Bagaimana Hukum Merawat Anak Terlantar?

Dalam disiplin ilmu fiqih, islam membahas nasib anak temuan (laqith). Laqith didefinisikan sebagai setiap anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang menanggungnya baik ibu, bapak, kakek-nenek, atau pihak-pihak lain. Anak yang sudah mencapai baligh tidak masuk dalam kategori ini, karena anak baligh sudah (dianggap oleh syariat) tidak membutuhkan pengasuhan lagi.


“Bila seseorang menemukan laqith di jalanan (atau tempat umum lainnya), maka hukumnya fardhlu kifayah untuk mengadopsi, mendidik, dan menanggungnya. Tidak diasuh anak tersebut kecuali oleh orang (pihak) yang dapat dipercaya. Bila ditemukan harta bersama anak tersebut, hakim dapat menafkahkan harta tersebut untuk sang anak. Namun bila tidak ditemukan harta, maka nafkahnya menggunakan baitul mal (Fathul Qorib, 41)”.


Memungut anak terlantar dihukumi fardhlu kifayah ini didasarkan pada Ayat Al-Qur’an: “[Wa ta’awanu ala al-birri wa at-taqwa], saling tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan”. Kewajiban ini bertujuan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia (kepedulian sosial) dengan cara mengasuh dan mendidiknya. Sehingga bila di suatu wilayah terdapat anak terlantar yang tidak terurus, maka penduduk di wilayah tersebut akan mendapatkan dosa. Namun, apabila ada pihak yang mengasuh, gugurlah kewajiban penduduk di wilayah tersebut.


Adapun pihak yang mengasuh laqith haruslah amanah, dijelaskan lebih lanjut dalam Kifayatul Akhyar hal 9 Juz 2 bahwa: syarat bagi pengasuh ada 5 yaitu (1) taklif (terbebani hukum syarai’at, artinya seperti orang gila tidak diperolehkan), (2) merdeka (tidak diperbolehkan seorang budak kecuali atas izin tuannya), (3) islam, (4) adil, dan (5) mengarahkan. Pengasuh tidak disyarakan laki-laki atau kaya, karena ia tidak wajib menafkahinya.


Dalam konteks ke-Indonesia-an, Status laqith ini sebetulnya telah dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Artinya makna baitul mal (untuk anak yang ditemukan tanpa harta) yang menyertainya adalah negara. Negara hakikatnya sudah mencoba untuk merealisasikan amanah UUD ini melalu panti-panti asuhan yang menjadi program Dinas Sosial.


Selain Dinas Sosial, kemunculan lembaga pengasuh anak terlantar seperti rumah yatim, yatim mandiri, panti yatim dan lainnya patut diapreasiasi, kemunculan lembaga ini sangat membantu untuk pengasuhan para laqith. Oleh karena itu, lembaga-lembaga tersebut perlu didukung dalam rangka kepedulian sosial dan menggugurkan kefardhukifayahan. Bagaimanapun, lembaga-lembaga tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan di atas.
Mari bersama-sama membantu anak-anak terlantar melalui lembaga-lembaga tersebut, karena ini adalah kewajiban kita bersama.


Hamzah Alfarisi

KAJIAN PEREMPUAN SHOLEHAH DAN LELAKI SHOLEH #5 : KEUTAMAAN WANITA SHOLEHAH 2

Assalamu’alaikum wr. wb      

Pembaca yang dirahmati Allah, minggu ini kajian wanita sholehah dan lelaki sholeh akan melanjutkan pembahsan mengenai hadist-hadist yang menjelaskan keutamaan wanita sholehah. Sekali lagi hadist-hadist yang menjelaskan perihal itu begitu banyak, karena keterbatasan akhirnya penulis mencuplik beberapa hadist saja.

Untuk menjadi wanita sholehah rumusnya cukup 3 : (1) Menjalankan sholat lima waktu, (2) menjaga kemaluannya, (3) mentaati suaminya. Sesuai penjelasan dalam kitab “al-Zawajir ‘an iqtirofil kabair” karya imam Ibnu Hajar juz 2 halaman 317; Imam Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya menjelaskan

إذا صلت المرأة خمسها وحصنت فرجها وأطاعت بعلها دخلت من أي أبواب الجنة شاءت

“ Ketika perempuan melaksanakan sholat lima waktu, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminnya maka dia berhak masuk dari pintu surga manapun yang ia kehendaki”

Hasdist tersebut menjelaskan kepada kita bahwasannya kriteria-kriteria untuk menjadi seorang wanita sholehah yaitu dengan melakukan tiga perkara tersebut. Lebih lanjut dalam kitab “hulyatul auliya”, Syech Abu Nu’aim ahmad bin ‘abdillah al-ashbahani juz 1 halaman 287 menjelaskan; Abdlillah memberikan kabar 3 perkara yang baik dan 3 pekara yang buruk. Tiga perkara yang baik yaitu lisan yang berkata benar, hati yang bertakwa, dan perempuan sholehah. Sedangkan 3 perkara yang buruk yaitu, Lisan yang berdusta, hati yang menyimpang dan perempuan yang buruk.

Imam Abi bakar bin Muhammad syatho al-Dimyati juz 3 halaman 254 dalam kitab “I’anatut tholibin” :

أخرج الإمام أحمد ومسلم عن ابن عمر الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة وابن ماجه عن أبي أمامة مااستفاد المؤمن بعد تقوى الله خيرا له من زوجة صالحة إن أمرها أطاعته و ان نظر إليها سرته وإن أقسم عليها أبرتها وإن غاب عنها نصحته في نفسها وماله

Imam Ahmad dan Imam muslim mengeluarkan hadist dari Ibnu Umar ; Dunia adalah harta benda, sebaik-baiknya harta benda adalah perempuan sholehah. Imam ibnu Majah, dari Abi Amamah ; seorang mukmin dapat memperoleh kebaikan setelah bertaqwa kepada Allah yaitu perempuan sholehah, dimana saat dia memerintahkanya maka perempuan itu mentaatinya, saat ia melihatnya maka perempuan itu membahagiakannya, saat ia memberikan janji padanya maka perempuan itu melaksankannya dan saat ia tidak ada maka perempuan itu memberikan nasihat padanya dalam dirinya dan harta suaminya.”

 

KAJIAN PEREMPUAN SHOLEHAH DAN LELAKI SHOLEH #4 : KEUTAMAAN WANITA SHOLEHAH

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pembaca yang dirahmati Allah, sebelumnya kita telah membahas tentang “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan”. Pada minggu ini, kita akan membahas tentang “Keutamaan wanita sholehah”. Mari kita simak baik-baik, semoga bermanfaat

Pertanyaan : Apa saja hadist-hadist yang menerangkan keutamaan wanita sholehah?

Jawab : Hadist yang menerangkan keutamaan wanita sholehah sangat banyak seperti dalam kitab “hadzihi hiya zaujati” li Abi Ahmad Rahimahullah juz 1 halaman 6 ;

Rasulullah bersabda :

من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني (رواه الحاكم وصححه)

“Seseorang yang diberikan rizqi oleh Allah berupa perempuan sholehah maka sungguh Allah telah menolong sebagian agamanya dan bertaqwalah kepada Allah bagian yang kedua” (H.R Hakim dan mensohihkannya)

Dalam kitab Ihya ulumiddin juz 2 halaman 22; ini (hadist diatas) adalah isyarah bahwa sesungguhnya keutamaan isyarah tersebut untuk menjaga dari perbedaan, terkhusus mafsadah (kerusakan). Seakan-akan perkara yang merusak agama seseorang pada umumnya ada 2, yaitu farji (kemaluan) dan perut. Maka sungguh cukup salah satu dari dua sumber kerusakan tersebut dengan menikah.

Imam Mawardi dalam kitabnya “al-hawi kabir” juz 9 halaman 596;

وقد روى ابن المبارك عن سعيد بن ابي سعيد عن ابيه عن ابي هريرة , قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :خير النساء امرأة إذا نظرت إليها سرتك, وإذا أمرت أطاعتك , وإذا غبت عنها حفظتك في مالها ونفسها

“Diriwayatkan dari Ibnu mubarak, dari Sa’id bin Abi Sa’id, dari Bapaknya, dari Abu Hurairah, berkata : Rasulullah SAW bersabda : Sebaik-baiknya perempuan adalah perempuan yang ketika kamu melihatnya ia membahagaiakanmu, saat kamu memerintahnya ia mentaatimu, dan saat kamu tidak ada maka ia akan menjaga harta dan dirinya.”

 

 

 

KAJIAN PEREMPUAN SHOLEHAH DAN LELAKI SHOLEH #3 : TIDAK ADA KETAATAN DALAM KEMAKSIATAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pembaca yang dirahmati Allah, mingu lalu kita telah membahas tentang hukum Pelayanan Perempuan terhadap suaminya. Pada minggu ini, kita akan membahas tentang “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan”. Semoga bemanfaat.

Pertanyaan : Apakah wajib bagi istri mentaati suaminya, jika suaminya memerintahkan perkara yang maksiat?

Jawab : Tidak wajib bagi istri mentaati suaminya dalam hal kemaksiatan. Tetapi hukumnya Haram, karena tidak ada kemaksiatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah).

Seperti dalam kitab “Riyadhlus Sholihin li Muhammad bin sholih bin Muhammad al-Ustaimin” Juz 1 halaman 332 : Firman Allah Ta’ala :

الرجال قَوَّامُون عَلَى النسآء

Kaum lelaki menjadi pemimpin terhadap kaum wanita” Qs. An-Nisa’ 34.

Beliau menjelaskan, bahwasannya laki-laki itu berhak memerintah, mengatur dan mengarahkan istrinya. Dan wajib bagi istri untuk mentaati suaminya kecuali suami memerintahan untuk berbuat maksiat. Jika suami memerintahkan hal yang maksiat maka tidak perlu didengarkan dan ditaati. Karena tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.

FATHUL QORIB-BAB HAJI (3) (#KAJIANKMNU 11 MARET 2016)

?Rukun Umroh ada 3, yaitu
1. Ihram
2. Thawaf
3. Sa’i
4. Halqu(الحلق), yaitu mencukur rambut. *)dalam suatu riwayat ada yang berpendapat bahwa halqu termasuk dalam rukun, namun ada juga yang berpendapat bahwa halqu tidak termasuk rukun.
 Wajib haji yang selain rukun, ada 3 perkara;
1. Ihram dari miqat
2. Melempar jumroh
3. Halqu (الحلق)
Wajib haji yang pertama adalah Ihram dari miqat, ihram berarti niat dan mulai menanggalkan pakaiannya, Miqat adalah batas kita melakukan ibadah haji & umrah. Miqat dibagi menjadi 2 yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani merupakan batas waktu yg diperbolehkan haji yaitu mulai 1 syawwal sampai 10 dzulhijjah. Miqat makani adalah batas tempat orang yang mukim dan tidak mukim. Bagi orang mukim lebih afdholnya mengambil miqat di tempat tinggalnya (rumah). Bagi yang bukan orang mukim miqatnya harus bertawajjuh sesuai tempat miqat yang telah ditentukan.
Wajib haji yang kedua adalah Melempar jumroh sebanyak 3 kali. Jumrah Kubro/Ula, jumrah Wustho, dan jumrah Aqobah masing-masing sebanyak 7 lemparan memakai batu kerikil.
Wajib haji ketiga adalah Halqu(الحلق). Untuk laki-laki disunnahkan cukur plontos. Untuk perempuan harus memendekkan rambut, minimalnya halqu adalah 3 helai rambut. Ada 3 cara untuk halqu, yaitu dibakar, dicabut,dan dipotong.
Sunnahnya haji ada 7;
1. Ifrod, yaitu mendahulukan haji daripada umroh
2. Membaca kalimat talbiyah
3. Thawaf kudum (sebelum wukuf di arafah)
4. Mabit di muzdalifah)*
5. shalat 2 rakaat setelah thawaf, tempat yg lebih afdhol yaitu dibelakang makam nabi Ibrahim dan hijir ismail
6. Mabit di Mina)*
7. Thawaf Wada’
*) Sunnah haji dalam hal Mabit, ada perbedaan pendapat, Imam Rofi’i berpendapat bahwa mabit termasuk sunnah, namun Imam Nawawi berpendapat bahwa mabit adalah hukumnya wajib.
?PERTANYAAN?
1. Takaran mabit seperti apa? apakah ada minimal waktunya?
2. Shalat 2 rakaat setelah thawaf, yang dimaksud thawaf apa saja?
3. Bagaimana jika saat melaksanakan wajib haji tiba-tiba haid?
4. Adakah ketentuan taqsir?
5. Miqat makani, untuk syarat seseorang dikategorikan mukim bagaimana?
?JAWAB?
1.Takaran mabit adalah melewati berubahnya malam. Dalam suatu riwayat dikatakan juga bahwa lewat saja di malam hari sudah cukup dikatakan mabit. Tempat mabit yang lebih afdhol adalah disebuah bukit bernama Ma’syaril haram. Sedangkan tempat Wuquf yang lebih afdhal disekitar jabal rahmah.
2. Sholat 2 rakaat setelah thawaf berlaku untuk semua thawaf, kecuali thawaf qudum
3. Apabila sedang melaksanakan haji, tiba-tiba haid, maka tetap lakukan apa saja, termasuk Wuquf, Sa’i, dan lainnya kecuali Thawaf. Karena syarat sah tawaf adalah harus suci.
4. Ketentuan taqsir bagi wanita adalah Hanya dipendekkan rambutnya saja, bukan dihabiskan, afdholnya dipotong.
5. Syarat seseorang dikatakan sebagai mukim setempat adalah orang tersebut sudah berada 3 hari sebelum miqat zamani terjadi (Sebelum tanggal 8 Dzulhijjah)
=========================
006/D.2/KJN/III/2016
Divisi Kajian & Pelestarian Tradisi
Cp: 089-669-187-869
#KajianKMNUIPB

Kontributor: Tim Kajian KMNU IPB

FATHUL QORIB–BAB HAJI (2) (#KAJIANKMNU 4 MARET 2016)

? Rukun Haji ada empat:
1. Ihrom disertai niat
yaitu memakai pakaian ihrom (pakaian non jahit untuk laki”, pakaian perempuan tetap berjahit)
niat ihrom harus dihususkan untuk melakukan Haji.
2. Wukuf di Arofah
yaitu berdiam diri di Arofah dari tergelincirnya matahari pada 9 Dzulhijah sampai terbitnya fajar pada tanggal 10 Dzulhijah.
3. Thowaf bil baiti
berthowaf dengan niat thowaf untuk melaksanakan rukun Haji. Berthowaf dengan mengelilingi ka’bah 7 putaran, diawali dari Hajar aswad berputar berlawanan arah jarum jam (ka’bah berada di sisi kiri pelaksana Haji)
4. Sa’i dari Shofa ke Marwah
yaitu berlari-lari kecil 7 kali diawali dari Shofa dan berakhir di Marwah
?TANYA JAWAB?
Q: kain ihrom haruskah putih?
A: disunnahkan untuk berwarna putih, yaitu menandakan bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan Allah
Q: Bagaimana pakaian dalaman ketika berihrom?
A: karena untuk laki-laki harus memakai kain nonjahit maka sampai pakaian dalaman pun harus nonjahit, bagaimana? itu sekreatif jamaah dalam mengenakan kainnya untuk dipakai sebagai pakaian dalaman.
Q: Apa Beda Rukun Haji dan Wajib Haji?
A: Rukun Haji jika tidak dilakukan maka batal hajinya.
Wajib Haji jika tidak dilakukan maka harus digantikan dengan membayar dam/denda.
Q: Bagi perempuan saat berhaji harus membuka wajah dan telapak tangan, lalu mana batasan wajah?
A: Batasan wajah adalah bagian muka yang tidak ditumbuhi rambut. Apabila memakai masker atau cadar harus dibuka.
=========================
? Divisi Kajian & Pelestarian Tradisi
Kontributor: Tim Kajian KMNU IPB

Kajian Perempuan Sholehah dan Lelaki Sholeh #2: Pelayanan Perempuan Terhadap Suaminya

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Setelah kemarin kita membahas tentang perempuan yang sholehah. Sekarang kita akan membahas tentang “Pelayanan Perempuan terhadap suaminya”. Sebagai seorang Istri tentunya tidak bisa tidak mengetahui pelayanan yang baik dan benar menurut islam kepada suaminya, langsung saja kita mulai.

Pertanyaan: Apakah wajib pelayanan perempuan terhadap suaminya?

Jawab: Wajib bagi seorang perempuan melayani suaminya, Syaikh As-Syankithi al-Hanbali berkata: termasuk pelayanan terhadap suami yaitu pelayanan urusan rumah suami, dimana suami merasa senang, ridha, dan merasa bahwasannya hak suami telah dijaga dan kemashlahatan suami juga dijaga. Sehingga Suami merasa puas.

Seperti dalam “Durusu umdatil fiqhi” karangan Syaikh As-Syankithi al-Hanbali juz 7 halaman 359: Sebagian dari hak-hak istri atas suami, yaitu hak-hak pelayanan jasmani.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan perempuan dan menjadikannya kekhususan yang baik untuk memenuhi keperluan rumah, mengurusi rumah, dan memperhatikan urusan rumah. Maka jika perempuan telah melayani keperluan rumah yang semestinya maka suami akan senang, ridha, dan merasa bahwasannya hak suami dan kemashlahatannya telah dijaga. Sehingga Suami merasa puas.