KAJIAN RUTIN FIQH : “PUASA DAN I’TIKAF”

Rangkuman Kajian Rutin Fiqih

Kitab  : Taqrib Karya Syihabuddin Abu Syuja’ Al Ashfahani

Waktu : Jum’at, 08 Maret 2019

Tempat : Node ARL

Pemateri : Ustadz Aziz Syamsul Huda

 

Fasal Puasa

  • Puasa : menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai maghrib dan didahului dengan niat.
  • Syarat wajib puasa ada 4:
  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal sehat
  4. Mampu atau kuat untuk melaksanakan puasa
  • Fardhu puasa ada 4:
  1. Niat: jika puasa wajib seperti puasa ramadhan atau puasa nadzar, maka niat harus dilakukan dimalam hari yaitu sebelum fajar (masuk waktu subuh).
  2. Menahan diri dari makan dan minum walaupun hanya sedikit.
  3. Menahan diri untuk berjima’
  4. Menahan dari muntah (disengaja)
  • Hal-hal yang membatalkan puasa ada 10:
  1. Sesuatu yang masuk secara disengaja ke dalam tubuh (secara umum tidak hanya makan dan minum).
  2. Sesuatu yang masuk dengan sengaja lewat mulut.
  3. Memasukkan obat lewat salah satu dua jalan (qubul dan dubur).
  4. Muntah dengan disengaja. Orang yang dalam perjalanan biasanya tidak mual tetapi pada suatu perjalanan tiba-tiba muntah maka puasanya tidak batal. Tetapi jika seseorang yang biasa mual dikendaraan saat perjalanan maka batal puasanya.
  5. Wathi, yaitu bertemunya khasyafah (kelamin wanita) dengan farji ( kelamin laki-laki).
  6. Inzal : keluarnya air mani dengan sengaja, karena hal-hal yang memicu keluarnya air mani.
  7. Haid
  8. Nifas
  9. Gila
  10. Sesuatu hal yang menyebabkan seseorang keluar dari islam dengan (semisal) melakukan pengingkaran akan keberadaan Allah SWT sebagai dzat tunggal, disaat ia sedang melaksanakan ibadah puasa, maka puasanya batal.
  • Ketika puasa disunnahkan melakukan tiga perkara:
  1. Menyegerakan berbuka puasa (ketika telah waktunya berbuka).
  2. Mengakhirkan sahur
  3. Meninggalkan perkataan buruk, seperti berbohong, ghibah, mengumpat.
  • Orang islam diharamkan berpuasa pada 5 hari, yaitu dua hari raya (idul fitri dan idul adha) dan 3 hari tasyrik.
  • Makruh puasa pada hari-hari yang ragu. Contoh pada 30 Sya’ban tidak ada yang melihat hilal, tapi malam itu terang. Atau ada yang melihat hilal tetapi yang melihat adalah orang yang tidak adil atau yang melihat dua orang anak kecil. Kecuali pada hari itu jatuh pada hari senin, kamis, waktu puasa daud yang biasa diistiqomahkan, atau puasa qadha’ maka hilang kemakruhannya.
  • Suami istri yang bersetubuh pada siangnya ramadhan dengan sengaja, maka dia wajib menggantinya dan membayar kafarah.
  • Kafarahnya yaitu memerdekakan seorang budak yang mukmin, jika tidak bisa maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang fakir miskin setiap orang mendapat “satu mud” makanan pokok.
  • Orang yang sudah meninggal tetapi masih punya tanggungan hutang puasa, maka ahli waris wajib membayar dengan memberi makan orang satu mud per hari.
  • Orang tua sudah tidak kuat lagi untuk puasa, boleh tidak puasa dengan memberi makan satu mud untuk sehari. Sebaiknya tidak dilakukan diawal bulan sudah membayar 30 mud, boleh membayar jika puasa sudah ditinggalkan.
  • Wanita hamil atau menyusui tidak puasa karena khawatir pada dirinya sendiri maka wajib meng-qadha’nya. Tetapi jika menghawatirkan anaknya maka wajib meng-qadha’ dan membayar fidyah, yaitu setiap hari memberi makan satu mud.
  • Musafir dan orang sakit boleh membatalkan puasa dan meng-qadha’nya.

 

Fasal: I’tikaf

  • I’tikaf yaitu berdiam diri di masjid dengan niat khusus. I’tikaf sunnah pada setiap waktu.
  • Keutamaan i’tikaf yaitu pada 10 hari akhir bulan ramadhan.
  • Menurut Imam Syafi’i : lailatul qadar ada pada 10 malam akhir bulan ramadhan yang ganjil.
  • Ada yang berpendapat malam lailatul qadar bisa akapan saja di bulan ramadhan.
  • Ada juga yang berpendapat pada malam Nuzulul Qur’an.
  • Syarat I’tikaf : 1. Niat , 2.berdiam diri di masjid. Yaitu oarng islam yang berakal sehat, suci dari haid, nifas, dan junub. Orang yang di tengah i’tikaf mabuk atau murtad maka batal i’tikafnya.
  • I’tikaf yang dinadzari hukumnya adalah wajib. Tidak boleh keluar masjid ketika i’tikaf, kecuali untuk hajat-hajat manusia seperti membuang air besar.
  • I’tikaf batal ketika dia melakukan wathi.
admin

Related Posts
Leave a reply