Categories
Renungan Uncategorized

Belajar Agama Kepada Ahlinya

Bismillah…

Saya memulai tulisan ini dengan pujian kepada Allah ﷻ dan selawat kepada baginda alam, Rasulullah ﷺ. Perkenankan saya mengomentari sedikit hal yang mungkin perlu saya tanggapi. Mudah-mudahan tanggapan saya bisa jadi bahan pertimbangan yang bersifat moderat.

Pertama, saya tidak pernah kok menyalahkan anda duduk melingkar, membulet, mengotak, atau apa pun itu. Hal itu terserah anda. Tapi, kalo kita bicara agama beda urusan. Semua memang didasari oleh niat yang ikhlas, tapi apakah itu cukup? No. Kita juga butuh metode dan konten yang tepat.

Kalau saya solat subuh tiga rakaat dengam ikhlas lantas apa jadi boleh? Nggak kan. Sebab solat subuh ada aturannya. Belajar agama ini adalah wajib dan ia adalah bagian dari agama itu sendiri. Maka tata aturan juga ada. Bahkan ribuan kitab telah ditulis oleh para ulama demi mengulas tata cara menuntut ilmu agama yang benar. Nggak asal duduk melingkar pak…

Kedua, guru adalah salah satu tumpuan ilmu terbesar dalam memuntut ilmu agama. Tidak hanya butuh kepandaian bercakap dan kesenioran dalam tingkat pendidikan. Tapi juga butuh kesinambungan sanadnya hingga kepada sang pembawa agama, Rasulullah ﷺ, baik sanad keguruannya (riwayah), pemahamannya (dirayah), dan keizinannya dalam menyampaikan ilmu (tazkiyah). Orang yang kayak begitu bukan barang langka bagi kita. Tuh liat, berapa puluh pesantren dan majelis ta’lim di kota Bogor. Membahas ribuan kitab dari mulut sang murabbi (orisinal) yang bersambung dari dirinya kepada sayyidil alam ﷺ. Tinggal kitanya yang mau belajar atau tidak. Saya ragu, bukan kita yang tidak dapat guru, tapi kita yang tidak mau nyari atau bahkan mengabaikan informasi majelis yang sering berseliweran dimana-mana. Mungkin kalo dengar majelis atau ngaji kitab langsung muncul dalam benak “gue nggak pas ngaji kayak gitu”, “itu mah untuk ibu-ibu majelis ta’lim”, “nggak maju-maju metodenya, dari dulu gitu-gitu aja”. Berapa kali dalam sepekan mencari majelis ilmu yang memenuhi kriteria seperti itu? Kita mah bicara pake hati mas…

Ketiga, kalau anda katakan ke orang yang biasa ngaji yang bener-bener ngaji : “aku mah ngajinya langsung Qur’an”, maka itu hal yang mencengangkan mereka. Ngaji langsung kitab=Qur’an bukan hal yang ringan. Tidak ada ulama yang begitu lancangnya langsung ngaji ke Qur’an (kecuali tilawah ya… itu pun biasanya nggak Qur’an langsung tapi pake tausyih syair). Makanya kita butuh kitab yang sudah terspesialisasi dan “dikunyah” oleh para ulama. Coba aja… anda ngaji aqidah trus langsung buka qur’an, saya yakin bingung anda. Sebab anda tidak punya ilmu alat untuk membedah al-Qur’an itu sendiri. Duduk melingkar cuma pegang qur’an trus kita komentari qur’an itu seenak jidat kita dosa hukumnya. Walau komentar itu benar (rujuk hadits di muqaddimah Tafsir Ibnu Katsir)

Keempat, semua orang bakal bilang saya berdasarkan qur’an, lha wong yang membunuh Imam Ali bin Abi Thalib dalam shalatnya aja dasarnya qur’an kok. Bukan pada masalah dia berdasar pada al-Qur’an atau tidak, tapi pemahamannya terhadap Qur’an benar atau tidak. Maka kita butuh hal yang telah saya paparkan pada poin dua dan tiga diatas.

Kelima, kalau melingkar anda sesama mahasiswa itu sebatas saling mengingatkan (mudzakarah) maka tak mengapa, tapi ketahuilah kehadiran anda di majelis mudzakarah tidak menggugurkan kewajiban anda untuk menuntut ilmu agama sebagaimana mestinya. Anda harus mencari guru dan pembimbing yang tepat bagi agama ini.
الإسناد من الدين، لوﻻ الإسناد لقال من شاء و ما شاء
“Sanad ini bagian dari agama, tanpa punya sanad maka semua orang bisa bicara apa saja dengan konten apa saja”

Keenam, anda minta info ustadz dekat kampus, saya infokan nih ya… kalau mau belajar untuk di Bogor : untuk ilmu hadits silakan ke daerah Tegalwaru disana ada Syaikh Nuruddin yang dari lahir kecil di Mekah dan semua hal yang diajarkan mesti bersambung kepada Rasulullah (ampe salaman pun bersanad, namanya hadits musalsal), ilmu tasawwuf, akhlak, dan tafsir ada di ponpes al-ihya KH. Husni Thamrin tiap ahad pagi. Ada ilmu aqidah dan akhlak tiap jumat, sabtu, dan ahad pagi di ponpes al-Ghazali KH. Musthafa bin Abdullah bin Nuh, dan masih banyal lagi.

Saya rasa cukup penjelasan saya.
Yang mengharap ampunan dan bimbingan Tuhannya,
Adhli Al Karni, KMNU IPB 50, Ekonomi Syari’ah

Image : jalandamai.org

Leave a Reply

Your email address will not be published.