Saya cukup terkejut dengan berita kewafatan Almarhum malam tadi waktu Maroko. Saya sangat sedih dengan kepergian Almarhum, tapi saya juga ingat bahwa cepat atau lambat saya juga akan menyusul beliau. Ini hanya persoalan waktu, adapun kematian itu sendiri adalah sebuah kepastian. Guna menghidupkan sunah Rasulullah SAW untuk menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah mendahului kita, maka saya berusaha menulis risalah singkat ini dengan segala keterbatasan. Semoga bisa menjadi persaksian baik atas Almarhum dan menjadi sebab beliau dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang saleh di surga yang tertinggi bersama Baginda Rasul SAW. Saya memang tidak punya hubungan khusus dan spesial dengan Almarhum. Hubungan saya dengan beliau semasa hidup memang tidak bisa dikatakan dekat jika dibandingkan dengan para senior saya, sekalas Mas Zimam dan lainnya. Hanya saja saya banyak mendengar berita tentang beliau dari lisan kawan-kawan. Saya pernah menjadi anggota KMNU ditingkat IPB dan pengurus di tingkat nasional yang notabene beliau adalah salah satu pembinanya. Saya juga pernah satu komisi dengan beliau di MUI Kota Bogor sebelum saya berangkat ke Maroko. Jika saya diminta meringkas kebaikan Almarhum maka saya akan menyifati beliau sebagai sosok yang rendah hati . Ini tidak bisa dipungkiri siapapun. Akhlak , penampilan, tutur kata, dan raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah sosok doktoral di bidang kelautan dengan peringkat sempurna, tokoh kunci pengembangan teknologi terapan di IPB, anggota majelis ulama, wakil sekertaris jenderal PBNU, dan salah satu penyandang dana setiap kegiatan besar mahasiswa NU IPB. Sosok yang tidak pernah mengumbar janji, apalagi hingga mengingkarinya. Tidak banyak berteori. Beliau tipe yang langsung action dan berkontribusi nyata jika dimintai tolong (bahkan saat tidak dimintai tolong sekalipun). Saya tidak pungkiri bahwa saya (atau mungkin lebih tepatnya kami) banyak berinteraksi dengan orang yang notabene lebih pintar dan lebih kaya dibanding beliau, tapi tidak satupun yang mengalahkan nyatanya kontribusi beliau dalam hal moril maupun materil. Itu pandangan saya. Kadang penyakit yang menghinggapi orang (yang merasa) besar adalah keyakinan bahwa dirinya lebih pintar dan lebih kaya dari pada orang lain, sehingga ide baik harus berasal dari dirinya. Sedang orang lain (hanya) sebagai pelaksana tugas. Ia sudah merasa cukup baik dengan memberi orang lain pekerjaan untuk mewujudkan ide baiknya dan (tentunya) menanggung dana yang diperlukan untuk mewujudkan ide itu. Padahal ini sama sekali tidak tepat untuk dunia pendidikan. Mungkin dunia bisnis iya, tapi tidak untuk dunia pendidikan. Almarhum mencerminkan sosok pembina (atau mungkin istilah sakralnya murabbi atau istilah kerennya mentor) yang saat bertemu dengan anak binaannya akan menanyakan kabarnya, pencapaian yang telah diraihnya, masalah yang dihadapinya, solusi yang direncanakannya, dan kontribusi apa yang beliau bisa berikan untuk membantunya. Terkadang malah beliau yang terlebih dahulu menghubungi dan mengontak via telepon selular. Ini bukan sekali atau dua kali beliau lakukan, tapi berkali-kali. Kalau anda baca kitab Qawaidh At-Tasawwuf karya Ahmad Zarruq mengenai hubungan guru dan murid, nah persis seperti itu. Membebaskan binaannya berkembang sesuai pasion masing-masing hingga mencapai tingkat yang beliau anggap sudah bisa dilepaskan ke alam bebas. Almarhum sosok yang membina, bukan mempekerjakan. Sedikitpun beliau tidak berniat untuk menjadi kaya-raya ataupun terkenal dengan apa yang telah beliau lakukan, bahkan sebaliknya, berpesan untuk tidak menyebutnya namanya. Selalu menekankan bahwa beliau hanya seorang mentor. Tidak lebih. Semua orang merasakan keakraban dengan Almarhum, baik senior maupun junior, mahasiswa maupun dosen, murid maupun kawan. Semua merasakan kehangatan candaannya dan kebaikan hatinya. Lebih dari itu, kendati Almarhum tinggal di Bogor, berkuliah di IPB, dan kemudian mengabdi di almamaternya tersebut, beliau adalah sosok yang gigih memperjuangkan Ahlussunnah Wal Jamaah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengingkari kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama dan segala hal yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Hingga di penghujung hayat, beliau masih menjabat Wasekjen PBNU, salah satu pembina KMNU IPB, dan pendukung kuat berdirinya Pondok Pesantren ala NU di sekitar IPB. Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni kesalahan Almarhum, menerima segala amal kebaikannya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi bersama Sang Kakasih Almarhum Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kesaksian kita atas kebaikan Almarhum ini dijadikan salah satu sebab bertambahnya derajat beliau di sisi Allah SWT. Takziah dan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Untuk segenap kader dan binaan beliau, saya mengajak untuk terus melanjutkan semangat dan usaha kebaikan Almarhum. Wallahul Muwaffia ila Aqwamith Thariq. Fes, 30 Rajab 1441 Adhli Al-Qarni

Saya cukup terkejut dengan berita kewafatan Almarhum malam tadi waktu Maroko. Saya sangat sedih dengan kepergian Almarhum, tapi saya juga ingat bahwa cepat atau lambat saya juga akan menyusul beliau. Ini hanya persoalan waktu, adapun kematian itu sendiri adalah sebuah kepastian.

Guna menghidupkan sunah Rasulullah SAW untuk menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah mendahului kita, maka saya berusaha menulis risalah singkat ini dengan segala keterbatasan. Semoga bisa menjadi persaksian baik atas Almarhum dan menjadi sebab beliau dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang saleh di surga yang tertinggi bersama Baginda Rasul SAW.

Saya memang tidak punya hubungan khusus dan spesial dengan Almarhum. Hubungan saya dengan beliau semasa hidup memang tidak bisa dikatakan dekat jika dibandingkan dengan para senior saya, sekalas Mas Zimam dan lainnya. Hanya saja saya banyak mendengar berita tentang beliau dari lisan kawan-kawan. Saya pernah menjadi anggota KMNU ditingkat IPB dan pengurus di tingkat nasional yang notabene beliau adalah salah satu pembinanya. Saya juga pernah satu komisi dengan beliau di MUI Kota Bogor sebelum saya berangkat ke Maroko.

Jika saya diminta meringkas kebaikan Almarhum maka saya akan menyifati beliau sebagai sosok yang rendah hati . Ini tidak bisa dipungkiri siapapun. Akhlak , penampilan, tutur kata, dan raut wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah sosok doktoral di bidang kelautan dengan peringkat sempurna, tokoh kunci pengembangan teknologi terapan di IPB, anggota majelis ulama, wakil sekertaris jenderal PBNU, dan salah satu penyandang dana setiap kegiatan besar mahasiswa NU IPB.

Sosok yang tidak pernah mengumbar janji, apalagi hingga mengingkarinya. Tidak banyak berteori. Beliau tipe yang langsung action dan berkontribusi nyata jika dimintai tolong (bahkan saat tidak dimintai tolong sekalipun). Saya tidak pungkiri bahwa saya (atau mungkin lebih tepatnya kami) banyak berinteraksi dengan orang yang notabene lebih pintar dan lebih kaya dibanding beliau, tapi tidak satupun yang mengalahkan nyatanya kontribusi beliau dalam hal moril maupun materil. Itu pandangan saya.

Kadang penyakit yang menghinggapi orang (yang merasa) besar adalah keyakinan bahwa dirinya lebih pintar dan lebih kaya dari pada orang lain, sehingga ide baik harus berasal dari dirinya. Sedang orang lain (hanya) sebagai pelaksana tugas. Ia sudah merasa cukup baik dengan memberi orang lain pekerjaan untuk mewujudkan ide baiknya dan (tentunya) menanggung dana yang diperlukan untuk mewujudkan ide itu. Padahal ini sama sekali tidak tepat untuk dunia pendidikan. Mungkin dunia bisnis iya, tapi tidak untuk dunia pendidikan.

Almarhum mencerminkan sosok pembina (atau mungkin istilah sakralnya murabbi atau istilah kerennya mentor) yang saat bertemu dengan anak binaannya akan menanyakan kabarnya, pencapaian yang telah diraihnya, masalah yang dihadapinya, solusi yang direncanakannya, dan kontribusi apa yang beliau bisa berikan untuk membantunya. Terkadang malah beliau yang terlebih dahulu menghubungi dan mengontak via telepon selular. Ini bukan sekali atau dua kali beliau lakukan, tapi berkali-kali. Kalau anda baca kitab Qawaidh At-Tasawwuf karya Ahmad Zarruq mengenai hubungan guru dan murid, nah persis seperti itu. Membebaskan binaannya berkembang sesuai pasion masing-masing hingga mencapai tingkat yang beliau anggap sudah bisa dilepaskan ke alam bebas.

Almarhum sosok yang membina, bukan mempekerjakan. Sedikitpun beliau tidak berniat untuk menjadi kaya-raya ataupun terkenal dengan apa yang telah beliau lakukan, bahkan sebaliknya, berpesan untuk tidak menyebutnya namanya. Selalu menekankan bahwa beliau hanya seorang mentor. Tidak lebih.

Semua orang merasakan keakraban dengan Almarhum, baik senior maupun junior, mahasiswa maupun dosen, murid maupun kawan. Semua merasakan kehangatan candaannya dan kebaikan hatinya.

Lebih dari itu, kendati Almarhum tinggal di Bogor, berkuliah di IPB, dan kemudian mengabdi di almamaternya tersebut, beliau adalah sosok yang gigih memperjuangkan Ahlussunnah Wal Jamaah. Tidak ada seorangpun yang bisa mengingkari kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama dan segala hal yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Hingga di penghujung hayat, beliau masih menjabat Wasekjen PBNU, salah satu pembina KMNU IPB, dan pendukung kuat berdirinya Pondok Pesantren ala NU di sekitar IPB.

Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni kesalahan Almarhum, menerima segala amal kebaikannya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi bersama Sang Kakasih Almarhum Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kesaksian kita atas kebaikan Almarhum ini dijadikan salah satu sebab bertambahnya derajat beliau di sisi Allah SWT. Takziah dan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Untuk segenap kader dan binaan beliau, saya mengajak untuk terus melanjutkan semangat dan usaha kebaikan Almarhum.

Wallahul Muwaffia ila Aqwamith Thariq.

Fes, 30 Rajab 1441

Adhli Al-Qarni

KMNU IPB telah didirikan sejak 2007 silam, perjalanan yang begitu panjang dan lika liku organisasi yang sangat dinamis menuntut para kader KMNU IPB untuk berjuang dengan effort yang lebih besar. Persoalan kemandirian ekonomi menjadi sektor yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena kemandirian ekonomi sangat mempengaruhi arah gerak dari suatu organisasi, setiap organisasi dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan primernya tak terkecuali dengan KMNU IPB. Sebagai organisasi yang berkoridor Sosial Kultur dan Akdemik dalam arah geraknya serta status lembaga independen yang tidak berafiliasi dengan lembaga manapun. KMNU IPB dituntut untuk memenuhi sendiri kebutuhannya.  Sudah lebih dari 10 tahun KMNU IPB berdiri namun belum cukup concern dalam mengentaskan persoalan kemandirian ekonomi.oleh sebab itu, di akhir tahun 2017 Pak Ridwan and team (sebagai pengurus KOIN KMNU periode satu)merintis sekaligus meresmikan sebuah program KOIN (Kotak Infaq)KMNU yang pada hakikatnya menduplikat program KOIN NU yang diresmikan Kyai Said Aqil pada April 2017 di Sragen Jawa Tengah. Sistem yang digunakanpun tak jauh berbeda dengan sistem KOIN NU dimana setiap anggota diberi satu kotak yang naantinya akan di isi seikhlasnya oleh para anggota dan dikumpulkan ke pengurus KOIN sebulan sekali. Laporan Keuangan KOIN KMNU akan dilakukan secara rutin saat rutinan Maulid Diba’. Kurang lebih sekitar 3 Semester KOIN KMNU ini berjalan, dan hasilnya pun sangat signifikan. Program ini memberikan dampak positif pada kemandirian ekonomi kMNU IPB. Dalam kurun waktu 3 Semester tersebut sudah lebih dari 9 juta uang yang terkumpul dan dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk pembelian aset aset tetap yang dapat digunakan saat rutinaan KMNU. Seperti, Proyektor, LCD, alat Hadroh, Sound, mic, dsb. Hal ini bertujuan agar infaq yang dikumpulkan dapat memberi berkah dan pahala selama barang barang tsb digunakan untuk kebaikan dan ibadah dijalan allah yang insyaallah juga berfungsi sebagai salah satu usaha memenuhi sektor kemandirian ekonomi. Program ini juga bisa menjadi amal jariyah bagi para anggota yang menginfaqkan hartanya melalui program KOIN KMNU ini. Kini KOIN KMNU telah melakukan tiga kali pergantian kepengurusan hal ini bertujuan untuk melakukan regenerasi dan beda dulu beda sekarang, dengan semakin meningkatnya jumlah anggota di harapkan program ini bisa terus berjalan dan semakin berkembang dan memiliki target target pencapaian yang semakin maju hingga terciptanya kemnadirian ekonomi KMNU untuk menyambut 1 Abad NU.

KMNU IPB telah didirikan sejak 2007 silam. Perjalanan organisasi yang begitu panjang dan lika liku yang sangat dinamis menuntut para kader KMNU IPB untuk berjuang dengan effort yang lebih besar. Persoalan kemandirian ekonomi organisasi menjadi sektor yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Kemandirian ekonomi sangat mempengaruhi arah gerak organisasi. Setiap organisasi dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan primernya tak terkecuali KMNU IPB. Sebagai organisasi yang berkoridor sosio-kultural dan akademik dalam arah geraknya serta status lembaga independen yang tidak berafiliasi dengan lembaga manapun, KMNU IPB dituntut untuk memenuhi sendiri kebutuhannya.

Sudah lebih dari 10 tahun KMNU IPB berdiri tetapi belum cukup concern dalam mengentaskan persoalan kemandirian ekonomi. Oleh sebab itu, di akhir tahun 2017 Pak Ridwan dkk merintis, meresmikan, sekaligus menjadi pengurus periode pertama Program Kotak Infaq (KOIN) KMNU yang pada hakikatnya menduplikat KOIN NU yang diresmikan Kyai Said Aqil pada April 2017 di Sragen, Jawa Tengah.

Sistem yang digunakan pun tak jauh berbeda dengan sistem KOIN NU, setiap anggota diberi satu kotak yang akan diisi seikhlasnya oleh para anggota dan dikumpulkan ke pengurus KOIN KMNU sebulan sekali. Laporan Keuangan KOIN KMNU akan dilakukan secara berkala setelah kegiatan rutin Maulid Diba’.

Program ini memberikan dampak positif pada kemandirian ekonomi KMNU IPB. Dalam kurun waktu 3 semester sudah terkumpul lebih dari Rp 9 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk pembelian aset tetap yang dapat digunakan dalam kegiatan KMNU. Seperti Proyektor LCD, alat hadroh, pengeras suara, mikrofon, dsb.

Hal ini bertujuan agar infaq yang dikumpulkan dapat menjadi berkah dan pahala selama aset tersebut digunakan untuk kebaikan dan ibadah di jalan Allah. Insyaallah selain berfungsi sebagai salah satu sektor kemandirian ekonomi, program ini juga bisa menjadi amal jariyah bagi para anggota yang menginfakkan hartanya melalui KOIN KMNU ini. Kini KOIN KMNU telah melakukan tiga kali pergantian kepengurusan sebagai bentuk regenerasi. Dengan semakin meningkatnya jumlah anggota, diharapkan program ini dan target-targetnya bisa terus berjalan, semakin berkembang dan maju hingga terciptanya kemandirian ekonomi KMNU untuk menyambut Satu Abad NU.

MARI BERGABUNG

oleh M. Afifuddin A. K.

 

KMNU IPB - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan bedasarkan peristiwa “Resolusi Jihad” 74 tahun yang lalu. Peristiwa itu diinisasi oleh KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah yang menyatakan jihad melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban kaum santri dan umat Islam pada saat itu. Peristiwa ini turut menyulut semangat perlawanan pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

KMNU IPB – Yal lal wathon dan sholawat mahalul qiyam menggema di hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan bedasarkan peristiwa “Resolusi Jihad” 74 tahun yang lalu. Peristiwa itu diinisasi oleh KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah yang menyatakan jihad melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban kaum santri dan umat Islam pada saat itu. Peristiwa ini turut menyulut semangat perlawanan pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Dalam rangka memeringati Hari Santri Nasional 2019 sekaligus hari Sumpah Pemuda, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) mengadakan diskusi kebangsaan pada minggu (3/11) di FEM Convention Hall, IPB. Tema yang diangkat yaitu “Peran Mahasiswa IPB dalam Memperkokoh Cinta Tanah Air (Hubbul Wathon minal Iman)”.

Diskusi ini menghadirkan mantan Menteri Riset dan Teknologi masa Presiden Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. Muhammad A. S. Hikam, APU; guru bersar Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA; dan ahli psikologi anak-remaja dan radikalisme, Ny. Arijani Lasmawati, M. Psi, sebagai pembicara. Acara ini dimoderatori oleh Auhadillah Azizy, seorang aktivis kebangsaan dan alumnus IPB.

Diskusi diselenggarakan untuk mempertegas peran mahasiswa dalam menjaga keutuhan NKRI dari sudut pandang  pengamalan ilmu dan pengabdian masyarakat, psikologi remaja, serta aspek sejarah dan konteks narasi radikalisme. Isu cinta tanah air dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia yang notabene negara kesatuan besar dengan berbagai suku, ras, budaya, dan bahasa.

Cinta tanah air yang didefinisikan oleh Prof. Muladno adalah sesadar-sadarnya menghayati empat pilar Indonesia yaitu Proklamasi, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Namun, dalam praktiknya, pemerintah dan perguruan tinggi malah tidak nasionalis dan berpihak pada rakyat. Contohnya hanya sekitar 2.5%  penelitian dari PT yang bermanfaat untuk rakyat dan program dari pemerintah di bidang perternakan yang cenderung tidak berkelanjutan.

Dalam mengkritisi hal ini, Prof. Muladno menekankan bahwa seharusnya mahasiswa dapat berpihak pada rakyat dalam bentuk penelitian atau pengabdian yang dapat memberdayakan masyarakat sebagai wujud nasionalisme. Wujud media untuk menerapkan hal ini yang sudah Prof. Muladno jalankan adalah Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) sebagai wujud sinergi PT, mahasiswa, dan peternak kecil.

Ny. Arjani lebih menekankan pada aspek psikologi remaja dalam pusaran narasi disintegrasi bangsa dalam bentuk radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Beliau menuturkan bahwa sebagian besar pelaku terorisme dan radikalisme adalah remaja. Fase remaja merupakan masa seseorang sedang dalam fase mengekspresikan diri dan mencari jati diri sehingga mudah dihasut dan terpapar paham radikalisme.

Dalam hal ini, peran penting orang tua sebagai role model, pemberi pemahaman tentang nilai-nilai, monitoring sekaligus menjadi benteng terhadap paham-paham yang keliru. Maka dari itu, membangun kesadaran terhadap kondisi lingkungan sosial dan penguatan keluarga penting dilakukan untuk menjegah remaja menjadi korban paham-paham radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI.

Prof. Hikam lebih menekankan pada aspek beragamnya narasi yang ada di publik tentang isu-isu radikalisme, ekstremesme, dan terorisme dan kompleksnya masalah tersebut. Narasi yang berbahaya dibangun oleh kelompok-kelompok radikalis, ekstermis, dan teroris transnasional dan biasanya mengenai keadaan umat Islam yang tidak berdaya dan anjuran keterlibatan dalam kegiatan dan penyebaran ideologi mereka.

Kelompok-kelompok ini memanipulasi ajaran Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan menggunakan solidaritas umat sebagai dasar melakukan aksi teror terhadap pihak yang mereka tentang atau bahkan sesama muslim. Tugas mahasiswa dan santri, menurut beliau, adalah membangun awareness terhadap hal ini , menolak dan mencegah timbul dan meluasnya paham-paham yang berusaha merusak ideologi Pancasila ini.

KMNU IPB diharapkan menjadi pelopor dalam memberikan pencerahan pikiran terhadap para stakeholder di IPB mengenai trilogi  Ukhuwah Islamiah yang selama ini diusung Nahdlatul Ulama yaitu solidaritas sesama muslim, solidaritas sebangsa dan setanah air, serta solidaritas kemanusiaan bahkan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pandangan ukhuwah ini dapat diterapkan menjadi aksi konkret dalam konteks kehidupan mahasiswa sehari-hari di lingkungan kampus dan masyarakat. (HR)

Sabtu, (24/8) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama atau yang biasa disebut dengan KMNU IPB mengadakan sowan akbar pengurus Kabinet Darussalam di Kediaman Bapak Dr. Fahim Muhammad Taqi, Perumahan Taman Dramaga Permai, Dramaga, Kabupaten Bogor.

Sowan akbar diikuti oleh pengurus Kabinet Darussalam, dengan tujuan untuk menyambung tali silaturahmi.

Acara diawali dengan diskusi kecil antara Bapak Fahim dengan para pengurus Kabinet Darussalam. Pengurus tampak antusias dengan diskusi tersebut dan tentu banyak sekali ilmu yang bisa didapatkan.

“Kita harus selalu memupuk rasa militansi kita dan konsistensi kita agar NU tetap lestari di Bogor dan IPB pada khususnya” ujar Pak Fahim

Selanjutnya acara diakhiri dengan sholat maghrib berjama’ah dan doa bersama oleh Bapak Fahim.

Semoga acara ini menjadi berkah dan dapat memperkuat tali silaturahmi antara para pengurus dengan Bapak Fahim. Semoga berkah acara ini dapat menjadikan KMNU IPB lebih semangat menebar manfaat dan menebar dakwah ahlussunnah waljama’ah di kampus pertanian ini.

(sskdea)

Depok, Sabtu (24/8) – Pengurus Divisi Bisnis Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) Kabinet Darussalam telah melaksanakan kunjungan ke Kantor Kang Abdul Wahab (Kang Abdu) yang bertempat di Depok. Beliau merupakan pemenang dari ajang Santripreneur Award 2018 kategori kreatif. Kunjungan ini bertujuan untuk bersilaturrahim dan mengundang beliau menjadi pembicara dalam acara seminar talkshow kewirausahaan divisi bisnis KMNU IPB yang akan diselenggarakan pada September 2019. Dalam kunjungan ke kantor beliau, divisi bisnis KMNU IPB berkesempatan untuk melihat bisnis-bisnis yang dijalankan oleh Kang Abdu sekaligus belajar mengelola akun sosial media, editing video, dan belajar bagaimana menjadi admin yang baik dari Distro Kang Santri. Kunjungan ini diharapkan dapat menguatkan silaturrahim KMNU IPB dengan Kang Abdu. Selain itu, apa yang dipelajari dalam kunjungan ini dapat diterapkan oleh Divisi Bisnis KMNU IPB dalam menjalankan proker divisi bisnis kedepannya.

(HF)

 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor atau yang biasa disebut dengan KMNU IPB kini telah berganti kepengurusan.Tahun demi tahun terus berganti, begitu pula dengan kisah-kisah yang akan terukir nantinya dalam menjaga aqidah ahlusunnah wal jamaah di kampus pertanian ini. Setelah dilantik tanggal 25 November 2018, wajah-wajah baru telah bersedia untuk mengemban amanah dalam kepengurusan KMNU IPB selama satu tahun kedepan.
Kabinet Darussalam adalah nama yang dijadikan sebagai nama kabinet dalam kepengurusan KMNU IPB masa bhakti 2018/2019. Darussalam berasal dari bahasa arab yang bermakna Rumah Keselamatan. Harapannya keberadaan KMNU di IPB menjadi tempat singgah para pencari ilmu yang ingin selamat di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin
Semoga KMNU IPB terus istiqomah, ikhlas dalam menjalankan amanah, tetap bersemangat dalam berdakwah, berharap mendapatkan ridho Allah SWT, mendapat syafaat Rasulullah dan berkah dari para ulama. Aamiin (Sskdea)
Read more

BOGOR, Redaksi KMNU IPB- Selasa (29/5), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) telah menyelenggarakan acara Khotmil Qur’an sekaligus peresmian Majelis Huffadz KMNU IPB di Sekret KMNU IPB, Cangkurawok, Desa Dramaga, Bogor.

Acara dimulai tepat setelah subuh. Peserta membaca Al-Qur’an secara bergantian 30 Juz penuh hingga menjelang ashar. Acara kemudian dilanjutkan dengan do’a khotmil Qur’an, tahlil dan pembacaan maulid Ad-diba’i . Selepas Ashar, acara dilanjutkan dengan khataman kitab Al-Mawa’idz ‘Ushfuriyah (kajian pasaran Ramadhan KMNU IPB)  sekaligus tausiah oleh Ustadz Adhli Al-Qarni, S.E.

Usai Tausiah, acara dilanjutkan dengan sambutan sekaligus peresmian Majelis Huffadz oleh Zimamul Adli, S.Si sebagai founding father KMNU.  Beliau memberikan apresiasi kepada pengurus dan panitia penyelenggara acara tersebut dan menyarankan agar selalu menjaga koordinasi dengan pengurus lainnya bila mengalami kesulitan.

“Majelis Huffadz adalah sebagai wadah bagi Nahdliyin dan Nahdliyat dalam mempelajari, menghafal terlebih lagi mengamalkan Al-Qur’an. Majelis Huffadz KMNU IPB adalah majelis yang tetap menjaga kemurnian ajaran dengan menjaga sanad dari para guru.”, tambah beliau.

Mas Zimam, sapaan akrab beliau, juga menyarankan agar tetap menjaga tali silaturrahmi dengan guru-guru Ahli Qur’an.

Acara kemudian dilanjut buka bersama dan sholat magrib berjamaah dan ditutup dengan makan bersama untuk mendapatkan barokah khatmil qur’an. (Qishmah)