“Setiap masa ada pemimpin, dan setiap masa memiliki sejarah yang berbeda,” sebuah kata yang dapat merefleksi saya tentang pasang surut kepemimpinan di negeri ini. Negeri yang memiliki sumberdaya alam begitu besar, mega bio-diversitas keragaman flora dan fauna yang tinggi.  Karena itulah benar jikalau mengatur bangsa tak semudah membalikkan telapak tangan. Negeri yang besar seperti bangsa Indonesia juga menyimpan permasalahan yang begitu kompleks, rakyat indonesia masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Pendidikan belum merata dirasakan diseluruh penjuru tanah air. Memasuki abad 21 kini Indonesia siap untuk  merotasi tampuk kepemimpinan bangsa ini. Dinamika perubahan struktural bangsa beberapa bulan lagi  mulai memperkenalkan tokoh-tokoh nasionalis yang memiliki talenta, visi, dan misi siap untuk berkecimpung dalam dinamika politik. Diantara mereka hadir dalam sebuah acara Pol-Tracking Institute “dialog obral-obrol Bangsa,” di IPB pada hari sabtu,8 maret 2014, yakni Bp. Syahrul Yasin Limpo  (Gubernur Sulawesi Selatan), Bp. Ali Masykur Musa (konvensi PD, anggota BPK dan ketua ISNU), Bp. Endrianto Sutanto (Purnawiran), dan Bp. Isran Noor (Bupati Kutai Timur). Materi yang disampaikan menarik dalam upaya perubahan Bangsa yang lebih baik kedepannya.
Bp. Endriantono menyampaikan, “pentingnya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia untuk perubahan Bangsa ini,” Bp. Syahrul, “demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam mengelola Sumberdaya Bangsa dengan riset, teknologi, dan pendidikan.” Bp. Ali Masykur, “mewujudkan pemimpin yang serius dalam ketahanan bangsa ini, keadilan dan kesejahteraan sosial serta menghilangkan transaksi politik,”.Bp. Isran Noor, “mengutamakan keamanan Bangsa yang mampu mengangkat martabat Bangsa Indonesia.”
Ada hal menarik dalam acara obral – obrol bangsa yang diadakan oleh BEM KM IPB tersebut. Ditengah – tengah acara panitia meminta para pembicara melakukan unjuk kebolehan dibidang tarik suara oleh panitia. Bapak Syahrul Yasin Limpo memulainya dengan membawakan lagu dari Slank berjudul “ku tak bisa”,setelah itu disusul oleh Bapak Isran Noor. Akan tetapi Bupati Kutai Timur ini tidak menyanyikan lagu pop seperti pak Syahrul, Pak Isran malah mengajak semua mahasiswa IPB yang hadir di Graha Widya Wisuda bersholawat mahalul qiyam. Hal ini bisa dikatakan kejadian langka di IPB dimana ada sholawat berkumandang bahkan di Gedung GWW. Hal serupa pernah terjadi pada tahun 2012 saat KMNU IPB mengadakan Festival Rebana se Bogor Raya. Dengan kumandangan sholawat tadi menegaskan bahwa budaya Sholawatan bisa diterima siapa saja, suku apa aja, dan dimana saja, termasuk IPB yang notabanenya masih jarang menyelenggarakan acara berbau Mauliddurrosul & pembacaan sholawat seperti tadi pagi.
Usai acara Dialog dan Obral-obrol Bangsa para sahabat/sahabati KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) berdiskusi sebentar dengan Cak Ali dan foto bareng didepan Gedung Graha Widya Wisuda IPB, bangunan megah yang biasanya dipergunakan untuk wisuda  mahasiswa IPB dan pertama kalinya menjadi tempat Festival Rebana KMNU IPB.
(Jayat-mujib-KMNU IPB)
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *