Habib Novel Alaydrus - Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”Ibu itupun menjawab,“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”Hikmah dibalik kisahBerpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.(Habib Novel)

Habib Novel Alaydrus – Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,

“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”

Ibu itupun menjawab,

“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Hikmah dibalik kisah

Berpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.

(Habib Novel)

Editor : MA

Pembaca yang dirahmati Allah, kriteria mengenai perempuan sholehah telah kita bahas pada tulisan yang lalu, sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya kembali siapa perempuan sholeh itu. Pembahasan lalu telah dijelaskan pula  bahwa salah satu tujuan menikah yaitu mendapatkan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya. Rasanya akan lebih afdhol kalau kita membahas faktor-faktor yang menjadi penyebab anak itu menjadi sholeh. Read more

Teringat kisah lama ketika Umar Bin Abdul Aziz terpilih menjadi pemimpin Islam di Dinasti Bani Umayyah, Umar yang biasanya selalu tampak tegas bukannya senang atau bangga diri , Umar malah menangis terisak-isak. “Innaa Lillahi wa Innaa Ilaihi Raji’uun.” Begitulah beliau menyambut tanggung jawab yang besar itu sambil juga berkata, “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.” Read more

Calon Presiden Musuh Islam?”
 
“Cilaka, Kyai! Cilaka!” Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. Kegelisahanku tiba-tiba
membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.
“Cilaka apanya, Nak?” Tanya Kyai Husain.
“Pilpres!” Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. Aku yakin Kyai Husain akan
mengerti.
Kyai Husain terkekeh. “Ndak usah dipikir!” Katanya, “Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!”
Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.
“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai. Ini sudah genting! Jika calon yang
didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam
di negeri ini. Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”
Kyai Husain mengangguk-angguk. Wajahnya tampak prihatin. “Kamu sudah shalat?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala. “Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.” Kata Kyai Husain.
Pelan-pelan keresahanku ciut. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa bebalnya imanku, aku
berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan
kewajibanku.
Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. Kyai Husain mengangguk-angguk perlahan. Beliau
sedang asyik dengan tembakaunya.
Selang delapan atau sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.
“Bagaimana shalatmu?” Tanya Kyai Husain tiba-tiba.
Aku terkejut ditanya demikian. Bagaimana shalatku?
“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.” Aku menjawab
pertanyaan itu dengan terbata-bata.
“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?” Kyai Husain bertanya lagi.
Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini. Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku?
Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? Tapi,
karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengakatan kepadanya bahwa aku tersinggung. Aku juga tak mungkin menjawab, Bukan urusan Anda, Kyai!
Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung. Jika begitu, celakalah aku. Bisa kualat aku. Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. Dari alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.
“Eh… Anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.” Astagfirullah. Mengapa kata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?
Kyai Husain terkekeh. Kemudian agak terbatuk. “Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi
urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya” Katanya, lalu beliau menghisap tembakaunya. “Tapi,
dalam shalatmu, kamu mikirin copras-capres atau tidak?” Sambung Kyai Husan, kemudian
tertawa lebar.
Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu.
“Iya, Kyai.” Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi. Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-ke
khawatiran dan semacam kebencian. Khawatir karena elektabilitas capres yang kubenci, yang
begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. Maunya apa sih
ummat Islam Indonesia ini? Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.
“Coba kamu ingat-ingat lagi,” kata Kyai Husain, “Capres mana yang paling membuatmu gelisah
dalam shalat?”
“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai! Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing! Jelas dia
yang tidak pro kebijakan syariah! Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!” Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api.
Kyai Husain terkekeh. “Shalatmu begitu berat,” katanya.
Aku kebingungan. “Shalatmu penuh beban,” lanjut Kyai Husain. “Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban.”
“Tapi, Kyai…” Aku berusaha memotong Kyai Husan, “Mohon maaf. Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Pemilihan presiden tinggal 20 hari lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”
“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?”
“Capres boneka! Juga orang fasik di belakangnya!” Jawabku dengan penuh semangat.
“Bukankah dia juga seorang Muslim?” Tanya Kyai Husain.
“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan! Keislaman palsu!”
“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?” Dengan tenang Kyai Husain
mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. Beliau masih menghisap tembakaunya.
“Eh, Kyai. Mohon maaf, Kyai. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.” Tiba-tiba aku
merasa malu pada diriku sendiri. Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman
seseorang? Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu,
pencitraan dan harus diragukan?
“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?” Tanya Kyai Husain.
Aku makin gelagapan. Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. Hingga hampir kehabisan
waktu. Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. Apa hakku mengatur-atur
keisalaman orang lain? Bagaimana dengan keislamanku sendiri?
Aku tertunduk lesu. Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya
menggelengkan kepala.
Kyai Husain terkekeh.
“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pemilu-pemiluan,” jawab Kyai Husain, “Agama ini lebih
besar dari sekadar capres-capresan!” Beliau tampak lebih serius.
Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain.
“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini. Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk
dibanding-bandingkan. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah
final. Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik? Kamu tak lebih dari mereka yang
memperjualbelikan agama untuk urusan dunia. Kamu mau membela ummat Islam? Tanyakan itu
sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi
pemilih? Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana capres Islam dan bukan
Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan, dikelompok-kelompokkan, agar syahwat
kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai? Kamu ini sedang membela Islam,
atau siapa? Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya
mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”
“Lalu soal mengharam-haramkan. Soal bahwa memilih capres tertentu diancam berdosa dan
bahkan masuk neraka. Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah
Muhammad pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu? Apakah kamu sudah
merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah? Kamu boleh senang atau tidak senang
dengan capres terntentu atau siapapun saja, tetapi kemu tidak boleh senang melihat ummat
Islam terpecah belah, dipecah-belah. Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek
bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang
suara—kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu
sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”
Aku hanya bisa menunduk. Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.
“Tapi Kyai…” Aku berusaha memberi pembelaan, “Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”
Kali ini Kyai Husain tampak marah. “Dengarkan aku!” Katanya, “Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik! Mereka yang dalam luka baru mengaku saudara! Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang
menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan
merasa bahwa dirinya paling beriman.”
“Tapi… tapi…” Aku berusaha memotong Kyai Husain. Tapi beliau tampak benar-benar geram
dengan situasi ini.
“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya. Gusti Allah tak perlu dibela. Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon
presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan
agama ini. Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama? Kecuali kualitas
imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya.
Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”
Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda
denganku. Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon presiden boneka.
Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. Aku tak boleh menemuinya lagi. Ya, aku tak boleh menemuinya lagi. Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.
“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir.” Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca
pikiranku. Lalu tertawa. “Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu. Kelak di surgamu yang kamu
bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku. Surgamu
mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai
sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar. Mungkin perlu juga
kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling
menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga? Sebab kebenaran hanya benar menurut
dirimu sendiri, bukan? Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”
Kyai Husain terkekeh.
Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan Aku mulai ragu pada diriku sendiri.
Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku.
“Maafkan saya, Kyai.” Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. Akal sehat dan nuraniku
memerintahkannya.
Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir
habis. “Kau tak perlu meminta maaf padaku,” katanya, “Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa
calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci tak akan menentukan apa-
apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri
dengan Gusti Allah.”
Aku mengangguk-angguk setuju.
“Perbaiki shalatmu,” kata Kyai Husain, “Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat
baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti
pesta demokrasi lima tahunan ini.”
“Tapi kita harus memilih, Kyai.”
Kyai Husain mengangguk. “Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal
dan hati nuranimu.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih, Kyai.”
Magrib hampir tiba. Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah. Aku
menyetujui ajakannya. “Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,” Kyai
Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak apa-apa,” katanya, “Ini
sedang masanya. Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup
masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan harus berjuang untuk
menyelesaikannya sendiri-sendiri.”
Aku mengangguk. “Saya akan memilih calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu
rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”
“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.” Kata Kyai Husain. “Alasan itu saja yang kau jadikan
pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”
Aku tersenyum. Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain
tentang pendapatku. Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari
belakang. Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban
yang tak lepas dari kepalanya.
“Kyai…” Tiba-tiba aku ingin memanggilnya.
Kyai Husain menoleh.
“Siapa yang Kyai pilih?”
“Tak ada yang sempurna,” Jawabnya. “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan
Muhammad tak memiliki suara merdu seperti Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti
yang dimiliki Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Ibrahim atau setangguh Musa. Aku
akan memilih calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang
paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”
Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.
“Siapa orangnya, Kyai?”
Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.
Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. Sepanjang
shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam.
Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.
Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku. Tetapi dalam shalat berjamaah,
semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. Aku mulai sadar, kebaikan yang
paripurna tak bisa dicapai sendirian.
Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. Kepalanya
mengangguk-angguk ritmis. Aku belum tahu jawaban Kyai Husain tentang calon presiden
pilihannya… Tapi aku mulai ragu pada pilihanku sendiri.
—-
Melbourne, 21 Juni 2014
*Penulis: Fahd Pahdepie atau dikenal juga dengan nama pena Fahd Djibran adalah mahasiswa
Postgraduate di School of Politics and International Relations, Monash University, Australia. Saat
ini tinggal di Melbourne.
Lama tidak terdengar kabar berita KH Hasyim Muzadi, tiba-tiba tokoh Islam dari NU (Nahdhatul Ulama) ini menyeruak dengan pidatonya yang cukup menggetarkan. Berbeda dengan Said Agil Siradj yang statement nya selalu menuai kontroversi, pidato Hasyim Muzadi yang tersebar di sosial media BBM ini diyakini sebagai statment dari seorang tokoh besar NU yang telah ditunggu-tunggu umat Islam Indonesia selama ini.
Dalam pidatonya itu, KH Hasyim Muzadi yang juga menjabat sebagai Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) sekaligus Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) secara cerdas menjawab sejumlah tuduhan PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa) baru-baru ini bahwa umat Islam Indonesia anti toleransi beragama. Dan inilah pidato ‘menggetarkan’ tersebut :
Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia.
Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah AHMADIYAH, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.
Kalau yang jadi ukuran adalah GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.
Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.
Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?
Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekedar Westernisme“.

Pidato KH Hasyim Muzadi yang mantan Ketua Umum PBNU dinilai sebagai penawar rasa haus umat setelah selama belasan tahun umat tidak melihat ketegasan seorang tokoh besar Ulama dari kalangan NU yang berani tampil cerdas dan berani dalam bersikap.

Mazhab Asy’ari –yang merupakan mazhab mayoritas umat Islam—adalah mazhab yang memberikan harapan kepada manusia dan pelaku maksiat dari kalangan mukminin untuk mendapatkan maaf, ampunan, dan rahmat Allah Ta’ala. Mazhab inilah yang mencerminkan kemudahan dan kasih sayang agama ini terhadap para pemeluknya. Siapapun yang membaca bagian pendahuluan kitab imam Abu Hasan al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu—yang berjudul ‘Maqaalaat al-Islaamiyyiin’ pasti akan kagum dengan toleransi agama Islam yang tercermin dari penuturan sang imam. Hal itu karena imam Abu Hasan mengumpulkan semua perkataan, pendapat, dan perbedaan yang terjadi di tengah umat Islam, dan mengodifikasikannya dalam sebuah karya yang diberi judul ‘Maqaalaat al-Islaamiyyiin wa Ikhtilaafaat al-Mushalliin’. Coba dengarkanlah paparan beliau pada bagian pendahuluan kitab ini, beliau berkata: “Umat Islam berbeda pendapat sepeninggal Nabi SAW dalam banyak hal. Masing-masing dari mereka saling menyesatkan dan berlepas diri dari yang lain. Akhirnya mereka terpecah-belah menjadi banyak kelompok. Akan tetapi ajaran Islam dapat menyatukan mereka dan mendamaikan perbedaan di antara mereka.” Perkataan ini patut untuk selalu diingat oleh semua ulama saat terjadinya perpecahan di tengah umat Islam seperti sekarang ini.
Mazhab Asy’ari ini telah berkontribusi besar dalam mencegah terjadinya pertumpahan darah, perampasan harta, dan penodaan kehormatan umat Islam, yang telah diharamkan oleh Nabi SAW dalam sabdanya: “Setiap muslim atas muslim yang lain haram darah, harta, dan kehormatannya.” Dalam sebuah hadis yang lain beliau bersabda: “Wahai manusia sekalian, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram (suci) atas sesama kalian seperti kesucian hari kalian ini.” Mazhab Asy’ari ini merupakan mazhab yang memiliki pandangan ideal bagi manusia yang secara tabiat kerap melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertobat.”
Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayyib

Ada kejadian nyata di Australia dua orang muslim hidup di dua tempat berbeda yang kebetulan mayoritas non-muslim. Salah satu dari mereka bersikap buruk, sering merugikan tetangganya, mengganggu dan perilaku tak terpuji lainnya. Sedangkan muslim satu lagi selalu bersikap santun, ramah dan bergaul dengan baik di masyarakatnya.

Suatu ketika, ada pemberitaan di media tentang sosok teroris yang kebetulan beragama Islam. Maka, si tetangga yang memiliki tetangga muslim berperangai buruk akan sesumbar dengan begitu bersemangat: “Betul! Orang-orang Islam memang berbahaya! Mereka semua busuk! Kalian jauhilah orang-orang Islam!”

Sebaliknya, tetangga si muslim yang satunya lagi akan menolak berita itu: “Tidak! Muslim tidak seperti itu! Mereka orang-orang yang baik! Pasti ada yang salah dengan pemberitaan ini!” Bahkan orang tersebut akan sungguh-sungguh membela tetangga muslimnya dari cercaan orang-orang.

Jadi, bagaimana citra agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. hari ini adalah tergantung bagaimana engkau bersikap wahai kaum muslimin. (Cuplikan taushiyah al-Habib Umar bin Hafidz dalam kunjungannya ke Univ. Paramadina Jakarta dan dalam rihlahnya ke Granada Spanyol. Videonya silakan lihat: http://www.youtube.com/watch?v=SHvkilXV1_E).

Ingatlah hadits riwayat Ibnu Hibban tentang seorang sahabat bernama Fudaik. Ia adalah seorang muslim yang hidup di tengah-tengah non-muslim. Ia memutuskan untuk hijrah, pindah dari negerinya menuju Madinah, hidup bersama Rasulullah Saw.

Namun, ketika ia berpamitan kepada masyarakat dimana ia tinggal, orang-orang membujuknya untuk mengurungkan niat: “Anda orang baik. Kami semua menghormati Anda karena Anda sangat peduli kepada kami. Kami berharap Anda tidak pergi, tetaplah di sini. Kami akan sangat bahagia jika Anda tetap menjadi bagian dari kami.”

Maka Fudaik tetap pergi ke Madinah, namun ia berkonsultasi kepada Rasulullah Saw. atas bujukan masyarakatnya. Apa jawab Rasulullah Saw.? Beliau Saw. bersabda: “Laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, tinggalkan segala keburukan, dan tinggallah di antara orang-orangmu di manapun kau mau. Jika kau melakukannya, kau adalah seorang ‘muhajir’.”

Maka jadilah warga yang baik, atau di manapun kau berada. Selama kau tidak dilarang untuk melaksanakan ajaran agamamu, tinggallah bersama masyarakatmu dengan baik. Namun satu catatan; kita harus semampu mungkin melaksanakan ajaran agama dengan total, sebagaimana disyaratkan Rasulullah terhadap Fudaik. Terutama menjauhi segala keburukan dan kejahatan, sehingga seorang muslim bisa menjadi teladan di tengah masyarakatnya. (Cuplikan taushiyah Syaikh Abdullah bin Bayyah di Kensington Hall London. Videonya silakan lihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=DKcDDukGIEY). (Kontributor: Ustadz Zia Ul Haq).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 28 April 2014