Categories
KMNU IPB Renungan Uncategorized

Belajar Dari KMNU : Aku Mah Apa Atuh

Seperti apa yang saya sampaikan di tulisan sebelumnya, banyak hal luar biasa yang ada dalam keluarga ini (read : Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama). Salah satu yang paling luar biasa adalah dalam beragam hal luar biasa itu, justru KMNU tampak biasa saja di luar. Setidaknya itu yang dinilai orang yang hanya melihat KMNU dari luar saja, tanpa mau mengenal lebih dalam. KMNU itu yang sarungan terus itu ya? KMNU itu yang kerjanya tahlilan itu? KMNU itu yang tradisonal banget itu ya? Jawabannya pasti IYA. Tapi tak berhenti di situ saja, banyak juga anggota yang sudah berjas dan bersepatu, banyak juga yang sudah keluar negeri untuk presentasi essay dan karya tulis lainnya, dan hampir semua punya misi masa depan yang sangat modern. Disitulah hebatnya, semua di simpan untuk dipakai saat waktunya tiba, yaitu di masa depan, karena sekarang masih saatnya untuk belajar.

Di keluarga ini, selalu saja ada alasan untuk memilih orang lain dari pada diri sendiri. Di organisasi lain, setiap anggota pasti berkeinginan bahkan sampai pada tahap ambisi akut untuk mengisi jabatan atau posisi tertentu, untuk menjadi sang Ketua misalnya. Tapi di keluarga ini, setiap anggota justru punya alasan untuk lebih memilih orang lain daripada dirinya sendiri. Jangankan dalam hal kekuasaan yang jelas-jelas terlihat menyimpan nikmat semu dunia dan tanggung jawab pasti di akhirat nanti, dalam bidang keagamaan yang memang bidangnya saja (anggota KMNU notabene adalah mahasiswa yang suka dan mau ngaji ilmu Islam) juga berlaku sama, mengutamakan anggota lain untuk jadi Imam sholat jamaah, meminta anggota yang lain untuk memimpin doa, tahlil, dzikir, dll. Selalu saja ada alasan untuk mengutamakan orang lain. Masih ada yang lebih pantas, Masih ada yang lebih tua, masih ada yang lebih bagus bacaan Al Qur’annya, masih ada yang lebih banyak hafalannya, dan masih ada banyak alasan lain untuk mengutamakan orang lain. Yang lain saja, jangan saya. Inilah salah satu hal indah dan menenangkan yang ada dalam keluarga ini. Sangat berusaha menjauh dari kebanggaan posisi, meski sebenarnya dirinya sangat mampu.

Coba saja lihat di organisasi lain, semua berlomba untuk menjadi pemimpin. Semua berusaha mencari alasan agar dirinya sendiri tampak melebihi orang lain. Yang tak bisa dilakukan, bisa tiba-tiba bisa dilakukan hanya untuk mendapat simpati dan perhatian orang lain. Untungnya, hebatnya, justru hal-hal begini ini sangat dihindari di keluarga ini. “Aku mah apa atuh, masih banyak kekurangan. Aku mah apa atuh, masih tahap belajar.” Rendah hati di depan sesama manusia dan rendah diri di hadapan Gusti Allah sepertinya bentuk praktek keta’dziman yang sudah melekat menjadi salah satu kharakter diri. Mengutamakan orang lain bukan berarti tidak mampu, tapi seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk, di keluarga ini, mereka menunduk karena berisi (berilmu), semakin berilmu justru semakin merasa tak bisa. Semakin sadar dan berprinsip ‘aku mah apa atuh’ jika dibandingkan Gusti Allah Yang Maha Tahu. ‘Aku mah apa atuh’ bukan hanya sangat kecil, tapi bahkan tidak ada apa-apanya, dibanding Gusti Allah Yang Maha Besar,

Akhirnya saya yakin, suatu saat, di saat organisasi yang lain mencapai batas karena masa mudanya tak dipakai untuk mencari ilmu, anggota keluarga ini justru akan mendobrak batas dengan mengamalkan semua ilmunya. Suatu saat, masa itu akan tiba. Segera.

Kontributor : Muhamad Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published.