Ngaji Serat Kalatidha (1)

Serat Kalatidha, Pupuh (Bait) 1, Gatra (Baris) 1

R Ng. Ronggo Warsito merupakan salah seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keberkahan ilmu “weruh sadurunge winarah” yang bermakna tahu sebelum orang lain tahu. Begitu banyak karya sastra yang digubahnya dalam bentuk tembang macapat yang ringkas namun memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Tidak jarang gubahan R. Ng. Ronggo Warsito masih relevan di jaman abad melenium seperti saat ini. Menurut pendapat banyak ahli, R. Ng. Ronggo Warsito sebenarnya menggambarkan kejadian kejadian pada masa tersebut, namun banyak juga kejadian yang beliau gubah dalam serat yang ditulis memiliki kemiripan pada masa-masa selanjutnya. Dalam pemilihan diksi kata Jawa, beliau sangat dalam dan mengerti penggunaan bahasa Jawa yang sesuai untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada saat itu.

Mangkya Darajating Praja – Serat Kalatidha, Bab 1, Baris 1

Pemilihan kata mangkya (baca : mangkyo) yang memiliki arti sangat luas digunakan oleh beliau di awal Serat, mangkya memiliki terjemahan Bahasa Indonesia tampak, terlihat, diketahui, dan memiliki padanan kata dengan katon, kaweruhan, pengerten, dsb. Beberapa peneliti menafsirkan kata mangkya dengan kata yang menunjukkan waktu yang berarti sekarang. Bahasa yang dipakai dalam serat ini menggunakan serat sastra yang indah dan tidak semua orang dapat menafsirkan dengan mudah sehingga tidak jarang para peneliti dan ahli pun memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan serat yang ditulis oleh para Pujangga jaman dahulu, tidak hanya R. Ng. Ronggo Warsito tetapi juga pujangga lainnya.

Kata kedua menggunakan diksi darajating (baca : darojating) yang memiliki arti martabatnya. Kata dasar dari darajating adalah darajat yang sebelumnya ditambahi imbuhan ing untuk menunjukkan kepunyaan dari subyek. Sedangkan, kata ketiga adalah praja, kita sering sekali mendengar kata praja, dan sangat mudah untuk dilafalkan namun tidak jarang pelafal dari kata praja tidak mengetahui makna dari praja itu sendiri.

Praja memiliki arti yang sangat luas begitu juga dengan makna yang sangat dalam. Praja bisa diartikan dengan prajurit, pasukan, pemerintah, keraton, batalion, dan sebagainya. Penggunaan kata praja sangat luas, sehingga banyak penulis menggunakan kata praja untuk konteks yang ingin disampaikannya. Pengartian kata praja secara singkatnya dapat dilihat pada konteks tulisannya. Penggunaan kata praja di praja muda karana (pramuka) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-pp), kelas jelas memiliki arti yang berbeda , karena secara konteks sudah berbeda. Praja di pramuka bermakna jiwa sedangkan praja di Satpol PP adalah pasukan atau angkatan militer.

Jadi penggunaan kalimat mangkya darajating praja diartikan oleh beberapa ahli sebagai “martabat negara tampak”. Yang bermakna bahwa martabat asli dari suatu negara telah tampak dengan jelas dan tidak perlu ditutupi. Kondisi keraton pada saat itu menunjukkan sesuatu yang jelas, sehingga tidak perlu ditutupi apa-apa, kalaupun berbohong sama halnya dengan menyembunyikan diri di balik satu jari telunjuk, sangat tampak jelas. Kondisi seperti itulah yang hendak digambarkan oleh R. Ng. Ronggo Warsito. Kondisi yang dapat dilihat bersama, dan mengejutkannya, sekarang juga terjadi mangkya darajating praja yang dapat ditafsir masing-masing oleh para pembaca yang budiman.

Sumber Pustaka :

Permana CP, Nurhayati E. Ragam bahasa Serat Kalatidha serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Jawa siswa SMPN 7 Yogyakarta. Jurnal Lingtera. 1(1): 39-53.

Ronggowarsito. 2015. Zaman Edan Cetakan 4. Yogyakarta (ID): Penerbit Forum.

(Cak Bim)

Kesejahteraan Hewan dalam Islam

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur perlindungan hewan telah disahkan.

Pada tahun 1967, seorang petani asal inggris dan seorang aktivis animal welfare, Peter robert, memprotes dan melawan tindakan kekerasan pada hewan dengan membentuk Compassion in World Farming. Tindakan Peter itu dilatarbelakangi oleh peternakan intensif broiler yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan.

Five of Freedom (FoF) (5 Kebebasan)

Puncaknya pada tahun 2004, Office International des Epizooties (OIE) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengeluarkan standar-standar animal welfare yang mengatur kondisi hewan di bawah pengaturan manusia. FoF yaitu:
1. Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
2. Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman)
3. Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan rasa sakit)
4. Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiahnya)
5. Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan penderitaan)

Islam Memperlakukan Hewan

Isam muncul pada abad ke-7 yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk memberikan rahmat (kasih sayang) kepada semesta alam seperti dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107. Definisi alam yg dimaksud disini adalah selain Allah. Jadi kasih sayang Nabi SAW kepada manusia, jin, hewan, tumbuhan, mikroba, virus, dan makhluk Allah yang lain.

Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan hewan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Allah. Islam memandang hewan dan makhluk hidup lain sebagai hamba Allah yang sama-sama beribadah kepada-Nya. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”

Islam memandang hewan secara proporsional, tidak seperti faham animal right yang melarang bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk konsumsi, pakaian, objek penelitian, dan pembebanan dalam suatu pekerjaan. Islam melegalkan bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk tujuan konsumsi, untuk kendaraan, atau untuk tujuan-tujuan lain. Ini dijelaskan oleh Allah dalam al-quran surat Ghofir Ayat 79-80:

“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan (79). Dan bagi kamu (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain padanya (hewan ternak itu) dan agar kamu mencapai suatu keperluan (tujuan) yang tersimpan dalam hatimu (dengan mengendarainya). Dan dengan mengendarai binatang-binatang itu, dan di atas kapal mereka diangkut (80).”

Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat hadist, dimana beliau mengasihi kucing, burung, anjing, dan hewan-hewan lain.

“Diriwayatkan dari Sa’ad Bin Jubair berkata: suatu ketika aku dihadapan Ibnu Umar, kemudian ada sekelompok orang lewat yang menjadikan sasaran lempar seekor ayam betina. Saat melihat ada Ibnu Umar, mereka berpisah menjauhinya. Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini ? Sesungguhnya Nabi SAW melaknat orang yang melalukan seperti ini (sasaran lempar) kepada hewan” (HR Bukhari No. 5515).

Pada abad ke-12 , jauh sebelum muncul isu animal welfare di barat, seorang ulama dengan gelar Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam telah merumuskan dan memerinci hak-hak hewan yang harus dipenuhi oleh manusia bila memeliharanya. Hal itu ditulis oleh beliau dalam sebuah kitab Qawaaid Al-Ahkam fi Mashaalih Al-Anam, Juz 1 Halaman 167:

ﺣﻘﻮﻕ البهائم ﻭاﻟﺤﻴﻮاﻥ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺯﻣﻨﺖ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻻ ﻳﺤﻤﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻄﻴﻖ ﻭﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺆﺫﻳﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺑﻜﺴﺮ ﺃﻭ ﻧﻄﺢ ﺃﻭ ﺟﺮﺡ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺇﺫا ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﻤﺰﻕ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺒﺮﺩ ﻭﺗﺰﻭﻝ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻭﺃﻻ ﻳﺬﺑﺢ ﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺑﻤﺮﺃﻯ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻔﺮﺩﻫﺎ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﺒﺎﺭﻛﻬﺎ ﻭﺃﻋﻄﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺫﻛﻮﺭﻫﺎ ﻭﺇﻧﺎﺛﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﺑﺎﻥ ﺇﺗﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺬﻑ ﺻﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺮﻣﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻪ ﺃﻭ ﻳﺮﺩﻳﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺤﻠﻞ ﻟﺤﻤﻪ.

Hak-hak hewan ternak atas manusia yaitu:

  1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari jenis hewan-hewan tersebut, walaupun hewan-hewan tersebut telah menua atau sakit yang tidak dapat diambil manfaatnya;
  2. tidak membebani hewan-hewan tersebut melebihi batas kemampuannya;
  3. tidak mengumpulkan di antara hewan tersebut atau antara hal-hal yang membuat hewan tersebut terluka, baik dari jenisnya atau selain dari jenisnya dengan mematahkan tulangnya, menusuk, atau melukainya;
  4. menyembelihnya dengan baik jika menyembelihnya, tidak menguliti kulitnya dan tidak pula mematahkan tulang hingga hewan tersebut menjadi dingin dan hilang hidupnya, tidak menyembelih anak hewan tersebut di depannya, namun mengisolasinya;
  5. membuat nyaman kandang dan tempat minumnya,
  6. menyatukan antara jantan dan betina bila telah datang musim kawin;
  7. tidak membuang buruannya,
  8. tidak menembak dengan apapaun yang mematahkan tulangnya atau membunuhnya dengan benda-benda yang menyebabkan tidak halal dagingnya.

Korelasi Animal Welfare dan Syariat Islam

Bila kita mencermati isi dalam five of freedom dengan nash-nash dalam alqur’an, hadist, atupun hukum fiqih pada uraian di atas tidak bertentangan. Keduanya sejalan dalam konteks memerlakukan hewan. Oleh karena itu, animal welfare yang dalam hal ini direpresentasikan dengan FoF tidak bertentangan dengan syariat islam dan bahkan sejalan dengan syariat islam.

Hamzah Alfarisi
(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB & Khadim Ma’had Jawi)

Cara Tarawih #dirumahaja

Ramadhan kali in dunia sedang berada di masa pandemi. Imbauan-imbauan beribadah #dirumahaja di media massa demi menekan laju penyebaran Covid-19. Begitu pula, salat tarawih yang biasa dilakukan di surau-surau bergeser menjadi #dirumahaja. Salat tarawih dapat dikerjakan secara munfarid (individu) ataupun secara berjamah. Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang jumlah rakaat sholat tarawih, yaitu 8 rakaat atau 20 rakaat. Dua pendapat tersebut sama-sama memiliki dalil yang kuat. Pelaksanaan shalat tarawih dapat dilakukan 2 rakaat salam atau 4 rakaat salam, namun madzhab Syafi’i menguatkan pendapat pelaksanaan tarawih dengan 2 rakaat salam.

Dalam Tuntunan Ibadah pada bulan Ramadhan di Masa Darurat COVID-19 (2020) oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (hlm. 43), pendapat bahwa salat tarawih dikerjakan 8 rakaat merujuk pada riwayat Aisyah bahwa Nabi SAW: “tidak pernah melakukan salat sunah di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Maksud salat empat rakaat sebanyak dua kali dalam hadis di atas adalah sholat tarawih. Adapun tiga rakaat setelahnya adalah salat witir. Sementara dalam Buku Saku Ramadan karya Ma’ruf Khozin, dalil salat tarawih 20 rakaat merujuk pada riwayat 4 tabiin, yaitu Said bin Yazid, Yazid bin Rauman, Yahya bin Said al-Qathan, dan Abdul Aziz bin Rafi’. Adapun riwayat Yazid bin Rauman berbunyi, “Umat Islam di masa (Khalifah) Umar bin Khattab RA beribadah di malam bulan Ramadan dengan 23 rakaat.” Maksud dari 23 rakaat dalam riwayat di atas adalah 20 rakaat untuk sholat tarawih dan tiga rakaat salat witir. Biasanya, tarawih 20 rakaat dikerjakan dengan melakukan sholat 2 rakaat sebanyak 10 kali. Kemudian, sholat witir dilaksanakan dua kali, masing-masing 2 rakaat dan 1 rakaat.

Umat muslim yang melaksanakan sholat tarawih berjamaah di rumah dipersilakan untuk mengikuti dua pendapat mengenai jumlah rakaat sholat tarawih di atas, sesuai dengan keyakinannya.

Urutan tata cara salat tarawih berjamaah adalah sebagai berikut:
a) Mengucapkan niat sholat tarawih sesuai dengan posisinya, sebagai imam atau makmum (sunnah)
b) Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram
c) Mengucap takbir saat takbiratul ihram
d) Membaca Surat Al-Fatihah dan kemudian membaca salah satu surat dalam Al-Qur’an (sunnah)
e) Rukuk
f) Itidal
g) Sujud pertama
h) Duduk di antara dua sujud
i) Sujud kedua
j) Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua (sunnah)
k) Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama
l) Salam pada rakaat kedua/rakaat keempat.

Shalat Jama’ah Online, Bolehkah?

Masa pandemi COVID-19 membuat aktivitas yang umumnya bertatap muka beralih ke media daring seperti rapat, kuliah, bahkan mengaji. Namun, apakah kegiatan peribadatan seperti shalat berjamaah dapat dilakukan secara daring atau online?

Dalam Kifayatu Al-Akhyat (hlm 168-168), shalat dianggap sah bila:

1. Makmum mengetahui shalatnya imam.
Artinya makmum mengetahui pergerakannya imam secara langsung. Ini sudah dinash oleh imam Syafi’i dan sudah sepakat para ashbab syafi’i. Sedangkan batasan ‘mengetahui’ disini yaitu bisa dengan melihat imam secara langsung, melihat sebagian shaf, atau mendengarkan suaranya muballigh (penerus suara imam).

2. Makmum tidak berada di posisi yang mendahului imam.
Bila seorang makmum berada di posisi yang mendahului imam maka shalatnya batal menurut qoul jadid, seperti halnya keharama mendahului dalam gerakannya (imam). Bila posisi yg mendahului imam tersebut di tengah-tengah shalat terdapat khilaf. Pertama berpendapat sah dan ini adalah pendapat sahih. Kedua berpendapat batal. Bagaimana kalau sejajar ? Menurut Ibnu Rif’ah tidak apa-apa.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kondisi makmum ini ada 3 keadaan:
1. Imam dan makmum di luar masjid
2. Imam di dalam masjid dan makmum di luar masjid
3. Imam dan makmum di dalam masjid.

Kondisi ke-3
Bila imam dan makmum sama sama berada dalam masjid maka hukumnya sah shalatnya makmum, baik shafnya terputus atau bersambung, sama juga (tetap sah) antara imam dan makmum terdapat penghalang atau tidak. Sama juga sah, keduanya berkumpul di satu tempat atau tidak. Bahkan, bila imam salat di atas menara dan makmum di dalam sumur, atau sebaliknya, jamaahnya tetap sah, karena keduanya berada dalam satu tempat, yaitu masjid.

Kondisi ke-2
Bila imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka jamaahnya sah, dengan syarat jaraknya tidak lebih dari 300 dzira’ (hasta) (kurang lebih 144 m, dengan asumsi 1 dzira’=48 cm). Jarak ini diukur dari posisi terakhir masjid menurut pendapat yang sahih.

Imam Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah menjelaskan bila makmum berada di jalan yang bersambung dengan masjid maka dihukumi seperti tanah kosong menurut qoul sahih.

Kondisi ke-1
Imam dan makmum berada di luar masjid ada dua keadaan: (1) ruang terbuka, (2) ruang tidak terbuka. Bila di ruang terbuka maka jamaahnya sah dengan syarat tidak lebih dari 300 dzira’. Ruang tidak terbuka yang dimaksud seperti imam berdiri di halaman rumah dan makmum di rumah yang lain, atau keduanya berada di madrasah/rubath yang mencakup rumah-rumah. Maka imam berdiri di serambi dan makmum membuat shaf di belakangnya di serambi makmum.

Jadi kesimpulannya, apakah boleh jamaah online, imam berada di masjid memandu dengan speaker dan jamaah di rumahnya masing-masing?

Jawabannya tidak sah jamaahnya, karena
1. Makmum tidak mengetahui shalatnya imam atau mengetahui makmum yg tahu shalatnya imam,
2. Imam dan makmum berada di tempat yg berbeda-beda yg tidak pada kondisi 3, saling terpisah, dan tidak tahu satu dengan yg lain,
3. Posisi makmum juga tidak diketahui apakah di depan, di samping, atau di belakang imam.

Hamzah Alfarisi
(Khodim Ma’had Jawi)

Zakat Harta Dagangan dan Zakat Fitrah

Salah satu zakat harta (mal) ialah zakat barang dagangan. Syarat barang dagangan yang wajib dizakati adalah barang yang boleh diperjual-belikan, barang diperjual-belikan secara kontinu atau terus menerus, benar-benar untuk mata pencaharian utama. Jika niat awalnya tidak untuk mata pencaharian utama, maka tidak wajib dizakati. Nisabnya yaitu 20 mitsqal (seperti emas) dengan besarnya zakat 2.5%. Zakat rikaz (barang temuan), yaitu sebesar 20%, tidak ada nisab.

Selain zakat mal, adapula zakat firtah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang yang punya kelebihan makanan pada malam akhir bulan ramadhan. Syarat wajib zakat fitrah ada 3, yaitu (1) islam, (2) Masih hidup pada hari terahir bulan ramadhan atau masih melihat matahari tenggelam, dan (3) punya kelebihan makanan.

Barang yang dizakatkan untuk zakat fitrah berupa makanan pokok yang ada di negara tersebut. Besarnya yaitu 5 kathi, kalau ukuran Iraq yaitu 1/3 kathi.( jika dikonversi ke dalam kg senilai 2.8-3 kg). Jika ada keluarga yang punya kelebihan makanan tetapi ketika sudah dibagikan ke semua keluarganya tidak lebih dari ketentuan zakat fitrah maka zakat seadanya.

Penerima zakat fitrah (mustahiq) ada 8 yaitu faqir, miskin, amil, muallaf, budak, gharim, fi sabilillah, ibnu sabil. Faqir merupakan  orang yang tidak punya pekerjaan dan tidak mampu memenuhi ½ dari kebutuhan minimumnya sehari-sehari. Miskin merupakan orang yang punya pekerjaan tetapi tidak cukup memenuhi kebutuhan minimal sehari-hari. Amil merupakan orang yang ditunjuk untuk mengurus zakat. Muallaf merupakan orang yang masih lemah imannya, atau baru masuk islam. Budak atau Riqab merupakan budak yang telah melakukan perjanjian dengan tuannnya untuk merdeka. Gharim merupakan orang yang hutang yang mubah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan untuk bersenang-senang. Fi sabilillah merupakan Orang yang berjihad di jalan Allah (prajurit perang). Ibnu sabil merupakan orang yang dalam perjalanan jauh dan terbatas bekalnya. Jika tidak ada 8 golongan tersebut minimal ada 3, jika tidak ada maka disimpan atau dialihkan untuk wilayah lain. Adapun 8 golongan yang haram diberi zakat yaitu orang kaya, abdu/budak murni, bani hasyim dan bani muthalib (sahibul bait), orang-orang kafir, orang-orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki kalau alasannya hanya faqir dan miskin.

10 Mitos dan Salah Paham Coronavirus

1. “Masker dapat mencegah penularan corona“.

Ini tidak tepat. Sebenarnya, masker (yang umum diperjualbelikan untuk bedah) tidak dibuat untuk memblok partikel corona, namun hanya berfungsi membantu bila seseorang yang terinfeksi corona tidak menyebarkan virus darinya. Masker berfungsi untuk mencegah titik-titik air dari hasil respirasi keluar ke lingkungan.

2. “Anak-anak tidak dapat terserang virus corona

Pendapat ini juga salah. Anak-anak bukan tidak dapat terinfeksi korona namun mereka sedikit yang terpapar virus korona, sehingga kasus corona pada anak-anak lebih sedikit. Bila anak-anak terinfeksi corona, mereka sepertinya kemungkinan kecil bisa parah.

3. “Kemungkinan terinfeksi virus corona lebih besar dari pada terinfeksi flu”

Pendapat ini tidak akurat. Para ilmuwan menghitung nilai R0 untuk menghitung berapa potensi virus dapat menyebar. Baru-baru ini ditemukan bahwa nilai R0 SARS-CoV sekitar 2.2, itu artinya seseorang yang terinfeksi akan menularkan kira-kira 2.2 orang lain. Sedangkan flu memiliki nilai R0 sebesar 1.3.

4. “Virus corona hanya bentuk mutasi dari flu biasa”.

Pendapat ini salah, karena virus korona adalah keluarga besar virus. SARS-CoV-2 membagikan 90% genetiknya dengan virus korona yang menginfeksi kelelawar

5. “Virus dapat dibuat di laboratorium”

Hingga sekarang, belum ada fakta atau penelitian yang mendukung pendapat ini. SARS-CoV-2 menyerupai 2 virus korona yang lain, yang merangsang pecah penyebarannya (outbreaks) pada dekade baru-baru ini. SARS-CoV-2, SARS-CoV, dan MERS-CoV berasal dari kelelawar

6. “Terinfeksi Virus Korona dapat membunuhmu”

Sebanyak 18% orang yg terinfeksi virus korona degan kondisi sedang, sekitar 13.8% parah, dan 4.7% kritis

7. “Kamu akan tahu ketika kamu telah terinfeksi”

Pernyataan ini tidak akurat. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi mungkin tidak muncul gejala sama sekali. Gejala COVID-19 sama seperti flu dan demam biasa. Gejala umum COVID-19 adalah demam, batuk-batuk, dan sudah bernafas. Gejala yang jarang sekali terjadi yaitu pusing, muak, muntah, dan ingusan.

8. “Vitamin C akan menjagamu dari COVID-19”

Belum ada bukti, kalau vitamin C meningkatkan kekebalan tubuh untuk menghadapi COVID-19. Vitamin C menyediakan kebutuhan yang esensial pada tubuh manusia, dan mendukung fungsi normal sistem kekebalan. Minum banyak vitamin C tidak akan menurunkan risiko terinfeksi COVID-19

9. “Kamu tidak boleh menerima paket dari Cina”

Menurut WHO, menerima surat atau paket dari Cina aman. Virus korona tidak mampu bertahan lama di sebuah benda seperti surat dan paket

10. “Musim dingin dan Salju dapat membunuh COVID-19”

Ini juga tidak benar. Suhu tubuh normal manusia adalah 36.5 sampai 37 derat celcius.

Alih bahasa: @alfarisi_hamzah
Sumber: Video Hashem Al-Ghaili, fb.me/sciencenaturepage

Kominfo KMNU IPB

Salat Jumat dan Syarat Wajibnya | Fathul Qorib

Terdapat tujuh syarat wajib salat Jumat, yaitu: (1) islam, seseorang yang sudah melafalkan dua kalimat Syahadat dan meyakininya tanpa keraguan sedikitpun, (2) baligh, sudah mencapai masa baligh, sudah mengalami tanda-tanda baligh, sehat panca indera, dan sampai kepadanya dakwah, (3) berakal, sehat secara nalar, dengan demikian orang gila tidak diwajibkan salat Jumat, (4) merdeka, tidak terikat perbudakan. (5) laki-laki, wanita hukumnya sunnah melaksanakan shalat Jumat, (6) sehat, (7) berdomisili, bermukim di suatu tempat, standarnya yaitu seseorang yang tidak berpindah-pindah ketika musim dingin atau musim panas.

Syarat Melakukan Salat Jum’at

Syarat-syarat melakukan salat Jum’at ada 3 perkara, yaitu: (1) berada di suatu daerah atau suatu wilayah. Tersedianya tempat untuk menyelenggarakan salat Jumat yang memadai bagi jamaah yang menetap (bermukim/berdomisili), (2) hendaknya ada 40 orang laki-laki yang di wajibkan salat Jum’at, (3) cukup waktu untuk melaksanakan shalat jum’at.

Salah satu sesuatu yang wajib ada dalam salat Jumat ialah khutbah. Khutbah standarnya menggunakan bahasa Arab. Tetapi, tidak apa-apa memakai bahasa Indonesia asalkan syarat-syarat khutbah memakai bahasa Arab terpenuhi, yaitu khutbah pertama di waktu akhir menggunakan bahasa Arab dan khutbah kedua di waktu awal menggunakan bahasa Arab. Khutbah tidak boleh terpisah, jika terpisah lebih lama dari dua rakaat shalat maka khutbah batal.

Seorang musafir tetap sah mengikuti salat Jumat dan tidak apa-apa jika tidak melakukan shalat dzuhur. Tetapi tidak dihitung 40 orang yang menjadi syarat melakukan salat Jumat. Ada pendapat yang menyatakan jika musafir telah melakukan perjalanan selama lima hari, maka wajib melaksanakan salat Jumat.

Fardhu ialah sesuatu yang wajib dikerjakan dalam salat Jumat. Fardhu salat Jumat ada 3, yaitu: (1) didahului dua khutbah. (2) khutbah dilaksanakan dengan berdiri dan duduk di antara dua khutbah. Lama duduk yaitu seperti tuma’ninahnya shalat dan disunnahkan membaca surat Al-Ikhlas, (3) salat Jumat dua rakaat secara berjamaah.

Dalam suatu daerah tidak diperbolehkan ada dua masjid yang berdekatan untuk melaksanakan salat Jumat. Boleh ada dua masjid yang berdekatan, jika memang ada alasan yang mendesak. Alasan yang paling ringan adalah tidak muat. Ada yang berpendapat juga bahwa tetap salah satu tidak sah, karena dianggap telah memecah belah umat. Maka yang sah adalah yang terlebih dahulu takbir salat Jumat. Orang boleh memilih salat Jumat di tempat yang menurutnya sah. Jarak terdekat antar masjid yang dipakai dulu adalah sejauh suara muadzin masih terdengar. Sedangkan sekarang sudah ada pengeras suara, maka dibatasi jaraknya yaitu 300 dziro, 1 dziro sama dengan 48 cm,  maka 300 dziro ialah 14400 cm atau 144 m.

Oleh: Ustadz M. Ainun Na’im

KMNU IPB 2020