Categories
KMNU IPB Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

Catatan Perjalanan Pejuang Muda KMNU IPB : ” Kembali ke ‘Rumah’ “

Belum banyak waktu yang saya lewatkan bersama keluarga ini. Belum banyak yang saya ketahui tentang keluarga ini. Tapi banyak hal yang sudah saya dapatkan selama mengenal mereka, keluarga baru saya. KMNU IPB, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama Institut Pertanian Bogor. Keluarga ini sederhana, bahkan invisible bagi sebagian warga IPB. Siapa sih yang peduli dengan orang-orang bersarung, membaca kitab kuning? Siapa sih yang peduli dengan orang-orang yang sholawatan dan membaca istighosah?

Kadang kita memang harus menutup telinga dan memejamkan mata atas sikap-sikap menyudutkan, menganggap bid’ah dan khurafat atas apa yang kita lakukan. Menganggap tidak terjadi apa-apa di luar ‘jendela’ kita. Dan, lihat? Kita masih baik-baik saja, keluargaku. Bahkan ketika kita dianggap liberal dan tidak memahami makna amal jama’i. Ketika kita dianggap sebagai barisan yang gugur dalam memperjuangkan tegaknya Islam, dianggap gugur dari jalan dakwah hanya karena kita tidak berafiliasi pada sebuah pergerakan Islam yang diusung mereka. 

Kalau kita mau sedikit menahan ego, Kawan, kita akan melihat perbedaan cara berdakwah bukan menjadikan satu kelompok lebih buruk dari kelompok lainnya. Islam sebagai rahmatan lil’alamin seharusnya menjadikan perbedaan bukan sebagai pemisah dan penghierarkhi antarmanusia. Kita samakok, sama-sama dengan ikhlas, insya Allah, mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Rosulullah saw sebagai junjungan kita. Kita sama-sama berusaha menegakkan amal ma’ruf nahiy munkar dan berusaha sami’na wa atho’na atas perintah qiyadah tertinggi kita, Kanjeng Nabi saw. 

Ah, kalau kita mau sedikit menahan ego, tidak akan ada istilah ‘orang umum’ yang kita berikan sebagai gelar bagi orang-orang tertentu di sekitar kita. Alangkah malunya kita, menganggap diri kita lebih baik, lebih ‘alim dari yang kita sebut sebagai ‘orang umum’ itu. Alangkah malunya kita, seberapa banyakkah amal baik yang telah kita perbuat? Alangkah malunya kita, seberapa besarkah perbedaan derajat kita dibanding ‘orang umum’ tersebut?Astaghfirullah..

Oke, lebih baik kembali membahas keluarga baru saya saja ya.. hehe. Kenapa saya sebut KMNU sebagai keluarga baru saya? Bukankah saya terlahir dari rahim seorang ibu yang suaminya ‘orang’ NU? Bukankah saya tumbuh dan dibesarkan oleh orang-orang NU? Ya, belasan tahun saya dipenuhi kebutuhannya oleh orang-orang NU, tapi saya tidak pernah menyadarinya. Saya buta dan tuli. Buta untuk melihat begitu indah Islam yang berhasil disebarkan oleh Para Wali Songo di tanah ini. Tuli untuk mendengar cerita-cerita dan nasihat orang tua yang mengajarkan saya melestarikan tradisi baik khas masyarakat tanah ini. Saya hanya bisa berbicara. Berbicara tanpa dasar ilmu dan pengetahuan. Lisan saya bergerak lincah seakan saya orang paling pintar dan paling mengerti Islam. Astaghfirullah..



Sampai akhirnya, Allah mengirimkan berbagai kejadian beserta orang-orang yang berhasil membuat saya rela membuka mata dari kebutaan, membebaskan telinga dari ketulian. Fanatisme terhadap suatu pergerakan Islam seharusnya tidak merasuki saya. Fanatisme itu kejam, menyakitkan orang-orang yang sebenarnya menyayangi kita. Saya masih ingat bagaimana Ayah saya begitu kecewa melihat saya tidak peduli pada kitab fiqih, tidak peduli pada ziarah, tidak peduli pada tradisi yasinan, menolak di-pondokkan.Kalau saya mau meredam ego saya yang sok pintar waktu itu, saya akan melihat besarnya kasih sayang seorang ayah yang ingin putrinya tidak sia-sia ibadahnya karena tidak mengerti ilmu dengan memerintahkan saya belajar kitab kuning, belajar dengan baik di pondok pesantren. Ia ingin putrinya mengingat kematian dan tidak lupa mendoakan orang tua kelak ketika mereka telah tiada dengan mengajak saya berziarah ke makam dan meminta saya membantu Ibu menyiapkan hidangan bagi orang-orang yang yasinan. Betapa besar kasih sayang ayah saya tapi dengan tega saya mengecewakannya. 

Orang-orang itu dikirim oleh Allah tepat setelah saya selesai menamatkan SMA dan bersiap merantau ke IPB. Sesampainya di IPB orang-orang yang dikirim Allah makin banyak, dan saya sadar telah menjadi seseorang dengan pemikiran yang berbeda dari beberapa waktu sebelumnya. Setidaknya saya tidak lagi ingin terlibat dalam fanatisme atas nama agama.

Yang saya bingungkan, kenapa masih saja ada orang-orang yang memaksakan kefanatikan kepada saya bahkan ketika saya dengan terang-terangan mengatakan bahwa saya orang NU dan saya setuju dengan paham yang diusung oleh NU. Orang-orang itu dengan banyak cara berusaha memengaruhi saya bahkan saya merasa dipaksa untuk melihat sisi-sisi buruk saja dari sebuah organisasi berjasa besar bernama NU. Pada akhirnya mereka secara tidak langsung menunjukkan ketidaksukaannya melihat saya memilih kembali pulang ke’rumah’, sekaligus mengenal keluarga baru saya di sini. Apapun itu, saya yakin pada pilihan saya. Bahwa inilah rumah saya. Tempat saya dibesarkan dan diajarkan. Tempat para kyai terdahulu berjuang di tengah ketidakamanan situasi penjajahan. Hanya di rumah ini saya diajarkan untuk tidak melupakan jasa Wali Songo, jasa para Kyai, dan diajarkan untuk mencintai tanah air Indonesia..


saya bersama KMNU IPB angkatan 50 (2013)

Oleh : Kholilah Dzati Izzah

Leave a Reply

Your email address will not be published.