Categories
Uncategorized

Analisis Kebijakan BI Rate 2013-2015 dan Impilikasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi 2015

BI Rate merupakan tingkat suku bunga agregat yang berlaku secara umum di Indonesia sebagai acuan dalam penentapan suku bunga untuk deposito/tabungan serta suku bunga kredit baik di perbankan maupun di lembaga keuangan lainnya. Sehingga, besarnya BI rate akan menentukan presentase besaran bunga yang akan diterapkan bank atau investor dalam meminjamkan modal yang umumnya berbentuk uang.

Saat ini BI rate ditetapkan pada triwulan I (April 2015) sebesar 7.5%, hal ini merupakan kenaikan suku bunga yang signifikan bila disbanding suku bunga pada tahun 2013 yang hanya sebesar 5.25%. Kenaikan BI rate ini menyebabkan implikasi baik segi petumbuhan ekonomi maupun peningkatan pengangguran.
Dalam dua tahun belakangan ini, Bank Indonesia menaikkan tingkat BI rate dikarenakan kondisi moneter Indonesia yang kurang stabil dengan ditandai terdepresiasi (melemah) Rupiah terhadap Dollar. Sehingga, bila suku bunga dibiarkan pada level tersebut akan berdampak pada penarikan saham dan krisis moneter 1998 akan kembali terulang. Maka untuk mengatasi hal ini, BI memilih kebijakan untuk menaikkan BI rate sebagai bentuk menarik investor menanamkan investasi di Indonesia dan mengakibatkan Capital Inflow di Indonesia meningkat. Sehingga dengan hal ini diharapkan modal menjadi meningkat dan pengembangan sektor riil menjadi maju yang berimplikasi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Namun, di samping meningkatkan capital inflow untuk masuk ke Indonesia, peningkatan BI rate akan berdampak pada peningkatan suku bunga pinjaman terhadap modal para investor yang ingin mengembangkan usaha mereka. Saat ini sector riil Indonesia didominasi oleh usaha kecil menengah yang sangat membutuhkan modal yang ringan akan bunga, bahkan tanpa bunga. Sehingga hal ini berimplikasi pada turunnya animo pengusaha untuk meminjam modal di bank karena bunga yang terlalu tinggi (Jika suku BI rate sebesar 7.5% maka suku bunga kredit akan lebih dari itu). Hal inilah yang mendasari perlambatan pertumbuhan perekonomian yang dikarenakan stagnansi modal dari para pengusaha dalam mengembangkan sektor riil.
Seiring dengan lesunya sektor riil akibat stagnansi modal karena tingginya suku bunga pinjaman, maka penyerapan tenaga kerja akan terganngu. Hal ini tentu berimplikasi terhadap peningkatan pengangguran di Indonesia. Data BPS tahun 2013 menyebutkan ada sebesar 6.25% pengangguran di Indonesia dan meningkat pada tahun 2015 menjadi 7.15%. Didasari data tersebut bahwa dapat disimpulkan peningkatan BI rate juga berpengaruh terhadap tingginya tingkat pengangguran di Indonesia.
Saat ini, Pemerintah banyak melakukan penghematan belanja negara yang tidak lain bertujuan untuk mengkompensasi tingginya kredit perbankan, sehingga dana subsidi (terutama BBM) akan dialokasikan lebih banyak untuk pengembangan sektor riil. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I menurut data Bappenas yaitu sebesar 4.79%. Para ahli ekonomi dan investor memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi akan menjadi sebesar 4.9%, sehingga dengan hal ini diharapkan jumlah pengangguran di Indonesia dapat ditekan dan pertumbuhan ekonomi khususnya sektor riil dapat meningkat.

M. Mulya Tarmizi
Ilmu Ekonomi Syariah IPB

Leave a Reply

Your email address will not be published.