[Kajian] Bertani dan Bershalawat: Shalawat dan Kerarifan Lokal Pertanian Indonesia

[Kajian] Bertani dan Bershalawat: Shalawat dan Kerarifan Lokal Pertanian Indonesia

Rabu, (7/3) Mahasiswa departemen Agronomi Hortikultura, Institut Pertanian Bogor (AGH IPB) yang merupakan anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB, telah menyelenggarakan kegiatan dengan tajuk “Bertani dan Bershalawat: Shalawat dan Kearifan Lokal Pertanian Indonesia” di Koridor GKA, Kampus IPB Dramaga. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama antara KMNU IPB dengan Keluarga Mahasiswa Rohis Agronomi (KURMA). Kajian ini dititik beratkan pada bahasan umum dan aktual tentang spirit shalawat dan pertanian Indonesia. Kajian perdana ini menghadirkan Bambang Tri Daxoko (Mahasiswa Departemen Gizi IPB dan Menteri Agrikomplek BEM KM IPB tahun 2017/2018), Zulfa Ulinuha, S.P., M.Si (Asaatidzah KMNU IPB) dan Abdul Mujib (Mahasiswa AGH IPB).

Shalawat dan pembacaan maulid menjadi pembuka kajian ini. Usai shalawat, Materi pertama kemudian dibawakan oleh Ustadzah Zulfa. Beliau mengingatkan bahwa setiap tanaman adalah kuasa Allah. Allah lah yang menghendaki semuanya. Ia lah yang menjadikan tanaman subur makmur. Bahkan, jika Ia menghendaki, keringlah semua tanaman.

“Maka, songsonglah pertanian indonesia dengan meraih cintanya. Salah satu cara untuk meraih cintanya adalah dengan mengobarkan spirit shalawat dalam diri kita,” tambah beliau.

Usai pemateri pertama, Materi tentang spirit pertanian disampaikan oleh Bambang. Ia menuturkan bahwa setiap manusia pasti membutuhkan makanan, dan dengan sektor pertanianlah semua bisa dipenuhi. Ia mengajak kita semua untuk menjaga potensi-potensi pertanian nusantara. Sebab, akhir-akhir ini sempat viral tentang wilayang kendeng yang subur makmur namun dijadikan sasaran para pengusaha untuk mendirikan usahanya.

“Kendeng merupakan kekayaan alam yang wajib dijaga dan dilestarikan. Ketika alam rusak yang terkena bencana terlebih dulu adalah masyarakat sekitar kendeng. Bukan keuntungan yang diperoleh tapi bencana,” ajaknya.

Kemudian, ia juga menyampaikan bahwa tagline ketahanan pangan di Indonesia kurang tepat.

“Seharusnya indonesia tidak menerapakan ketahanan pangan, namun kedaulatan pangan. Karena masyarakat bisa makan saja itu sudah termasuk ketahanan pangan. Kedaulatan pangan merupakan suatu istilah dimana masyarakat mampu memproduksi makanannya sendiri.”

Ia juga mengajak para mahasiswa yang hadir disana untuk tidak malu menjadi sarjana pertanian, karena indonesia merupakan negara agraris yang membutuhkan sumberdaya manusi untuk mengelolanya dengan baik dan diiringi dengan kemajuan teknologi yang ada.

Kajian terakhir adalah tentang kearifan lokal yang disampaikan oleh Abdul Mujib (Mbah Doel). Menurutnya Kearifan lokal tak lepas dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat pedesaan yang menyambung-nyambungkan suatu kejadian dengan alam. Beliau mengajak kita untuk melihat suku samin dan belajar dari mereka.

“Sejak dulu nenek moyang kita hidup berdampingan dengan alam, merawat serta menjaganya. Ketika ingin memanfaatkan hasil-hasil alam hanya mengambil secukupnya tanpa merusaknya. Suku samin adalah suku yang masih kental akan kearifan lokalnya, menjaga alam dan melestarikannya. Ketika lingkungan rusak, otomatis kita tidak akan bisa menanam. Ketika lingkungan itu lestari, semua makanan tersedia dengan baik.”

Usai ketiga pemateri menyampaikan tausiyahnya, hadirin pun diajak untuk berdiskusi. Satu ilmu menarik disampaikan Thoharoh, salah satu mahasiswa Kehutanan IPB, saat menjawab pertanyaan “Apa hubungan shalawat dan pertanian?”.

“saya pernah mendengar suatu cerita yang mengatakan bahwa tumbuhan ketika dikata-katai dengan perkataan yang buruk akan mati, dan ketika dikata-katai dengan perkataan yang baik akan tumbuh subur. Dalam novel yang berjudul “hati selalu bergetar ketika menyebut namamu” menceritakan bahwa tumbuhan selalu bertasbih menyebut nama Allah. Karena makhluk ciptaan Allah bukan hanya manusia saja, melainkan tumbuhan dan hewan yang senantiasa bertasbih kepada Allah. menurut saya dengan adanya sholawat pertumbuhan suatu tanaman bisa tumbuhan dengan baik dan menghasilkan produktivitas yang meningkat. Karena tumbuhan merespon dengan baik dan mengikutinya ketika kita bersholawat,”

Sesi diskusi tersebut menutup kajian perdana kali ini. Semoga kajian ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang pertanian pertanian, kecintaan kita kepada Allah dan Rasulnya dan perhatian kita terhadap potensi alam Indonesia. Kajian ini Insya Allah akan rutin dilaksanakan setiap hari rabu awal bulan, mengingat esensi penting dari setiap pertemuannya.

(lee/mustops/chul)

admin

Related Posts
Leave a reply