MENGKRITIK YANG SANTUN

MENGKRITIK YANG SANTUN

Assalamu’alaikum wr. Wb. kawan-kawan KMNU IPB,
Semoga semuanya dalam keadaan sehat wal afiyat. Saya baru sadar anggota KMNU IPB ternyata kritis-kritis sekali. Ketika terdapat anggota KMNU IPB yang melakukan suatu jobdesk, tetapi kurang pas atau kurang sesuai, tidak segan-segan anggota yang lain mengkritik habis-habisan. Kritik sangat diperlukan seseorang agar kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dapat diperbaiki. Namun sayangnya kritik yang disampaikan seringkali tidak memerhatikan nilai santun, sehingga seolah-olah timbul sikap bullying terhadap si Penulis. Hati-hati guys, kita harus bisa belajar mengkritik yang santun. Agar anggota KMNU yang melakukan kesalahan tidak kapok untuk belajar melakukan tugasnya. Coba baca tulisan dibawah ini dari Devita Putri Mardyanti. Semoga bermanfaat.
__________
Cara Menyampaikan Kritik dengan Sopan
Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai makhluk sosial, hidup kita tentu tak lepas dari dipuji dan memuji, dikritik dan mengkritik. Kita perlu memuji untuk menunjukkan interaksi positif dengan orang lain, tetapi kita juga terkadang perlu mengkritik sebagai perwujudan kepedulian kita kepada orang lain.
Kritik sebagai wujud kepedulian? Tentu saja. Kritik yang baik tak hanya berisi celaan, tetapi juga alasan mengapa kita mengkritik, dan tentu saja memberikan masukan agar hal yang kita kritik dapat diperbaiki oleh orang yang kita kritik. Jadi, kritik yang baik tak hanya menghakimi sesuatu itu buruk, tetapi juga harus menjadi nilai tambah bagi yang dikritik agar bisa menjadi lebih baik.
Nggak seorangpun suka dikritik. Termasuk seseorang yang secara terbuka mengatakan: “silakan kritik saya!” Percayalah. Orang hanya suka dikritik kalau kritikan itu nggak menyinggung perasaan dan harga dirinya, nggak memojokkannya, dan nggak menelanjangi kenggakmampuannya.
Masalahnya adalah, kita sering tergoda untuk menyampaikan kritik bukan dengan cara yang disukai oleh orang yang dikritik, malah lebih sering disertai dengan dorongan emosi kita sendiri. Walhasil, kita hanya berteriak-teriak tanpa bisa mengharapkan penerimaan dan kelapangan dada orang yang kita kritik.
Hasil akhirnya? Kamu sebal kepada orang yang nggak mau dikritik.
Sebaliknya, orang yang kamu kritik semakin nggak menyukai kamu. Bukan kondisi seperti ini yang kamu inginkan, iya kan?
Mengapa teknik mengkritik yang simpatik itu penting? Karena sebaik apapun isi kritik kamu, kalau disampaikan nggak dengan simpatik akan sia-sia saja, bung! Kecuali kalau kita memang ingin mengajak seseorang bertengkar, kita harus belajar mengkritik dengan cara yang baik.
“Kritiklah mereka dengan cara yang baik dan simpatik,” begitu pesan guru kehidupan saya. Sebagai seorang yang berpikiran logis, saya termasuk orang yang to the point kalau menyampaikan kritikan. Khususnya dulu ketika masih belum memahami psikologi komunikasi. Sekarang pun saya belum benar-benar terampil, namun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Mengkritik itu adalah wujud dari kepedulian sosial. Kita nggak perlu alergi untuk dikritik karena saat seseorang mengkritik adalah saat dimana kita dipedulikan. Dan itu adalah saatnya kita untuk memperbaiki diri – kalau isi kritikannya memang valid. Kita juga nggak perlu takut untuk mengkritik, karena tanpa kritik dunia kita bisa lebih cepat hancur.
Banyak perilaku buruk disekitar kita bukan? Tugas kitalah untuk mencegahnya. Apalagi kalau kita sadar bahwa mengkritik untuk hal-hal baik adalah tugas yang diberikan Tuhan kepada setiap pribadi yang menyukai kebaikan.
Dalam bahasa guru kehidupan saya; “saling menyeru untuk berbuat kebaikan, dan saling mencegah dari kemungkaran”. Mengkritik? Hayuk. Tapi, lakukanlah dengan teknik yang simpatik.

muhammad

Related Posts
Leave a reply