Pertanian : Ancaman Ketahanan Gula Nasional

0
225
Harga gula ketahanan gula sudah ditentukan pada angka Rp 12.500/kg sedangkan harga gula rafinasi jauh dibawah harga yang ditetapkan yaitu berkisar Rp 4000-5000/kg. memang untuk saat ini gula impor tentu lebih efektif dalam tataran bahan baku dan pengolahan menjadi gula. Namun, hal ini merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan bidang gula. Ancaman tesebut berupa ketergantungan terhadap gula impor yang sewaktu-waktu bisa mahal harganya karena kita tidak mampu berproduksi lagi. Kondisi pertebuan saat ini tentu sudah lebih naik dari tahun 2016. Mengingat pada tahun tersebut efek la nina mnyebabkan hujan terus menerus. Memang dalam segi produktivitas tergolong besar namun dalam hal rendemen menjadi kecil. Luas areal tebu menurun secara signifikan dalam 20 tahun terakhir. Terutama setelah diberlakukannya Undang-undang yang membebaskan pemilik lahan untuk menanam sesuai keinginan mereka. Alih fungsi lahan produktif menjadi bangunan sudah menjadi ancaman yang menjadi kenyataan. Pusat industri, pembangunan infrastruktur dan perumahan sudah menggeser tanaman-tanaman pangan terutama tebu. Perluasan areal tebu sangat sulit dilakukan karena persaingan antar komoditas palawija dan hortikultura sangatlah tinggi. Tidak hanya itu, areal kas desa terkadang sudah terlebih dahulu dipesan untuk ditanam komoditas bukan tebu. Mau tidak mau tanaman tebu beralih ke lahan-lahan marjinal. Silakan datang ke wilayah-wilayah kerja pabrik gula jika ingin bukti secara nyata. Tenaga kerja semakin sulit manjadikan biaya garap semakin tinggi. Sehingga harga pokok produksi menjadi kalah bersaing dengan negara-negara lain. Tenaga yang sedikit ditambah kebutuhan tenaga kerja komoditas lain tentu membuat upah buruh semakin mahal. Perlu adanya kebijakan nasional terkait industry gula dari hulu hingga hilir. Harga ditekan subsidi dicabut tentu paradigma menuju swasembada gula semakin jauh karena petani sebagai mitra sejati pabrik gula menganggap bisnis tebu kurang menguntungkan lagi. Kalau hal ini sampai terjadi, tidak menutup kemungkinan bahwa konsumsi gula nasional sekitar 5 juta ton akan diimpor semua. Tentu akan semakin mudah bagi pengekspor untuk mengendalikan negara sebab negara tidak mampu berdikari serta kita sudah sangat tergantung dengan gula dari negara lain. Oleh Ahmad Fauzi Ridwan
FOTO ANTARA/FB Anggoro/Koz/ama/09.

Kajian Pertanian

Harga gula sudah ditentukan pada angka Rp 12.500/kg sedangkan harga gula rafinasi jauh dibawah harga yang ditetapkan yaitu berkisar Rp 4000-5000/kg. memang untuk saat ini gula impor tentu lebih efektif dalam tataran bahan baku dan pengolahan menjadi gula.

Namun, hal ini merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan bidang gula. Ancaman tesebut berupa ketergantungan terhadap gula impor yang sewaktu-waktu bisa mahal harganya karena kita tidak mampu berproduksi lagi. Kondisi pertebuan saat ini tentu sudah lebih naik dari tahun 2016. Mengingat pada tahun tersebut efek la nina mnyebabkan hujan terus menerus. Memang dalam segi produktivitas tergolong besar namun dalam hal rendemen menjadi kecil.

Luas areal tebu menurun secara signifikan dalam 20 tahun terakhir. Terutama setelah diberlakukannya Undang-undang yang membebaskan pemilik lahan untuk menanam sesuai keinginan mereka. Alih fungsi lahan produktif menjadi bangunan sudah menjadi ancaman yang menjadi kenyataan. Pusat industri, pembangunan infrastruktur dan perumahan sudah menggeser tanaman-tanaman pangan terutama tebu.

Perluasan areal tebu sangat sulit dilakukan karena persaingan antar komoditas palawija dan hortikultura sangatlah tinggi. Tidak hanya itu, areal kas desa terkadang sudah terlebih dahulu dipesan untuk ditanam komoditas bukan tebu. Mau tidak mau tanaman tebu beralih ke lahan-lahan marjinal. Silakan datang ke wilayah-wilayah kerja pabrik gula jika ingin bukti secara nyata.

Tenaga kerja semakin sulit manjadikan biaya garap semakin tinggi. Sehingga harga pokok produksi menjadi kalah bersaing dengan negara-negara lain. Tenaga yang sedikit ditambah kebutuhan tenaga kerja komoditas lain tentu membuat upah buruh semakin mahal.

Perlu adanya kebijakan nasional terkait industry gula dari hulu hingga hilir. Harga ditekan subsidi dicabut tentu paradigma menuju swasembada gula semakin jauh karena petani sebagai mitra sejati pabrik gula menganggap bisnis tebu kurang menguntungkan lagi.

Kalau hal ini sampai terjadi, tidak menutup kemungkinan bahwa konsumsi gula nasional sekitar 5 juta ton akan diimpor semua. Tentu akan semakin mudah bagi pengekspor untuk mengendalikan negara sebab negara tidak mampu berdikari serta kita sudah sangat tergantung dengan gula dari negara lain.

Oleh Ahmad Fauzi Ridwan

KMNU IPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here