Terdapat tujuh syarat wajib salat Jumat, yaitu: (1) islam, seseorang yang sudah melafalkan dua kalimat Syahadat dan meyakininya tanpa keraguan sedikitpun, (2) baligh, sudah mencapai masa baligh, sudah mengalami tanda-tanda baligh, sehat panca indera, dan sampai kepadanya dakwah, (3) berakal, sehat secara nalar, dengan demikian orang gila tidak diwajibkan salat Jumat, (4) merdeka, tidak terikat perbudakan. (5) laki-laki, wanita hukumnya sunnah melaksanakan shalat Jumat, (6) sehat, (7) berdomisili, bermukim di suatu tempat, standarnya yaitu seseorang yang tidak berpindah-pindah ketika musim dingin atau musim panas. Syarat Melakukan Salat Jum'at Syarat-syarat melakukan salat Jumat ada 3 perkara, yaitu: (1) berada di suatu daerah atau suatu wilayah. Tersedianya tempat untuk menyelenggarakan salat Jumat yang memadai bagi jamaah yang menetap (bermukim/berdomisili), (2) hendaknya ada 40 orang laki-laki yang di wajibkan salat Jumat, (3) cukup waktu untuk melaksanakan shalat jum’at. Salah satu sesuatu yang wajib ada dalam salat Jumat ialah khutbah. Khutbah standarnya menggunakan bahasa Arab. Tetapi, tidak apa-apa memakai bahasa Indonesia asalkan syarat-syarat khutbah memakai bahasa Arab terpenuhi, yaitu khutbah pertama di waktu akhir menggunakan bahasa Arab dan khutbah kedua di waktu awal menggunakan bahasa Arab. Khutbah tidak boleh terpisah, jika terpisah lebih lama dari dua rakaat shalat maka khutbah batal. Seorang musafir tetap sah mengikuti salat Jumat dan tidak apa-apa jika tidak melakukan shalat dzuhur. Tetapi tidak dihitung 40 orang yang menjadi syarat melakukan salat Jumat. Ada pendapat yang menyatakan jika musafir telah melakukan perjalanan selama lima hari, maka wajib melaksanakan salat Jumat. Fardhu ialah sesuatu yang wajib dikerjakan dalam salat Jumat. Fardhu salat Jumat ada 3, yaitu: (1) didahului dua khutbah. (2) khutbah dilaksanakan dengan berdiri dan duduk di antara dua khutbah. Lama duduk yaitu seperti tuma’ninahnya shalat dan disunnahkan membaca surat Al-Ikhlas, (3) salat Jumat dua rakaat secara berjamaah. Dalam suatu daerah tidak diperbolehkan ada dua masjid yang berdekatan untuk melaksanakan salat Jumat. Boleh ada dua masjid yang berdekatan, jika memang ada alasan yang mendesak. Alasan yang paling ringan adalah tidak muat. Ada yang berpendapat juga bahwa tetap salah satu tidak sah, karena dianggap telah memecah belah umat. Maka yang sah adalah yang terlebih dahulu takbir salat Jumat. Orang boleh memilih salat Jumat di tempat yang menurutnya sah. Jarak terdekat antar masjid yang dipakai dulu adalah sejauh suara muadzin masih terdengar. Sedangkan sekarang sudah ada pengeras suara, maka dibatasi jaraknya yaitu 300 dziro, 1 dziro sama dengan 48 cm,  maka 300 dziro ialah 14400 cm atau 144 m. Oleh: Ustadz M. Ainun Na’im

Terdapat tujuh syarat wajib salat Jumat, yaitu: (1) islam, seseorang yang sudah melafalkan dua kalimat Syahadat dan meyakininya tanpa keraguan sedikitpun, (2) baligh, sudah mencapai masa baligh, sudah mengalami tanda-tanda baligh, sehat panca indera, dan sampai kepadanya dakwah, (3) berakal, sehat secara nalar, dengan demikian orang gila tidak diwajibkan salat Jumat, (4) merdeka, tidak terikat perbudakan. (5) laki-laki, wanita hukumnya sunnah melaksanakan shalat Jumat, (6) sehat, (7) berdomisili, bermukim di suatu tempat, standarnya yaitu seseorang yang tidak berpindah-pindah ketika musim dingin atau musim panas.

Syarat Melakukan Salat Jum’at

Syarat-syarat melakukan salat Jum’at ada 3 perkara, yaitu: (1) berada di suatu daerah atau suatu wilayah. Tersedianya tempat untuk menyelenggarakan salat Jumat yang memadai bagi jamaah yang menetap (bermukim/berdomisili), (2) hendaknya ada 40 orang laki-laki yang di wajibkan salat Jum’at, (3) cukup waktu untuk melaksanakan shalat jum’at.

Salah satu sesuatu yang wajib ada dalam salat Jumat ialah khutbah. Khutbah standarnya menggunakan bahasa Arab. Tetapi, tidak apa-apa memakai bahasa Indonesia asalkan syarat-syarat khutbah memakai bahasa Arab terpenuhi, yaitu khutbah pertama di waktu akhir menggunakan bahasa Arab dan khutbah kedua di waktu awal menggunakan bahasa Arab. Khutbah tidak boleh terpisah, jika terpisah lebih lama dari dua rakaat shalat maka khutbah batal.

Seorang musafir tetap sah mengikuti salat Jumat dan tidak apa-apa jika tidak melakukan shalat dzuhur. Tetapi tidak dihitung 40 orang yang menjadi syarat melakukan salat Jumat. Ada pendapat yang menyatakan jika musafir telah melakukan perjalanan selama lima hari, maka wajib melaksanakan salat Jumat.

Fardhu ialah sesuatu yang wajib dikerjakan dalam salat Jumat. Fardhu salat Jumat ada 3, yaitu: (1) didahului dua khutbah. (2) khutbah dilaksanakan dengan berdiri dan duduk di antara dua khutbah. Lama duduk yaitu seperti tuma’ninahnya shalat dan disunnahkan membaca surat Al-Ikhlas, (3) salat Jumat dua rakaat secara berjamaah.

Dalam suatu daerah tidak diperbolehkan ada dua masjid yang berdekatan untuk melaksanakan salat Jumat. Boleh ada dua masjid yang berdekatan, jika memang ada alasan yang mendesak. Alasan yang paling ringan adalah tidak muat. Ada yang berpendapat juga bahwa tetap salah satu tidak sah, karena dianggap telah memecah belah umat. Maka yang sah adalah yang terlebih dahulu takbir salat Jumat. Orang boleh memilih salat Jumat di tempat yang menurutnya sah. Jarak terdekat antar masjid yang dipakai dulu adalah sejauh suara muadzin masih terdengar. Sedangkan sekarang sudah ada pengeras suara, maka dibatasi jaraknya yaitu 300 dziro, 1 dziro sama dengan 48 cm,  maka 300 dziro ialah 14400 cm atau 144 m.

Oleh: Ustadz M. Ainun Na’im

KMNU IPB 2020

Malam Jumat selalu identik dengan sunnah rasul yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Lah terus gimana nasib jomblo, apakah tidak boleh melakukan sunnah rasul juga? Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita cari tau mengapa sunnah rasul identik dengan sex.  Sebenarnya, ga ada anjuran khusus dari Rasulullah, baik berupa perkataan atau perbuatan, mengenai hari yang baik untuk melakukan hubungan intim suami-istri. Namun, ada penjelasan ulama terhadap hadis Nabi terkait dianjurkannya melakukan hubungan intim pada malam Jumat atau hari Jumat, sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin. Hadis Nabi yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali tersebut adalah hadis riwayat Aus bin Aus yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda: من غسل يوم الجمعة واغتسل وبكر وابتكر، ومشى ولم يركب، ودنا من الإمام واستمع، ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها “Barangsiapa yang membasuh kepala dan membasuh seluruh badannya pada hari Jumat, berangkat lebih dini sehingga mendapatkan awal khutbah Jumat, berjalan kaki tidak naik kendaraan, duduk di dekat imam, memperhatikan khutbah dengan khusyuk, maka ia mendapatkan pahala puasa dan ibadah salat malam selama satu tahun dalam setiap langkah (menuju salat Jumat).”” (HR Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibn Majah). Terdapat kalimat “Barangsiapa yang membasuh kepala dan membasuh seluruh badannya pada hari Jumat” dalam potongan hadis di atas. Menurut Imam al-Ghazali, potongan hadis tersebut dipahami oleh sebagian ulama merupakan anjuran melakukan hubungan intim suami-istri pada malam Jumat atau hari Jumat. Dalam hadis lain yang senada dengan hadis di atas juga membicarakan tentang mandi junub pada hari Jumat. “Kalau mandi junub pada hari Jumat, berarti malam Jumat-nya kan habis melakukan hubungan suami-istri,” mungkin demikian sederhananya. Oleh karena itu, kemungkinan besar istilah “Sunah Rasul pada malam Jumat” atau “Malam Jumatan” yang beredar di sebagian masyarakat muslim adalah berasal dari takwil ulama atas hadis Nabi di atas. Udah paham kan sekarang? Jadi, untuk para jomblo boleh kok melakukan sunnah rasul malam jumat. Kalo bingung mau ngapain, berikut mimin kasih rekomendasi sunnah rasul yang bisa dilakukan jomblo pada malam jumat. Sunnah Rasul Malam Jumat untuk Jomblo Membaca Surat Al Kahfi “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” (HR. Abu Bakr bin Mardawaih) Sebenarnya membaca surat Al kahfi tidak hanya baik dibaca pada hari jumat saja melainkan setiap hari. Hal ini dikarenakan hari jumat adalah hari baik bagi umat islam di seluruh dunia. Memang dianjurkan bahwa sebaiknya surat Al Kahfi dibaca saat terbenamnya matahari di hari Kamis hingga terbenamnya matahari di hari selanjutnya yakni hari jum’at. Membaca Surat Yaasiin "Setiap sesuatu mempunyai hati. Adapun hari Alquran adalah Yasin. Maka barang siapa yang membaca Yasin, maka Allah menulis baginya (pahala) membaca Alquran 10 kali, selain Yasin". (HR Tirmidzi). Keutamaan membaca Surat Yasin sendiri ditegaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut: من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله “Barangsiapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya.” (HR Abu Daud dari al-Habr) Tentunya masih banyak lagi amalan-amalan sunah yang bisa dilakukan pada malam jum'at. Tetap semangat mblo. Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4713494/5-amalan-sunah-malam-jumat https://islami.co/asal-usul-malam-jumat-identik-dengan-sunnah-rasul https://islam.nu.or.id/post/read/94318/dalil-anjuran-membaca-surat-yasin-di-malam-jumat

Malam Jumat selalu identik dengan sunnah rasul yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Lah terus gimana nasib jomblo, apakah tidak boleh melakukan sunnah rasul juga? Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita cari tau mengapa sunnah rasul identik dengan sex.

Sebenarnya, ga ada anjuran khusus dari Rasulullah, baik berupa perkataan atau perbuatan, mengenai hari yang baik untuk melakukan hubungan intim suami-istri. Namun, ada penjelasan ulama terhadap hadis Nabi terkait dianjurkannya melakukan hubungan intim pada malam Jumat atau hari Jumat, sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin.

Hadis Nabi yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali tersebut adalah hadis riwayat Aus bin Aus yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

من غسل يوم الجمعة واغتسل وبكر وابتكر، ومشى ولم يركب، ودنا من الإمام واستمع، ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها

“Barangsiapa yang membasuh kepala dan membasuh seluruh badannya pada hari Jumat, berangkat lebih dini sehingga mendapatkan awal khutbah Jumat, berjalan kaki tidak naik kendaraan, duduk di dekat imam, memperhatikan khutbah dengan khusyuk, maka ia mendapatkan pahala puasa dan ibadah salat malam selama satu tahun dalam setiap langkah (menuju salat Jumat).”” (HR Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibn Majah).

Terdapat kalimat “Barangsiapa yang membasuh kepala dan membasuh seluruh badannya pada hari Jumat” dalam potongan hadis di atas. Menurut Imam al-Ghazali, potongan hadis tersebut dipahami oleh sebagian ulama merupakan anjuran melakukan hubungan intim suami-istri pada malam Jumat atau hari Jumat. Dalam hadis lain yang senada dengan hadis di atas juga membicarakan tentang mandi junub pada hari Jumat.

“Kalau mandi junub pada hari Jumat, berarti malam Jumat-nya kan habis melakukan hubungan suami-istri,” mungkin demikian sederhananya. Oleh karena itu, kemungkinan besar istilah “Sunah Rasul pada malam Jumat” atau “Malam Jumatan” yang beredar di sebagian masyarakat muslim adalah berasal dari takwil ulama atas hadis Nabi di atas.

Udah paham kan sekarang?

Jadi, untuk para jomblo boleh kok melakukan sunnah rasul malam jumat. Kalo bingung mau ngapain, berikut mimin kasih rekomendasi sunnah rasul yang bisa dilakukan jomblo pada malam jumat.

Sunnah Rasul Malam Jumat untuk Jomblo

Membaca Surat Al Kahfi

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” (HR. Abu Bakr bin Mardawaih)

Sebenarnya membaca surat Al kahfi tidak hanya baik dibaca pada hari jumat saja melainkan setiap hari. Hal ini dikarenakan hari jumat adalah hari baik bagi umat islam di seluruh dunia. Memang dianjurkan bahwa sebaiknya surat Al Kahfi dibaca saat terbenamnya matahari di hari Kamis hingga terbenamnya matahari di hari selanjutnya yakni hari jum’at.

Membaca Surat Yaasiin

“Setiap sesuatu mempunyai hati. Adapun hari Alquran adalah Yasin. Maka barang siapa yang membaca Yasin, maka Allah menulis baginya (pahala) membaca Alquran 10 kali, selain Yasin”. (HR Tirmidzi).

Keutamaan membaca Surat Yasin sendiri ditegaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut:

من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله

“Barangsiapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya.” (HR Abu Daud dari al-Habr)

Tentunya masih banyak lagi amalan-amalan sunah yang bisa dilakukan pada malam jum’at. Tetap semangat mblo.

Sumber:

https://news.detik.com/berita/d-4713494/5-amalan-sunah-malam-jumat

https://islami.co/asal-usul-malam-jumat-identik-dengan-sunnah-rasul

https://islam.nu.or.id/post/read/94318/dalil-anjuran-membaca-surat-yasin-di-malam-jumat

KMNU IPB - Pernah ngga kalian sudah siap-siap ke suatu acara penting, sudah cantik, ganteng, nan menawan tiba-tiba... gledek, bresss... turun hujan? Rasanya seperti sia-sia saja berdandan cantik dan ganteng. Eits ngga boleh gitu ya, hujan itu rezeki yang seharusnya kita syukuri. Toh ada teknologi bernama payung ataupun mantel yang dapat kalian gunakan melindungi diri dari terpaan hujan, atau mungkin berteduh menunggu hujan reda. Apapun itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena hujan.Ada satu lagi opsi yang dapat kita pilih. Sebagimana seorang hamba, kita bisa memohon kepada Allah Swt yang memiliki kuasa atas alam semesta ini, termasuk di dalamnya cuaca dan hujan. Kita dapat mencoba berdoa untuk menghentikan hujan atau mengalihkannya ke tempat lain loh. Rasanya sudah seperti pawang hujan atau tokoh superhero Storm di film X-men saja ya gaes.Sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Annas, Rasulullah Saw pernah berdoa :للهم حوالينا ولا علينا اللهم على الأكام والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجرAllahumma hawalayna wa la 'alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajariArtinya: Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami.  Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.Doa tersebut bisa diamalkan nih, apalagi bagi sobat-sobat yang tinggal di Bogor yang katanya kota hujan itu. Namun, sebagaimana manusia kita hanya bisa berdoa dan berusaha, sisanya urusan Alloh Yang Maha dari segalanya. Toh inti dan makna doa itu adalah mengharapkan hujan yang berkah dan everybody can be pawang hujan. Namun, kalau hujannya ngga pindah-pindah atau tetap saja deras, husnudzan, mungkin itulah yang terbaik bagi kita. Semoga Allah  Swt menghindarkan kita dari hujan yang menyebabkan bencana. Amin. (Mil)Disunting dari : https://islam.nu.or.id/post/read/48731/do039a-istimewa-memindah-dan-menghentikan-hujan

KMNU IPB – Pernah ngga kalian sudah siap-siap ke suatu acara penting, sudah cantik, ganteng, nan menawan tiba-tiba… gledek, bresss… turun hujan? Rasanya seperti sia-sia saja berdandan cantik dan ganteng. Eits ngga boleh gitu ya, hujan itu rezeki yang seharusnya kita syukuri. Toh ada teknologi bernama payung ataupun mantel yang dapat kalian gunakan melindungi diri dari terpaan hujan, atau mungkin berteduh menunggu hujan reda. Apapun itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena hujan.

Ada satu lagi opsi yang dapat kita pilih. Sebagimana seorang hamba, kita bisa memohon kepada Allah Swt yang memiliki kuasa atas alam semesta ini, termasuk di dalamnya cuaca dan hujan. Kita dapat mencoba berdoa untuk menghentikan hujan atau mengalihkannya ke tempat lain loh. Rasanya sudah seperti pawang hujan atau tokoh superhero Storm di film X-men saja ya gaes.

Sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Annas, Rasulullah Saw pernah berdoa :

 

للهم حوالينا ولا علينا اللهم على الأكام والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجر

 

Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari

Artinya: Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami.  Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.

Doa tersebut bisa diamalkan nih, apalagi bagi sobat-sobat yang tinggal di Bogor yang katanya kota hujan itu. Namun, sebagaimana manusia kita hanya bisa berdoa dan berusaha, sisanya urusan Alloh Yang Maha dari segalanya. Toh inti dan makna doa itu adalah mengharapkan hujan yang berkah dan everybody can be pawang hujan. Namun, kalau hujannya ngga pindah-pindah atau tetap saja deras, husnudzan, mungkin itulah yang terbaik bagi kita. Semoga Allah  Swt menghindarkan kita dari hujan yang menyebabkan bencana. Amin. (Mil)

Disunting dari : https://islam.nu.or.id/post/read/48731/do039a-istimewa-memindah-dan-menghentikan-hujan

Bulan Ramadahan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat islam di dunia ini. Kebiasaan yang berlaku di antara kita setelah shalat tarawih imam membacakan niat puasa lalu makmum mengikutinya. Ulama’ kita sangat ber-ihtiyath mengenai niat berpuasa yaitu dilakukan setelah sholat tarawih karena niat puasa itu harus dimalamkan jika tidak dimalamkan maka niatnya tidak sah. Namun terkadang ada perbedaan dalam pelafalan niat puasa yaitu “Ramadhana” dan “Ramadhani”. Nah bagaimana pembahasan mengenai pelafalan tersebut mari kita bahas.
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة لله تَعَالَى
“Saya berniat puasa besok untuk mendatangi wajibnya bulan ramadhan pada tahun ini karena Allah ta’ala”
Indentifikasi lafad “رَمَضَان” :
Lafad “Ramadhan” termasuk isim ghoiru munshorifkarena kemasukan “alif -nun” dan isim alam. Cara peng-i’roban-nya terdapat dalam bait alfiyah berikut :
وجر بالفتحة مالم ينصرف # مالم يضف او يك بعد ال ردف
isim ghoir munshorif ketika jer bertanda fathah itu apabila tidak kemasukan al atau di mudhofkan.Tetapi bila kemasukan al atau dimudhofkan maka jernya dengan kasroh” 
Pembahasan “Ramadhana” atau “Ramadhani”
a. Jika dibaca Ramadhani :
Saat lafad Ramadhan dibaca “Ramadhani” maka kedudukan dari lafad tersebut menjadi mudhof ilaih dari lafad “syhar” sedangkan mudhof ilaih itu hukumnya majrur  tanda jer-nya kasroh. Lafad ramadhan dimudhofkan lagi dengan lafad setelahnya yaitu “Hadzihi”. Timbul pertanyaan, mengapa lafad “ramadhan” dibaca kasroh padahal dia adalah isim ghoiru munshorif ? jawabannya : isim ghoiru munshorif ketika jer bertanda fathah itu apabila tidak kemasukan al atau dimudhofkan. Sedangkan pada lafad niat puasa ramadhan tersebut kedudukan dari lafad “ramadhan” adalah dimudhofkan berarti tanda jernya kasroh. Secara peng-i’roban tidak ada masalah, artinya benar. Secara pelafalan berarti saat dibaca “Ramadhani” seharusnya dilanjutkan dengan lafad “hadzihissanati”.
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالَى
Peng-i’roban diatas senada dalam kitab al-Baijuri:
 
 قوله : )رمضان هذه السنة ) باضافة رمضان الى اسم الاشارة لتكون الاضافة معينة لكونه رمضان هذه السنة
البيجورى ١/٤٣٠
“Perkataan mushonif “Ramadhani hadzihissanati” mengidhofahkan lafad ramdhan dengan isim isyaroh sapaya menjadi idhofah yang mu’ayyanah (khusus)”(al-Bajuri juz 1 hlm. 430
 
b Jika dibaca Ramadhana :
Ketika lafad Ramadhan dibaca “Ramadhana” maka kedudukan dari lafad tersebut menjadi mudhof ilaih dari lafad “syhar” sedangkan mudhof ilaih itu hukumnya majrur  tanda jer-nya kasroh. Pembahasan sampai sini sama seperti pembahasan saat dibaca “Ramadhana”. Namun setelah ini berbeda, saat dibaca “Ramadhana” lafad ramadhan tidak dimudhofkan lagi dengan lafad selanjutnya. Tetapi lafad “hafzihi” kedudukannya menjadi “dhorof” sedangkan dhorof  hukumnya dibaca nasab maka dibaca “Hadzihissanata”.  Mengapa lafad “sanah” dibaca “sanata” karena kedudukannya menjadi badal atau ‘athaf bayan. Keduanya peng’irobanya mengikuti lafad yang diikuti. Maka pelafalan lafad ramadhan tidak harus diteruskan dengan lafad setelahnya.
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لله تَعَالَى
Secara pengi’roban keduanya benar.Wallahu a’lam bisshowab
(Hamzah_Alf)
SEBAGIAN ‘AMALIAH DI MALAM NISFU SYA’BAN
Membaca surah yasiin sebanyak 3x sesudah sembahyang sunat ba’diah maghrib dengan Niat sebagai berikut:
1. NIAT YANG PERTA
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIM
Ya Allah Ya Tuhanku ampunilah segala Dosaku dan Dosa ibu bapaku dan Dosa keluargaku dan dosa jiranku dan Dosa muslimin dan muslimat, dan panjangkanlah umurku di dalam tha’at ibadat kepada engkau dan kuatkanlah imanku dengan berkat surat Yasiin.
2. NIAT YANG KE DUA
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIM
Ya ALLAH YA TUHANKU ampunilah segala dosaku dan dosa ibu bapaku dan dosa keluargaku dan dosa jiranku dan dosa muslimin dan muslimat, dan peliharakanlah diriku dari segala kebinasaan dan penyakit, dan kabullanlah hajatku dengan berkat surat Yasiin.
3.NIAT YANG KETIGA
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIM
YA ALLAH YA TUHANKU ampunilah segala dosaku dan dosa ibu bapaku dan dosa keluargaku dan dosa jiranku dan dosa muslimin dan muslimat, dan kayakanlah hatiku dari segala makhluk dan berilah aku dan kelurgaku dan jiranku HUSNUL KHATIMAH dengan berkat surat Yasiin.
Amalan di Malam Nishfu Sya’ban
mengenai doa dimalam nisfu sya’ban adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits2 berikut :
Sabda Rasulullah saw : “Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755)
berkata Aisyah ra : disuatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau saw sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat kepalanya kearah langit, seraya bersabda : “Sungguh Allah turun ke langit bumi di malam nisfu sya’ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba” (Musnad Imam Ahmad hadits no.24825)
berkata Imam Syafii rahimahullah : “Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).
dengan fatwa ini maka kita memperbanyak doa di malam itu, jelas pula bahwa doa tak bisa dilarang kapanpun dan dimanapun, bila mereka melarang doa maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya?,
bila mereka meminta riwayat cara berdoa, maka alangkah bodohnya mereka tak memahami caranya doa, karena caranya adalah meminta kepada Allah,
pelarangan akan hal ini merupakan perbuatan mungkar dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “sungguh sebesar besarnya dosa muslimin dg muslim lainnya adalah pertanyaan yg membuat hal yg halal dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim)
disunnahkan malam itu untuk memperbanyak ibadah dan doa, sebagaimana di Tarim para Guru Guru mulia kita mengajarkan murid muridnya untuk tidak tidur dimalam itu, memperbanyak Alqur’an doa, dll
TAMBAHAN DARI Azmikakecil Kaumkusam AzmikaCupu
Sahabatku Sekalian…
Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.
Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.
Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.
Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?”
Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.
Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…
Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.
Diantara kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam pada malam Nisfu Sya’ban adalah membaca surat Yasin tiga kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah:
“Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang disempitkan rizkinya maka hapuskanlah ya Allah demi anugerah-Mu, kecelakaanku, ketercegahanku, dan kesempitan rizkiku..”
Bacaan Yasin tersebut dilakukan di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah-rumah sesudah salat maghrib.
Sebagian dari orang-orang yang mengaku ahli ilmu telah menganggap ingkar perbuatan tersebut, menuduh orang-orang yang melakukannya telah berbuat bid’ah dan melakukan penyimpangan terhadap agama karena doa dianggap ada kesalahan ilmiyah yaitu meminta penghapusan dan penetapan dari Ummul Kitab. Padahal kedua hal tersebut tidak ada tempat bagi penggantian dan perubahan.
Tanggapan mereka ini kurang tepat, sebab dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam:
1. Takdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda:
لاَيَهْلِكُ اللهُ إلاَّ هَالِكًا
“Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka, yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Taala bahwa dia adalah orang celaka.”
2. Takdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’du ayat 39 yang berbunyi:
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ.
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz).”
Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam doanya yaitu “Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia”.
3. Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut.
4. Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan. Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan: “Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia.” Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw pernah bersabda,
إنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ.
“Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.”
Diantara kebiasaan kaum muslimin pada malam Nisfu Sya’ban adalah melakukan salat pada tengah malam dan datang ke pekuburan untuk memintakan maghfirah bagi para leluhur yang telah meninggal dunia. Kebiasaan seperti ini adalah berdasar dari amal perbuatan atau sunnah Nabi Muhammad saw. Antara lain ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Musnadnya dari Sayidah Aisyah RA, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
“Pada suatu malam Rasulullah saw berdiri melakukan salat dan beliau memperlama sujudnya, sehingga aku mengira bahwa beliau telah meninggal dunia. Tatkala aku melihat hal yang demikian itu, maka aku berdiri lalu aku gerakkan ibu jari beliau dan ibu jari itu bergerak lalu aku kembali ke tempatku dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujudnya: “Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu; aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari murka-Mu; dan aku berlindung dengan Engkau dari Engkau. Aku tidak dapat menghitung sanjungan atas-Mu sebagaimana Engkau menyanjung atas diri-Mu.” Setelah selesai dari salat beliau bersabda kepada Aisyah, “Ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berkenan melihat kepada para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, kemudian mengampunkan bagi orang-orang yang meminta ampun, memberi rahmat kepada orang-orang yang memohon rahmat, dan mengakhiri ahli dendam seperti keadaan mereka.”
Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Sya’ban berdoa untuk para umatnya, baik yang masih hidup maupun mati. Dalam hal ini Sayidah Aisyah RA meriwayatkan hadits:
إنَّهُ خَرَجَ فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ إلَى الْبَقِيعِ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ.
“Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah keluar pada malam ini (malam Nisfu Sya’ban) ke pekuburan Baqi’ (di kota Madinah) kemudian aku mendapati beliau (di pekuburan tersebut) sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukminin dan mukminat dan para syuhada.”
Banyak hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, at-Tirmidzi, at-Tabrani, Ibn Hibban, Ibn Majah, Baihaqi, dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah saw menghormati malam Nisfu Sya’ban dan memuliakannya dengan memperbanyak salat, doa, dan istighfar. —