Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif. Yudhistira Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian. Bima Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat. Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Arjuna Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna. Nakula dan Sadewa Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya. Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.  [Septian Fajar Bima] edited by Mila

Wayang merupakan budaya khas yang sudah lama berada di Indonesia. Wayang ada sebelum masa walisongo. Berkat kecerdasan dan kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo, wayang dapat dijadikan media dakwah. Mungkin inilah dasar orang Jawa sering menggunakan istilah “othak athik mathuk”. Cerita wayang yang bersifat ke-Hindu-an dimualafkan dengan seksama dan dalam tempo yang seirama. Sebut saja mulai dari tokoh-tokoh wayang di “Pandhawa Lima”. Kelima tokoh pandhawa itu mencerminkan Rukun Islam yang wajib diimani oleh umat Islam. Tidak hanya dari segi jumlah, namun dari segi keilmuan dan postur tubuh masing-masing tokoh juga bermakna komprehensif.

Yudhistira

Tokoh pertama dari Pandhawa adalah sang sulung yaitu Yudhistira atau biasa disebut Puntadewa, Dharmakusuma, dll. Yushistira bermakna kokoh/teguh pendirian, Puntadewa bermakna kedamaian, Dharmakusuma bermakna kebenaran yang elok. Yudistira juga memiliki jimat yang bernama “Jimat Kalimasada”. Yudistira ini dapat diasosiasikan dengan Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Jimat Kalimasada sendiri merupakan buatan para walisongo yang sebenarnya adalah Kalimat Syahadat. Dalam ber-Islam maka hendaknya harus mengucap Kalimat Syahadat terlebih dahulu dengan lisan dan hati. Kemudian dalam berislam adalah jalan menuju kedamaian menuju jiwa yang kokoh, dan mengamalkan kebenaran yang indah. Seperti itulah wajah Islam seharusnya, tidak sumbu pendek namun indah dari jauh maupun dekat. Selain itu, dikisahkan bahwa Yudistira memiliki darah putih yang tidak dimiliki oleh para tokoh wayang lainnya. Putih ini dapat dimaknai suci, bahwa islam memanglah jalan menuju kesucian.

Bima

Tokoh kedua adalah Panenggak Pandhawa, yaitu Bima, Bima memiliki nama lain Werkudara, Bratasena, Abilawa, Sena, Dandunwacana, Gandawastraatmaja, dll.  Nama Bima berarti dahsyat dan hebat. Bima memiliki postur tubuh tinggi, besar, dan gagah. Bima dikisahkan juga pernah disuruh mencari Tirta Pawitasari dan Kayu Gung Susuhing Angin, yang sebenarnya tidak ada keberadaanya oleh Durna. Walaupun tidak menemukan keduanya, Bima berhasil menemukan Dewa Ruci yang sejatinya adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tokoh Bima ini sangat terkait dengan Rukun Islam yang kedua, yaitu Sholat.

Sholat hukumnya wajib, memaksa, mengikat, dan tanpa kompromi, sholat tidak dapat ditinggal oleh penganut islam siapapun. Sifat sholat yang begitu tegas dalam Rukun Islam sangat sesuai dengan karakter Bima yang tegas dan adil dalam perbuatan. Tubuh tegap dan tinggi dapat menjadi isyarat dari para wali, bahwa sholat itu tiangnya agama. Selain itu, perjalanan spiritualnya dalam menemukan Sang Ruci juga sesuai dengan Shalat yang merupakan perjalanan spiritual Umat Islam berserah diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Arjuna

Tak berbeda dengan kakak kakaknya, Arjuna juga memiliki beberapa nama, di antaranya Premadi, Dananjaya, Ciptoning, Parta, dll. Arjuna memiliki paras yang sangat tampan dan digandrungi oleh banyak kaum hawa. Selain itu, Arjuna juga gemar bertapa dan sering sekali mendapatkan wahyu/berkat dari para dewa. Kegemaran tapa dari para dewa ini sangat erat kaitannya dengan Rukun Islam Puasa. Puasa layaknya orang bertapa, hukumnya wajib dan diharapkan dengannya mendapat keridhoan Alloh. Puasa juga tidak wajib bagi yang tidak mampu, sama seperti tapa Arjuna, hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu melaksanakannya. Puasa (Bulan Ramadhan) juga merupakan waktu diturunkannya Wahyu Allah yaitu Alquran yang bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Arjuna.

Nakula dan Sadewa

Si kembar Pandhawa yaitu Nakula dan Sadewa yang juga memiliki budi pekerti baik. Keduanya merupakan tokoh terakhir dari para pandhawa. Ketika membicarakan Nakula, tidak dapat dipisahkan dari Sadewa, begitu pula sebaliknya. Kedua tokoh ini tidak banyak ceritanya dibandingkan dengan ketiga kakaknya, namun kedua tokoh pamungkas pandhawa ini memiliki cerita yang sangat unik salah satunya meruwat Dewi Uma. Lakon cerita tersebut jarang dimainkan begitu pula dengan zakat dan haji. Zakat dan haji tidak dilakukan setiap hari namun pada masa masa tertentu dan diwajibkan hanya bagi yang mampu, sesuai dengan busana Nakula dan Sadewa yang bisa dibilang paling lengkap dan rapih dibanding kakak kakaknya.

Dari kelima tokoh itulah para walisongo berusaha mengenalkan Islam dengan wajah yang indah, lembut, dan damai. Metode dakwah walisongo sangat sesuai dengan kondisi kultur budaya masyrakat Indonesia, khusunya Pulau Jawa. Seperti ungkapan seorang bijak “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, walisongo berusaha menghadirkan langit budaya yang selaras dengan ajaran Islam.

[Septian Fajar Bima] edited by Mila

 

KMNU IPB - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan bedasarkan peristiwa “Resolusi Jihad” 74 tahun yang lalu. Peristiwa itu diinisasi oleh KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah yang menyatakan jihad melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban kaum santri dan umat Islam pada saat itu. Peristiwa ini turut menyulut semangat perlawanan pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

KMNU IPB – Yal lal wathon dan sholawat mahalul qiyam menggema di hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan bedasarkan peristiwa “Resolusi Jihad” 74 tahun yang lalu. Peristiwa itu diinisasi oleh KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah yang menyatakan jihad melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban kaum santri dan umat Islam pada saat itu. Peristiwa ini turut menyulut semangat perlawanan pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Dalam rangka memeringati Hari Santri Nasional 2019 sekaligus hari Sumpah Pemuda, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) mengadakan diskusi kebangsaan pada minggu (3/11) di FEM Convention Hall, IPB. Tema yang diangkat yaitu “Peran Mahasiswa IPB dalam Memperkokoh Cinta Tanah Air (Hubbul Wathon minal Iman)”.

Diskusi ini menghadirkan mantan Menteri Riset dan Teknologi masa Presiden Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. Muhammad A. S. Hikam, APU; guru bersar Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA; dan ahli psikologi anak-remaja dan radikalisme, Ny. Arijani Lasmawati, M. Psi, sebagai pembicara. Acara ini dimoderatori oleh Auhadillah Azizy, seorang aktivis kebangsaan dan alumnus IPB.

Diskusi diselenggarakan untuk mempertegas peran mahasiswa dalam menjaga keutuhan NKRI dari sudut pandang  pengamalan ilmu dan pengabdian masyarakat, psikologi remaja, serta aspek sejarah dan konteks narasi radikalisme. Isu cinta tanah air dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia yang notabene negara kesatuan besar dengan berbagai suku, ras, budaya, dan bahasa.

Cinta tanah air yang didefinisikan oleh Prof. Muladno adalah sesadar-sadarnya menghayati empat pilar Indonesia yaitu Proklamasi, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Namun, dalam praktiknya, pemerintah dan perguruan tinggi malah tidak nasionalis dan berpihak pada rakyat. Contohnya hanya sekitar 2.5%  penelitian dari PT yang bermanfaat untuk rakyat dan program dari pemerintah di bidang perternakan yang cenderung tidak berkelanjutan.

Dalam mengkritisi hal ini, Prof. Muladno menekankan bahwa seharusnya mahasiswa dapat berpihak pada rakyat dalam bentuk penelitian atau pengabdian yang dapat memberdayakan masyarakat sebagai wujud nasionalisme. Wujud media untuk menerapkan hal ini yang sudah Prof. Muladno jalankan adalah Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) sebagai wujud sinergi PT, mahasiswa, dan peternak kecil.

Ny. Arjani lebih menekankan pada aspek psikologi remaja dalam pusaran narasi disintegrasi bangsa dalam bentuk radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Beliau menuturkan bahwa sebagian besar pelaku terorisme dan radikalisme adalah remaja. Fase remaja merupakan masa seseorang sedang dalam fase mengekspresikan diri dan mencari jati diri sehingga mudah dihasut dan terpapar paham radikalisme.

Dalam hal ini, peran penting orang tua sebagai role model, pemberi pemahaman tentang nilai-nilai, monitoring sekaligus menjadi benteng terhadap paham-paham yang keliru. Maka dari itu, membangun kesadaran terhadap kondisi lingkungan sosial dan penguatan keluarga penting dilakukan untuk menjegah remaja menjadi korban paham-paham radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI.

Prof. Hikam lebih menekankan pada aspek beragamnya narasi yang ada di publik tentang isu-isu radikalisme, ekstremesme, dan terorisme dan kompleksnya masalah tersebut. Narasi yang berbahaya dibangun oleh kelompok-kelompok radikalis, ekstermis, dan teroris transnasional dan biasanya mengenai keadaan umat Islam yang tidak berdaya dan anjuran keterlibatan dalam kegiatan dan penyebaran ideologi mereka.

Kelompok-kelompok ini memanipulasi ajaran Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan menggunakan solidaritas umat sebagai dasar melakukan aksi teror terhadap pihak yang mereka tentang atau bahkan sesama muslim. Tugas mahasiswa dan santri, menurut beliau, adalah membangun awareness terhadap hal ini , menolak dan mencegah timbul dan meluasnya paham-paham yang berusaha merusak ideologi Pancasila ini.

KMNU IPB diharapkan menjadi pelopor dalam memberikan pencerahan pikiran terhadap para stakeholder di IPB mengenai trilogi  Ukhuwah Islamiah yang selama ini diusung Nahdlatul Ulama yaitu solidaritas sesama muslim, solidaritas sebangsa dan setanah air, serta solidaritas kemanusiaan bahkan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pandangan ukhuwah ini dapat diterapkan menjadi aksi konkret dalam konteks kehidupan mahasiswa sehari-hari di lingkungan kampus dan masyarakat. (HR)

Jakarta (18/9) – Conference on Indonesia Foreign Policy (CIFP) 2016 diadakan di Kota Kasablanka pada hari Sabtu, 18 September 2016. Acara ini merupakan forum terbuka dan independen yang membahas hubungan Indonesia dengan dunia internasional dalam berbagai aspek: Geopolitik, Keamanan, Ekonomi, Budaya, Lingkungan hidup, dan lain-lain. CIFP adalah forum yang mutlak perlu dihadiri oleh para praktisi, pemikir dan peminat hubungan internasional yang ingin menambah wawasan dan mencari gagasan-gagasan baru.

CIFP merupakan festival diplomasi, yang mempertemukan Pejabat, Duta Besar, Diplomat, Politisi, Selebriti, Pengusaha, Public Figures, Militer, Intelijen, Pakar, Wartawan, Pengamat, Dosen dan Mahasiswa. Topik-topik yang akan dibahas dalam CIFP adalah yang aktuil dan berkaitan dengan kepentingan sosial Indonesia, antara lain : ASEAN, Poros Maritim, Pemuda dan Globalisasi, Major Powers, Emerging Powers, Demokrasi, G20, Diplomasi Ekonomi, Islam dan Barat, Multilateralisme, TPP, Bajak laut, MEA, Terorisme, Laut Cina Selatan, Brexit, dan lain sebagainya.

Acara ini dimulai dengan opening speech oleh Dino Patti Djalal. Kemudian dilanjutkan oleh Menko Polhukam, Wiranto. Lalu, pemberian FPCI Award untuk Indonesia Local Leader With Outstanding Internasionalism dan Innovative Ambasador. Sesi terakhir ditutup dengan Closing Plenary oleh Presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Timor Leste pertama, Xanana Gusmao.

Perwakilan KMNU IPB turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Nurul Hidayah, Kholilah Dzati Izzah, dan Muhammad Abdul Qohar menjadi peserta dalam CIFP ini. “tentu acara ini sangat bermanfaat terutama bagi bangsa Indonesia, semoga acara seperti ini dapat diselenggarakan lebih banyak lagi” ucap Qohar usai acara. (Nurul Hidayah)

 

Oleh: Mamluatun nurrohmah

Dunia itu adalah sebagai suatu hiasan, dan sebaik-baiknya hiasan dunia adalah wanita yang baik (sholihah) (HR. Muslim). (An –Nur 24:31).Wanita adalah tiang negara apabila suatunegara wanita didalamnya baik akhlaknya maka negaranya pun akan baik dan apabila wanita didalamnya rusak akhlaknya maka negaranya pun akan rusak. Begilah pentingnya sosok seorang wanita tidak hanya untuk keluarga namun untuk negara dan agamanya juga.

Siapa sih yang nggak kenal sama Raden Ajeng Kartini ?? beliau merupakan pahlawan pelopor wanita prribumi, yang lahir 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah dan meninggal pada 17 September 1904 di kota Rembang Jawa Tengah. Kartini merupakan sosok wanita yang mengedepankan ilmu, akhlak dan amal, yang sangat patut untuk dicontoh dan diteladani kepribadiannya. Kartini merupakan sosok yang sangat merakyat. Sosok wanita yang sangat welcome terhadap siapapun. Walaupun beliau adalah seorang dari golongan bangsawan, namun beliau tidak suka jika diagung- agungkan. Kartini merupakan sosok wanita yang pengasih, beliau sangat tulus mengasihi keluarga, anak kedua orang tuanya, dan ratkyatnya.

Perbedaan pendapat dengan orang tuanya namun kartini tetap birul walidain terhadap orang tuanya, ditunjukkan pada saat kartini disuruh untuk menikah, dia mau melaksanakan perintah orang tuanya walaupun sebenernya ia masih ingin melanjutkan sekolahnya untuk meraih cita- citanya, namun ini bukanlah akhir perjuangan RA Kartini, dengan sifat rajin, optimis, dan sellau melihat kedepan, beliau setelah menikah tetap saja merintis cita- citanya, dengan menjaga silaturrahim dengan sahabat- sahabatnya yang ada diluat negeri. Beliau yakin bahwa apa yang dicita- citakan bakal tercapai. Kartini merupakan sosok yang sangat sederhana, walaupun dari kalangan bangsawan namun kesederhanaannya sangatlah tinggi.

Keteladanan seperti itulah yang patut dicontoh untuk wanita- wanita modern masa kini atau “Kartini Masa Kini”. Eits…… wanita modern tidaklah orang yang muncul ditelevisi dengan fasion – fasion yang terbuka. Namun wanita modern masa kini adalah wanita yang hidup diera moderenisasi.

Wanita sekarang tidak seperti wanita dizaman dahulu yang sangta dibatasi arah geraknya. Derajat wanita sekarang sama dengan derajat laki –laki. Diera sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwasannya Kartini Masa Kini sudah banyak sekali mengambil peran menuju perubahan yang lebih baik. Wanita sekarang yang sudah mebidangi suatu pekerjaan dia tidak tanggung –tanggug dalam mengambi posisi ada yan menjadi pimpinan suatu negara, menjadi meteri suatunegara, namun tidak terlepas dari tanggung jawab utama menjadi ibu yang bai buat anak dan suaminya.

Kartini Masa Kini dalam menghadapi dunia harus cerdas, memiliki intelektual tinggi yang bisa diamalkan untuk diri sendiri dan orang lain, dan memiliki wawasan yang luas, agar tetap dihargai dan dihormati. Kartini Masa Kini tidak hanya memiliki intelektualitas yang tinggi namun harus memiliki keindahan akhlak. Akhlak dalam berbicara, akhlak dalam berbusana, dan akhlak dalam bertingkah laku.

Hal ini yang harus ditiru oleh Kartini Masa Kini, seorang wanita tidak hanya pintar, cerdas namun harus memiliki keseimbangan antara ilmu dan pengetahuan dan akhlak. Mengapa karena Kartini tidak hanya mengedepankan ilmu pengetahuan namun beliau juga memiliki kecerdasan berfikir dan kecerdasan budi pekerti, karena wanita akan menjadi guru untuk anak- anaknya,so… harus bisa mendidik budi dan akhlak setidaknya pada anaknya.

Karena “seorang anak yang akhlaknya rusak masih bisa diperbaiki menjadibaik asal mendapatkan pengasuhan soerang ibu yang baik. Sebaliknya seorang ibu yang rusak akhlaknya akan melahirkan generasi yang rusak akhlaknya.

Kholilah Dzati Izzah
(Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB, 2013)

 

…Sudah sejak lama NU berakar kuat dalam kehidupan masyarakat khususnya di Pulau Jawa, lebih khusus lagi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Boleh dibilang, NU justru tumbuh di kalangan akar rumput dari bangsa Indonesia, mengingat pesantren-pesantren tradisional –yang dalam hal ini turut menjadi alat dalam penyebaran pengaruh NU – adalah hal yang tidak asing dijumpai di pedesaan. Atau minimal, pada masyarakat beretnis Jawa meskipun tidak berdomisili di daerah tersebut. Maka tidak heran jika sampai ada sekelompok masyarakat di Pulau Jawa yang bahkan tidak tahu ada corak beribadah dalam agama Islam yang berbeda dengan NU, yang bukan merupakan bagian dari kelompok NU sehingga mereka menganggap bahwa kalau bukan NU berarti bukan seorang muslim. Hal ini menunjukkan begitu melembaganya tradisi keislaman yang dilakukan oleh masyarakat NU dan eksistensi NU itu sendiri dalam kehidupan sosialnya. …

 

Paragraf di atas merupakan penggalan esai yang ditulis oleh seorang mahasiswa IPB dalam memenuhi tugas individunya di salah satu mata kuliah. Mata kuliah tersebut membahas mengenai kelembagaan, organisasi dan kepemimpinan dalam rangka pengembangan masyarakat. Mengambil kasus NU dalam analisis keterkaitan kelembagaan dengan dirinya merupakan langkah yang tepat, karena realitanya, NU memang bisa dijadikan contoh bagaimana sebuah organisasi massa Islam ini bukan hanya terbesar secara struktur, namun mampu masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat secara kultural. Tak heran, ketika dipresentasikan di depan kelas, esai ini membuat mahasiswa lain bertanya-tanya bagaimana NU bisa begitu melembaganya dalam kehidupan masyarakat khususnya pedesaan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pahami terlebih dahulu definisi kelembagan. Setiap dari kita tentu merupakan anggota dari suatu sistem sosial, baik berdasarkan etnis, pekerjaan, maupun kategorisasi lainnya. Dalam sistem sosial, kita beraktivitas dengan berpedoman pada aturan baik yang tertulis maupun tidak, juga, baik yang disadari maupun tidak. Aturan yang tidak disadari oleh individu namun nyatanya telah membentuknya untuk “menjadi”, atau “melakukan dan tidak melakukan” sesuatu, pada dasarnya merupakan buah dari pengulangan aktivitas yang telah berlangsung lama. Hal itulah yang kemudian kita sebut kelembagaan, karena aktivitas tersebut telah melembaga dan menjadi pengatur dalam kehidupannya. Seperti halnya perkawinan. Setiap individu secara fitrah memiliki hasrat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun hal itu menjadi hal tabu jika dilakukan tanpa aturan main yang berlaku dalam sistem kemasyarakatannya[1]. Maka dari itu diperlukan suatu aktivitas untuk mengatur dan memberi nilai yang berbeda atas hal yang sebenarnya dianggap tabu tersebut. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan sederhana bahwa kelembagaan juga hadir bukan semata-mata karena pengulangan aktivitas, namun juga dalam rangka pemenuhan kebutuhan individu. Tidak dilaksanakannya hal-hal yang sudah melembaga dalam kehidupan seorang individu atau masyarakat pada umumnya akan menimbulkan kekhawatiran, perasaan ‘tidak lengkap’, atau bersalah.

Kembali ke pertanyaan yang diajukan sebagai tanggapan atas esai di atas: bagaimana NU bisa sebegitu kuat melembaga dalam kehidupan masyarakat akar rumput? Banyak alasan yang menyebabkan hal ini, namun kalau mau kita sederhanakan, maka jawabannya adalah: tanpa pemaksaan dan istiqomah.

Tanpa pemaksaan adalah cerminan nyata dari kesabaran dan keikhlasan para penyebar Islam di Indonesia. Bukan hal yang mudah untuk mendakwahkan Islam di Indonesia jika hanya bermodal iming-iming “..surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. Lha wong Indonesia tidak pernah kekeringan, mau makan buah ini-itu tinggal cari di kebun atau hutan. Begitu juga, tidak mudah mendakwahkan Islam dengan jalan menakut-nakuti dan penaklukan (hingga pertumpahan darah). Bisa-bisa, bukannya tersebar, Islam justru dibuang dan mungkin saat ini kita sebagai anak cucu orang-orang terdahulu masih belum bisa merasakan nikmat Islam. Inilah hebatnya para Wali kita, dengan kreativitas beliau mengadopsi tradisi lokal dengan menyisipkan nilai-nilai Islam.

Yang kedua, istiqomah. NU melembaga karena ulama-ulamanya memberikan tauladan keistiqomahan pada umat. Ibadah bukan semata-mata melakukan sesuatu yang jelas “diumumkan” ganjarannya, namun ibadah karena memang adanya kecenderungan pada Allah dan pada Rosulullah SAW. Artinya, ketika seseorang beribadah, yang dipikirkannya bukan lagi berapa jumlah pahalanya, namun nikmat ibadahnya berupa ridho Allah SWT. Kecenderungan semacam ini tidak mungkin terbentuk tanpa adanya pembiasaan, istiqomah. Selama turun-temurun, NU mewariskan amalan-amalan yang menuntun jama’ahnya untuk istiqomah, contoh sederhananya wirid.

Tidak mengherankan, jika dalam organisasi Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) pun, telah ditetapkan aturan bahwa jika suatu perguruan tinggi akan mendirikan KMNU, hal utama yang harus dilakukan adalah mengistiqomahkan kajian dan sholawatan selama beberapa waktu tertentu. Bukan strukturnya terlebih dahulu, apalagi program kerja ‘profesional’nya. Cukup siapkan istiqomahnya dalam mengamalkan tradisi NU.

Telah disebutkan sebelumnya, bahwa pada umunya, seseorang atau masyarakat akan merasakan ‘ada yang kurang’ jika hal yang sudah melembaga dalam kehidupannya tidak dijalankan. Maka seharusnya, ketika kita yang saat ini telah bernaung di bawah bendera KMNU tidak lagi merasa resah, merasa ‘tidak lengkap’, khawatir, jika menanggalkan amalan NU, masihkah kita bisa menyebut NU adalah jati diri kita? Jangan-jangan, kita hanya bersembunyi di balik tubuh NU dan KMNU untuk melindungi eksistensi diri kita sendiri.

Yang perlu digarisbawahi, kenapa penting untuk menyadari bahwa melembaganya NU dalam masyarakat (melalui keistiqomahannya) merupakan hal yang menguntungkan? Melembaganya sesuatu yang baik dapat menjadi alat pengendalian sosial yang mengarah pada kebaikan pula. Melembaganya tradisi NU seperti selametan, maulid Nabi, wirid, dan lain-lain dapat menjaga bangsa ini dari kerusakan moral. Misal, proses mencintai Rosulullah dapat dimulai dari pembiasaan hadir di majelis-majelis sholawat. Dengan mencintai Rosul, maka seseorang terhalang atau setidaknya akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu yang amoral. Ketika sholawatan tidak lagi menjadi kebutuhan dan kelembagaan sholawatan itu hilang, bukan tidak mungkin orang-orang akan lupa akan panutan terbaiknya, dan kriminalitas lebih banyak lagi terjadi. Tinggal kita, pemuda yang bernaung di bawah organisasi KMNU, yang mengklaim dirinya adalah orang NU, bebas untuk memilih tetap menjadikan kelembagaan NU ini sebagai sarana pengendalian sosial bangsa, atau berkontribusi dalam degradasi kelembagaan NU dalam tubuh KMNU sendiri. Selamat beristiqomah!

 

[1] Yang perlu digarisbawahi di sini, sistem kemasyarakatan tempat seorang individu tinggal dan menjadi bagian dari lingkungannya tidak selalu merupakan gagasan yang orisinil, yang benar-benar dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Bisa jadi, sistem kemasyarakatan merupakan upaya perwujudan dari nilai-nilai suatu agama beserta atributnya, yaitu kitab suci.

*Dimuat juga di Buletin Nahdlatul Qolam Edisi 24. Link download buletin (pdf): https://drive.google.com/file/d/0B7YpmRezUX9fZG5aQkMtQ1NVRjA/view?usp=sharing

Sumber gambar : http://mbahgoogel.com/biografi-kh-hasyim-asyari-pendiri-nahdlatul-ulama-nu/

 

“Talilan”, siapa yang tidak kenal satu kata ini. Sebuah kegiatan amalan keagamaan yang familiar dilakukan oleh masyarakat muslim indonesia yang mungkin juga beberapa daerah di Malaysia. Tahlilan khas dikenal dengan berkumpulnya beberapa muslim disuatu tempat disertai dengan bacaan-bacaan kalimah toyyibah bersama-sama, khususnya bacaan tahlil (laa ilaa ha illallah), yang ditujukan untuk ibadah serta mendoakan para saudara muslimin yang telah menghadapNya.

Ritual tahlilan sudah dikenal masyarakat muslim Indonesia sejak abad pertengahan yang lalu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tahlilan merupakan adopsi tatacara ibadah kepercayaan pribumi pra islam yang kemudian dimodifikasi oleh para pendakwah islam menjadi suatu kegiatan posotif bernuansa islam dengan tetap memertahankan kearifan lokal. Bagi orang NU, tahlilan mungkin kegiatan yang kurang afdhol jika tidak dilakukan. Dan bisa kita duga jutaan muslim Indonesia melakukan tahlilan setiap harinya.

“Tahlilan” yang identik dengan kegiatan keagamaan ternyata memiliki fungsi lain dari fungsi utama sebagai sarana ibadah. Kegiatan berkumpulnya muslimin yang khas ini memiliki arti penting dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan sains. Bagaimana bisa? Mari kita ulas bersama.

Indonesia, megabiodiversity country

Sudah tidak asing lagi bahwa Indonesia merupakan salah satu area dengan keaneragaman hayati tertinggi didunia (megabiodiversity country). Iklim tropis basah dan bentuk negara kepulauan menjadikan segala makhluk hidup di nusantara ini dapat tumbuh dan bereproduksi dengan baik. Keberadaan kekayaan hayati yang luar biasa ini merupakan sebuah modal berharga untuk menunjang segala bentuk pembangunan bangsa.

Kekayaan alam Indonesia yang begitu berlimpah nyatanya belum terkelola dengan baik. beberapa plasma nuthfah bangsa justru punah akibat ulah tangan manusia Indonesia sendiri. Kita tahu kebakaran hutan yang entah sengaja ataupun bukan terjadi di tahun ini secara meluas. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan Lebih dari 9000 hektar hutan terbakar pada tahun 2015. Bisa dibayangkan berapa milyar spesies yang hilang dalam waktu yang sesingkat itu.

Bencana ini diperparah dengan fakta pulau tersibuk dan terpadat Indonesia, yakni pulau jawa yang telah di anggap sebagai pulau dengan krisis akut ekologi. Dilansir dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB memberitakan bahwa sebanyak 241 orang dari kalangan akademisi, peneliti, tokoh masyarakat adat telah mengirim petisi terbuka kepada Presiden RI untuk mengubah paradigma pembangunan dari yang hanya bertumpu pada ekonomi menjadi lebih memperhitungkan daya dukung ekologi dan berkeadilan. Ini dibuktikan dengan fakta pembangunan-pembangunan industri di pulau jawa yang begitu pesat sehingga terjadi kerusakan alam dimana-mana. Akibatnya bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan kekeringan tak terkendali. Kondisi kerusakan alam ini mengakibatkan kerusakan alam yang berbanding lurus dengan terancamnya biodiversitas hayati kita.

Tahlilan dan Fungsi Konservasi

Tahlilan sebagai sebuah kegiatan keagamaan memiliki karakteristik khas budaya lokal, berupa suguhan hangat jajanan tradisional maupun nontradisional yang khas. Mulai dari buah-buahan yang beraneka ragam, masakan lokal, nasi dengan segala lauknya, kopi dan teh sebagai pelega tenggorokan, dan tak lupa cemilan-cemilan lainnya dari hasil bumi  setempat.

Kegiatan yang lazim dilakukan oleh penduduk muslim khususnya Nahdliyiin ini sudah berhasil menjaga keberadaan plasma nutfah hayati kekayaan alam setempat. Bagaimana tidak, tahlilan tidak akan afdhol jika tidak ditutup dengan sedekah tuan rumah / hasil iuran bersama berupa suguhan produk-produk alam sekitar yang pastinya beraneka ragam, dan itu artinya masyarakat akan selalu berfikir untuk selalu menyediakan keberadaan sumberdaya lokal hasil bumi mereka. Dengan begitu para petani akan selalu menanam komoditas-komoditas pertanian tersebut untuk kebutuhan pangan masyarakat, termasuk untuk tahlilan yang sangat lazim dan rutin dilakukan. Bisa dibayangkan jika setiap hari jutaan warga nahdliyin bertahlilan, akan berton-ton pula hasil bumi yang mampu terserap. sehingga, keberadaan plasmanutfah alam indonesia akan selalu terjaga (terkonservasi).

Tantangan MEA

Meskipun telah terbukti mampu menjadi motor dalam upaya konservasi sumberdaya lokal, tahlilan sebagai ciri kebudayaan muslim nusantara tak luput dari ancaman disorientasi makna konservasi sumberdaya lokal.

Ancaman ini berupa hilangnya barrier tarrif perdagangan ASEAN sebagai kebijakan bersama negara anggota dibuktikan dengan memudahkan aliran keluar masuk produk dan jasa wilayah ASEAN. Ini memungkinkan Indonesia kebanjiran produk-produk pertanian dari negara-negara tetangga, tak terkecuali hidangan yang biasanya ada didepan kita saat tahlilan. Ditambah lagi kegemaran masyarakat kita yang lebih suka dengan produk asing.

Oleh karenanya, fungsi tahlilan sebagai penggerak upaya konservasi berbasis masyarakat lokal harus kita jaga bersama, dengan cara mengapresiasi para petani lokal dengan cara selalu menggunakan produknya disetiap acara tahlilan yang kita lakukan. Lebih lanjut lagi, kita bisa selalu mengajak para tokoh-tokoh agama dan orang disekitar kita untuk tiidak melupakan penggunaan produk lokal dalam setiap tahlilan yang diadakan dengan memberikan makna dibalik penggunaan hasil bumi kita.

Salah satunya mungkin dengan jargon “tidak afdhol kalau tidak menggunakan pisang ini, buah ini, jajan ini dan itu” yang berimplikasi pada upaya konsumsi produk lokal. Dengan begitu, adanya arus besar produk luar akan terbendung dengan kesadaran masyarakat kita akan pentingnya penggunaan produk lokal dalam upaya konservasi sumberdaya hayati Indonesia. Sehingga kedatangan MEA 2016 ini bukan lagi menjadi ancaman, namun bisa menjadi tantangan yang perlu kita jawab. Dan salah satu jawabannya adalah dengan “tahlilan”.

 

Kontributor: Hasan Bisri, Departemen Proteksi Tanaman, IPB

 

Bersyukur atas kehidupan yang telah memberikan tempat hidup yang layak, tempat berteduh yang damai, tempat ibadah yang nyaman dan tanah yang subur INDONESIA. Agustus bulan yang menyimpan makna tersendiri dalam hidupku. Terkadang ku membayangan betapa menyedihkan apa yang dialami para pejuang dan pahlawan Tanah Air dalam kemerdekaan Indonesia.  Seorang kakek pernah bercerita kala musim kemarau di galengan tambak tentang penjajah. Tentang buah kelapa yang di bawa kakek namun dirampas oleh Belanda, bahkan bonggol senapan mereka juga ikut menjadi saksi peristiwa itu. Read more