METODE DAKWAH ULAMA LAWAS

Pada hakikatnya bangsa Bumi Nusantara adalah bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi, memiliki posisi strategis yang di lewati garis katulistiwa, diapit dua samudera dan terdiri dari ribuan pulau. Hampir semua tumbuhan bisa tumbuh karena saking suburnya Bumi Nusantara ini. Sumber air yang sangat jernih bermunculan dimana-mana tak jarang para pendatang yang tiba di Bumi Nusantara berdecak kagum dengan keindahan dan ke eksotisan Bumi Nusantara ini dan tidak berlebihan pula gelar the piece of heaven dianugerahkan kepadanya. Namun secara logika dibalik karunia tuhan yang paling indah ini akan timbul musibah dikalangan ulama lawas tempo dulu seperti walisongo dan ulama lawas lainnya.Lah kenapa kok musibah? Bukannya malah seharusnya bersyukur di tempatkan oleh sang Khaliq di bumi yang gemah ripa loh jinawi semua serba tersedia mulai dari yang udara sejuk,musim yang stabil, cuaca yang stabil tidak seperti timur tengah yang siangnya membakar kulit dan malamnya membekukan kulit. Barang tumbuhan yang bisa tumbuh pun juga terbatas palingan ya pohon kurma dan anggur lain halnya dengan Bumi Nusantara yang semua tumbuhan bisa tumbuh. Jika kita menggunakan logika maka seharusnya yang sambat adalah kanjeng Nabi Muhammad bukan malah ulama lawas yang ada di Bumi nusantara, eh usut punya usut ternyata justru karena saking suburnya,Islam sangat sulit untuk berkembang di Nusantara, mengapa demikian? Lah bagaimana orang pribumi ini mau masuk islam wong mereka sudah punya agama atau kepercayaan sebelum islam masuk ke Nusantara ada yang memeluk Hindu,Budha,Kejawen,Sunda wiwitan,agama leluhur dan banyak lagi yang lainya. Dan mereka sebenarnya sudah memiliki peradaban yang sangat baik bahkan sebelum Islam masuk contohnya adalah ketika masa kerajaan kalingga yang saking makmurnya dan saking adilnya raja pada waktu itu hampir tak pernah terjadi kasus pencurian, warga setempat sudah memiliki moral yang baik pada saat itu. Hukum ditegakkan dengan adil. Kesejehateraan yang merata sehingga sangat minim sekali terjadi konflik sosial dimasyarakatnya.

Dengan kondisi sosial yang seperti itu dan kondisi sumber daya alam yang melimpah ajaran islam semakin sulit untuk diselundupkan ke hati mereka. Lah ya bagaiamana ketika wali songo menawarkan surga yang ada buah-buah segar, sungai dengan aliran air yang jernih, dimana khamr melimpah dan dihalalkan juga banyak bidadari yang cantik jelita. Iming-iming seperti ini akan tertolak mentah-mentah oleh kaum pribumi “lah ngapain nunggu masuk surga wong disisni buah sudah banyak,sumber air jernih mengalir dimana-mana, khamar juga banyak,wanitanya juga cantik-cantik lah terus ngapain harus masuk islam?’’ pikir mereka. Mungkin jika hal itu ditawarkan di arab sana bisa menjadi suatu yang menggiurkan. di arabkan panas,tanah gersang dsb.setelah di iming-imingi surga gak mempan walisongo mencoba menakut-nakutinya dangan neraka dan hisab serta hari pembalasan, dan ternyata hal ini juga ditolak karena mereka sudah mengenal konsep karma. Lah yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah kenapa sekarang di Bumi Nusantara ini mayoritas muslim?bagaimana cara berdakwah para ulama tempo dulu?, dan jika ada orang yang bertanya kepada saya mengapa kok kaum pribumi memeluk islam? Maka akan saya jawab secara teologi “ya karena hidayah.” Yawes kelar. tapi kan yah kurang etis kalo saya menjawab seperti itu(kurang greget gimana gitu). Maka saya akan menjawab bahwa alasan orang pribumi memeluk agama islam adalah karena walisongo mengajarkan akhlak secara nyata dan konkret tanpa harus melalui simbol-simbol keagamaan. Misalnya saat Sunan Kudus mengajari santri-santrinya beliau berkata”kalau kalian ingin berkurban mbok yo jangan berkurban dengan sapi lebih baik berkurban dengan 7 kambing kalo gak mau kambing yah berkurbanlah dengan kerbau toh ya kerbau dan sapi sama saja,kita harus menghormati saudara kita yang mensucikan sapi jangan sampai ibadah kita ini menyakiti hati mereka”. Lah karena akhlak seperti ini, banyak non muslim yang kagum dengan toleransi dari kanjeng Sunan Kudus ini dan banyak dari mereka yang berbondong-bondong memeluk agama Islam karena saking kagumnya dengan toleransi yang diajarkan kanjeng Sunan Kudus. Atau saat Sunan Kalijogo yang mengajarkan syahadat dengan wayang,sunan bonang dengan alat musiknya, para ulama lawas ini tidak serta merta mengkafirkan semua adat dan kebiasaan yang sudah terjadi dikalangan masyarakat pribumi waktu itu, tapi mereka masuk ke budaya dan mengakulturasinya dengan ajaran islam.

Dan dalam mengajarkan syariat islam para ulama lawas ini juga tidak pernah kaku mereka lebih memilih metode yang luwes dan bisa diterima oleh budaya setempat dan penyampaiannya sesuai dengan kondisi pola pikir masyarakat yang mereka hadapi dan metode walisongo ini diwariskan turun temurun hingga saat ini.Ada contoh cara berkomunikasi yang tepat sasaran dan sesuai hati masyarakat. Cerita ini antara Kyai Bisri dan Kyai Wahab. Suatu hari ada seoarang yang datang dari kampung sowan ke kepesantrenn Kyai Bisri sesampainya disana si orang kampung tadi menyampaikan tujuannya yakni ingin konsultasi mengenai ibadah kurban yang akan dilaksanakannya. kurang lebih seperti ini “Kyai saya ingin berkurban Idul Adha”. “untuk berapa orang?’ jawab Kyai Bisri. “keluarga saya ada 8 kyai”. “nah kalau 8 itu berarti kurbannya sapi 1 dan kambing 1 atau kalo gak gitu yah kambing 8” nah karena pada dasarnya yang bertanya ini orang kampung maka imajinasi yang dipakai juga imajinasi ala orang kampung. Dia bilang”bisa ditawar gak kyai?kan ini anak saya kecil-kecil masak gak bisa kurban sapi satu yang gemuk biar bisa buat 8 orang, kalo nanti kambing delapan nanti di akhirat kita susah kordinasinya kyai,wong nonton dangdut ae anak saya yang paling kecil ketelisut apalagi nanti di Padang Mahsyar yang miliaran orang disana,nah kalo sapi 1 kambing 1 kan yah kasihan pak kyai masak kita yang lain sama-sama satu keluarga ada satu yang sendirian(yah gak bisa disalahkan kan imajinasi rakyat yah memang seperti itu hehe).’’ “gak bisa fiqihnya seperti itu’’jawab Kyai Bisri. Kyai Bisri ini memang terkenal fiqih sentris maka kalau A ya A gak bisa berubah sedikitpun.”oke kalau begitu gak jadi saja pak kyai’’. “yah gak papa lebih baik gak jadi karena fiqihnya seperti itu”, setelah itu si orang kampung ini pulang dan pergi menemui kyai Wahab lalu bertanya ke Kyai Wahab “kyai, misal kurban sapi satu untuk 8 orang bisa gak?”. “bisa”jawab Kyai Wahab. “lah katanya Kyai Bisri gak bisa soalnya fiqihnya seperti itu”. “ouh itukan fiqihnya Kyai Bisri kalo fiqih saya yah boleh, yawes kamu ikut saya aja”. Si orang kampung itu pun gembira bukan main.”beneran kyai, alhamdulillah jadi gini pak kyai kan keluarga saya itu 8 orang, niatnya itu mau kurban sapi satu yang gemuk biar nanti di Padang Mahsyar kita bisa rombongan bareng-bareng kalo pakek kambingkan kita sendiri-sendiri, nanti kordinasinya susah apalagi anak saya masih kecil-kecil kyai”. “oalah gitu toh,ya gapapa, eh anak kamu yang paling kecil umur berapa?”. “umur 3 tahun kyai”. Jawab orang kampung sigkat.”lah ini yang jadi masalah, kan anakmu kecil nanti naik ke sapinya susah mendingan kamu nambah kambing satu yo buat tangga anak kamu yang 3 tahun tadi jadi dia bisa naik kesapi bareng-bareng sekeluarga.”jelas kyai. “iya juga ya pak kyai anakku yang paling bungsu ntar naiknya susah, kalo gitu aku mau nambah satu kambing yang gemuk sekalian biar tangganya kuat buat satu keluarga, jadi aku kurban satu sapi gemuk buat tunggangan dan satu kambing gemuk buat tangga naik ke sapi.” “nah bagus udah sekarang cepet balik terus beli hewan kurban”. Lalu bergegaslah si orang kampung tadi untuk membeli sapi dan kambing yang disarankan oleh Kyai Wahab tadi. nah dari cerita tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa dengan komunikasi yang baik kita dapat merebut hati masyarakat tanpa meninggalkan syariat ataupun melanggar syariat. Dengan penyampaian seperti yang dilakukan Kyai Wahab tadi orang kampung itu tetap mau berkurban dan penjelasan Kyai Wahab tersebut dapat diterima oleh proporsi pola pikir orang kampung itu. Metode seperti inilah yang digunakan ulama lawas sehingga syariat islam dapat diterima dengan baik dan mendarah daging di hati masyarakatnya. Cerita tadi sanadnya nyambung kepada Gusdur dan tidak ada unsur mengunggulkan salah satu antara Kyai Wahab dengan Kyai Bisri. Kedua Kyai tersebut adalah orang yang alim dan sangat bijaksana namun diantara keduanya memiliki metode tersendiri dalam berdakwah.

admin

Related Posts
Leave a reply