Categories
Kajian Islam KMNU IPB Uncategorized

Hasil Kajian KMNU IPB (17-05-2013)

Kitab Hukum Berburu, Menyembelih,kurban dan Makanan-makanan

Setiap binatang darat yang halaldimakan yang mampu disembelih maka disembelihnya pada bagian  tenggorokannya (khalqi) dan  bagian dalam (Labbah).  Jika   Jika tidak  mampu, maka sembelihlah dengan melukai organ yang mempercepat kematiannya.
Ada 4 perkara yang menyebabkan sembelihan itusempurna :
1. Memutus organ aliran nafas (tenggorokan)
2. Memutus mari’ / saluranmakanan (kerongkongan)
3. Memutus otot leher yang jumlahnya 2
4. Memutus organ mengalirnya darah
Beberapa hal penting terkait Menyembelih:
Diperbolehkan menyemblih menggunakan alat  yang  sangat tajam yang  mampu melukai
hewan baik yang terbuat dari besi semisal Pedang,Belati/pisau, atau kayu yang tajam, batu, bambu dan    lainnya  begitupun berburu menggunakannya kecuali  gigi,  kuku,  tulang dari manusia atau  lainnya baik terpisah atau menyatudarinya.
Halal sembelihan setiap orang muslim,   sembelihan Ahli kitab*  (Yahudi Nasrani),  dan  tidak dihalalkan sembelihan orang   Majusi  ,   orang Watsany (penyembahpatung) begitupun sembelihan orang murtad.Wal ‘Iyaadzubillah.


*Catatan penting: SayyidunaaIbnu Abbas RA berkata :Hanyasanya dihalalkan semblihannya orangyahudi  dan  nashrani  karena bahwasanya mereka beriman kepada Taurat dan  Injil, Diriwayatkan oleh  Al-Hakim dan  menshahihkannya  (lih. Hasyiyah Al-Baijury). Wallahu  Alam
#Berburu
Berburu dengan bintang buas  yang  bertaring dan  burung yang  berkuku tajam hukumnya
boleh seperti berburu dengananjing , macan, burungelang, dll dengan syaratbinatang yang diburu itu halal.
Hal ini berdasarkan firmanAllah dalam surat Al-Maidah ayat empat tentang berburudengan
binatang.
SyaratSyarat binatang pemburu:
1. Binatang pemburu harus terlatih ,yakni kalau  diperintah berburu iapergi,  kalau  dilarang ia berhenti
2. Jika ia berhasilmendapat hasil buruannya, ia tidak mau memakannya. Kalau hasil buruannya masih hidup  , maka wajib disembelih,
3. Kalau ia melepas binatang buruannya, hendaklahmembaca bismillah  (Lih. Ilmu Fiqh Islam
Lengkap, Kifayatul Akhyar)
Jika tidak terdapat syarat-syarattersebut di atas maka hasil buruan/ binatang yang ditangkap tidak halal , kecuali jika didapati masih ada Hayat Mustaqirrah maka wajib disembelih. (Fathul Qarib)
Wallahu Alam
Pertanyaan :
1. Bagaimana hukumnya hewan hasil buruandengan  pistol ??
2. Anjing dapat  melukai hewan buruan,  lantas  bagaimana hukum daging  buruannya karena kena gigitan anjing ?
Jawaban :
1. Berburu dengan  senjata tajam,senjata api, atau  panah  yang mata-panahnya menggunakan besi atau  logam  lainnya  diperbolehkan dengan  syarat  binatang yang diburu halal dan hewan buruan tsb mati karena terkena tembakan, bukan mati karena faktor lain. Wallahu Alam

2.   Dalam  masalah ini ada  keterangan dalam  Kitab  Kifayatul  Akhyar  pada  Furu’ (cabang), terkait tempat gigitan  anjingpada buruan,  hal tersebut dihukumi  najismaka  wajib disucikan dst,  ini merupakan Madzhab  Masyhur  serta  beberapa Qil (pendapat) lainnya.  Wallahu  Alam.

Categories
KMNU IPB Uncategorized

Press Rilis Syukuran Harlah KMNU IPB ke VI

Rangkaian acara harlah KMNU IPB ke VI ditutup dengan tasyakuran yang diselenggarakan di sekretariat KMNU IPB desa Cangkurawak Dramaga Bogor, Ahad (26/5) kemarin. Acara dimulai ba’da asar dengan pembacaan Al Qur’an dan dilanjutkan dengan Tahlil yang dipimpin oleh Kadiv kajian dan pelestarian tradisi aswaja saudara Slamet Heri Kiswanto.
Rangkaian acara selanjutnya adalah sambutan yang disampaikan oleh saudara Muhammad Aldy Khusnul Khuluq. Dalam sambutannya kali ini menekankan pada harapan KMNU kedepannya agar dapat merangkul mahasiswa yang berlatar belakang aswaja agar tidak kehilangan identitasnya. Sambututan selanjutnya disampaikan oleh ustadz Barzah. Beliau menyatakan takjub dengan keberadaan KMNU IPB yang di tengah suasana kampus yang berbagai macam keadaannya. Beliau juga menekankan agar masalah perbedaan jangan sampai menjadi sumber perpecahan karena sejatinya sikap saling menghargai itu lebih indah dibandingkan saling mencaci. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh pembina KMNU IPB Prof. Dr. Ir Surjono Hadi Sutjahjo, M.S. beliau menuturkan bahwa sebagai orang NU kita harus terus mengawal masyarakat agar tetap berada pada koridor Ahlussunnah wal jama’ah. Sebagai anggota KMNU kita harus merangkul orang-orang yang background-nya NU agar tidak mengalami “gegar budaya” dengan situasi dan kondisi kampus yang beragam. Jangan sampai mereka melepas stu persatu identitas dan kebiasaan baik yang telah lama melekat pada diri mereka. Kita juga sebagai generasi muda yang intelektual namun jangan sampai mengabaikan norma-norma yang ada di sekeliling kita. Terakhir , beliau berpesan “Jadilah NU yang damai dan sejuk bagi siapapun yang ada di dekat kita.
Acara dilanjutkan dengan doa penutup oleh Ustadz Barzah, kemudian sholat maghrib berjamaah. Setelah itu acara makan “lesehan” bersama yang memang sudah mentradisi di KMNU IPB sebagai sarana mendekatkan anggota dan mempererat rasa kekeluargaan. Rangakaian acara yang tak kalah seru adalah Launching halaqoh KMNU IPB 2013 oleh tim halaqoh Divisi Kajian dan Perelstarian Tradisi Aswaja. Harapannya, dengan adanya halaqoh ini kaderisasi dalam tubuh KMNU IPB dapat berjalan optimal sehingga dapat memperkuat internal dan eksternal KMNU IPB.

Categories
KMNU IPB Renungan Uncategorized

Surat untuk Penerus Perjuangan








Kala itu
Saat kami tak pernah tahu
Akan ada wajah-wajah kalian disini
Saat itu
Kami tak tahu
Apa yang kami mulai masih diteruskan hingga detik ini
Dalam ikatan ini
Wajah-wajah terus berganti
Memberi berbeda-beda arti
Namun masih membawa cita-cita kami
Terus Berjalanlah
Bawalah apa yang kami mulai
Jangan berhenti
Walau wajah-wajah akan terus berganti
Oleh : Firdaud Hamdani (Sang Perintis)
Bogor, 24 Februari 2013 (IQ dan Pelantikan pengurus KMNU IPB 2013/2014)
Categories
KMNU IPB Uncategorized

Perjalanan Team Hadrah KMNU IPB

Ditengah gemerlap budaya kampus IPB yang modernis tak heran jika banyak mahasiswa baik mahasiswa NU maupun tidak NU mulai meninggalkan tradisi dan budaya pondok pesantren yang sebenarnya lebih dapat membawa ketenangan dan kedamaian hati. Namun sebaliknya, lebih banyak yang memilih dengan hiburan ala mahasiswa.
Tak terasa 3 tahun sudah perjalan KMNU IPB di kalangan mahasiswa S1 IPB penuh kisah menyedihkan, pengorbanan, sampai membahagiakan dan kebanggaan bertumpah menjadi satu simponi cerita yang begitu indah saat ini.

Saat Itu
iya saat itu, kita belum punya team rebana, alat rebana, apalagi punya kas rebana.
belum ada diba’an yang setiap malam minggu kita laksakan. jadi memang hampa wes pokoe.
awalnya cuman beberapa orang yang bisa hadroan kumpul, seperti biasa kumpul ala KMNU IPB  (baca jawa : jagongan) tapi tetep menghasilkan, hehehe…. bahas kira-kira gimana biar bisa rebanaan (sholawatan) mumpung ada pemainnya tapi g ada dana untuk beli peralatan (ceriatane masih zaman susah). walaupun kadang-kadang dibilang bid’ah sama tetangga sebelah (baca: penguasa sementara ini). hehe
Mbak El mengusulkan gimana kalau tampil di acara atau kegiatan di BEM FEM, tapi persoalan selanjutnya dari mana alatnya kan g punya alat?
akhirnya peralatannya pinjem dulu ke pagentongan dan itupun hanya 2 pasang rebana dan akhirnya tampil dech dengan susunan pemain dari kiri zimam (FIS 46), Oki (TIN 46), Raki (ITP 46), Kak Dauz (STK 42), Mbak Eliza (AGB 45), Wiwik (BDB 46), Faiz (TIN 46), Wati (PTN 46) dan Meme (IT 46). tidak lupa orang yang sangat penting dan selalu dibalik layar beliau ketua KMNU kita kak Ilul (TIN 42).
Walaupun belum ada kas kita tidak mematok tarif dan memang selamanya tidak mematok tarif jadi seikhlasnya saja dari pihak panitia mau ngasih berapa.

Dengan begitu, mungkin juga kersane Allah setiap kali ada acara kampus  team hadroh KMNU diundang apalagi saat bulan puasa menjadi bulan yang berkah bagi team hadroh tapi memang lagi-lagi kita masih belum punya alat, jadinya tetap pinjem.
Alhamdulillah sedikit demi sedikit uang dikumpulkan dan tidak berhenti disitu kita bersama-sama sampai punya ide gimana “klo kita danus bareng-bareng untuk beli peralatan karena uda banyak job tampil dan saking pengennya punya alat sendiri dan beruntung juga ada duo gresik yang membelikan 1 pasang rebana dengan uang sendiri sekali lagi saking pengennya punya alat sendiri. jadi memang kita tidak minta apa-apa tapi malah memberi demi dan demi…….
tau g temen2, kita danus apa? danus MINAKU (apa itu? bisa tanya ke mbak El hehe) selama beberapa minggu untuk mengumpulkan dana sebagai tambhann untuk membeli alat dan yang ikut tidak cuman team hadroh tapi semuanya yang penting rame.
waba’duh, akhirnya seiring seringnya diundang tampil maka terbentuklah team haroh KMNU IPB yang utuh yaitu sekarang punya:
1. Peralatan lengkap (3 pasang rebana, 1 bass, 1 pasang ketimplungan)
2. Kostum : sarung dan kerudung
3. Punya kas sendiri.

Tinggal adik-adik dan temen-temen  meneruskan dan mengistiqomah untuk melestarikan tradisi seni hadroh ini di IPB dan dimanapun kita berada nantinya.

saya masih ingat 2 hal yang sangat sepele dan sederhana yang dulu pernah dikatakan saudara kita oki dengan gayanya yang khas, dia bilang:
1. kalau tampil tidak usah mematok harga dan diniatkan untuk sholawat nang kanjeng Nabi Muhammad, itu saja sudah cukup.
2. Ayo diba’an setiap malam minggu ada atau tidak orang harus tetep ada diba’an dan jangan sampai ujian mengganggu diba’an, hehe
dengan 2 hal inilah kita bersama-sama yakin mudah-mudahan KMNU IPB kedepan semakin memberikan arti bagi semua elemen masayarakat, Amiin.
cuman ingin menyimpulkan dari hikmah yang bisa diambil selama ini ada 3 hal mendasar yang harus kita kita pegang dan lakukan untuk mengiringi menuju kebahagiaan didunia maupun di akhirat, yaitu:
1. Hidup yang sederhana, ojo neko-neko
2. Istiqomah Kajian (Ngaji) dan Sholawatan (Diba’an)
3. Mengabdi untuk masyarakat
Semoga mengispirasi….
salam ~(pelaku sejarah)~

Categories
KMNU IPB Uncategorized

Kisah Mangga, Pisau, & KMNU IPB

Seperti biasanya, setiap jumat sore kami punya agenda cangkrukan bareng di koridor kampus. Salah seorang teman kami, baru datang dari kampung halamannya. Rupanya dia membawa sebungkus buah mangga yang ranum. Pasti enak dan segar sekali dinikmati di waktu sore sehabis kuliah seharian tadi.
 
“Teman-teman, saya baru tiba. Sewaktu di rumah kemarin, pohon mangga di halaman sedang berbuah. Lebat sekali buahnya. Kata emak, suruh bawa saja untuk oleh-oleh untuk kawan di kampus. Ini, ku bawakan untuk kalian. Ayo, dimakan. Tapi maaf, saya tidak punya pisau. Jadi mangganya belum bisa saya kupas. Adakah yang bersedia mengambilkan pisau untuk ngupas mangga ini?”

Jika ternyata tidak ada satu pun orang yang bersedia mengambil pisau (punya sendiri, pinjam, atau pun beli), apakah semua orang yang sedang berkumpul sore itu akan dapat merasakan segarnya buah manga yang ranum tadi? Tentu tidak.
***

Pernah suatu ketika, saya sesekali makan 2 kali sehari dengan dua potong roti. Hmmm.. rasanya tak nikmat. Sejak saat itu, ada perasaan yang tak pas ketika saya melihat orang yang meminta-minta.
Saya bersyukur saya diberi rasa iba. Rasa itu penting. Rasa membuat kita untuk peka.
***

Kawan, saya dulu di KMNU tak pernah membayangkan akan kenal dengan kalian. Dengan zimam, hasan, fiyah, nudhar, hannim, sholah, wiwik, memey, wati, sahlin, oki, dan lainnya..
Saya juga tak pernah membayangkan akan berkesempatan untuk sowan dan bertemu dengan KH. Hasyim Muzadi, Pak Zawawi, Pak Nandang, Pak ahmad Baso… juga kenal dengan para pembina..
***

KMNU adalah tempat yang enak. Ekstrimnya surga. Hanya saja, bagi sebagian orang, belum ketahuan bagusnya.
Jadi, bagi yang mampu memberi pasir, kasihlah pasir.
Jika ada yang mampu memberi batako, berilah batako.
Ada pula yang bisa membeli genteng, berilah genteng.
Berilah, sebanyak apa yang kau punya.
Jangan pernah merasa, kamu tidak bisa memberi apa-apa.
karena semuanya berawal dari rasa, kemudian proses rela mengambil peran, dan menjalankan peran.
kalau tak ada yang bersabar mengambilkan pisau, semua pasti tak akan bisa merasakan nikmatnya mangga yang tadi saya bawa.
Jadi bagi siapa yang belum tau enaknya, yakin saja. Yakinlah bahwa ada surga.
Hingga belum ketemu pun, cobalah bersabar. Bersabar untuk membantu mengambilkan pisau.
Mari melatih diri kita untuk sabar menunggu. Karena pada saatnya, saya yakin teman-teman akan merasakan sesuatu yang berbeda. Indah.
Terus terang, Saya sangat bahagia melihat adek-adek semua. Terutama saat pergantian pengurus.
Saya tak pernah membayangkan KMNU akan menjadi seperti ini.
Adek-adek menjadi bagian penting dalam bagian hidup yang saya lalui.
Jadi, cari tahu apa yang bisa kita lakukan. Jangan terlalu banyak diam ketika teman kita yang lain sedang sibuk.
Hal gampangnya, ketika sedang beres-beres selepas acara, kursi berantakan, sampah berserakan, kalau orang yang tak peka, pasti akan ditinggal pergi saja.
Kalian, orang yang paling berperan, agar nanti KMNU akan enak bagi siapa pun.
Proses ikhtiar, rela, ikhlas, apapun itu.. itulah yang menimbulkan kenikmatan yang semula kalian tidak tahu.

—Dikutip dari penyampaian Mas Nailul Abror, untuk zimam dan kawan 46 lainnya, sekitar 1,5 tahun yang lalu =D —

Categories
KMNU IPB Uncategorized

Para Habaib dan Masyayikh Bershalawat Bersama Di IPB

SESI    I
Indonesia, salah satu negara yang terkenal akan kekayaan budaya yang begitu melekat erat di setiap kehidupan masyarakatnya. Kebudayaan-kebudayaan tersebut tersebar merata di semua lapisan masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Sepanjang titel mayoritas Islam tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa Islam yang tumbuh di masyarakat Indonesia berkembang hingga membentuk suatu ormas-ormas.
Salah satu ormas Islam yang terkenal adalah Nahdlatul Ulama’. Golongan Nahdlatul Ulama’ ini tersebar diberbagai lapisan, salah satunya adalah lapisan mahasiswa. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama’ (KMNU) IPB merupakan bukti nyata golongan Nahdlatul Ulama’ dari lapisan mahasiswa.  KMNU IPB berupaya melestarikan kesenian Islam di IPB khususnya, yakni seni musik rebana dengan menggelar “Festival Rebana Se-Bogor Raya dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW”.
Minggu, (23/12) dengan mengusung tema “Gebyar Shalawat Cinta Rasul Untuk Melestarikan Tradisi Rebana dan Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah”, KMNU IPB berhasil melangsungkan acara Festival Rebana yang pertama kali sepanjang sejarah kampus IPB.
Allahumma Shalli Ala Muhammad !! Teriakan shalawat peserta Festival Rebana menjadi penanda bahwa Festival Rebana Se-Bogor Raya akan segera dimulai. Sebelum festival dibuka secara simbolik,  Ibu Nunung Munawaroh selaku pembina KMNU IPB memberikan sambutan terlebih dahulu. Beliau  mengatakan bahwa geliat NU di IPB mulai terasa dari 5-6 tahun yang lalu, berkat A.hmad Fahir dan kawan-kawan yang rindu akan tradisi, KMNU mulai bercokol di IPB sampai saat ini. “Dulu, lebih dari 200 mahasiswa IPB tergabung dalam KMNU IPB”, tambahnya. Ia juga mengatakan, berkat KMNU,shalawat bisa bergema di IPB.
Dengan membaca basmalah dan pemukulan salah satu alat rebana atau yang biasa disebut bass, perempuan yang dulu aktif di PMII IPB dan sekarang aktif di Fatayat NU Bogor ini membuka acara Festival Rebana Se-Bogor Raya secara simbolik.
Sebelum para peserta tampil, MC menyampaikan ketentuan dan tata tertib Festival Rebana dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Se-Bogor Raya serta ketentuan dan penilaian Festival Rebana. Penilaian  Festival Rebana ini meliputi beberapa bidang, yakni bidang vokal oleh H. Agus Muhaimin, bidang musik banjari oleh Eko Kosasih dari LASQI, dan bidang adab serta syair oleh M. Aziz Hakim.
Tim dari As-Shifa menjadi pembuka Festival Rebana, selanjutnya 10 putri yang tergabung dalam grup Al-Fatah menjadi kontestan yang kedua. Kontestan yang ketiga adalah kumpulan jama’ah ibu-ibu yang tergabung dalam grup Al-Wustho, sedangkan kontestan yang keempat adalah tim dari Al-Khidmah Kampus IPB. Kontestan kelima adalah Al Farash, kontestan keenam adalah Nurul Iman, ketujuh adalah ENHA, kedelapan adalah El Balqis, kesembilan adalah An N ur, kesepuluh adalah Al Fata, kesebelas adalah Cinta Rosul, keduabelas adalah Ruhama, dan terakhir Al Mahabah. Sesi festival Rebana ini selanjutnya ditutup dengan pembacaan shalawat oleh tim juri didampingi oleh beberapa perawakilan peserta,sehingga semakin menambah keberkahan dan kemeriahan Festival Rebana di kampus IPB ini.
SESI II
            Festival Rebana Se-Bogor Raya dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada sesi 2 berlangsung pada malam hari. Gemericik hujan turut mengiringi malam yang penuh berkah ini.
Seperti layaknya acara kebanyakan, acara dibuka oleh MC dan selanjutnya dibacakan Kalam Ilahi. Ada yang berbeda pada malam ini, jama’ah diperkenankan menyanyikan lagu Indonesia Raya terlebih dahulu sebelum melanjutkan acara berikutnya.
Sambutan pertama disampaikan oleh Dr. Ir. Ifan Haryanto, M.Sc sebagai pembina KMNU. Ia sangat mengapresiasi KMNU  IPB karena telah menyelenggarakan acara ini dengan sukses. Ia mengatakan bahwa acara ini merupakan terobosan baru sebagai media syiar sekaligus memperkenalkan kesenian Islam (rebana) di IPB. Ia juga berharap indahnya alunan musik akan membawa perubahan yang lebih baik, dan bisa menular ke kampus lain.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Direktur Kemahasiswaan IPB yakni Dr. Rimbawan. “13 tim yang mengikuti lomba Festival Rebana ini, suasananya akan berbeda dengan lomba yang lain, karena lomba ini merupakan syi’ar”, katanya. Ia juga mengucapkan terimakasih dan selamat kepada panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara ini. “IPB sangat mendukung minat dan bakat mahasiswanya. Alangkah senangnya, apabila minat dan bakat dibidang seni yang membawa kehalusan budi dapat meningkatkan daya ingat untuk selalu mensyukuri nikmat”, tambahnya sebelum menutup sambutannya.
Penganugrahan pemenang festival rebana dibacakan setelah Direktur Kemahasiswaan IPB mengakhiri sambutannya. Juara 1 diraih oleh tim An-Nur dengan total nilai 880. Trofi, sertifikat dan hadiah berupa uang senilai Rp. 2.000.000,00 diserahkan oleh perwakilan dari Robithoh Al-Alawiyah Indonesia. Juara 2 diraih oleh tim Nurul Iman dengan total nilai 850. Trofi, sertifikat serta hadiah berupa uang senilai Rp. 1.500.000,00 diserahkan oleh Direktur Kemahasiswaan IPB. Juara 3 diraih oleh Al-Khidmah IPB dengan total nilai 810. Trofi berikut sertifikat dan uang senilai Rp. 1.000.000,00 diserahkan oleh pembina KMNU yaitu Dr. Ir. Aji Hermawan, MM. Juara favorit diraih oleh tim En-Ha dengan total nilai 800. Trofi berikut sertifikat dan uang senilai Rp. 750.000,00 diserahkan oleh ketua KMNU yakni Aldy Khusnul Khuluq.
Memasuki acara inti yaitu pembacaan Asmaul Husna dipimpin oleh Al-Habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Athas. Sebelumnya beliau mengatakan, sungguh diluar dugaan, IPB menyelenggarakan kegiatan seperti ini. Segera setelah itu, beliau memulai membacakan asmaul husna. Usai membaca Asmaul Husna, Al-Habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Athas dan Al-Habib Abdurrohman Bassuro (Rabithoh Alawiyah Pusat) membacakan Simtud Duror begitu hidmah dengan iringan nada rebana yang menggocang GWW semuanya jama’ah mengikuti denganpenuh kekhusyu’an. Turut hadir pula Syaikh Ramadhan dr Mesir  turut mnghdri juga Habib Hasan Shahab pengisi di Wadi FMPara pembina baik dri Pengasuh Al_Ghazali, AL-Falak, PCNU,tentunya dari IPB sendiri para kyai, asatidz, para santrian santriwati seluruh peserta pecinta sholawat. Setelah itu, penyampaian Mauidloh Hasanah oleh Asy-Syaikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki, Salah satu diantara petikan Nasehat Ilmu belaiu saat memberikan jawaban atas pertanyaan Hadirin, Beliau menyampaikan perkataan Siti Rabi’ah Al-‘Adawiyyah berikut:
إِسْتِغْفَارُنَا يَحْتَاجُ إِلَي الْإِسْتِغْفَارِ
Istigfar kita (taubat kita) butuh istighfar.
Do’a penutup disampaikan oleh KH Dudi Zuhdi sebagai tanda berakhirnya rangkaian acara Festival Rebana Se-Bogor Raya dan Menyambut Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dengan penuh antusiasme jamaah Insya Allah kegitan ini akan diadakan setiap tahun Insya Allah

Categories
KMNU IPB Uncategorized

KMNU IPB : Festival Sholawat Pertama Kali dalam Sejarah Di IPB

FESTIVAL REBANA 2012 merupakan salah satu rangkaian acara Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama’ (KMNU-IPB) yang bertujuan untuk meningkatkan rasa kecintaan kepada Rosulullah.Kegiatan FESTIVAL REBANA 2012 terdiri atas dua kegiatan besar yaitu FestivalSholawat Rebana dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Deskripsi kegiatannya adalah sebagai berikut:
1.     1. FestivalGema Sholawat Rebana
Deskripsi kegiatan :
Kegiatan ini merupakan lomba  sholawat rebana se-Bogor Raya yang terbuka untuk masyarakat umum (dengan syarat dan ketentuan khusus). Lomba sholawat rebana ini dapat memfasilitasi masyarakat Bogor dalam melestarikan budaya yang semakin lamasemakin ditinggalkan oleh masyarakatnya. Setiap tim menampilkan dua lagu sholawat yang terdiri dari satu lagu wajib dan satu lagu bebas dengan durasi waktu sepuluh menit. Dari dua puluh tim akan diambil empat juara,yaitu : Juara 1, Juara 2, Juara 3, dan Juara Favorit.
Pemenang Lomba Gema Sholawat Rebanaakan mendapat penghargaan dan hadiah, dengan rincian sebagai berikut :
a.       Juara 1 akan memperoleh Piala, Piagam, dan hadiah Rp 2 juta
b.      Juara 2 akan memperoleh Piala, Piagam, dan hadiah Rp 1,5 juta
c.       Juara 3 akan memperoleh Piala, Piagam, dan hadiah Rp 1 juta
d.      Juara Favorit akan memperoleh Piala, Piagam, dan hadiah Rp750 ribu.
 Ketentuan dan Tata Tertib Festival Sholawat Rebana sebagaimana berikut :
KETENTUAN UMUM 
1.      Kategori dari Festival ini adalah Sholawat Rebana se-Bogor Raya (Kota Bogor dan Kabupaten Bogor).
2.      Perlombaan berlaku untuk kalangan umum (umur 12-25 tahun).
3.      Peralatan yang digunakan adalah Rebana (Hadroh Banjari)
4.      Peralatan dibawa sendiri oleh peserta.
5.      Tidak diperkenankan memakai peralatan atau bahan pendukung lain yang menggunakan listrik.
6.      Peserta diwajibkan menggunakan pakaian islami dan meutup aurat
7.      Perlombaan dilaksanakan 1 (Satu) kali putaran dan pemenang akan diumumkan pada acara puncak malam harinya.
8.      Peserta tampil berdasarkan nomor urut.
9.      Durasi penampilan maksimal selama 10 (Sepuluh) menit.
10.  Pemenang diambil 3 (Tiga) terbaik dan 1 (Satu) Juara Favorit.
11.  Peserta tidak diperkenankan menampilkan rodat/tarian.
12.  Ketidaksesuaian waktu dari yang telah ditetapkan dapat mengurangi penilaian dalam bidang adab.
KETENTUAN KHUSUS 
1.      Saat penampilan, peserta wajib mengenakan nomor urut yang telah disediakan oleh panitia.
2.      Jumlah peserta setiap grup maksimal 10 (Sepuluh) orang.
3.      Seorang anggota grup tidak dibenarkan terdaftar pada grup lain.
4.      Pengambilan nomor urut peserta dilaksanakan pada saat technical meeting.
5.      Seluruh peserta harus melengkapi seluruh persyaratan administrasi sebagai berikut :
a.  Mengisi formulir pendaftaran;
b. Melengkapi KTP atau kartu identitas lainnya;
c.  Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 150.000, 00 (Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah) tiap grup
LAGU 
1.      Setiap peserta harus menyanyikan 1 (Satu) lagu wajib dan 1 (Satu) lagu pilihan.
2.      Shalawat yang dibawakan harus berbahasa Arab.
3.      Lagu wajib ditentukan oleh panitia, yaitu : Birosuulillahi wal-badawi.
4.      Lagu pilihan bebas dengan ketentuan bahwa teks lagu berbahasa arab dengan nada/tone beraliran nasyid arab.
5.      Teks lagu bebas dikumpulkan kepada panitia saat technical meeting
6.      Durasi waktu untuk tampil 10 (Sepuluh) menit, dengan ketentuan :
a.       Lampu hijau menandakan dimulainya    lomba.
b.      Lampu kuning menandakan waktu masih tersisa 2 (Dua) menit.
c.       Lampu merah menandakan watu telah habis.
d.      setiap peserta ditambahkan waktu 2 (Dua) menit untuk persiapan.
7.      Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat. 
KRITERIA PENILAIAN :
a.       Vokal (40%)
1. Keutuhan dan power suara
2. Pengaturan nafas
3. Keindahan suara
4. Kesesuaian vocal dan backing vocal
b.      Adab dan Syair (30%)
1.      Muro’atul kalimat
2.      Kesiapan peserta dan Performance
3.      Ekspresi dan Penghayatan
c.       Musik Banjari (30%)
1.      Irama Dasar Rebana (Banjari)
2.      Variasi Rebana (Banjari)
3.      Keserasian Banjari dan Lagu

2. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Deskripsi kegiatan :
Kegiatan ini merupakan pengajian akbar dalamr angka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki sebagai pembicara yang dihadiri oleh tamu undangan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sebelum mauidhoh hasanah, diadakan pembacaan sholawat shimtu ad-duror yang dipimpin langsung oleh Al-habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Aththas dan diiringi oleh tim rebana gabungan dari peserta.