Kesejahteraan Hewan dalam Islam

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur perlindungan hewan telah disahkan.

Pada tahun 1967, seorang petani asal inggris dan seorang aktivis animal welfare, Peter robert, memprotes dan melawan tindakan kekerasan pada hewan dengan membentuk Compassion in World Farming. Tindakan Peter itu dilatarbelakangi oleh peternakan intensif broiler yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan.

Five of Freedom (FoF) (5 Kebebasan)

Puncaknya pada tahun 2004, Office International des Epizooties (OIE) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengeluarkan standar-standar animal welfare yang mengatur kondisi hewan di bawah pengaturan manusia. FoF yaitu:
1. Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
2. Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman)
3. Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan rasa sakit)
4. Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiahnya)
5. Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan penderitaan)

Islam Memperlakukan Hewan

Isam muncul pada abad ke-7 yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk memberikan rahmat (kasih sayang) kepada semesta alam seperti dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107. Definisi alam yg dimaksud disini adalah selain Allah. Jadi kasih sayang Nabi SAW kepada manusia, jin, hewan, tumbuhan, mikroba, virus, dan makhluk Allah yang lain.

Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan hewan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Allah. Islam memandang hewan dan makhluk hidup lain sebagai hamba Allah yang sama-sama beribadah kepada-Nya. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”

Islam memandang hewan secara proporsional, tidak seperti faham animal right yang melarang bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk konsumsi, pakaian, objek penelitian, dan pembebanan dalam suatu pekerjaan. Islam melegalkan bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk tujuan konsumsi, untuk kendaraan, atau untuk tujuan-tujuan lain. Ini dijelaskan oleh Allah dalam al-quran surat Ghofir Ayat 79-80:

“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan (79). Dan bagi kamu (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain padanya (hewan ternak itu) dan agar kamu mencapai suatu keperluan (tujuan) yang tersimpan dalam hatimu (dengan mengendarainya). Dan dengan mengendarai binatang-binatang itu, dan di atas kapal mereka diangkut (80).”

Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat hadist, dimana beliau mengasihi kucing, burung, anjing, dan hewan-hewan lain.

“Diriwayatkan dari Sa’ad Bin Jubair berkata: suatu ketika aku dihadapan Ibnu Umar, kemudian ada sekelompok orang lewat yang menjadikan sasaran lempar seekor ayam betina. Saat melihat ada Ibnu Umar, mereka berpisah menjauhinya. Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini ? Sesungguhnya Nabi SAW melaknat orang yang melalukan seperti ini (sasaran lempar) kepada hewan” (HR Bukhari No. 5515).

Pada abad ke-12 , jauh sebelum muncul isu animal welfare di barat, seorang ulama dengan gelar Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam telah merumuskan dan memerinci hak-hak hewan yang harus dipenuhi oleh manusia bila memeliharanya. Hal itu ditulis oleh beliau dalam sebuah kitab Qawaaid Al-Ahkam fi Mashaalih Al-Anam, Juz 1 Halaman 167:

ﺣﻘﻮﻕ البهائم ﻭاﻟﺤﻴﻮاﻥ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺯﻣﻨﺖ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻻ ﻳﺤﻤﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻄﻴﻖ ﻭﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺆﺫﻳﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺑﻜﺴﺮ ﺃﻭ ﻧﻄﺢ ﺃﻭ ﺟﺮﺡ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺇﺫا ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﻤﺰﻕ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺒﺮﺩ ﻭﺗﺰﻭﻝ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻭﺃﻻ ﻳﺬﺑﺢ ﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺑﻤﺮﺃﻯ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻔﺮﺩﻫﺎ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﺒﺎﺭﻛﻬﺎ ﻭﺃﻋﻄﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺫﻛﻮﺭﻫﺎ ﻭﺇﻧﺎﺛﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﺑﺎﻥ ﺇﺗﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺬﻑ ﺻﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺮﻣﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻪ ﺃﻭ ﻳﺮﺩﻳﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺤﻠﻞ ﻟﺤﻤﻪ.

Hak-hak hewan ternak atas manusia yaitu:

  1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari jenis hewan-hewan tersebut, walaupun hewan-hewan tersebut telah menua atau sakit yang tidak dapat diambil manfaatnya;
  2. tidak membebani hewan-hewan tersebut melebihi batas kemampuannya;
  3. tidak mengumpulkan di antara hewan tersebut atau antara hal-hal yang membuat hewan tersebut terluka, baik dari jenisnya atau selain dari jenisnya dengan mematahkan tulangnya, menusuk, atau melukainya;
  4. menyembelihnya dengan baik jika menyembelihnya, tidak menguliti kulitnya dan tidak pula mematahkan tulang hingga hewan tersebut menjadi dingin dan hilang hidupnya, tidak menyembelih anak hewan tersebut di depannya, namun mengisolasinya;
  5. membuat nyaman kandang dan tempat minumnya,
  6. menyatukan antara jantan dan betina bila telah datang musim kawin;
  7. tidak membuang buruannya,
  8. tidak menembak dengan apapaun yang mematahkan tulangnya atau membunuhnya dengan benda-benda yang menyebabkan tidak halal dagingnya.

Korelasi Animal Welfare dan Syariat Islam

Bila kita mencermati isi dalam five of freedom dengan nash-nash dalam alqur’an, hadist, atupun hukum fiqih pada uraian di atas tidak bertentangan. Keduanya sejalan dalam konteks memerlakukan hewan. Oleh karena itu, animal welfare yang dalam hal ini direpresentasikan dengan FoF tidak bertentangan dengan syariat islam dan bahkan sejalan dengan syariat islam.

Hamzah Alfarisi
(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB & Khadim Ma’had Jawi)

RAPID TEST COVID-19, EFEKTIFKAH?

WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemik pada 12 Maret 2020. Hanya butuh waktu 4 bulan sejak kasus pertama di Cina, COVID-19 dinyatakan sebagai pandemik. Dalam waktu 4 bulan pula, virus yang disebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) itu sampai di Indonesia. Berawal dari dua orang di daerah Depok yang dinyatakan positif COVID-19, kini COVID-19 telah menjadi wabah di Indonesia. Hingga 14 Mei 2020, 16.006 lebih dikonfirmasi positif, 3.518 diantaranya dinyatakan sembuh, dan 1.043 meninggal.

Apa itu Coronavirus?

Coronavirus adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm. Sebelum terjadinya wabah COVID-19, ada 6 jenis coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu alphacoronavirus 229E, alphacoronavirus NL63, betacoronavirus OC43, betacoronavirus HKU1, Severe Acute Respiratory Illness Coronavirus (SARS-CoV), dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2.

Gejala Infeksi SARS-CoV-2

Gejala yang timbul pada pasien terinfeksi SARS-Cov-2 sangat beragam dan cenderung tidak menimbulkan gejala spesifik. Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak napas. Gejala yang paling sering ditemukan adalah demam, batuk kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva. Sulitnya menentukan gejala spesifik ini berakibat pada sulitnya diagnosis COVID-19. Hingga saat ini, hanya ada dua cara yang digunakan yaitu uji virologi dan uji serologi.

Uji Virologi dalam Diagnosis Covid-19

Uji virologi merupakan uji yang direkomendasikan oleh WHO dan dianggap sebagai kontrol utama dalam diagnosis Covid-19. Uji virologi merupakan uji yang bertujuan untuk mengindentifikasi adanya virus dalam sampel. Metode yang direkomendasikan untuk uji virologi Covid-19 adalah amplifikasi asam nukleat dengan real-time Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR). Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2; atau rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2.

Walaupun hasil pengujian dengan rRT PCR ini dinilai paling akurat, namun selalu ada harga dibalik itu. Uji rRT PCR hanya dapat dilakukan jika telah memenuhi standar, terutama terkait fasilitas. Pengerjaan pemeriksaan molekuler membutuhkan fasilitas dengan biosafety level 2 (BSL-2), sementara untuk kultur minimal BSL-3. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan terbilang jarang terdapat pada lab penelitian di Indonesia. Hal ini menyebabkan ongkos untuk pengujian ini mahal, sekitar Rp 700 ribu per sampel. Waktu pengerjaannya juga terbilang lama. Setidaknya diperlukan waktu 6-7 jam untuk satu sampel. Beberapa alasan tersebut membuat metode rRT PCR kurang sesuai jika dijadikan satu-satunya pengujian terhadap Covid-19. Namun, metode rRT PCR dapat dijadikan pengujian lanjutan serta sebagai kontrol terhadap pengujian lainnya.

Selain uji virologi, terdapat uji serologis yang dapat digunakan dalam diagnosis Covid-19. Uji serologi dilakukan berdasarkan ikatan antigen-antibodi. Metode ini dapat mendeteksi adanya antibodi atau antigen yang terdapat dalam tubuh. Pada umumnya, uji serologis menggunakan sebuah label agar dapat diamati. Hal ini dikarenakan ikatan antigen-antibodi sangat sulit diamati. Perbedaan label ini menghasilkan beberapa teknik serologis yang berbeda. Beberapa label yang diguakan dalam uji serologis ialah enzim (ELISA/EIA), senyawa berfluoresen (IFA), senyawa radioaktif (RIA), dan luminescence (LIA).

Uji serologis dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi yang terbentuk dalam tubuh yang terinfeksi SARS-CoV-2. Antibodi tersebut dibentuk sebagai respon imun tubuh terhadap infeksi SARS-CoV-2. Sejauh ini pengujian serologis Covid-19 dilakukan dengan Immunochromatography (ICT), dimana sampel dibiarkan mengalir melalui sebuah penanda yang terdapat antigen. Jika sampel mengandung antibodi maka reaksi antibodi-antigen akan terjadi dan menghasilkan label yang dapat diamati (umumnya berupa strip berwarna). Proses pengujian serologis ini terbilang cepat yakni hanya butuh 10 menit untuk mendapatkan hasil. Oleh karena itu, pengujian ini dikenal dengan nama Rapid Test. Ongkos pengujian rapid test terbilang jauh lebih murah dibandingkan metode rRT PCR. Tempat pengujian juga tidak terlalu spesifik. Pengujian dapat dilakukan dimanapun, termasuk semua fasilitas kesehatan yang ada. Beberapa faktor tersebut menjadikan rapid test sebagai pengujian yang cukup efektif diterapkan di tengah pandemik.

Rapid test untuk Covid-19 menggunakan kit yang mengandung anti-IgM dan anti-IgG yang akan bereaksi dengan IgM dan IgG dari sampel. IgM dan IgG merupakan salah satu jenis antibodi yang diproduksi oleh tubuh manusia. Keduanya dipilih menjadi indikator dalam diagnosis Covid-19 karena kedua antibodi tersebut yang paling cepat dibentuk ketika ada infeksi. IgM dibentuk sekitar 3-6 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dibentuk 8 hari setelah infeksi. Selain itu, antibodi tersebut tidak langsung hilang seiring hilangnya virus dalam tubuh. Pada dasarnya, rapid test digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk, bukan mendeteksi virus SARS-CoV-2. Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi hasil dari pengujian, misalnya terdapat istilah false positive dan false negative.

False positive adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang dinyatakan positif namun sebenarnya tidak ada virus dalam tubuh sesorang tersebut. Hal ini tentu saja dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah virus itu hilang dari tubuh. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak akan langsung hilang seiring hilangnya infeksi virus.

False negative adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang negatif namun sebenarnya orang tersebut tengah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Hal ini dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah infeksi virus namun sebelum terbentuknya antibodi. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak terbentuk seketika saat infeksi, namun beberapa hari setelah infeksi.

Strategi dalam Uji dan Diagnosis Covid-19

Terdapat cara untuk menanggulangi beberapa kekurangan dari masing-masing metode. Cara yang dapat ditempuh ialah melakukan rapid test sebagai pengujian awal. Jika hasil rapid test positif, maka dilanjut dengan pengujian dengan rRT PCR. Hal ini untuk mencegah terjadinya false positive. Jika hasil rapid test negatif, maka ditunggu sekitar satu minggu kemudian dilakukan pengujian ulang dengan rapid test. Hal ini untuk mencegah terjadinya false negative. Selain itu, pengujian harus dilakukan secara masif dan menyeluruh. Pengujian harus dilakukan kepada setiap individu dalam satu populasi agar dapat mendapat gambaran penyebaran secara komprehensif.

Referensi:

Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan, Sinto R, Singh G, Nainggolan L, Nelwan EL, et al. 2020. Coronavirus disease 2019: review of current literatures. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 7(1): 45-67.

Li Z, Yi Y, Luo X, Xiong N, Liu Y, Li S, Sun R, Wang Y, Hu B, Chen W, et al. 2020. Development and clinical application of a rapid IgM-IgG combined antibody test for SARS-CoV-2 infection diagnosis. Journal of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25727.

Tulisan oleh Aziz Syamsul Huda, mahasiswa departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor.

Benarkah Minum Teh setelah Makan?

Minum teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Bahkan, tidak lengkap rasanya bila makan tanpa teh. Namun, apakah kalian tahu bahwa teh mengandung senyawa tertentu yang dapat mengganggu kerja usus ?

Sejarah Teh dan Macam-macamnya
Teh dengan nama ilmiah Camellia sinensis berasal dari Tiongkok. Kemudian, teh sampai ke indoneisa diibawa oleh Andreas Cleyer pada tahun 1664 dan ditanaman dalam skala besar di kebun Percobaan Cisurupan, Jawa Barat.

Teh berdasarkan tingkat oksidasinya dikelompokkan menjadi empat yaitu, teh putih, teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. (1) Teh putih dibuat dari pucuk daun yang tidak teroksidasi. (2) Teh hijau dibuat dari pucuk daun yang mengalami proses oksidasi secara minimal dan dihentikan dengan proses pemanasan.

(3) Teh olong yaitu daun teh yang dibuat dengan cara mengoksidasi dengan kadar oksidasi antara teh hijau dan teh hitam. (4) Teh hitam adalah daun teh yang dioksidasi secara penuh (hampir 100%) sekitar dua minggu hingga satu bulan.

Pengaruh Teh Terhadap Aktivitas Enzim Pencernaan

Enzim pencernaan berfungsi untuk membantu proses pencernaan dalam tubuh. Untuk memahaminya, kita perlu paham tentang proses pencernaan terlebih dahulu. Selanjutnya, kita bahas pengaruh teh terhadap proses pencernaan baik pada pada kondisi sehat atau pada penyakit, khususnya diabetes.

Proses Pencernaan Karbohidrat
Makanan yang kita konsumsi seperti nasi mengandung karbohidrat kompleks. Karbohidrat di dalam mulut akan dipecah oleh enzim alfa-amilase menjadi disakarida atau oligosakarida. Setelah itu, keduanya akan ditelan dan melewati kerongkongan, lambung, dan usus. Di usus halus (intestinum), disakarida atau oligosakarida selanjutnya akan dipecah oleh enzim alfa-glukosidase menjadi monosakarida yaitu glukosa.

Glukosa akan diserap (absorbsi) oleh usus halus dan kemudian masuk ke pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Dari penjelasan singkat ini, ada dua enzim kunci dalam pencernaan karbohidrat yaitu enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase. Tanpa kedua enzim tersebut, karbohidrat komplek tidak dapat diserap oleh tubuh.

Pengaruh Teh pada Orang Sehat

Berdasarkan hasil penelitian, seluruh jenis esktrak teh dapat menghambat kerja dua enzim kunci tersebut. Berdasarkan penelitian Jungbae Oh dkk (2015), teh mampu menghambat kerja enzim glukosidase dan alfa-amilase yang menganggu proses pencernaan karbohidrat. Daya hambat tertinggi ditunjukkan secara berurutan oleh teh hitam, teh oolong, dan teh hijau.

Menurut hasil penelitian Satoh dkk (2015) dari Hokkaido Pharmaceutical University School of Pharmacy mengungkapkan bahwa ekstrak teh mengandung senyawa phloretin dan phloridzin yang menganggu masuknya glukosa ke dalam usus.

Pada orang sehat, konsumsi teh dengan jumlah yg berlebihan dapat menggangu penyerapan glukosa ke usus. Namun, penghambatan masuknya glukosa ke dalam usus ini bermanfaat bagi seseorang yang sedang menjalankan program diet atau penderita diabetes.

Pengaruh Teh pada Penderita Diabetes

Pada orang sehat, meminum teh dapat menggangu penyerapan glukosa, namun justru pada penderita diabetes sangat bermanfaat. Mengapa? Karena penderita diabetes terjadi gangguan penyerapan glukosa oleh tubuh yang menyebabkan kadar glukosa yang tinggi di dalam darah.

Kadar glukosa tinggi ini dapat memperburuk penyakit diabetes yang dapat menstimulasi komplikasi. Oleh karena itu, minum teh sebelum atau bersamaan dengan mengkonsumsi karbohidrat dapat menghambat kerja enzim alfa-glukosidase dan alfa-amilase yang menyebabkan penyerapan glukosa terganggu dan kenaikan kadar glukosa darah dapat dicegah. Oleh karena itu, minum bermanfaat bagi penderita diabetes untuk mencegah naiknya kadar glukosa dalam darah.

Hamzah Alfarisi
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB

Cara Tarawih #dirumahaja

Ramadhan kali in dunia sedang berada di masa pandemi. Imbauan-imbauan beribadah #dirumahaja di media massa demi menekan laju penyebaran Covid-19. Begitu pula, salat tarawih yang biasa dilakukan di surau-surau bergeser menjadi #dirumahaja. Salat tarawih dapat dikerjakan secara munfarid (individu) ataupun secara berjamah. Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang jumlah rakaat sholat tarawih, yaitu 8 rakaat atau 20 rakaat. Dua pendapat tersebut sama-sama memiliki dalil yang kuat. Pelaksanaan shalat tarawih dapat dilakukan 2 rakaat salam atau 4 rakaat salam, namun madzhab Syafi’i menguatkan pendapat pelaksanaan tarawih dengan 2 rakaat salam.

Dalam Tuntunan Ibadah pada bulan Ramadhan di Masa Darurat COVID-19 (2020) oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (hlm. 43), pendapat bahwa salat tarawih dikerjakan 8 rakaat merujuk pada riwayat Aisyah bahwa Nabi SAW: “tidak pernah melakukan salat sunah di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Maksud salat empat rakaat sebanyak dua kali dalam hadis di atas adalah sholat tarawih. Adapun tiga rakaat setelahnya adalah salat witir. Sementara dalam Buku Saku Ramadan karya Ma’ruf Khozin, dalil salat tarawih 20 rakaat merujuk pada riwayat 4 tabiin, yaitu Said bin Yazid, Yazid bin Rauman, Yahya bin Said al-Qathan, dan Abdul Aziz bin Rafi’. Adapun riwayat Yazid bin Rauman berbunyi, “Umat Islam di masa (Khalifah) Umar bin Khattab RA beribadah di malam bulan Ramadan dengan 23 rakaat.” Maksud dari 23 rakaat dalam riwayat di atas adalah 20 rakaat untuk sholat tarawih dan tiga rakaat salat witir. Biasanya, tarawih 20 rakaat dikerjakan dengan melakukan sholat 2 rakaat sebanyak 10 kali. Kemudian, sholat witir dilaksanakan dua kali, masing-masing 2 rakaat dan 1 rakaat.

Umat muslim yang melaksanakan sholat tarawih berjamaah di rumah dipersilakan untuk mengikuti dua pendapat mengenai jumlah rakaat sholat tarawih di atas, sesuai dengan keyakinannya.

Urutan tata cara salat tarawih berjamaah adalah sebagai berikut:
a) Mengucapkan niat sholat tarawih sesuai dengan posisinya, sebagai imam atau makmum (sunnah)
b) Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram
c) Mengucap takbir saat takbiratul ihram
d) Membaca Surat Al-Fatihah dan kemudian membaca salah satu surat dalam Al-Qur’an (sunnah)
e) Rukuk
f) Itidal
g) Sujud pertama
h) Duduk di antara dua sujud
i) Sujud kedua
j) Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua (sunnah)
k) Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama
l) Salam pada rakaat kedua/rakaat keempat.

Shalat Jama’ah Online, Bolehkah?

Masa pandemi COVID-19 membuat aktivitas yang umumnya bertatap muka beralih ke media daring seperti rapat, kuliah, bahkan mengaji. Namun, apakah kegiatan peribadatan seperti shalat berjamaah dapat dilakukan secara daring atau online?

Dalam Kifayatu Al-Akhyat (hlm 168-168), shalat dianggap sah bila:

1. Makmum mengetahui shalatnya imam.
Artinya makmum mengetahui pergerakannya imam secara langsung. Ini sudah dinash oleh imam Syafi’i dan sudah sepakat para ashbab syafi’i. Sedangkan batasan ‘mengetahui’ disini yaitu bisa dengan melihat imam secara langsung, melihat sebagian shaf, atau mendengarkan suaranya muballigh (penerus suara imam).

2. Makmum tidak berada di posisi yang mendahului imam.
Bila seorang makmum berada di posisi yang mendahului imam maka shalatnya batal menurut qoul jadid, seperti halnya keharama mendahului dalam gerakannya (imam). Bila posisi yg mendahului imam tersebut di tengah-tengah shalat terdapat khilaf. Pertama berpendapat sah dan ini adalah pendapat sahih. Kedua berpendapat batal. Bagaimana kalau sejajar ? Menurut Ibnu Rif’ah tidak apa-apa.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kondisi makmum ini ada 3 keadaan:
1. Imam dan makmum di luar masjid
2. Imam di dalam masjid dan makmum di luar masjid
3. Imam dan makmum di dalam masjid.

Kondisi ke-3
Bila imam dan makmum sama sama berada dalam masjid maka hukumnya sah shalatnya makmum, baik shafnya terputus atau bersambung, sama juga (tetap sah) antara imam dan makmum terdapat penghalang atau tidak. Sama juga sah, keduanya berkumpul di satu tempat atau tidak. Bahkan, bila imam salat di atas menara dan makmum di dalam sumur, atau sebaliknya, jamaahnya tetap sah, karena keduanya berada dalam satu tempat, yaitu masjid.

Kondisi ke-2
Bila imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka jamaahnya sah, dengan syarat jaraknya tidak lebih dari 300 dzira’ (hasta) (kurang lebih 144 m, dengan asumsi 1 dzira’=48 cm). Jarak ini diukur dari posisi terakhir masjid menurut pendapat yang sahih.

Imam Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah menjelaskan bila makmum berada di jalan yang bersambung dengan masjid maka dihukumi seperti tanah kosong menurut qoul sahih.

Kondisi ke-1
Imam dan makmum berada di luar masjid ada dua keadaan: (1) ruang terbuka, (2) ruang tidak terbuka. Bila di ruang terbuka maka jamaahnya sah dengan syarat tidak lebih dari 300 dzira’. Ruang tidak terbuka yang dimaksud seperti imam berdiri di halaman rumah dan makmum di rumah yang lain, atau keduanya berada di madrasah/rubath yang mencakup rumah-rumah. Maka imam berdiri di serambi dan makmum membuat shaf di belakangnya di serambi makmum.

Jadi kesimpulannya, apakah boleh jamaah online, imam berada di masjid memandu dengan speaker dan jamaah di rumahnya masing-masing?

Jawabannya tidak sah jamaahnya, karena
1. Makmum tidak mengetahui shalatnya imam atau mengetahui makmum yg tahu shalatnya imam,
2. Imam dan makmum berada di tempat yg berbeda-beda yg tidak pada kondisi 3, saling terpisah, dan tidak tahu satu dengan yg lain,
3. Posisi makmum juga tidak diketahui apakah di depan, di samping, atau di belakang imam.

Hamzah Alfarisi
(Khodim Ma’had Jawi)

Hal yang Bisa Dilakukan Ketika #dirumahaja

#dirumahaja merupakan opsi terbaik untuk menghadapi wabah covid-19. Selain menjaga diri sendiri yang terpenting adalah menjaga orang lain agar tidak tertulari virus yang mungkin kita bawa. Nah, selama di rumah hal apa saja yang bisa kita lakukan?

Bekerja dari Rumah (WFH)

Perlu diingat bahwa work from home ini tidak bisa dilakukan semua orang meskipun menjaga diri dan orang lain adalah kewajiban setiap umat. Hal ini dikarenakan tidak semua orang bekerja di tempat yang memperbolehkan pekerjanya bekerja dari rumah. Nah untuk pekerjaannya harus keluar rumah tetap waspada ya. Selain hati, ada kesehatan juga yang harus dijaga.

Belajar dan Ujian dari Rumah

#dirumahaja bukan berarti libur corona ya gaes. Kampus tidak meliburkan mahasiswanya, namun mengganti metode belajar menjadi daring. UKT yang sudah dibayar jangan sampai disia-siakan dengan malas-malasan.

Mengirim Artikel ke Redaksi KMNU IPB

Berkarya tidak harus dengan menulis artikel lalu mengirimkannya ke redaksi KMNU IPB, tetapi ini adalah opsi. Kamu juga bisa berkarya sesuai hobimu, bisa dengan buat desain-desain, gambar, video, atau yang lainnya sesuai hobimu.

Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Pola hidup bersih dan sehat dapat diterapkan dengan cara-cara sederhana dan dimulai dari lingkungan rumah anda seperti mencuci tangan, menjaga kebersihat toilet, menjaga kebersihat mulut, dan menjaga kebersihan badan.

Menonton Video di YouTube

Daripada gabut ­­ra jelas, mending kita isi waktu kita dengan menonton video-video yang bermanfaat di YouTube. Rekomendasinya untuk yang suka sesuatu yang berbau sosial-kreatif kalian bisa buka kanal Froyonion dan cretivox. Untuk yang suka podcast bisa mampir ke kanal Youtube-nya Deddy Corbuzier dan Raditya Dika. Jika kamu menyukai hal yang berbau klenik tapi mengandung unsur sejarah silahkan ke Kisah Tanah Jawa. Terakhir jika kamu tidak mempunyai kuota internet silahkan membeli terlebih dahulu, jangan sampai kamu membuka dan menunggu video berputar sampek tuwek tetapi tidak mempunyai paket internet. Karena sesungguhnya anda telah melakukan sesuatu yang tidak berguna.

Membaca Qur’an

Qur’an merupakan obat hati dari Allah SWT yang sangat ampuh menyembuhkan penyakit hati. Karena selain jasadmu yang harus sehat, hatimu juga harus sehat. Apalagi untuk para jomblo, hati itu ibarat rumah. Jika rumahmu kotor dan rusak siapa yang akan mau menetap, begitupun dengan hati.

Membaca Buku

Membaca adalah hal penting dalam kehidupan manusia untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan informasi. Buku sebagai jendela dunia pasti sudah tidak asing lagi, karena dengan buku, pembaca seakan dapat menikmati pengalaman di dunia lain, di dunia yang ia tak pernah pijakan kakinya tetapi dapat ia rasakan dan pikirkan, dan, tentu saja dapat diambil manfaatnya. Namun buku juga dapat menjadi pulau-pulau jika dipakai untuk bantalan.

Sesuaikan dengan Kebutuhan Kamu

Setiap orang tentunya mempunyai aktifitas dan kebutuhan yang berbeda-beda. Jadi tetaplah melakukan kegiatan makan, minum, mandi, dan rebahan di rumah masing-masing.

Selalu Memberi Kabar Kepada Keluarga

 source : titikdua.net

Kominfo/MA

Mengenal Karakteristik Corona virus

Corona virus (virus corona) mampu bertahan di udara hingga 3 jam, di atas tembaga bertahan 4 jam, dan di atas kardus selama 24 jam. Coronavirus mampu bertahan di permukaan seperti plastik, stainless steel selama 3 hari. Jika COVID-19 sama dengan coronavirus yang lain seperti SARS atau MERS, ia mampu bertahan di permukaan seperti kaca dan metal selama 9 hari.

Menariknya, sangat sedikit bayi yang baru lahir nampaknya sakit karena coronavirus yang baru. Bayi yang berumur 1-11 bulan kurang mudah diserang dengan virus ini. Hal ini diduga karena paru-parunya belum mengekspresikan reseptor tertentu yang berfungsi sebagai jalan masuknya virus ke dalam paru-paru.

Infeksi menimbulkan risiko yang besar untuk orang yang berumur lebih dari 60 tahun. Hal ini karena berhubungan dengan sistem kekebalan tubunya yang lemah. Selain itu, juga meningkatkan inflamasi yang dapat meningkatkan replikasi virus.

Salah satu studi menunjukkan bahwa pasien yang menderita diabetes atau gangguan jantung koroner cenderung meninggal akibat infeksi COVID-19. Studi lain mengungkapkan bahwa bila rekomendasi karantina selama 14 hari adalah layak, sebesar 1% akan mengalami gejala setelah selesai dari karantina 14 hari, yang menjelaskan mengapa beberapa tes positif yang dipulihkan untuk virus nanti

Dokter menemukan bahwa beberapa pasien yang sembuh mungkin mengalami penurunan fungsi paru-paru. Kapasitas paru-paru menurun dari 20-30% sampai 3 pasien. Mereka terengah-engah jika mereka berjalan cepat.

Studi yang masih menjadi kontroversi menyatakan bahwa coronavirus bermutasi menjadi 2 galur, yaitu tipe L dan S. Tipe L merupakan galur baru dan lebih agresif dari pada tipe S. Seseorang dengan gejala menengah tampaknya diinfeksi oleh tipe S, sedangkan gejala parah diinfeksi oleh tipe L. Sekitar 70% infeksi adalah agresif dan disebabkan oleh tipe L. Para ahli menarik klaim ini karena itu mungkin dihasilkan dari kesalahan pada analisis data. Jika virus terus menerus bermutasi, semua usaha untuk membuat vaksin akan sia-sia.

Berdasarkan studi yang lain , penempatan Wuhan di bawah penguncian di akhir januari membantu memperlambat penyebaran infeksi COVID-19 sekitar 80%. Studi mendorong perubahan perilaku dan intervensi kesehatan publik, seperti deteksi awal, isolasi, dan cuci tangan secara reguler

Beberapa studi mengkalim bahwa suhu dan kelembapan yang tinggi mungkin menurunkan transmisi COVID-19, mengindikasikan bahwa tibanya musim panas dan musim penghujan pada belahan bumi utara dapat menurunkan transmisi COVID-19.

Alih bahasa : @alfarisi_hamzah
Sumber: video Hashem Al-Ghaili, fb.com/sciencenaturepage