Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, ,

Bagaimana Hukum Merawat Anak Terlantar?

Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai…
Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, ,

KAJIAN PEREMPUAN SHOLEHAH DAN LELAKI SHOLEH #5 : KEUTAMAAN WANITA SHOLEHAH 2

Assalamu’alaikum wr. wb       Pembaca yang dirahmati Allah, minggu ini kajian wanita sholehah dan lelaki sholeh akan melanjutkan pembahsan mengenai hadist-hadist yang menjelaskan keutamaan wanita sholehah. Sekali lagi hadist-hadist…
Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, ,

KAJIAN PEREMPUAN SHOLEHAH DAN LELAKI SHOLEH #4 : KEUTAMAAN WANITA SHOLEHAH

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Pembaca yang dirahmati Allah, sebelumnya kita telah membahas tentang “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan”. Pada minggu ini, kita akan membahas tentang “Keutamaan wanita sholehah”. Mari kita simak baik-baik,…
Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, ,

KAJIAN PEREMPUAN SHOLEHAH DAN LELAKI SHOLEH #3 : TIDAK ADA KETAATAN DALAM KEMAKSIATAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Pembaca yang dirahmati Allah, mingu lalu kita telah membahas tentang hukum Pelayanan Perempuan terhadap suaminya. Pada minggu ini, kita akan membahas tentang “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan”. Semoga bemanfaat. Pertanyaan…
Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, , ,

FATHUL QORIB-BAB HAJI (3) (#KAJIANKMNU 11 MARET 2016)

Rukun Umroh ada 3, yaitu 1. Ihram 2. Thawaf 3. Sa’i 4. Halqu(الحلق), yaitu mencukur rambut. *)dalam suatu riwayat ada yang berpendapat bahwa halqu termasuk dalam rukun, namun ada juga yang berpendapat bahwa halqu tidak termasuk rukun.  Wajib…
Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, , ,

FATHUL QORIB–BAB HAJI (2) (#KAJIANKMNU 4 MARET 2016)

Rukun Haji ada empat: 1. Ihrom disertai niat yaitu memakai pakaian ihrom (pakaian non jahit untuk laki", pakaian perempuan tetap berjahit) niat ihrom harus dihususkan untuk melakukan Haji. 2. Wukuf di Arofah yaitu berdiam diri di Arofah…
Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi. "Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)".Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.
, ,

Kajian Perempuan Sholehah dan Lelaki Sholeh #2: Pelayanan Perempuan Terhadap Suaminya

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Setelah kemarin kita membahas tentang perempuan yang sholehah. Sekarang kita akan membahas tentang “Pelayanan Perempuan terhadap suaminya”. Sebagai seorang Istri tentunya tidak bisa tidak mengetahui pelayanan…