Categories
Uncategorized

Berkurban, antara ritual dan solusi masalah sosial


Terkisahkan kepada kita, bahwa sejak jaman bapak seluruh manusia (Nabi Adam as) telah terjadi peristiwa yang melibatkan ritual berkurban atau sesaji. Siapa yang melakukan ritual tersebut? Dan siapa yang menghendaki atau yang menginginkan diberi sesaji waktu itu? Tersebut dalam Qur’an Surat Al Maaidah ayat 27 yang artinya “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
Kemudian dilanjutkan dengan kisah Bapak para Nabi, Ibrahim a.s bersama anaknya (Nabi Ismail a.s) yang terkisah dalam Qur’an Surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).
Hingga pada masa kenabian Rosulullah Muhammad SAW tersurat dalam Qur’an Surat Al Kautsar ayat 1-3: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah(2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”(3).
Kurban atau sesaji merupakan bentuk peribadatan yang metodenya sangat sakral dan bersifat pemujaan dengan syarat-syarat tertentu. Kedua putra Nabi Adam a.s bersaing menyajikan kurban dari hasil bumi dan ternak mereka kepada Yang Maha Kuasa. Hasilnya, sesaji terbaiklah yang diterima. Kemudian Nabi Ismail a.s dan Bapaknya yang telah benar-benar teruji kesabaran dan kecintaannya kepada Rabb Semesta Alam, diberikan ganti dalam bentuk fisik berupa “hewan sembelihan yang besar”. Dan kemudian diperintahkan kepada Rosulullah SAW dan umatnya untuk bersesaji.
Dari ketiga konteks perintah bersesaji sangat bersifat pemujaan, lalu bagaimana bisa menjadi solusi masalah sosial?. Disinilah keistimewaan sesaji (berkurban) menurut ajaran Islam. Meski bersesaji itu diniatkan karena Allah SWT, namun dagingnya tentu bukan untuk-Nya. Allah tidak butuh daging sembelihan, Allah (hanya) butuh bukti kecintaan dan kerelaan berkorban akan sesuatu pinjaman yang manusia genggam sementara kepada Robb nya. Daging sesaji itulah yang dapat menjadi solusi bagi masalah (kemiskinan) umat. Dengan pembagian hasil kurban kepada golongan masyarakat yang pantas mendapatkan, maka seluruh umat Islam seharusnya bisa benar-benar bergembira merayakan Hari Raya Idhul Adha nya. 
Namun, jika pemahaman akan merelakan sesuatu yang terbaik untuk kemaslahatan sesama hanya bersifat sekali dalam setahun saja, maka tak akan pernah tercapai solusi masalah yang benar-benar bisa mengatasi akan kemiskinan di tengah-tengah umat Islam.
Maka perlu adanya sebuah kesadaran dan refleksi dalam diri masing-masing kita untuk mengejawantahkan semampunya kita sebagai generasi umat Islam dalam berupaya berkorban dan bermanfaat bagi sesama dan alam sekitar kita. Tak harus selalu dan melulu bersesaji dengan hewan kurban, kita juga dapat melakukan berbagai macam hal untuk sesama. Atau mari kita renungkan sejenak untuk refleksi makna berkorban dari kedua orang tua kita. Salah satu bukti nyata yang terjadi adalah bahwa mereka telah banyak berkorban harta, waktu, dan tenaga serta daya pikiran untuk kita, anaknya.
Kontributor : Eko P

Leave a Reply

Your email address will not be published.