NU, KMNU, dan Aku #Jilid3

NU, KMNU, dan Aku #Jilid3

Terimakasih, karena masih setia membaca kisah dari saudara kita Fitri Afina Radityani,
………………Aku pun terus mengusahakan untuk selalu hadir saat kajian, bahkan aku sampai meminta pengurus mengadakan kajian saat libur Ramadhan, dan Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku. Kajian Ramadhan pun dilakukan.

Mulai dari kajian rutin yang aku ikuti, aku pun mulai mengikuti majelis sholawat yang sebelumnya sangat aku hindari. Bukan karena “mereka” menyebut hal itu adalah bid’ah, tapi karena kesombongan dan kebodohanku pribadi. Pertama kalo aku mengikuti majelis sholawat, “Ya Badrotim” berhasil membuatku membuyarkan air mata. Sungguh, saat itu aku merasa menjadi umat-Nya yang durhaka pada-Nya. Sungguh, bahkan jika semua cairan dalam tubuhku keluar, mungkin tak dapat menghapus semua yang telah aku perbuat selama ini pada-Nya. Sungguh buruk dan busuk diri ini. Sejak saat itu aku mulai jatuh cinta pada-Nya. Mulailah sulit bagiku untuk tidak hadir dalam majelis sholawat atas diri-Nya. Semoga adalah ampunan untukku atas lakuku selama ini.

Dari KMNU, aku mulai mengenal banyak ulama, bagaimana bersikap kepada beliau-beliau, bagaimana bertatakrama. Tingkahku mulai teratur, mulai tertata, aku pun mulai bisa mentolerir orang lain, mulai bisa menerima, mulai bisa menahan emosi, mulai patuh pada bapak dan ibuku. Dari sini aku tahu apa beda NU dan ormas lainnya. Dan inilah satu-satunya organisasi yang tak dilarang oleh bapak bagiku untuk berada di dalamnya. Salah satunya karena Gus Dur dan Gus Mus adalah tokoh yang sangat diidolakan bapak.

Tahukah kalian, betapa nikmatnya mengaji, betapa nikmatnya bersholawat. Sungguh, semua itu sangat nikmat. Jauh lebih nikmat dari mendapat nilai A di mata kuliah tersulit yang kalian hadapi. Jauh lebih nikmat dari mendapat hadiah pergi ke luar negri gratis bahkan dapat uang saku selama di sana. Jauh lebih nikmat dari semua hal fana itu. Sungguh, jika mau hati ini mencoba mencurahkan sedikit saja kecenderungan hati untuk Allah dan Rasul-NYA, nikmat duniawi akan terasa sangat palsu. Maka berbahagialah kalian yang sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk mencicipi kedekatan dengan-NYA lebih awal dariku. Berbahagialah kalian yang sejak lahir sudah akrab dengan ke-NU-an kalian tanpa harus tercelup di tempat-tempat kurang adab seperti yang aku rasakan. Berbahagialah kalian yang mengenal lebih dahulu lebih banyak dariku. Berbahagialah… Berbahagialah…

 

Itulah pendaman kisah yang sudah lama ingin aku sampaikan kepadamu, keluarga tercintaku. Semoga Allah senantiasa melindungi dan merahmati kalian, semoga Rasulullah Muhammad sholallahu’alaihiwasallam berkenan memberikan syafaat padamu… Aamiin Yaa Rabbal’alamin

Alhamdulillahirabbil’alamin.

 

muhammad

Related Posts
Leave a reply