KMNU IPB - Sudah tidak asing lagi dengan julukan Bogor Kota Hujan. Julukan yang disematkan karena tingginya curah hujan di kota ini, bahkan pada musim kemarau pun masih banyak hujan dibandingkan daerah lain yang umumnya sedikit menerima hujan. Mengapa Bogor memiliki curah hujan yang relatif tinggi? Berikut penjelasan singkat menjawab hal tersebut.

KMNU IPB – Sudah tidak asing lagi dengan julukan Bogor Kota Hujan. Julukan yang disematkan karena tingginya curah hujan di kota ini, bahkan pada musim kemarau pun masih banyak hujan dibandingkan daerah lain yang umumnya sedikit menerima hujan. Mengapa Bogor memiliki curah hujan yang relatif tinggi? Berikut penjelasan singkat menjawab hal tersebut.

Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 1060 48’ BT dan 60 26’ LS yang memiliki ketinggian 190-330 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suhu udara rata-rata bulanan mencapai 260 C dengan suhu terendah 21,80 C dan suhu tertinggi 30,40 C serta kelembaban udara 70-80 %.  Kota Bogor sering mengalami hujan karena wilayahnya berada di kaki Gunung Gede dan Gunung Salak, sehingga sering terjadi hujan orografis atau hujan yang terjadi di daerah pegunungan dimana Bogor berada pada daerah hadap hujan (Handoko 2006).

Hujan orografis dapat terjadi di Bogor karena adanya massa udara atau angin laut yang banyak mengandung uap air dari Laut Jawa (di utara) bergerak ke selatan menuju wilayah Bogor, karena terdapat Gunung Gede dan Gunung Salak, massa udara dipaksa naik ke atas gunung yang suhu udaranya lebih rendah sehingga uap air mengalami kondensasi (perubahan uap air menjadi butir-butir air hujan) membentuk awan-awan yang selanjutnya turun menjadi hujan. Kondisi tersebut yang menyebabkan Bogor sering terjadi hujan yang bersifat “lokal” dan disebut sebagai Kota Hujan. Udara yang mengandung uap air telah menjadi hujan orografis namun udara tersebut tetap bergerak ke daerah bayangan hujan yang bersifat kering atau disebut Angin Fohn karena uap air sudah menjadi hujan orografis.

Sumber : ilmugeografi.com

Curah hujan Kota Bogor mencapai 3.500-4.000 mm per tahun. Namun, curah hujan tersebut bukanlah yang tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Daerah di Indonesia yang memiliki curah hujan tertinggi adalah Baturaden, Jawa Tengah dengan curah hujan mencapai 4.280 mm per tahun (lebih tinggi dari Bogor).

Handoko. 2006. Klimatologi Dasar : Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan Unsur-unsur Iklim. Bogor(ID): IPB Press.

Gus Dur dan Topi Yahudi
Tahun 80-an, Jalaluddin Rahmat bercerita, Gus Dur penah bikin Presiden Iran Rafsanjani tertawa. Tahun 80-an juga, Gus Dur pernah bikin Kanselir Jerman Barat Helmut Schmidt tertawa ngakak, yang cerita Nurcholis Madjid.
Kita tahu, Gus Dur juga bikin Presiden Clinton terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Presiden Prancis Jacques Chirac pernah tertawa juga mendengar Gus Dur bercerita tentang Anggur Mukti Ali. Ratu Beatrix juga pernah dibikin ketawa oleh Gus Dur.
Gus Dur, kata Gus Mus, berhasil membuat Raja Saudi yang terkenal serius dan pelit senyum, tertawa hingga kelihatan giginya. Melemper guyon pada Presiden Soeharto dan penggantinya, Habibie, juga Megawati, sudah biasa dilakukan Gus Dur.
Dan Shimon Peres, tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. Saya mendapat cerita ledekan Gus Dur pada Peres dari sastrawan terkemuka Ahmad Tohari. “Sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres tertawa hingga terbatuk-batuk,” cerita Tohari pada saya.
“Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis,” usul Gus Dur pada Shimon Peres.
“Kenapa, Pak Gus?” tanya Peres penasaran.
“Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua,” Gus Dur menjelaskan. Peres makin penasaran.
“Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” jelas Gus Dur tambah panjang.
“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???” tanya Peres. Rasa penasarannya makin menjadi-jadi.
“Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” terang Gus Dur enteng.
“Hahahaha…hahahahaha….hahahaha…” kali ini Peres paham, dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Topi Yahudi bernama Kipah. Bentuknya bulat. Dipakai di atas ubun-ubun, agak ke bawah sedikit. (Hamzah Sahal)