KAJIAN RUTIN FIQH : “HAJI”

Rangkuman Kajian Rutin Fiqih

Kitab  : Taqrib Karya Syihabuddin Abu Syuja’ Al Ashfahani

Waktu : Jum’at, 15 Maret 2019

Tempat : Node ARL

Pengisi: Ustadz  Hamzah Alfarisi, S.Si

 

Bab Haji

  • Haji menurut bahasa artinya “berkeinginan”. Sedangkan menurut syari’at haji adalah mengunjungi Baitullah dengan rukun dan syarat tertentu.
  • Hukumnya adalah wajib, yaitu bagi orang yang mampu melaksanakannya.
  • Jika seseorang takut akan berbuat zina, maka menikah dulu baru melaksanakan haji.
  • Syarat wajib haji ada 7: Islam, baligh, berakal sehat, merdeka, mempunyai kendaraan dan bekal. Batas bekal yaitu punya bekal untuk kendaraan, makan atau kebutuhan sewaktu melaksanakan haji, dan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan selama melaksanakan haji.
  • Menurut Imam Rofi’i: berangkat haji lebih utama dengan berjalan kaki, karena tingkat kesusahannya lebih besar.
  • Menurut Imam Nawawi: berangkat haji lebih utama dengan naik kendaraan, karena nabi dahulu ketika berangkat haji menggunakan kendaraan.
  • Orang yang mampu untuk melaksanakan haji yaitu: Jalannya aman untuk sampai ke baitullah, aman dari nafsu, aman hartanya (tidak dicuri atau dirampok). Jika rusaknya lebih besar dari amannya, maka tidak wajib haji. Jika sebaliknya maka wajib haji.

Jenis jenis haji ada 3, yaitu:

  1. Haji ifrad, mendahulukan haji baru kemudian umrah.
  2. Haji Tamatu’, melaksanakan haji dan umrah secara bersama-sama.
  3. Haji qiran, mendahulukan umrah baru haji.

Rukun Haji ada 4:

Ihram disertai niat, ihram yaitu mengharamkan sesuatu yang halal dan yang haram tetap haram, niat, wukuf di Arofah, thawaf di baitullah, dan sa’i antara Shofa dan Marwah.

Pertanyaan:

  1. Ketika seseorang niat untuk berangkat haji, namun dia juga ada keinginan untuk meninggal dan dikubur disana, apakah itu diperbolehkan?
  2. Bagaimana jika seseorang yang ingin berangkat haji tetapi mendapat masalah administrasi?
  3. Misalkan ada orang yang mendapat hadiah haji dari seseorang, tetapi hanya sebatas untuk dirinya dan keluarganya tidak mendapat biaya selama ditinggal, itu bagaimana?
  4. Jika setelah sampai di Baitullah dan tiba-tiba bekal yang dibawa habis tidak sesui dengan perkiraan itu bagaimana?

Jawab:

  1. Boleh-boleh saja, tetapi tidak niat untuk bunuh diri di sana atau meninggalnya disengaja.
  2. Menjadi tidak wajib untuk melaksanakan haji, tetapi harus tetap diusahakan untuk di urus administrasinya.
  3. Harus dicek dulu, apakah itu boleh menurut islam atau tidak. Jika sesuia, maka dia harus mencari biaya terlebih dahulu untuk keluarganya yang ditinggal. Jika tidak bisa, maka hukumnya belum wajib tetapi boleh-boleh saja jika dia tetap berangkat.
  4. Jika mau tetap dilanjut maka tetap sah, tetapi kalau mau dibatalkan juga tidak apa-apa.

 

admin

Related Posts
Leave a reply