Dewasa ini, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan suatu organisasi masyarakat yang gerakannya mengarah kepada bidang keagamaan. Tujuan NU secara garis besar yaitu “Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan tujuan yang cenderung mengarah kepada dakwah, bukan berarti NU lepas tanggung jawab di bidang pendidikan.

Tepat satu dekade sebelum berdirinya NU, berdiri sebuah lembaga pendidikan agama yang bernama “Nahdlatul Wathan” ( kebangkitan bangsa) di Surabaya. Nahdlatul wathan digagas oleh KH. Wahab Hasbullah dan Kyai Mas Mansyur. Nahdlatul wathan bertujuan untuk memperluas dan meningkatkan mutu pendidikan yang dilaksanakan di sekolah atau madrasah.

Berawal dari organisasi inilah disebutkan bahwa cikal bakal Nahdlatul Ulama pada mulanya berasal dari suatu lembaga pendidikan. Sebab itulah, NU mempunyai tanggung jawab besar terhadap pendidikan di negeri ini. Dari awal berdirinya, NU sudah berusaha untuk menciptakan sekolah atau madrasah yang baik dimana merupakan program permanen Nahdlatul Ulama di samping Pondok Pesantren yang merupakan pendidikan non-formal.

Latar belakang itulah yang mendorong dan memotivasi seorang Muhammad Zakiyuddin Siroj (Zaky) untuk memajukan pendidikan anak-anak yang tinggal di sekitar kampus IPB. Kesadaran dan kepeduliannya tersebut tak lepas dari latar belakang dirinya sendiri yang merupakan seorang Nahdliyin sekaligus seorang mahasiswa IPB.

Oleh karena itu, ia merasa turut mengemban tanggung jawab seorang nahdliyin untuk memberikan pendidikan anak yatim dan anak-anak kurang mampu di sekitaran tempatnya tholabull ‘ilmi yaitu di IPB University. Semangat pengabdian Zaky pada awalnya bermula saat ia diajak oleh salah satu seniornya di KMNU IPB yang bernama mas Jose.

Mas jose merupakan mahasiswa IPB dan salah satu pengurus KMNU IPB di divisi eksternal KMNU 2018/2019. Pada mulanya Zaky belum ada ketertarikan untuk mengabdi di bidang pendidikan, namun setelah terjun dan merasakan langsung ia kemudian tertarik dan menyadari bahwa berbagi ilmu itu menyenangkan. Sampai sekarang, setidaknya sudah ada 3 tempat pengabdian yang dikelola oleh Zaky. Salah satunya adalah Nahdlatul Athfal ( NA).

Menurut Zaky, pengabdian adalah tanggung jawab moral yang harus tuntaskan. “Sebagai mahasiswa, kita mempunyai tugas dan kewajiban itu, jadi apa yang saya lakukan sekarang sudah sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi. Untuk waktu dekat, saya akan melakukan pengkaderan kepada adik tingkat IPB agar bisa meneruskan pengabdian ini, ya ada saatnya saya harus pensiun dan akan mewariskan ini sebagaimana mas Jose melakukannya tahun lalu” tambahnya.

Zaky berpesan “Ya, sebagai kader muda NU gak boleh tutup mata atas pendidikan yang ada di Indonesia, tidak peduli apapun profesinya, sebagai pemuda kita harus memperjuangkan pendidikan terutama bagi kalangan yang kurang mampu. Bagi para nahdliyin yang sedang menjadi mahasiswa di IPB, monggo bergabung dengan saya di KMNU karena kita punya tanggung jawab moral terhadap pendidikan yang ada di Indonesia”.

Jujur ketika saya masih kecil, saya suka sekali dengan cerita cerita bernafaskan islami, mulai dari sejarah sejarahnya, hingga shirah nabawiyah, dan salah satu tokoh sahabat yang saya idolakan adalah Sayyidina Umar Ibn Khattab yang menurut saya beliau adalah salah satu santri dari Kanjeng Nabi. Bahkan saya ada kepikiran bagaimana agar Islam ini diterima seluruh manusia tanpa terkecuali, bukan main pemikiran saya waktu kecil, sangat muluk muluk dan sangat minim literasi, ya maklum namanya juga anak kecil, yang Alhamdulillah memiliki Ghirah yang sangat tinggi terhadap agama yang saya anut.

Saya waktu TK mengaji di pengajian yang berada di lingkungan Muhammadiyah yang masuknya hanya setiap sore jam 3 sore selesai jam 5. Mulai dari belajar alif, ba, ta, dst. Masuk SD saya bertemu dengan guru agama yang bisa dibilang NU kenthel, Pak B namanya, semakin saya senang dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sempat ketika itu saya pikirkan. Mengapa mata pelajarannya adalah “pendidikan” bukan pengajaran? Pertanyaan itu terjawab oleh beliau, tanpa saya tanyakan terlebih dahulu. Bahwa beda jauh antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan tidak sekadar mengajar di lebih dari itu,jauh makna harfiahnya dari pengajaran, pendidikan itu yang ngemong, ya bersopan, ya bersantun, ya bertata, ya berkrama, ya belajar, ya memahami, ya memaknai, dan sangat luas artinya. Pada intinya pengajaran/pelajaran adalah secuil arti (bukan makna) dari pendidikan. Dari uraian yang singkat dari Guru tersebut saya sangat tertarik dengan pesantren akhirnya.

Iya pesantren, saya punya cita cita besar untuk menjadi seorang santri, namun saya selalu tidak mampu menempuhnya saya rasa. Saya selalu segan menjadi santri. Dulu selepas SD saya sempat punya keinginan 50% masuk di pesantren dan menjadi santri. Ketika itu ayah saya (Allahumaghfirlah) menyarankan saya untuk masuk Gontor saja kalo pingin jadi santri. Tetapi harapan saya adalah di Lirboyo. Kenapa di Lirboyo? Ya jelas, karena guru SD saya nyantri di Lirboyo, saya sangat takjub dengan Lirboyo, tidak tanggung tanggung, bahkan saya mengidolakan tokoh tokohnya, seperti Kiai Agus Maksum Jauhari, Wali Pendekar dari Lirboyo.

Ya, saya sangat mengagumi pesantren, tetapi seperti terjadinya hari ini, saya bukanlah santri. Jadi, saya malu terhadap para santri santri. Saya selalu takdim pada para santri santri, karena jujur menjadi santri bagi saya adalah suatu tugas yang berat. Iya itu tadi, menjadi santri harus bersedia dididik, yang mana saya belum tentu bisa mengiyakan semua pendidikan di pesantren, walaupun saya tahu itu baik dan bagus. Seperti menghafal Alquran, muroti, bandongan, dsb itu sangat bagus. Tetapi saya merasa mungkin saya tidak sanggup melakoninya. Kemudian saya masuk SMP, suatu hal yang baru karena baru lulus dari SD, saya dididik oleh Bu Nurul, Guru Agama masa SMP, juga seperti Pak Bahrun, Bu Nurul adalah NU kenthel. Saya semakin takjub dengan pendidikan santri, padahal saya berada di lingkungan SMP, saya semakin malu dengan para santri, yang ya bisa dikata, SMP mulai tergerus akhlaknya, dan ini membuat saya seharusnya mawas diri. SMP memberi kenangan untuk menjadi siswa. Iya siswa yang sedikit mbalelo, karena itu adalah watak saya, yang tidak jarang mbalelo terhadap guru saya.

Selepas lulus SMP, ternyata teman teman saya ada yang meneruskan nyantri, bahkan adik kelas saya ada yang juga nyantri. Nyantri di Gontor tepatnya, saya tertegun dan malu. Masuk SMA, seperti biasa, yang saya sukai adalah pelajaran sejarah dan matematika, namun saya masuk MIPA, karena saya suka matematika, dan menurut saya, sejarah dapat dipelajari lebih secara otodidak dengan banyak membaca. Benar saya masuk MIPA, tetapi saya masih sangat doyan dengan sejarah, pelajaran sejarah bisa dibilang saya sangat menyukainya, hanya satu tahun saya tidak menyukai sejarah, lebih dikarenakan cara mengajar pengajarnya yang terlalu melihat tulisan daripada memahami tulisan, saya sangat membenci hal tersebut. Tetapi mau dikata apa? Pengajar lebih berkuasa daripada siswanya. Setelah itu saya mulai menikmati sejarah seperti  air kelapa yang masuk ke dalam kerongkongan, segar dan tanpa hambatan. Memahami sejarah begitu mudah dan menyenankan dengan Bu Sumilah sebagai gurunya. Mengalir dan mengalir.

Selepas SMA, saya kuliah di Peternakan, masih sangat suka dengan sejarah, hingga saya membeli buku Atlas Walisongo, tulisan dari Kiai Agus Sunyoto, yaitu Ketua LESBUMI NU. Dalam buku tersebut dijelaskan, siapa santri sebenarnya? Dari mana asal kata santri sebenarnya? Saya baca dan ternyata santri berasal dari kata sastri, sastri berasal dari sastra, jelas sudahlah bahwa santri bermakna pembelajar sastra. Ini merupakan pengertian yang tinggi, sastra tidak hanya mencakup tulisan-tulisan indah namun juga berisi makna yang mendalam. Suluk dalam budaya jawa merupakan sastra, tembang juga merupakan sastra, pantun juga merupakan sastra. Jadi, santri ini sangat sangat luas cakupannya, seperti yang saya tuliskan di paragraf pertama, tidak hanya belajar, tetapi juga bersantun, bersopan, dst. Semakin malu dan takdim terhadap santri. Saya dengan teman teman saya yang dari pesantren, saya selalu merasa takdim dan hormat. Tidak peduli itu adik tingkat saya waktu kuliah. Saya takdim terhadap para santri, terlebih lagi, memang pesantren selalu mengmbangkan santri santri yang kondang kapracondang, dan tak jarang memiliki aji yang linuwih. Seperti Gus Dur, Gus Mus, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Habib Luthfi, Cak Nun, dan Cak Nur. Di kontrakan saya juga adalah lulusan pesantren dan saya kalau orang barat simbol penghormatan adalah angkat topi, saya angkat blangkon dalam batin saya. Hingga sekarang, salah satu cita-cita saya masih sama, menjadi santri.

Tulisan oleh Gandawastraatmaja

KMNU IPB- Perkembangan era globalisasi sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di zaman ini. Berbagai tata cara, pola hidup dan pandangan sosial turut serta mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Di tengah menggeliatnya perkembangan zaman itu, ternyata  masih terdapat masyarakat yang mempertahankan pola kehidupan dengan paradigma kearifan lokal. Biasanya masyarakat tersebut akan beranggapan bahwa, semua perkembangan baik itu bidang teknologi maupun tata cara dan pandangan hidup, tidak semua dapat diterapkan terutama di Indonesia. Ada beberapa yang harus disaring dan ditimbang terlebih dahulu untuk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan bermasayarakat.

Kearifan Lokal di Dunia Pertanian

Kearifan lokal merupakan refleksi norma dan nilai dalam masyarakat terhadap terhadap lingkungan yang diyakini sebagai oikos ( bahasa Yunani; keluarga atau rumah tangga ) yang harus dilestarikan. Kearifan lokal sebagai bentuk identitas yang melekat pada sebuah bangsa yang harus dilestarikan. Kearifan lokal menyimpan keluhuran dan keberadaban dalam sebuah bangsa dan memiliki makna yang diupenuhi falsafah kehidupan yang penuh makna dan dapat menciptakan keseimbangan dalam tata kehidupan.

Berbicara mengenai dunia pertanian, sektor inilah yang paling kompleks dan memberikan kontribusi besar bagi kehidupan suatu bangsa. Selain hal pangan, ada juga sisi lain yang turut serta yaitu,  sebagai pembentuk identitas suatu bangsa.

Kearifan lokal Pertanian Indonesia di  Era Revolusi Industri 4.0

Perkembangan teknologi digital zaman sekarang sangat mempengaruhi bidang pertanian. Sejak manusia masih mengandalkan tenaga manual  pertanian hingga kini teknologi digital dalam era revolusi 4.0, interaksi manusia dengan pertanian tidak pernah terputus sebagai sumber kehidupan. Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan di dalamnya telah ikut mengubah cara bertani dari masa ke masa, seiring dengan perubahan pola pandang manusia terhadap pertanian.

Di era semakin majunya teknologi  pertanian, masih ada masyarakat Indonesia yang mempertahankan pertanian dengan paradigma kearifan lokal ( local wisdom ). Pengetahuan dan kebudayaan lokal menjadi tahapan teknis pertanian yang masih dijalankan di beberapa daerah di Indonesia misalnya, di Sumatera Barat ada ritual yang disebut “Mambiak Padi”, Suku Dayak memiliki tradisi “Aruh Baharain” dan Suku Jawa ada tradisi sedekah bumi dan di Jawa Barat terdapat tradisi menghormati  padi pada masyarakat sunda “ Wawacan Sulanja”. Kearifan lokal berkembang sebagai sistem kepercayaan  yang berdampak pada konservasi lingkungan. Dampak yang ditimbulkan adalah harmonisasi rantai sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kearifan lokal menjadi simbol bahwa masyarakat menghargai dan merawat tradisi leluhur dan juga menjadi simbol bahwa petani menjaga budaya agraris pada suatu daerah. ( paktanidigital.com )

Dalam konteks Revolusi Industri 4.0 kedua variabel tersebut seharusnya saling melengkapi satu sama lain, saling mengakomodasi ide dan inovasi dalam rangka mewujudkan pertania yang berkelanjutan.Kearifan lokal pertanian mampu membentuk Local knowledge ( pengetahuan local )  yang dapat diambil pelajarannya secara filosofis dan pragmatis dan  teknologi pertanian muncul sebagai respon efektiffitas serta peningkatan produksi. Jikalau kedua hal tersebut dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik maka sistem pertanian yang terpadu tanpa menghilangkan sisi ke – Indonesiaan yang menjunjung tinggi nilai keluhuran dan kelestarian lingkungan dapat terlaksa dengan baik.

Oleh Ricky Gusnia D ( Mahasiswa IPB University )

Pustaka :

https://paktanidigital.com/artikel/kearifan-lokal-pertanian-dalam-era-teknologi-digital/

Jadi saya akan membahas mengenai tema pertanian dalam arti luas namun dengan topik lebih spesifik tentang pranata mangsa: harmoni antara manusia dan alam. Pertama nanti mengenai dunia pertanian, kedua nelayan, ketiga tentang fenomena alam. Sehingga harmoni manusia dengan alam tidak hanya terjadi pada petani tapi juga terjadi pada nelayan serta leluhur-leluhur kita. Oiya bismillah ila akhirihi, tulisan ini lebih kepada ekosistem langit yang dibuat tanpa pondasi serta ajaran leluhur untuk senantiasa harmoni kepada alam semesta. Dari judul dulu ya gaes, itu diambil pas perjalanan menuju lamongan, fenomena sekumpulan awan yang membentuk wujud tertentu mungkin bagi botanis kejawen mempercayai ada makna tersirat didalamnnya.   Manusia dan alam memiliki ikatan yang saling membutuhkan. Pelestarian alam dan keseimbangannya perlu dijaga agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan iklim. Iklim yang berubah memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan pertanian. Petani Jawa masih ada sebagian yang melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu cara untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian adalah penggunaan kalender pranata mangsa sebagai ketentuan untuk mengolah lahan pertanian (Harini et al. 2019). Pemahaman petani jawa untuk memanfaatkan fenomena alam sebagai pedoman berocok tanam dengan sistem pranatamongso merupakan salah satu bentuk kemampuan manusia memahami lingkungan yang melahirkan praktek pengelolaan lingkungan berbasis kearifan ekologi (Anariza 2016). Sebagaimana kalender tanam leluhur atau pranata mangsa. Pranata Mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan dan “mangsa” berarti masa atau musim. Jadi pranata mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahunnya. Pranata Mangsa didasarkan atas peredaran matahari tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern dan alat-alat pertanian modern. Murni berdasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya1. Menurut wisnubroto (1995) pranata mangsa dapat dimanfaatkan sebagai pedoman berbagai kegiatan terutama dalam bidang bercocok tanam. Pembagian umurnya cukup teliti yang dapat disejajarkan dengan kalender Gregorian sampai batas tertentu sesuai dengan keadaan meteorology. Menurut Wisnubroto (1998) banyak petani di Jawa tengah dapat memprakirakan secara semikuantitatif permulaan musim hujan dan permulaan musim kemarau dan juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi supaya terhindar dari hama dan penyakit. Lihat? Bagaimana leluhur dulu melakukan observasi bahasa kerennya riset ratusan tahun sampai menghasilkan teorema pranata mangsa yg umumnya berlaku di jawa. Sebab daerah lain memiliki kearifan lokalmya masing-2. Lanjut lagi, sekali lagi kita dapat melihat bagaimana langit dikelola sedemikian rupa dengan ciri-2 nya sehingga menjadi titen dan disempurnakan terus menerus menjadi aturan musim di jawa. Langit bagi nelayan tentu menjadi kompas di malam hari juga menjadi titen atau penanda musim ikan tangkap beserta letak koordinatnya meskipun menggunakan feeling good lakasut namun terbukti top cerr selama ratusan tahun silam. Sebagaimana yang saya temui nelayan di natuna mereka masih menggunakan penanggalan namun berdasarkan bulan, di bulan ini musim ikan ini di sebelah sini. Kok keren sekali umatnya kanjeng nabi, bahkan sebelum teknologi gps ditemukan sudah ngambah samudra sak jabalekat.  Tentu kemunculan bentuk awan menyerupai wujud sesuai sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi kalangan botanis kejawen. Entah ini isyarat leluhur dalam mengemong anak turunnya di bumi pertiwi ini atau bagaimana yang jelas, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ada makna dan pesannya masing-2 tinggal kita mampu menangkap dan menterjemahkannya atau tidak. Sebagaimana awan caping di atas gunung ternyata telah terbukti bahwa kemunculan awan seperti itu menurut ilmu sains berguna untuk meredam gempa yang terjadi.  Memang, landasan keilmuan serta kesadaran dalam rangka mencari tujuan kehidupan alias menuju rohmat tuhan tentu mendapatkan dampak yang berganda. Pertama sadar bahwa ini memang kuasa tuhan dan kedua semakin yakin karena ilmunya mengantarkan ia kepada pengagungan tuhan semesta. Sungguh beruntung, botanis kejawen itu, agama, sains, dan kejawen diramu menjadi sebuah penghambaan total kepada tuhan. Ajaran budi luhur sebagaimana tugas kenabian untuk menyempurnakan akhlak umat ini tentu sangat korelatif juga dengan alam.  Menyambung kembali mengenai akhlak  bahwa akhlak di sini tidak hanya kepada manusia tapi juga ke seluruh makhluknya apalagi yang berada di bumi nusantara ini. Satu dari tak kira hitungan yang menjadi contoh kekuasaan tuhan. Namun, tuhan justru menghendaki dan menunjukkan sifat kasih sayangnya daripada sifat kuasanya dan kekuataannya. Sebagaimana tuhan mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu yang baik dengan bacaan bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang (ajaran maiyah). Maka dari itu, berkasih sayanglah kamu sekalian kepada seluruh makhluk tuhan. Saling bekerja sama dalam kebaikan. Berharmoni dalam kehidupan. Tentu jika hal tersebut sudah terjadi. Tanda dunia tidak akan lama lagi Wallahu a’lam  Daftar Referensi https://8villages.com/full/petani/article/id/5a9fc1f1dc2ada6b3fb971c0. (29 Mei 2020) Anazifa RD. 2016. Pemanfaatan sains tradisional jawa sistem pranatamangsa melalui kajian etnosains sebagai bahan ajar biologi. Pros Demnas Pend IPA Pascasarjana UGM vol 1. Harini S, Sumarmi, Wicaksono AG. 2019. Manfaat penggunaan pranata mangsa bagi petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada 2(1):82-97. Wisnubroto S. 1995. Pengenalan waktu tradisional menurut jabaran meteorology dan pemanfaatannya. Jurnal agromet 11(1):15-22. Wisnubroto S. 1998. Sumbangan pegenalan waktu tradisional Pranata Mangsa pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal perlindungan tanaman Indonesia 4(1):46-50.

Jadi saya akan membahas mengenai tema pertanian dalam arti luas namun dengan topik lebih spesifik tentang pranata mangsa: harmoni antara manusia dan alam. Pertama nanti mengenai dunia pertanian, kedua nelayan, ketiga tentang fenomena alam. Sehingga harmoni manusia dengan alam tidak hanya terjadi pada petani tapi juga terjadi pada nelayan serta leluhur-leluhur kita.

Oiya bismillah ila akhirihi, tulisan ini lebih kepada ekosistem langit yang dibuat tanpa pondasi serta ajaran leluhur untuk senantiasa harmoni kepada alam semesta. Dari judul dulu ya gaes, itu diambil pas perjalanan menuju lamongan, fenomena sekumpulan awan yang membentuk wujud tertentu mungkin bagi botanis kejawen mempercayai ada makna tersirat didalamnnya.

 Manusia dan alam memiliki ikatan yang saling membutuhkan. Pelestarian alam dan keseimbangannya perlu dijaga agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis. Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan iklim. Iklim yang berubah memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan pertanian. Petani Jawa masih ada sebagian yang melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu cara untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian adalah penggunaan kalender pranata mangsa sebagai ketentuan untuk mengolah lahan pertanian (Harini et al. 2019). Pemahaman petani jawa untuk memanfaatkan fenomena alam sebagai pedoman berocok tanam dengan sistem pranatamongso merupakan salah satu bentuk kemampuan manusia memahami lingkungan yang melahirkan praktek pengelolaan lingkungan berbasis kearifan ekologi (Anariza 2016).

Sebagaimana kalender tanam leluhur atau pranata mangsa. Pranata Mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan dan “mangsa” berarti masa atau musim. Jadi pranata mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi setiap tahunnya. Pranata Mangsa didasarkan atas peredaran matahari tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern dan alat-alat pertanian modern. Murni berdasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya1.

Menurut wisnubroto (1995) pranata mangsa dapat dimanfaatkan sebagai pedoman berbagai kegiatan terutama dalam bidang bercocok tanam. Pembagian umurnya cukup teliti yang dapat disejajarkan dengan kalender Gregorian sampai batas tertentu sesuai dengan keadaan meteorology. Menurut Wisnubroto (1998) banyak petani di Jawa tengah dapat memprakirakan secara semikuantitatif permulaan musim hujan dan permulaan musim kemarau dan juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi supaya terhindar dari hama dan penyakit.

Lihat? Bagaimana leluhur dulu melakukan observasi bahasa kerennya riset ratusan tahun sampai menghasilkan teorema pranata mangsa yg umumnya berlaku di jawa. Sebab daerah lain memiliki kearifan lokalmya masing-2. Lanjut lagi, sekali lagi kita dapat melihat bagaimana langit dikelola sedemikian rupa dengan ciri-2 nya sehingga menjadi titen dan disempurnakan terus menerus menjadi aturan musim di jawa.

Langit bagi nelayan tentu menjadi kompas di malam hari juga menjadi titen atau penanda musim ikan tangkap beserta letak koordinatnya meskipun menggunakan feeling good lakasut namun terbukti top cerr selama ratusan tahun silam. Sebagaimana yang saya temui nelayan di natuna mereka masih menggunakan penanggalan namun berdasarkan bulan, di bulan ini musim ikan ini di sebelah sini. Kok keren sekali umatnya kanjeng nabi, bahkan sebelum teknologi gps ditemukan sudah ngambah samudra sak jabalekat.

Tentu kemunculan bentuk awan menyerupai wujud sesuai sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi kalangan botanis kejawen. Entah ini isyarat leluhur dalam mengemong anak turunnya di bumi pertiwi ini atau bagaimana yang jelas, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ada makna dan pesannya masing-2 tinggal kita mampu menangkap dan menterjemahkannya atau tidak. Sebagaimana awan caping di atas gunung ternyata telah terbukti bahwa kemunculan awan seperti itu menurut ilmu sains berguna untuk meredam gempa yang terjadi.

Memang, landasan keilmuan serta kesadaran dalam rangka mencari tujuan kehidupan alias menuju rohmat tuhan tentu mendapatkan dampak yang berganda. Pertama sadar bahwa ini memang kuasa tuhan dan kedua semakin yakin karena ilmunya mengantarkan ia kepada pengagungan tuhan semesta. Sungguh beruntung, botanis kejawen itu, agama, sains, dan kejawen diramu menjadi sebuah penghambaan total kepada tuhan. Ajaran budi luhur sebagaimana tugas kenabian untuk menyempurnakan akhlak umat ini tentu sangat korelatif juga dengan alam.

Menyambung kembali mengenai akhlak  bahwa akhlak di sini tidak hanya kepada manusia tapi juga ke seluruh makhluknya apalagi yang berada di bumi nusantara ini. Satu dari tak kira hitungan yang menjadi contoh kekuasaan tuhan. Namun, tuhan justru menghendaki dan menunjukkan sifat kasih sayangnya daripada sifat kuasanya dan kekuataannya. Sebagaimana tuhan mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu yang baik dengan bacaan bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang (ajaran maiyah). Maka dari itu, berkasih sayanglah kamu sekalian kepada seluruh makhluk tuhan. Saling bekerja sama dalam kebaikan. Berharmoni dalam kehidupan. Tentu jika hal tersebut sudah terjadi. Tanda dunia tidak akan lama lagi

Wallahu a’lam

Ahmad Fauzi Ridwan

Daftar Referensi

  1. https://8villages.com/full/petani/article/id/5a9fc1f1dc2ada6b3fb971c0. (29 Mei 2020)
  2. Anazifa RD. 2016. Pemanfaatan sains tradisional jawa sistem pranatamangsa melalui kajian etnosains sebagai bahan ajar biologi. Pros Demnas Pend IPA Pascasarjana UGM vol 1.
  3. Harini S, Sumarmi, Wicaksono AG. 2019. Manfaat penggunaan pranata mangsa bagi petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada 2(1):82-97.
  4. Wisnubroto S. 1995. Pengenalan waktu tradisional menurut jabaran meteorology dan pemanfaatannya. Jurnal agromet 11(1):15-22.
  5. Wisnubroto S. 1998. Sumbangan pegenalan waktu tradisional Pranata Mangsa pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal perlindungan tanaman Indonesia 4(1):46-50.

Pandemi COVID-19 cukup membuat dunia gonjang-ganjing. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa virus penyebab penyakit ini diduga bersumber dari satwa liar (sebagai penyakit zoonosis—penyakit yang ditransmisikan dari binatang ke manusia) yang dikonsumsi seperti kelelawar. Potensi penyakit semacam ini dapat muncul sejak bertahun-tahun lalu dan berevolusi seiring dengan interaksi antara manusia dengan satwaliar. Selain itu, evolusi penyakit zoonosis baru diprediksi dapat semakin marak akibat kerusakan ekosistem (contoh: deforestasi) dan perubahan iklim dimana cuaca dan iklim di suatu daerah menjadi tidak menentu.

Salah satu penyebab munculnya penyakit-penyakit baru adalah kerusakan ekosistem seperti deforestasi. Deforestasi adalah alih fungsi lahan dengan tutupan hutan menjadi non-hutan misalnya lahan pertanian, lahan penggembalaan, pertambangan, atau pemukiman. Deforestasi menyebabkan meningkatnya potensi interaksi satwa liar dan manusia. Satwa liar yang selama ini menjadi inang suatu mikroorganisme atau virus  kehilangan habitat akibat deforestasi lalu terdesak dan keluar dari habitatnya.

Hal ini memperbesar potensi interaksi satwa liar tersebut dengan binatang ternak atau manusia begitu pula dengan potensi transmisi patogen.  Akhirnya, mikroorganisme atau virus yang tadinya tidak berbahaya untuk manusia berkembang menjadi penyakit berbahaya. Tentu saja transmisi patogen–inang–manusia tidak semudah itu. Hal ini memiliki mekanisme yang rumit dan perlu dipelajari lebih lanjut.

Keberadaan wanatani (agroforestry) yang umumnya diterapkan pada hutan-hutan rakyat dan hutan adat di Indonesia selama ini telah terbukti menjaga kelestarian lingkungan. Wanatani adalah sistem menanam tanaman penghasil kayu keras dengan tanaman perkebunan atau penghasil pangan lainnya. Wanatani menjamin ketersediaan kayu dan pangan untuk masyarakat tanpa harus merusak hutan alam sebagai ekosistem alami satwa liar.

Dengan begitu, sistem wanatani dapat menjamin kelestarian hutan alam. Wanatani dapat menjaga dan menjadi habitat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan kebun monokultur dan pertanian intensif. Terjaganya ekosistem alami satwa liar berarti juga menjaga keberadaan predator alami dari satwa yang berpotensi menjadi inang suatu patogen sehingga populasinya tidak meledak.

Wanatani dalam jangka panjang menjadi tindakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Wanatani dapat menjadi penyerap karbon dan pengendali laju perubahan iklim. Wanatani dapat menjadi metode alternatif penghijauan, reforestasi, maupun pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan cara ini, produktifitas lahan dapat ditingkatkan tanpa merusak ekosistem lebih lanjut. Penerapannya dapat dilakukan pada zona-zona penyangga kawasan konservasi, ekosistem perawan, lahan kritis atau lahan rehabilitasi. Dengan menekan laju perubahan iklim, kerusakan eksoistem dapat dicegah begitu pula dengan evolusi penyakit baru. Hal ini akan berlaku dan berdampak dalam jangka panjang.

Satwa liar tidak dapat disalahkan sebagai penyebab penyakit yang telah merenggut ribuan manusia. Satwa liar telah berasosisasi dengan mikroorganisme dan virus tertentu selama ribuan tahun. Hal ini tidak menjadi masalah hingga akhirnya manusia bertambah banyak dan merusak ekosistem lalu mikroorganisme atau virus tersebut menjadi penyakit baru. Masih ada waktu untuk mencegah munculnya penyakit mematikan baru dengan mengubah cara interaksi manusia dengan alam menjadi lebih bijak. Bagaimanapun, menjaga ekosistem asli dari satwa liar adalah solusi terbaik.

Hani Ristiawan—Mahasiswa Koservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB

Foto oleh Sharon McCutcheon dari Pexels

Isu animal welfare (kesejahteraan hewan/kesrawan) mulai diperbincangkan sejak awal abad ke-15 sebagai bentuk kedekatan manusia dengan hewan, kemudian terus bergulir. Di beberapa negara seperti Amerika Utara dan Irlandia, undang-undang yang mengatur perlindungan hewan telah disahkan.

Pada tahun 1967, seorang petani asal inggris dan seorang aktivis animal welfare, Peter robert, memprotes dan melawan tindakan kekerasan pada hewan dengan membentuk Compassion in World Farming. Tindakan Peter itu dilatarbelakangi oleh peternakan intensif broiler yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan.

Five of Freedom (FoF) (5 Kebebasan)

Puncaknya pada tahun 2004, Office International des Epizooties (OIE) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengeluarkan standar-standar animal welfare yang mengatur kondisi hewan di bawah pengaturan manusia. FoF yaitu:
1. Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
2. Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman)
3. Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan rasa sakit)
4. Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiahnya)
5. Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan penderitaan)

Islam Memperlakukan Hewan

Isam muncul pada abad ke-7 yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk memberikan rahmat (kasih sayang) kepada semesta alam seperti dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107. Definisi alam yg dimaksud disini adalah selain Allah. Jadi kasih sayang Nabi SAW kepada manusia, jin, hewan, tumbuhan, mikroba, virus, dan makhluk Allah yang lain.

Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan hewan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Allah. Islam memandang hewan dan makhluk hidup lain sebagai hamba Allah yang sama-sama beribadah kepada-Nya. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 38:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”

Islam memandang hewan secara proporsional, tidak seperti faham animal right yang melarang bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk konsumsi, pakaian, objek penelitian, dan pembebanan dalam suatu pekerjaan. Islam melegalkan bentuk pemanfaatan hewan seperti untuk tujuan konsumsi, untuk kendaraan, atau untuk tujuan-tujuan lain. Ini dijelaskan oleh Allah dalam al-quran surat Ghofir Ayat 79-80:

“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi kamu makan (79). Dan bagi kamu (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain padanya (hewan ternak itu) dan agar kamu mencapai suatu keperluan (tujuan) yang tersimpan dalam hatimu (dengan mengendarainya). Dan dengan mengendarai binatang-binatang itu, dan di atas kapal mereka diangkut (80).”

Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat hadist, dimana beliau mengasihi kucing, burung, anjing, dan hewan-hewan lain.

“Diriwayatkan dari Sa’ad Bin Jubair berkata: suatu ketika aku dihadapan Ibnu Umar, kemudian ada sekelompok orang lewat yang menjadikan sasaran lempar seekor ayam betina. Saat melihat ada Ibnu Umar, mereka berpisah menjauhinya. Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini ? Sesungguhnya Nabi SAW melaknat orang yang melalukan seperti ini (sasaran lempar) kepada hewan” (HR Bukhari No. 5515).

Pada abad ke-12 , jauh sebelum muncul isu animal welfare di barat, seorang ulama dengan gelar Sulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam telah merumuskan dan memerinci hak-hak hewan yang harus dipenuhi oleh manusia bila memeliharanya. Hal itu ditulis oleh beliau dalam sebuah kitab Qawaaid Al-Ahkam fi Mashaalih Al-Anam, Juz 1 Halaman 167:

ﺣﻘﻮﻕ البهائم ﻭاﻟﺤﻴﻮاﻥ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﻔﻘﺔ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺯﻣﻨﺖ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻻ ﻳﺤﻤﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻄﻴﻖ ﻭﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺆﺫﻳﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺑﻜﺴﺮ ﺃﻭ ﻧﻄﺢ ﺃﻭ ﺟﺮﺡ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﺫﺑﺤﻬﺎ ﺇﺫا ﺫﺑﺤﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﻤﺰﻕ ﺟﻠﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺒﺮﺩ ﻭﺗﺰﻭﻝ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻭﺃﻻ ﻳﺬﺑﺢ ﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺑﻤﺮﺃﻯ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻔﺮﺩﻫﺎ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﺒﺎﺭﻛﻬﺎ ﻭﺃﻋﻄﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺫﻛﻮﺭﻫﺎ ﻭﺇﻧﺎﺛﻬﺎ ﻓﻲ ﺇﺑﺎﻥ ﺇﺗﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺬﻑ ﺻﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺮﻣﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺴﺮ ﻋﻈﻤﻪ ﺃﻭ ﻳﺮﺩﻳﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺤﻠﻞ ﻟﺤﻤﻪ.

Hak-hak hewan ternak atas manusia yaitu:

  1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari jenis hewan-hewan tersebut, walaupun hewan-hewan tersebut telah menua atau sakit yang tidak dapat diambil manfaatnya;
  2. tidak membebani hewan-hewan tersebut melebihi batas kemampuannya;
  3. tidak mengumpulkan di antara hewan tersebut atau antara hal-hal yang membuat hewan tersebut terluka, baik dari jenisnya atau selain dari jenisnya dengan mematahkan tulangnya, menusuk, atau melukainya;
  4. menyembelihnya dengan baik jika menyembelihnya, tidak menguliti kulitnya dan tidak pula mematahkan tulang hingga hewan tersebut menjadi dingin dan hilang hidupnya, tidak menyembelih anak hewan tersebut di depannya, namun mengisolasinya;
  5. membuat nyaman kandang dan tempat minumnya,
  6. menyatukan antara jantan dan betina bila telah datang musim kawin;
  7. tidak membuang buruannya,
  8. tidak menembak dengan apapaun yang mematahkan tulangnya atau membunuhnya dengan benda-benda yang menyebabkan tidak halal dagingnya.

Korelasi Animal Welfare dan Syariat Islam

Bila kita mencermati isi dalam five of freedom dengan nash-nash dalam alqur’an, hadist, atupun hukum fiqih pada uraian di atas tidak bertentangan. Keduanya sejalan dalam konteks memerlakukan hewan. Oleh karena itu, animal welfare yang dalam hal ini direpresentasikan dengan FoF tidak bertentangan dengan syariat islam dan bahkan sejalan dengan syariat islam.

Hamzah Alfarisi
(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan IPB & Khadim Ma’had Jawi)

Foto oleh Gustavo Fring dari Pexels

WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemik pada 12 Maret 2020. Hanya butuh waktu 4 bulan sejak kasus pertama di Cina, COVID-19 dinyatakan sebagai pandemik. Dalam waktu 4 bulan pula, virus yang disebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) itu sampai di Indonesia. Berawal dari dua orang di daerah Depok yang dinyatakan positif COVID-19, kini COVID-19 telah menjadi wabah di Indonesia. Hingga 14 Mei 2020, 16.006 lebih dikonfirmasi positif, 3.518 diantaranya dinyatakan sembuh, dan 1.043 meninggal.

Apa itu Coronavirus?

Coronavirus adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm. Sebelum terjadinya wabah COVID-19, ada 6 jenis coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu alphacoronavirus 229E, alphacoronavirus NL63, betacoronavirus OC43, betacoronavirus HKU1, Severe Acute Respiratory Illness Coronavirus (SARS-CoV), dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2.

Gejala Infeksi SARS-CoV-2

Gejala yang timbul pada pasien terinfeksi SARS-Cov-2 sangat beragam dan cenderung tidak menimbulkan gejala spesifik. Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak napas. Gejala yang paling sering ditemukan adalah demam, batuk kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva. Sulitnya menentukan gejala spesifik ini berakibat pada sulitnya diagnosis COVID-19. Hingga saat ini, hanya ada dua cara yang digunakan yaitu uji virologi dan uji serologi.

Uji Virologi dalam Diagnosis Covid-19

Uji virologi merupakan uji yang direkomendasikan oleh WHO dan dianggap sebagai kontrol utama dalam diagnosis Covid-19. Uji virologi merupakan uji yang bertujuan untuk mengindentifikasi adanya virus dalam sampel. Metode yang direkomendasikan untuk uji virologi Covid-19 adalah amplifikasi asam nukleat dengan real-time Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR). Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2; atau rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2.

Walaupun hasil pengujian dengan rRT PCR ini dinilai paling akurat, namun selalu ada harga dibalik itu. Uji rRT PCR hanya dapat dilakukan jika telah memenuhi standar, terutama terkait fasilitas. Pengerjaan pemeriksaan molekuler membutuhkan fasilitas dengan biosafety level 2 (BSL-2), sementara untuk kultur minimal BSL-3. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan terbilang jarang terdapat pada lab penelitian di Indonesia. Hal ini menyebabkan ongkos untuk pengujian ini mahal, sekitar Rp 700 ribu per sampel. Waktu pengerjaannya juga terbilang lama. Setidaknya diperlukan waktu 6-7 jam untuk satu sampel. Beberapa alasan tersebut membuat metode rRT PCR kurang sesuai jika dijadikan satu-satunya pengujian terhadap Covid-19. Namun, metode rRT PCR dapat dijadikan pengujian lanjutan serta sebagai kontrol terhadap pengujian lainnya.

Selain uji virologi, terdapat uji serologis yang dapat digunakan dalam diagnosis Covid-19. Uji serologi dilakukan berdasarkan ikatan antigen-antibodi. Metode ini dapat mendeteksi adanya antibodi atau antigen yang terdapat dalam tubuh. Pada umumnya, uji serologis menggunakan sebuah label agar dapat diamati. Hal ini dikarenakan ikatan antigen-antibodi sangat sulit diamati. Perbedaan label ini menghasilkan beberapa teknik serologis yang berbeda. Beberapa label yang diguakan dalam uji serologis ialah enzim (ELISA/EIA), senyawa berfluoresen (IFA), senyawa radioaktif (RIA), dan luminescence (LIA).

Uji serologis dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi yang terbentuk dalam tubuh yang terinfeksi SARS-CoV-2. Antibodi tersebut dibentuk sebagai respon imun tubuh terhadap infeksi SARS-CoV-2. Sejauh ini pengujian serologis Covid-19 dilakukan dengan Immunochromatography (ICT), dimana sampel dibiarkan mengalir melalui sebuah penanda yang terdapat antigen. Jika sampel mengandung antibodi maka reaksi antibodi-antigen akan terjadi dan menghasilkan label yang dapat diamati (umumnya berupa strip berwarna). Proses pengujian serologis ini terbilang cepat yakni hanya butuh 10 menit untuk mendapatkan hasil. Oleh karena itu, pengujian ini dikenal dengan nama Rapid Test. Ongkos pengujian rapid test terbilang jauh lebih murah dibandingkan metode rRT PCR. Tempat pengujian juga tidak terlalu spesifik. Pengujian dapat dilakukan dimanapun, termasuk semua fasilitas kesehatan yang ada. Beberapa faktor tersebut menjadikan rapid test sebagai pengujian yang cukup efektif diterapkan di tengah pandemik.

Rapid test untuk Covid-19 menggunakan kit yang mengandung anti-IgM dan anti-IgG yang akan bereaksi dengan IgM dan IgG dari sampel. IgM dan IgG merupakan salah satu jenis antibodi yang diproduksi oleh tubuh manusia. Keduanya dipilih menjadi indikator dalam diagnosis Covid-19 karena kedua antibodi tersebut yang paling cepat dibentuk ketika ada infeksi. IgM dibentuk sekitar 3-6 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dibentuk 8 hari setelah infeksi. Selain itu, antibodi tersebut tidak langsung hilang seiring hilangnya virus dalam tubuh. Pada dasarnya, rapid test digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk, bukan mendeteksi virus SARS-CoV-2. Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi hasil dari pengujian, misalnya terdapat istilah false positive dan false negative.

False positive adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang dinyatakan positif namun sebenarnya tidak ada virus dalam tubuh sesorang tersebut. Hal ini tentu saja dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah virus itu hilang dari tubuh. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak akan langsung hilang seiring hilangnya infeksi virus.

False negative adalah keadaan dimana hasil rapid test seseorang negatif namun sebenarnya orang tersebut tengah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Hal ini dapat terjadi jika pengujian dilakukan setelah infeksi virus namun sebelum terbentuknya antibodi. Seperti yang kita tahu bahwa antibodi tidak terbentuk seketika saat infeksi, namun beberapa hari setelah infeksi.

Strategi dalam Uji dan Diagnosis Covid-19

Terdapat cara untuk menanggulangi beberapa kekurangan dari masing-masing metode. Cara yang dapat ditempuh ialah melakukan rapid test sebagai pengujian awal. Jika hasil rapid test positif, maka dilanjut dengan pengujian dengan rRT PCR. Hal ini untuk mencegah terjadinya false positive. Jika hasil rapid test negatif, maka ditunggu sekitar satu minggu kemudian dilakukan pengujian ulang dengan rapid test. Hal ini untuk mencegah terjadinya false negative. Selain itu, pengujian harus dilakukan secara masif dan menyeluruh. Pengujian harus dilakukan kepada setiap individu dalam satu populasi agar dapat mendapat gambaran penyebaran secara komprehensif.

Referensi:

Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan, Sinto R, Singh G, Nainggolan L, Nelwan EL, et al. 2020. Coronavirus disease 2019: review of current literatures. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 7(1): 45-67.

Li Z, Yi Y, Luo X, Xiong N, Liu Y, Li S, Sun R, Wang Y, Hu B, Chen W, et al. 2020. Development and clinical application of a rapid IgM-IgG combined antibody test for SARS-CoV-2 infection diagnosis. Journal of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25727.

Tulisan oleh Aziz Syamsul Huda, mahasiswa departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor.