Belajar Dari KMNU : Biasa Luar Biasa

Ketika baru bergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU IPB) rasa heran yang paling membuat saya berlatih sabar adalah sikap hampir semua anggotanya yang “biasa saja”. Biasa saja terhadap banyak hal yang terjadi di luar sana, biasa saja dalam berbahasa, biasa saja dalam bersikap, biasa saja dalam penampilan, pokoknya biasa saja. Ya seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, biasa saja. Saat beberapa sahabat lain sibuk turun ke jalan untuk aksi menolak kebijakan-kebijakan pemerintah, saudara-saudara di KMNU ini tetap biasa saja, kuliah, kajian kitab, dan sholawatan, paling-paling mereka bilang, “Sudah ada yang memikirkan itu semua.”. Saat beberapa kawan lain menyorakkan dukung Palestina menggunakan speaker besar di atas pick up di bundaran HI dengan membawa panji-panji Palestina, saudara-saudara di KMNU ini tetap biasa saja, kuliah, kajian kitab, sholawatan, paling-paling mereka hanya menyelipkan harapan kebebasan tanah Palestine dalam untaian doa di setiap acara bersama.

Bahkan saat organisasi mahasiswa lain menyatakan dukungannya secara terang-terangan untuk memilih salah satu partai atau untuk tidak memilih satu partai pun dalam pemilu, saudara-saudara di KMNU ini malah dengan tegas mengatakan, “Buka dulu jaket KMNU-mu, pindah dulu menjauh dari sekretariat, tunda dulu sampai acara KMNU ini berakhir, baru bebas Kamu bicara politik.”. Rasa heran akan banyak hal itu menjadi semakin menjadi-jadi saat gemuruh pergerakan terdengar meraung-raung mengusik ketenangan telinga dan hati. Bukankah seharusnya sebagai bagian dari umat muslim ditambah pula sebagai mahasiswa, KMNU seharusnya menjadi salah satu pusat pendobrak peradaban? Pencipta peradaban baru saat peradaban yang lama sudah rusak? Lalu mengapa KMNU kemudian tetap biasa saja? Tetap hanya sibuk dengan kuliah, kajian kitab, dan sholawatan?

Sampai suatu saat, dalam suatu majelis aku menemukan jawabannya. Indonesia, bahkan sejak bertahun-tahun sebelum Indonesia merdeka, kaum santri sudah menjadi poros utama pejuang bangsa, melawan dan mengusir penjajah, memperjuangkan dan mempertahankan Indonesia merdeka, menghabiskan waktu untuk belajar saat muda, dan mengamalkan serta mengawal Indonesia saat masa tua. Setiap hari mengaji di pesantren, tapi kapan saja bersedia mati saat Indonesia memanggilnya. Adapun saat ini, sebagai santri yang sedang menjadi mahasiswa, kejarlah ilmu sebanyak-banyaknya, ilmu keprofesian dan ilmu agama, agar kelak dapat dimanfaatkan. Karena itu yang Indonesia butuhkan. Generasi yang benar-benar profesional dan yang benar-benar paham agama yang benar. Jadilah generasi yang luar biasa seperti itu. Mereka yang tetap belajar, saat yang lain sudah merasa pintar, merekalah yang luar biasa. Mereka yang mengutamakan saudara terdekat, saat yang lain sudah merasa hebat, merekalah yang luar biasa. Mereka yang masih merasa salah kemudian melakukan perbaikan, saat yang yang lain sudah merasa benar kemudian bangga berdiri di depan, merekalah yang luar biasa.

Maka ketika saat ini KMNU mengutamakan ilmu, itu sudah benar. Maka kenapa saat ini KMNU tampak biasa saja, karna KMNU tak mau melawan sesama satu bangsa. Coba renungkan, turun ke jalan itu, kepada siapa kita berteriak keras? Kepada saudara satu bangsa. Coba perhatikan, saling serang saat pemilu itu, siapa sebenarnya yang kita kalahkan? Mereka saudara satu bangsa. Maka, saat yang lain disibukkan melawan saudara satu bangsa, tapi KMNU memilih sibuk mencari ilmu, maka itulah yang sebenarnya sesuatu yang sungguh luar biasa. Suatu saat nanti, jika memang sudah dibutuhkan, dan muncul musuh asli yang saat ini masih bersembunyi, saat itulah KMNU akan berdiri di depan, bersenjatakan keyakinan atas semua ilmu yang diperoleh, bahwa NKRI adalah harga mati dan Pancasila harus terus jaya selama-lamanya. Kesadaran itu pun akhirnya semakin menguat, bahwa dalam ‘tampilan biasa’ ini, ada tanggung jawab dan kekuatan luar biasa yang tersimpan dalam tubuh KMNU, yang siap kapan pun digunakan, bagai meriam bajak laut yang siap dinyalakan untuk ditembakkan, tak akan pernah melukai kapalnya sendiri, tapi siap memborbardir kapal lain. Bersyukur bisa menjadi bagian dari KMNU, di organisasi luar biasa, dengan tujuan yang luar biasa, ditempuh dengan cara luar biasa, dan dikelilingi oleh saudara-saudara yang luar biasa.

Kontributor : Muhamad Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *