Categories
Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

Batu Kehidupan dari Pesantren

The night goes to dark, seiring berjalannya waktu setiap pelajaran hanya membentuk luka baru dirasakan oleh seorang santri bernama Abul fadhl. Saat melihat berjuta santri dengan anggunnya memegang kitab kuning dan kitab suci alquran bahkan terbuai indah dengan lantunan indah bahasa dan sastra arab yang melebihi syair dan terbuai ibarat sihir, ia masih duduk dibaranda depan pondok pesantren dengan penuh semangat dan istiqamah untuk menghafal sebuah surat yang begitu istimewa “Ummul Qur’an.”
Di aula pesantren disela pengajian kitab sang Kiayi memberikan sebuah petuah indah “Ibarat pakaian di toserba, seolah-olah hanya ada sekian banyak tipe manusia didunia ini ketimbang jutaan individu yang unik.Maha besar Tuhan dengan segala CiptaanNya.”  Usai pengajian kitab seperti biasa saling bercanda, lalaran, syawir, hafalan, bahkan ada sebagian santri yang masih asyik dengan sorogan dan bandhongan kitab kuning. 

Begitu indahnya suasana di pesantren dimana kita semua yaitu sama-sama seorang thulab yang haus akan ilmu dan akhlaqulkarimah, suasana dimana kebersamaan, kesetaraan, dan ukhuwah mengalir jernih menyejukkan hati setiap penghuni pesantren.

Musim kering yang berkepanjangan di negeri timur tengah, pun seasondi negeri subtropis yang silih berganti summer, autumn,  winter,  dan spring seolah menjadi saksi kerja keras seorang Abul fadhl yang selama kurang lebih 40 tahun coba  menghafal ummul qur’an namun Tuhan menyiapkan cerita indah untuknya, selama kurun waktu  40 tahun di pesantren Abul Fadhl belum mampu untuk menghafal sebuah surat istimewa yang menjadi Ummul Qur’an yakni surat Al-Fatihah. Naluriah dimana kekecewaan dan keputus-asaan juga dialami oleh Abul fadhl, esok hari saat fajar diufuk timur menyapa Abul fadhl menggendong tas dan menuju dalem Kiayi untuk berpamitan dan meminta izin go out dari pesantren. Dengan lirih dan santun sang kiayi berkata, “cobalah untuk bersabar sebentar nak, Tuhan telah memberimu waktu 3 jam untuk kau dapat menebang pohon, selama 2 jam itu sudah engkau gunakan untuk mengasah kapak-mu,  kini tinggal 1 jam, apakah kamu yakin akan pergi dari pesantren ini?” dengan terisak menahan pilu Abul fadhl menjawab pertanyaan sang kiayi, “Saya sudah 40 tahun dipesantren ini, namun surat alfatihah saja saya belum hafal, saya harus pulang kiayi.” “jika memang tempatmu disini, engkau pasti akan kembali nak, doaku menyertaimu nak,” jawab sang kiayi.
Usai berpamitan dengan Kiayi, Abul Fadhl berpamitan dengan teman-temannya.  Berjalan  menuju arah matahari terbenam Abul Fadhl kembali menuju rumah dan kampung halamannya. Ditengah perjalanan langit tiba-tiba mendung dan menurunkan hujan yang sangat lebat. Dibawah pohon jati Abul Fadhl berteduh. Tes, tes, , , tes perlahan tetes hujan membentur sebuah batu. Dalam hati, “i lose myself in a daydream”. Abul fadhl semakin seksama mengamati batu tersebut, dan perlahan semakin lama tetes air hujan itu mengkikis batu besar nan hitam dan membuatnya semakain lapuk dan hancur. Dalam hati Abul fadhl berkata, “ batu yang sekeras ini bisa lapuk, bukankah  batu dan otakku lebih keras batu ini?”. Usai hujan reda Abul Fadhl bergegas balik ke pesantren dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kampung halaman. Pertolongan Tuhan tidak pada saat kita memintanya namun Pertolongan Tuhan ada dan selalu ada disaat kita membutuhkan dan pada saat yang tepat, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha segalanya.
Setelah kembalinya Abul Fadhl dipesantren dia menjadi seorang ulama hebat yang tidak hanya hafal ummul kitab namun beliau seorang mushonnef ilmu alat,  ilmu nahwu. Beliau nama lengkapnya Abul fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Alasqalani yang dikenal dengan nama IBNU HAJAR.  
Alfatihah.  . . .

“But now we’ve stepped into a cruel world” @ Santri agen of change

Leave a Reply

Your email address will not be published.