa.

Langit bagi nelayan tentu menjadi kompas di malam hari juga menjadi titen atau penanda musim ikan tangkap beserta letak koordinatnya meskipun menggunakan feeling good lakasut namun terbukti top cerr selama ratusan tahun silam. Sebagaimana yang saya temui nelayan di natuna mereka masih menggunakan penanggalan namun berdasarkan bulan, di bulan ini musim ikan ini di sebelah sini. Kok keren sekali umatnya kanjeng nabi, bahkan sebelum teknologi gps ditemukan sudah ngambah samudra sak jabalekat.

Tentu kemunculan bentuk awan menyerupai wujud sesuai sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi kalangan botanis kejawen. Entah ini isyarat leluhur dalam mengemong anak turunnya di bumi pertiwi ini atau bagaimana yang jelas, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ada makna dan pesannya masing-2 tinggal kita mampu menangkap dan menterjemahkannya atau tidak. Sebagaimana awan caping di atas gunung ternyata telah terbukti bahwa kemunculan awan seperti itu menurut ilmu sains berguna untuk meredam gempa yang terjadi.

Memang, landasan keilmuan serta kesadaran dalam rangka mencari tujuan kehidupan alias menuju rohmat tuhan tentu mendapatkan dampak yang berganda. Pertama sadar bahwa ini memang kuasa tuhan dan kedua semakin yakin karena ilmunya mengantarkan ia kepada pengagungan tuhan semesta. Sungguh beruntung, botanis kejawen itu, agama, sains, dan kejawen diramu menjadi sebuah penghambaan total kepada tuhan. Ajaran budi luhur sebagaimana tugas kenabian untuk menyempurnakan akhlak umat ini tentu sangat korelatif juga dengan alam.

Menyambung kembali mengenai akhlak  bahwa akhlak di sini tidak hanya kepada manusia tapi juga ke seluruh makhluknya apalagi yang berada di bumi nusantara ini. Satu dari tak kira hitungan yang menjadi contoh kekuasaan tuhan. Namun, tuhan justru menghendaki dan menunjukkan sifat kasih sayangnya daripada sifat kuasanya dan kekuataannya. Sebagaimana tuhan mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu yang baik dengan bacaan bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang (ajaran maiyah). Maka dari itu, berkasih sayanglah kamu sekalian kepada seluruh makhluk tuhan. Saling bekerja sama dalam kebaikan. Berharmoni dalam kehidupan. Tentu jika hal tersebut sudah terjadi. Tanda dunia tidak akan lama lagi

Wallahu a’lam

Ahmad Fauzi Ridwan

Daftar Referensi

  1. https://8villages.com/full/petani/article/id/5a9fc1f1dc2ada6b3fb971c0. (29 Mei 2020)
  2. Anazifa RD. 2016. Pemanfaatan sains tradisional jawa sistem pranatamangsa melalui kajian etnosains sebagai bahan ajar biologi. Pros Demnas Pend IPA Pascasarjana UGM vol 1.
  3. Harini S, Sumarmi, Wicaksono AG. 2019. Manfaat penggunaan pranata mangsa bagi petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada 2(1):82-97.
  4. Wisnubroto S. 1995. Pengenalan waktu tradisional menurut jabaran meteorology dan pemanfaatannya. Jurnal agromet 11(1):15-22.
  5. Wisnubroto S. 1998. Sumbangan pegenalan waktu tradisional Pranata Mangsa pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal perlindungan tanaman Indonesia 4(1):46-50.

Obat Herbal Belum Tentu Tanpa Efek Samping

Salam sehat, teman-teman, pada kesempatan kali saya akan berbagai pengetahuan tentang herbal. Informasi yang berkembang di masyarakat bahwa (obat) herbal itu tidak mememiliki efek samping. Apakah pernyataan ini betul? Jawabannya belum tentu, kok bisa begitu? coba simak dulu penjelasan di berikut.

Sebuah paper (jurnal) jadul tahun 1998 yang di tulis oleh Mashour dkk, berjudul “Herbal Medicine for The Treatment of Cardiovascular Disease”, diterbitkan di Arch International Medicine Vol 158

Secara ringkas, paper ini bercerita tentang berbagai bahan-bahan alam (herbal) yang berpotensi untuk mengobati penyakit-penyakit kardiovaskuler (gangguan pada jantung dan pembuluh darah) seperti gagal jantung, angina pectoris (nyeri dada akibat kekurangan darah ke jantung), aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah), dan aritmia (gangguan irama/detak jantung).

Pada tahun itu (1998), Amerika masih memiliki b(u)anyak kekurangan soal herbal medicine , mulai efikasi (kemujaraban) herbal-herbal, standarisasi, dan efek samping (adverse effect). Karena judul tulisan ini efek samping, maka akan saya berikan dua contoh (1) herbal yang memiliki efek samping ringan, dan (2) herbal yang memiliki efek samping berat.

Resin (getah) tumbuhan Commiphora mukul (nama umumnya gugul) dimanfaatkan sebagai obat aterosklerosis pada pengobatan Ayurveda (metode pengobatan alternatif india). Senyawa yang berperan adalah gugulipid. Efek samping yg ditimbulkan hanya seperti sakit kepala, mual dan cegukan.

Tumbuhan Stephania tetrandra (anggur herba) di China dimanfaatkan sebagai obat untuk hipertensi (tekanan darah tinggi). Senyawa yang berperan dalam hal ini adalah tetrandrine. Namun, karena adanya misinformasi tentang senyawa ini, terjadi outbreak gagal ginjal secara progresif yang disebut dengan Chinese herb nephropathy.

Oleh karena itu, menggunakan herbal tetap harus menggunakan takaran tertentu (dosis) yg tepat untuk menghindari efek samping dan menjaga kemujaraban.

Sekian.
Hamzah Alfarisi

Tulisan lainnya

NU Normal, New Normal Ala NU

Baru-baru ini telah beredar kabar bahwa Indonesia tengah bersiap untuk menuju fase New Normal Life atau kehidupan normal baru dalam menghadapi pandemic virus corona atau biasa disebut Covid-19. Namun, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, saat new normal diberlakukan, penting bagi masyarakat untuk tetap memerhatikan dan mengikuti aturan protokol kesehatan Covid-19. Sebagai wujud kesiapan new normal, Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah menyusun protokol kesehatan. Selain menaati aturan seperti selalu mencuci tangan, baik menggunakan sabun maupun hand sanitizer, juga ditekankan pentingnya menjaga jarak sosial dan fisik (physical distancing). Lalu bagaimana warga Nahdliyin dalam menyikapi hal tersebut ?

Tentu kita semua sudah mengetahui bahwa warga Nahdliyin memiliki kekhasan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung sejak lama di Nusantara seperti pengajian, sholawatan, tahlilan, maulidan dan lain sebagainya. Dalam pelaksanaannya, membutuhkan massa yang bisa dibilang cukup banyak. Maka dari itu, perlu dilakukan kajian khusus mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut sehingga penyebaran virus corona bisa dicegah.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Bupati Anas, dan pengurus NU berusaha mematangkan sejumlah skema normal baru (new normal) di sektor tradisi keagamaan. Anas meminta masukkan para ulama dan PCNU untuk perumusan protokol bidang keagamaan, seperti tahlilan, yang banyak diamalkan di Banyuwangi. Dari hasil masukkan para tokoh serta insan kesehatan, nantinya disusun panduan protokol kesehatan untuk kegiatan tradisi keagamaan.

New normal ini perlu untuk disimulasikan sesegera mungkin. NU harus siap dalam mensosialisasikan new normal kepada para jamaah. Warga Nahdliyin harus memberi contoh untuk selalu taat terhadap protokol kesehatan demi kemaslahatan umat. NU harus menjadi contoh sebagai masyarakat beragama yang memiliki kerja sama yang baik, gotong rotong, dan memiliki disiplin medis yang tinggi demi terciptanya keamanan dan keselamatan seluruh warga Indonesia. Dengan jumlah warga NU yang mencapai sekitar 90 juta jamaah, apabila semua menaati setiap aturan pemerintah dan ulama, Nahdlatul Ulama maka akan memiliki dampak yang besar dalam membendung dan menghentikan penyebaran virus Covid–19. Bagaimanapun juga, selain mengupayakan ikhtiar dhohir juga perlu adanya ikhtiar batin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME agar pandemi ini segera berakhir.

#IndonesiaJanganTerserah

#MariBersinergiBersama

Penulis : Ricky Gusnia

IPB Siap KKN?

(Gandawastraatmaja)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan “IPB dilema KKN” yang kemarin saya opinikan dalam rubrik KMNU IPB. Judul “IPB siap KKN?” saya rasa tepat karena begitu prematurnya persiapan persiapan yang ada dan menimbulkan kesan bahwa KKN (Kuliah Kerja Nyata) IPB dipaksakan dengan berbagai alasan dan dianggap TIDAK SIAP.

Kabar pertama menyatakan bahwa IPB mengadakan KKN di bulan Juni, Juli, dan Agustus agar masa studi mahasiswa program sarjana dapat lulus tepat waktu alias tidak terlambat, mengingat kalau mahasiswa telat lulus, IPB juga akan tercoreng secara nilai akreditasi. Kabar kedua menyatakan IPB mengadakan KKN agar Praktik Lapang mahasiswa di Bulan Desember dan Januari tidak terganggu. Kabar ketiga menyatakan kegiatan ini dilakukan agar penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir tidak terhambat. Kabar keempat menyatakan KKN dilakukan sebagai pemenuhan dharma ketiga Tridharma Perguruan Tinggi dan masih banyak kabar kabar yang berseliweran di jagat sosial maya saat ini. Intinya kabar kabar itu membuat kesan yang tidak siap bagi peserta KKN seperti saya.

Ketidaksiapan IPB dalam menghadapi KKN sudh terlihat sejak pandemi ini terjadi di awal maret yang mengakibatkan IPB harus memulangkan mahasiswanya ke kampung halaman. Pertama, Kuliah KKN yang seharusnya dilakukan setiap akhir pekan pasca UTS langsung tidak terdapat kabar apa apa “seakan akan” KKN IPB ditiadakan. Keduan, Survey yang dilakukan oleh IPB ditiga per empat semester juga menunjukkan ketidak siapan, kanapa survey tidak langsung disebar setelah UTS berakhir? Ketiga, Pengumuman KKN yang terlalu mendadak setelah banyak anggapan “KKN ditiadakan”. Keempat, Pembuatan Proposal, penjajagan perijinan ke Pemkab dan Mitra yang diharapkan cepat kayak buat mie instan. Hal hal tersebut adalah bukti KITA (IPB) TIDAK SIAP KKN. Untuk daerah yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh IPB menjadi lokasi KKN akan lebih mudah mengiyakan permintaan IPB, bagaimana dengan daerah yang belum dijajagi oleh IPB? Salah satu Kabupaten yang menolak diadakan KKN adalah daerah saya, terus bagaimana dong Bapak? Ibu?

Ketika saya mengurus perijinan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Bakesbangpol menyatakan tidak memberi ijin untuk melakukan kegiatan ini karena kondisi pandemi yang masih belum mununjukkan penurunan di Indonesia. Hal tersebut saya terima dengan lapang dada dan itu menjadi realita yang harus diterima. Pertanyaan saya mulai mengangkasa, bagaimana kalau ternyata bakesbangpol mengijinkan?
Daftar pertanyaan saya susun di paragraf ini,
1. Apa program kerja yang harus dilakukan? Bagi bagi masker? Warga rata rata juga sudah tahu dan menerapkan penggunaan masker
2. Bagaimana mekanisme pengumpulan warga dengan tetap memperhatikan Protab Covid-19?
3. Apakah kegiatan yang kita lakukan dapat sustainable kedepannya, dengan kondisi mahasiswanya yang masih lebih memilih mengejar 4 SKS daripada memberdayakan masyarakat?

KKN ini jelas jelas banyak dipandang oleh teman teman mahasiswa hanya sebagai syarat pemenuhan 4 SKS yang ada. Kalau sudah selesai KKN, ya sudah. Setiap saya berkunjung ke lapangan untuk tugas pengabdian kepada masyarakat, banyak masyrakat yang berpesan “mahasiswa, kampus, dsb jangan hanya datang ke kami untuk satu kali waktu, setelah itu pergi, namun harus berlanjut”.

KKN akan tetap berjalan pada Juni 2020 ini, pesan saya bagi yang kemungkinan lolos dari IPB (tidak menutup kemungkinan saya sendiri), jangan memandang masyarakat sebagai obyek kita, yang menjadikan mereka sebagai bahan penilaian kita, namun manusiakanlah masyarakat. Dengan begitu tanda tanya di judul tulisan ini dapat sedikit demi sedikit terbantahkan. Doa saya bagi kita semua adalah SEMOGA TULISAN INI TERBANTAHKAN OLEH REALITA KEGIATAN KKN IPB JUNI INI, AAMIIN.

Mudik, THR dan Covid-19

Puasa tahun ini rasanya benar-benar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi  Covid-19 memaksa masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan berkerumun. Masyarakat dihadapkan pada kondisi yang serba salah, dimana pemerintah memerintahkan stay at home tapi para perantau ingin go home(town). Perantau yang biasanya bisa menikmati jajanan lebaran di kampung halaman, terpaksa harus memilih antara bertahan di perantauan atau beresiko menjadi carrier virus bagi keluarga dan warga di kampung halamannya.

Di sisi lain, perkembangan penanganan pandemi belum terlihat hilal akhirnya. Dalam kurun satu pekan terkahir, peningkatan penduduk yang positif terpapar setidaknya  400 orang setiap harinya dan belum ada tanda-tanda mengalami penurunan. Beberapa ahli meramalkan indonesia akan berkawan dengan pandemi ini untuk waktu yang lebih lama dibanding negara lain di wilayah Asia Tenggara. Salah satu yang menjadi penyebab utamanya ialah masyarakat  yang gemar bersilaturahim dan tidak betah hidup sendiri di kamar.  Inilah resiko terbiasa hidup menjadi masyarakat julid yang menuntut untuk selalu nongki bareng. Sosial media sepertinya tidak cukup mampu menampung hasrat julid ria masyarakat.

Masyarakat indonesia dikenal punya prinsip “mangan ora ngombe ora ngudud ora, sing penting ngumpul”. Sebuah prinsip sederhana untuk menguatkan silaturahim dan saling peduli, yang saat ini seharusnya dicarikan alternatif lain. Belum lagi budaya belanja baju lebaran untuk sanak keluarga yang membuat ibu-ibu berbondong-bondong ke pasar. Tentu saja ini membuat physical distancing hanya sebatas mimpi, karena mau tidak mau ibu-ibu harus saling bersaing untuk mencari baju terbaik dengan harga termurah.

Pandemi juga menyebabkan banyak orang harus berhenti bekerja atau kehilangan pekerjaannya. Kondisi ini menyebabkan resesi besar bagi perekonomian Indonesia, bahkan dunia. Jumlah pengangguran dan penduduk miskin meningkat pesat, namun kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Disinilah solidaritas diuji, mulai banyak penggalangan dana dan donasi bagi mereka yang terdampak covid-19 ini. Syukurnya, masih banyak orang-orang yang peduli dengan mereka yang membutuhkan. Walaupun sebagian pekerja tidak lagi mendapatkan THR dari perusahaannya, namun mereka dapat menerima THR berupa bantuan sosial dan zakat dari tetangga yang lebih mampu.

Permasalahan yang menumpuk ini jelas menjadi pukulan besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Petani kesulitan mendistribusikan hasil panen, pembeli di kota kesulitan mencari stok, hingga harga-harga beberapa komoditas naik di pasaran. Kepercayaan terhadap pemerintah pun merosot, akibat kebijakan yang dinilai tidak konsisten dan tidak terkoordinasi dengan baik di pusat maupun daerah. Belum lagi kelicikan beberapa oknum pemimpin daerah dari level RT hingga bupati yang mengambil keuntungan di tengah parahnya pandemi. Semoga masyarakat Indonesia saat ini tergolong masyarakat yang kuat seperti nenek moyangnya, meskipun nenek moyangnya pelaut bukan dokter atau tenaga medis.

(Opini oleh Muhammad Ainun Na’im-Alumni KMNU IPB)

IPB Dilema KKN

(Gandawastraatmaja)

Indonesia telah memasuki bulan ketiga kedatangan tamu Yang Terhormaat Covid-19 sejak awal Maret lalu. Semua kegiatan yang biasanya dengan mudah dilakukan dengan tatap muka langsung secara mendadak harus melalui daring (dalam jaringan). Tidak menutup kemungkina kegiatan daring ini akan berlangsung lama bahkan bisa jadi sampai awal 2021. Semoga kalimat saya sebelumnya itu salah, aamiin.

Tidak terkecuali kegiatan perkuliahan yang meliputi kuliah, praktikum, kolokium, seminar, praktik lapang, bahkan hingga pengabdian seperti KKN dipaksakan untuk daring pada beberapa perguruan tinggi. Di awal peristiwa ini bermula, civitas akademika rata rata langsung bingung untuk pengaplikasiannya, tidak terkecuali civitas kampus pertanian IPB. Ya maklum wong ya namanya transisi yang terlalu mendadak pasti di awal kegiatan ada cheos.

Dan sekarang sedikit kerusuhan terjadi kembali, pada saat beberapa perguruan tinggi memilih kkn dilakukan secara daring atau bahkan tidak ada. IPB memberikan solusi untuk tetap ber-KKNria untuk didomisilinya masing masing dengan syarat syarat yang sedikit masuk akal dan beberapa ditentang oleh para mahasiswa.

IPB memprioritaskan untuk menggelar KKN bagi mahasiswa angkatan 2016, fast tarck, Praktik Lapang Des-Jan, dan penerima bidikmisi. Hal tersebut langsung ramai ramai dijadikan pergunjingan oleh mahasiswa IPB yang merasa tidak diberi keadilan dari kebijakan tersebut. Belum lagi ketika live youtube, ada beberapa oknum yang menyatakan kekesalannya dengan kata kata yang tidak akademitif untuk golongan akademisi.

Gonjang ganjing tentang kkn 2020 di IPB sebenarnya sudah sejak awal wabah terjadi, mahasiswa mulai berpikir akan tidak adanya KKN, mengingat wabah membuat para mahasiswa harus #dirumahaja. Dan memang yang seharusnya terdapat kuliah KKN disetiap Sabtu pasca UTS semuanya batal dengan adanya wabah ini, wajar beberapa mahasiswa IPB menganggap KKN ditiadakan. Dan ternyata ketika survei dilakukan oleh IPB, hasilnya banyak mahasiswa yang ingin melakukan KKN pada Juli-Agustus. Tetapi keadaan masih seperti demikian. Apa ya bener masih ngotot untuk melangsungkan KKN? Padahal semakin banyak daerah di Indonesia yang menetapkan PSBB dan kasus positif sudah mencapai lebih dari 19 ribu jiwa di Indonesia.

Saran saya sebagai salah satu mahasiswa smester enam IPB, sebaiknya KKN dimoratorium hingga pandemi ini dapat dikendalikan oleh kita semua. Saran kedua adalah KKN ditiadakan pada tahun 2020 ini dan diganti dengan tugas yang mana dapat sebanding dengan KKN, seperti contoh memberdayakan warga di masing masing domisili, namun hanya untuk yang berada di zona hijau. Saran Ketiga adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diadakan oleh IPB seperti IGTF, SUIJI, SLP yang sudah dilakukan sebelum pandemi berlangsung dapat menggantikan KKN. Jika memang kegiatan tersebut belum dapat disetarakan dengan KKN? Kenapa tidak kita coba bersama sama menyetarakan untuk kali ini saja, menghadapi covid-19, dapat disetarakan. Saran keempat KKN benar benar tidak ada untuk tahun 2020 dan tidak perlu diganti dengan tugas.

Dan untuk para rekan dan teman mahasiswa, ayolah jangan terlalu memojokkan IPB yang notabenenya adalah kampus kita sendiri. Hal ini tidak sehat, apalagi sampai sampai memojokkan lewat media sosial. Mari kita cari apa yang salah, jangan siapa yang salah. Kita tahu sama tahulah, kita di IPB adalah akademisi dan sudah semestinya paham cara menyampaikan pendapat yang kritis tetapi santun.

Semoga tulisan saya yang sangat tidak berarti ini dapat menjadi renungan khususnya bagi saya sendiri. Dan semoga wabah ini segera dapat kita kendalikan bersama. Aamiin

#dirumahaja