,

NU Normal, New Normal Ala NU

Baru-baru ini telah beredar kabar bahwa Indonesia tengah bersiap untuk menuju fase New Normal Life atau kehidupan normal baru dalam menghadapi pandemic virus corona atau biasa disebut Covid-19. Namun, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo,…
Saya cukup terkejut dengan berita kewafatan Almarhum malam tadi waktu Maroko. Saya sangat sedih dengan kepergian Almarhum, tapi saya juga ingat bahwa cepat atau lambat saya juga akan menyusul beliau. Ini hanya persoalan waktu, adapun kematian itu sendiri adalah sebuah kepastian. Guna menghidupkan sunah Rasulullah SAW untuk menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah mendahului kita, maka saya berusaha menulis risalah singkat ini dengan segala keterbatasan. Semoga bisa menjadi persaksian baik atas Almarhum dan menjadi sebab beliau dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang saleh di surga yang tertinggi bersama Baginda Rasul SAW. Saya memang tidak punya hubungan khusus dan spesial dengan Almarhum. Hubungan saya dengan beliau semasa hidup memang tidak bisa dikatakan dekat jika dibandingkan dengan para senior saya, sekalas Mas Zimam dan lainnya. Hanya saja saya banyak mendengar berita tentang beliau dari lisan kawan-kawan. Saya pernah menjadi anggota KMNU ditingkat IPB dan pengurus di tingkat nasional yang notabene beliau adalah salah satu pembinanya. Saya juga pernah satu komisi dengan beliau di MUI Kota Bogor sebelum saya berangkat ke Maroko. Jika saya diminta meringkas kebaikan Almarhum maka saya akan menyifati beliau sebagai sosok yang rendah hati . Ini tidak bisa dipungkiri siapapun. Akhlak , penampilan, tutur kata, dan raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah sosok doktoral di bidang kelautan dengan peringkat sempurna, tokoh kunci pengembangan teknologi terapan di IPB, anggota majelis ulama, wakil sekertaris jenderal PBNU, dan salah satu penyandang dana setiap kegiatan besar mahasiswa NU IPB. Sosok yang tidak pernah mengumbar janji, apalagi hingga mengingkarinya. Tidak banyak berteori. Beliau tipe yang langsung action dan berkontribusi nyata jika dimintai tolong (bahkan saat tidak dimintai tolong sekalipun). Saya tidak pungkiri bahwa saya (atau mungkin lebih tepatnya kami) banyak berinteraksi dengan orang yang notabene lebih pintar dan lebih kaya dibanding beliau, tapi tidak satupun yang mengalahkan nyatanya kontribusi beliau dalam hal moril maupun materil. Itu pandangan saya. Kadang penyakit yang menghinggapi orang (yang merasa) besar adalah keyakinan bahwa dirinya lebih pintar dan lebih kaya dari pada orang lain, sehingga ide baik harus berasal dari dirinya. Sedang orang lain (hanya) sebagai pelaksana tugas. Ia sudah merasa cukup baik dengan memberi orang lain pekerjaan untuk mewujudkan ide baiknya dan (tentunya) menanggung dana yang diperlukan untuk mewujudkan ide itu. Padahal ini sama sekali tidak tepat untuk dunia pendidikan. Mungkin dunia bisnis iya, tapi tidak untuk dunia pendidikan. Almarhum mencerminkan sosok pembina (atau mungkin istilah sakralnya murabbi atau istilah kerennya mentor) yang saat bertemu dengan anak binaannya akan menanyakan kabarnya, pencapaian yang telah diraihnya, masalah yang dihadapinya, solusi yang direncanakannya, dan kontribusi apa yang beliau bisa berikan untuk membantunya. Terkadang malah beliau yang terlebih dahulu menghubungi dan mengontak via telepon selular. Ini bukan sekali atau dua kali beliau lakukan, tapi berkali-kali. Kalau anda baca kitab Qawaidh At-Tasawwuf karya Ahmad Zarruq mengenai hubungan guru dan murid, nah persis seperti itu. Membebaskan binaannya berkembang sesuai pasion masing-masing hingga mencapai tingkat yang beliau anggap sudah bisa dilepaskan ke alam bebas. Almarhum sosok yang membina, bukan mempekerjakan. Sedikitpun beliau tidak berniat untuk menjadi kaya-raya ataupun terkenal dengan apa yang telah beliau lakukan, bahkan sebaliknya, berpesan untuk tidak menyebutnya namanya. Selalu menekankan bahwa beliau hanya seorang mentor. Tidak lebih. Semua orang merasakan keakraban dengan Almarhum, baik senior maupun junior, mahasiswa maupun dosen, murid maupun kawan. Semua merasakan kehangatan candaannya dan kebaikan hatinya. Lebih dari itu, kendati Almarhum tinggal di Bogor, berkuliah di IPB, dan kemudian mengabdi di almamaternya tersebut, beliau adalah sosok yang gigih memperjuangkan Ahlussunnah Wal Jamaah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengingkari kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama dan segala hal yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Hingga di penghujung hayat, beliau masih menjabat Wasekjen PBNU, salah satu pembina KMNU IPB, dan pendukung kuat berdirinya Pondok Pesantren ala NU di sekitar IPB. Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni kesalahan Almarhum, menerima segala amal kebaikannya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi bersama Sang Kakasih Almarhum Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kesaksian kita atas kebaikan Almarhum ini dijadikan salah satu sebab bertambahnya derajat beliau di sisi Allah SWT. Takziah dan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Untuk segenap kader dan binaan beliau, saya mengajak untuk terus melanjutkan semangat dan usaha kebaikan Almarhum. Wallahul Muwaffia ila Aqwamith Thariq. Fes, 30 Rajab 1441 Adhli Al-Qarni
, ,

Dari Maroko : Mengenang Almarhum Dr. Ir. Aji Hermawan, M.M.

Saya cukup terkejut dengan berita kewafatan Almarhum malam tadi waktu Maroko. Saya sangat sedih dengan kepergian Almarhum, tapi saya juga ingat bahwa cepat atau lambat saya juga akan menyusul beliau. Ini hanya persoalan waktu, adapun kematian…
Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif. Yudhistira Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian. Bima Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat. Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Arjuna Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna. Nakula dan Sadewa Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya. Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.  [Septian Fajar Bima] edited by Mila
, , ,

Pandhawa Pengejawantahan Rukun Islam

Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan…
KMNU IPB telah didirikan sejak 2007 silam, perjalanan yang begitu panjang dan lika liku organisasi yang sangat dinamis menuntut para kader KMNU IPB untuk berjuang dengan effort yang lebih besar. Persoalan kemandirian ekonomi menjadi sektor yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena kemandirian ekonomi sangat mempengaruhi arah gerak dari suatu organisasi, setiap organisasi dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan primernya tak terkecuali dengan KMNU IPB. Sebagai organisasi yang berkoridor Sosial Kultur dan Akdemik dalam arah geraknya serta status lembaga independen yang tidak berafiliasi dengan lembaga manapun. KMNU IPB dituntut untuk memenuhi sendiri kebutuhannya.  Sudah lebih dari 10 tahun KMNU IPB berdiri namun belum cukup concern dalam mengentaskan persoalan kemandirian ekonomi.oleh sebab itu, di akhir tahun 2017 Pak Ridwan and team (sebagai pengurus KOIN KMNU periode satu)merintis sekaligus meresmikan sebuah program KOIN (Kotak Infaq)KMNU yang pada hakikatnya menduplikat program KOIN NU yang diresmikan Kyai Said Aqil pada April 2017 di Sragen Jawa Tengah. Sistem yang digunakanpun tak jauh berbeda dengan sistem KOIN NU dimana setiap anggota diberi satu kotak yang naantinya akan di isi seikhlasnya oleh para anggota dan dikumpulkan ke pengurus KOIN sebulan sekali. Laporan Keuangan KOIN KMNU akan dilakukan secara rutin saat rutinan Maulid Diba’. Kurang lebih sekitar 3 Semester KOIN KMNU ini berjalan, dan hasilnya pun sangat signifikan. Program ini memberikan dampak positif pada kemandirian ekonomi kMNU IPB. Dalam kurun waktu 3 Semester tersebut sudah lebih dari 9 juta uang yang terkumpul dan dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk pembelian aset aset tetap yang dapat digunakan saat rutinaan KMNU. Seperti, Proyektor, LCD, alat Hadroh, Sound, mic, dsb. Hal ini bertujuan agar infaq yang dikumpulkan dapat memberi berkah dan pahala selama barang barang tsb digunakan untuk kebaikan dan ibadah dijalan allah yang insyaallah juga berfungsi sebagai salah satu usaha memenuhi sektor kemandirian ekonomi. Program ini juga bisa menjadi amal jariyah bagi para anggota yang menginfaqkan hartanya melalui program KOIN KMNU ini. Kini KOIN KMNU telah melakukan tiga kali pergantian kepengurusan hal ini bertujuan untuk melakukan regenerasi dan beda dulu beda sekarang, dengan semakin meningkatnya jumlah anggota di harapkan program ini bisa terus berjalan dan semakin berkembang dan memiliki target target pencapaian yang semakin maju hingga terciptanya kemnadirian ekonomi KMNU untuk menyambut 1 Abad NU.
, ,

KOIN KMNU IPB sebagai Langkah Strategis Membangun Kemandirian Ekonomi

KMNU IPB telah didirikan sejak 2007 silam. Perjalanan organisasi yang begitu panjang dan lika liku yang sangat dinamis menuntut para kader KMNU IPB untuk berjuang dengan effort yang lebih besar. Persoalan kemandirian ekonomi organisasi menjadi…

Yuk Cari Tahu Lebih Banyak tentang Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Belahan Dunia!

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriyah menjadi tradisi yang sangat istimewa bagi seluruh ummat Islam. Tidak hanya ummat Islam di Indonesia, ummat Islam di seluruh dunia pun tidak ketinggalan dalam…
, , , ,

Keunikan Mekanisme Pemilihan Nahkoda Baru KMNU IPB

Bogor- Sabtu (12/11) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB menyelengarakan hajatan besar untuk menentukan arah gerakan dakwah KMNU IPB untuk satu tahun kedepan. Acara yang bertajuk Musyawarah Besar (MUBES) KMNU IPB ini dilaksanakan di…
, , ,

KMNU IPB Melantik Anggota Baru dalam Acara Isti'laul Qudrah

Sebagai puncak dari pengkaderan anggota baru KMNU IPB kembali menyelenggarakan Isti’laul Qudrah (IQ) pada 22-23 Oktober 2016. IQ KMNU IPB 2016 kali ini bertempat di Pondok Pesantren Mina90, Desa Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Bogor. Isti’laul…