Building Character and Leader Character

Building Character and Leader Character

Di dalam suatu sistem organisasi, sering kali kita dengar dua istilah di atas. Tak terkecuali KMNU IPB. Lalu seperti apa karakter yang selalu digaungkan itu? Yuk kita pahami bersama.

Building Character terdiri dari dua kata yakni Membangun (to buid) dan karakter (character). Adapun artinya “Membangun” bersifat memperbaiki, membina, mendirikan, mengadakan sesuatu. Sedangkan “Karakter” adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Jadi dapat kita artikan sebagai akhlak atau budi pekerti seseorang yang bersifat memperbaiki dan membina.

Karakter inilah yang kadang tidak banyak orang mampu memilikinya. Seorang pemimpin yang notabennya adalah panutan dan orang terbaik pun belum tentu menguasai karakter ini.

Sebagai contoh, banyak sekali organisasi yang ketika berganti kepemimpinan mengalami kemunduran bahkan bubar karena faktor internal sendiri. Disini peran pemimpin sangat berpengaruh nyata terhadap kelangsungan organisasi. Jika seorang pemimpin tak mampu mengendalikan akhlaknya, dapat dijamin hanya akan ada 2 pilihan. Anggotanya yang akan pergi atau pemimpinnya yang akan pergi.

Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”. (QS: Al Ahzab [33] : 21).

Rasulullah sebagai pemimpin selalu mencontohkan sifat lemah lembut kepada umatnya. Sehingga kharisma yang muncul membuat umat bahkan musuhnya sampai terkagum-kagum. Ketika umatnya melakukan kesalahanpun, beliau tetap dengan lemah lembut membimbing dan mengarahkannya.

“Pemimpin kalian yang terbaik adalah pemimpin yang mencintai kalian, dan kalian pun mencintainya. Mereka mendoakan kalian, dan kalian pun mendoakan mereka”, seperti itu Rasulullah memberikan ciri-ciri pemimpin yang berjiwa membangun.

Kekuasaan memang selalu menjadi hal yang mengiringi seorang pemimpin sebagai pihak yang mengatur umat, akan tetapi hendaknya kekuasaan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk mengurus dan melayani, bukan menjadi alat untuk menindas dan mengintimidasi. Untuk mengurus dan melayani memang membutuhkan power agar umat dapat menaati peraturan dengan baik, tetapi kekuasaan tidak boleh menjadi alasan seorang pemimpin merasa paling baik sehingga semua kesalahan dilimpahkan ke umat.

Karena bisa jadi bukan hanya sebiji sawi, tapi kesombongan telah tumbuh sebesar buah kelapa. Hehe. Mari belajar berakhlak baik.

Author : Ikbal M

muhammad

Related Posts
Leave a reply