Aksioma penginderaan

Aksioma penginderaan

Seseorang mungkin pernah berkata : Jika hati mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat memahami, maka apa dosa mereka? Jika mata mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat melihat, maka apa dosa mereka? Begitu juga, jika telinga mereka diciptakan dalam kondisi tidak dapat mendengar, maka kenapa mereka disiksa? Kita katakan : Tidak! Allah tidak menciptakan mereka untuk disiksa. Tetapi mereka menyibukkan diri dengan hawa nafsu yang menguasai mereka. Akal mereka tidak memikirkan selain itu dan hanya merencanakan cara untuk memenuhi hawa nafsu tersebut. Mata mereka tidak melihat selain yang disenanginya. Begitu juga telinga mereka. Masing-masing dari mereka melihat apa yang bukan menjadi tujuan penglihatan dan mendengar apa yang bukan menjadi tujuan pendengaran.

Perbedaan antara pemahaman hati, penglihatan, dan pendengaran telinga adalah : Pemahaman hati berarti pemahaman terhadap perkata-perkara yang dihasilkan oleh penginderaan. Kita tahu bahwa penginderaan terjadi melalui panca indera. Kita tahu bahwa sutra itu halus dengan merabanya. Kita tahu bahwa kasturi itu wangi dengan membauinya. Dan kita tahu madu itu manis dengan mengecapnya.

Jadi, setiap alat pengindera melakukan penginderaan, yaitu benda-benda yang bisa diinderai. Setelah penginderaan terjadi, dalam hati manusia akan terbentuk sebuah konsep. Dan konsep ini akan menjadi matang hingga tercipta sebuah aksioma yang diterima kebenarannya begitu saja.

Semua orang tahu api itu membakar. Sebab, ketika pertama kali manusia menyentuh api ia tersengat olehnya, sehingga ia tahu api itu membakar. Hasil dari penginderaan ini kemudian berubah menjadi konsep.

Jadi, pengetahuan masuk ke dalam jiwa manusia melalui alat-alat pengindera zhahir. Selain pengindera zhahir, ada juga pengindera bathin (tidak zahir). Misalnya mengukur berat benda dengan mengangkatnya. Para ilmuwan telah menyadari hal itu dan menemukan pengindera yang dinamakan dengan indera otot. Sebab, ketika engkau mengangkat sesuatu kadang otot bekerja lebih keras, jika beban yang diangkat berat.

Ketika kita melihat seseorang dari dekat dan orang lain dari jauh, ini dinamakan indera jarak. Ada juga indera pembeda, yaitu yang dengannya dapat dibedakan ketebalan kain, misalnya.

Jadi, semua indera membangun konsep-konsep dalam jiwa manusia. Dan ketika konsep-konsep itu telah terbangun, terbentuklah aksioma-aksioma yang menetap dalam hati.

Maka dari itu, wahai segenap mata tirulah mata Nabimu. Ia melihat kebenaran seterang siang, Ia menatap sesama dengan cinta, dan Ia memandang dunia dan tak menganggapnya berharga. Jika mata ini sepertinya maka diri ini akan diizinkan menatap indah parasnya.

Wahai segenap telinga, seperti telinga Nabi maka mendengarlah. Telinga yang pandai menyimak firman Tuhannya, telinga yang tak bosan mendengar keluh kesah, dan telinga yang tak suka mendengar aib orang dibuka-buka. Jika kau meniru caranya mendengar, kelak di padang mahsyar kau akan mendengar Surat Ar-Rahman oleh Nabi dibacakan.

Wahai segenap hati, andai rasamu terciprat rasa hati Nabi, sedihmu adalah atas dosa dan maksiat. Bahagiamu atas ibadah dan taat. Hati Nabi kalau dibuka berisi rahmat yang siap ditebar kepada seluruh umat. Tak ada benci, iri, dengki, ataupun kesombongan. Dari sanalah bersumber darinya segala kebaikan. Andai… dengan hati Nabi hati ini tersambungkan. Sungguh, untuk diri ini Allah turunkan segenap kasih sayang. Dan bersama Nabi diri ini selalu berdampingan.

 

Referensi : Ishlahul Quluub karya Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi

muhammad

Related Posts
Leave a reply