Categories
Opini Sastra, Puisi, dan Humor Uncategorized

Aku Yang Sempat Terhempas Dari Jalan Dakwah

Ketika sebelum kuliah, tak pernah terbersit di pikiran bahwa di kehidupan kampus yang terkesan penuh dengan para cendekiawan dan kaum intelektual ini, kesempatan berdakwah justru begitu terbuka lebar. Melihat banyaknya kelembagaan mahasiswa yang mengibarkan bendera islam bertebaran di setiap sudut kampus, membuat hati ini nyaman, merasa terlindungi dan berada di lingkungan yang benar. Doa agar dapat sukses dunia dan akhirat seakan-akan semakin dekat untuk terkabulkan.

Aku sendiri bukan seorang yang sangat awam dalam hal agama. Ketika SMP dan SMA, aku sudah biasa hidup dalam lingkungan pesantren yang notabanenya memang dipenuhi aktifitas belajar mengajar mengenai Agama Islam. Tapi untuk untuk semangat berdakwah, ghiroh itu justru baru muncul sekarang-sekarang ini. Ketika SMA aku justru termasuk anak yang dikenal nakal di sekolah. Sekolahku beda pengelola dengan pesantren. Dulu aku bergaulnya sama teman-teman yang sering nongkrong sampai tawuran.
Sekarang, melihat banyaknya rekan-rekan dan kakak-kakak mahasiswa yang aktif berjuang di jalan dakwah, ada rasa iri dan ingin ikut berjuang seperti mereka. Diri ini srperti merasa mungkin ini waktunya mengamalkan ilmu yang di dapat di pesantren dulu. Keinginan itu tersimpan rapi di lubuk hati,dan kian hari semakin membesar.

Di kampus ini, ada mata kuliah yang namanya Pendidikan Agama Islam (PAI) yang wajib di ambil oleh setiap mahasiswa. Aku pun mengambilnya. Di PAI inilah aku merasa ada cara yang sesuai dengan karakterku untuk berjuang di jalan dakwah, yaitu dengan menjadi asisten dosen (asdos) yang bertugas membina kelompok kecil sekitar 8 s.d 12 mahasiswa memperdalam pemahamannya setelah mendapat materi dari dosen. Di luar asistensi ini (istilah pertemuan mahasiswa dengan asdos), ada lagi jenis kegiatan yang hampir sama namun dikelola mandiri oleh dosen dan mahasiswa dan bukan bagian dari sistem resmi belajar mengajar di kampus, yaitu mentoring atau holaqoh atau liqo. Tapi aku tak tertarik dengan mentoring ini, karena dari awal aku sudah menyukai dan berminat di asistensi, yang isi dan caranya hampir sama dengan mentoring dll itu. Jadi menurutku memilih salah satu saja sudah cukup dan akan lebih baik agar lebih fokus dan mudah mengatur waktunya. Ketika proses asistensi inilah ghiroh untuk berdakwah semakin bertambah dan menemukan jalurnya. Hingga ketika di tingkat selanjutnya dibuka pendaftaran asdos PAI, dengan semangat 45 aku kemudian mendaftar ke petugas yang ditentukan. Tapi, apa mau dikata, tiba-tiba aku tertolak dari pendaftaran itu. Satu syarat yang tak terpenuhi membuatku terhempas begitu saja.

Berjuang di jalan dakwah memang tak mudah ternyata. Ada rasa kecewa dan penuh tanya di hati, ketika saat penolakan pendaftaran itu, niat baik untuk bergabung dalam barisan para asdos ini akhirnya tak bisa tercapai. Kecewa karena impian yang sudah tersimpan lama akhirnya harus rela ditanggalkan. Bertanya-tanya karena alasan penolakan itu menurutku tak nyambung dan tak masuk akal baik ditinjau dari segi administrasi ataupun keilmuwan. Satu syarat yang tidak terpenuhi itu adalah “calon asdos harus ikut mentoring/holaqoh/liqo sebelumnya”. Syarat ini tak tertulis jelas dalam formulir, tapi saat proses pengambilan formulir pendaftaran asdos, sang petugas dengan terang mengatakan bahwa yang diterima hanyalah mereka yang aktif di mentoring/holaqoh/liqo. Ini adalah sarat mutlak, sedangkan aktif dan mendapat nilai bagus di asistensi atau kuliah PAI tak menjadi pertimbangan sama sekali.

Bukankah tak logis jika mahasiswa yang ngaji mingguan bisa ikut, sedang yang jelas alumni pesantren malah tak bisa ikut?
Bukankah tak logis jika program resmi akademik kampus justru bergantung pada program yang hanya di inisiasi oleh beberapa kalangan?

Bukankah tak logis pula jika insam yang berniat berdakwah menjadi terhalang bukan karena kurang ilmunya, tapi karena tak ikutnya dia dalam suatu komunitas tertentu?
Bukankah dan bukankah lainnya tentu masih banyak lagi, tapi ah… sudahlah. Mengeluh tak pernah menyelesaikan masalah kecuali hanya menambah rasa ingkar nikmat.

Jalan dakwah memang keras, rintangannya memang dimana-mana. Ada-ada saja penghalang yang membuat banyak orang berguguran dijalannya. Di asistensi di kampus ini adalah satu dari sekian banyak contohnya. Tentu ada rasa kecewa, saat ilmu yang di dapat setiap hari selama 6 tahun di pesantren kemudian tak dipandang apa apa dan tiada berharga dibanding aktivitas 120 menit seminggu sekali.

Sempat suatu kali ada kawan yang menasihati, “Ente gak boleh begitu. Ketika Ente merasa lebih baik dari orang lain, itu Ente sudah dalam kesombongan. Jauhi itu.”
Begitu kira-kira nasihatnya kala itu, tapi ini bukan bentuk kesombongan dan semoga diri ini dijauhkan dari segala keburukan hati sejenisnya. Ini adalah bentuk iri hati akan kebaikan yang terbuka lebar bagi orang lain yang secara fakta keilmuwannya kurang, namun malah tertutup bagi diri ini.

Ya, untungnya rasa sayang dan perhatian Allah tiada henti datang silih berganti. Karena ketika satu pintu kebaikannya tertutup, maka pintu lain sedang dibuka. Sehingga tak beberapa lama setelah itu, ada jalan dakwah lain yang memanggil dan rasanya jauh lebih indah dan nyaman untuk dilalui, jalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dengan kaum awam, dengan mereka yang benar-benar butuh rangkulan dan naungan Islam dibanding dengan orang lain.

Hari ini, aku berharap asdos PAI sudah terbuka lebar bagi setiap mahasiswa, terutama bagi mereka kaum berilmu yang sudah teruji matang baik di Islamic Boarding School, pesantren, atau tempat pendidikan pengajaran Islam lainnya. Tidak ekslusif hanya bagi mereka yang ikut mentoring/holaqoh/liqo yang terus terang saja, pengajaramnya masih belum menyeluruh, belum dalam dibanding institusi yang disebutkan sebelumnya. Jangan ada lagi pembedaan. Karena pembedaan hanya membuat dinding perbedaan menjadi semakin tinggi. Tak perlu semua dibuat sama, karena sesiapa yang bisa hidup berjamaah di tengah perbedaan, dialah yang mendapat rahmat dan menggunakan fikirannya mengenai kekuasaan dan ketetapan Allah.

Terakhir, ingin aku sampaikan, aku sempat terhempas di jalan dakwah ini oleh angin yang tiba-tiba tertiup kencang. Tapi yakinlah dalam hati, bahwa angin pun Allah lah yang memerintahkan, sehingga niat baik di jalan-Nya tak akan pernah menemui jalan buntu, tak ada satu pun yang sanggup menghalangi-Nya, apalagi hanya makhluk maupun sekelompok makhluk. Berjalanlah bersama-Nya di jalan-Nya sehingga apapun yang terjadi, itulah yang terbaik buat kita.

Kontributor: M.A

Leave a Reply

Your email address will not be published.