NU, KMNU, dan Aku

NU, KMNU, dan Aku

Oleh : Fitri Afina Radityani

Bismillahirrahmaanirrahiim

Aku, saat ini masih menjadi seorang mahasiswi strata dua di IPB. Sudah hampir 24 tahun aku hidup dari hasil bumi Kota Hujan ini. Banyak sekali dinamika yang aku rasakan selama hidup di sini, termasuk dinamika keagamaan. Bogor merupakan kota yang rimbun, tak hanya dirimbuni kumpulan pohon di Kebun Raya Bogor, tapi juga berbagai macam kelompok agama yang tumbuh subur di sini. Banyak, sangat banyak jenisnya. Jika kamu sering mendengar nama NU, Muhammadiyah, LDII; di Bogor Ada yang lebih banyak dari itu. Di sini ada tarbiyah, khawarijj, syiah, NII, Ahmadiyah, Ingkar sunnah, HTI, dan sebagainya. Banyak pendatang yang kaget saat mengetahui ada begitu banyak ormas agama di Bogor, bahkan sebagian besar ormas tersebut memang terlahir di Bogor. Luar biasa dinamika ini.

Aku, terlahir di keluarga yang tak begitu mempedulikan ormas mana yang diikuti, meski latar belakang kami NU jika dirunut ke tiga generasi diatasku. Aku, dengan semua keterbatasanku dalam beragama hanya mempunyai satu keinginan, memahami Islam dengan baik agar dapat mengenal dan dekat dengan Allah. Hanya itu. Aku hanya pernah sekolah di sekolah berlatarkan Islam pada usia 4-8 tahun. Pendidikan taman kanak-kanak dan pengajian anak-anak di kampungku. Selebihnya, hanya ilmu umum dengan sedikit bumbu agama yang aku dapat di sekolah negeri.

Aku tetap merasa beruntung, karena banyaknya bobot materi agama yang disampaikan padaku saat SD. Setidaknya aku pernah mempelajari hal-hal ringan, seperti jenis-jenis air, tatacara istinja’, macam-macam puasa, kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan sebagainya. Hal-hal itu mungkin cukup sulit didapat oleh murid SD saat ini. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk mengenalnya lebih awal.

Kehidupanku saat SMP tak jauh berbeda. Sampai saat itu aku tak tahu, tak mengenal, keempat Imam yang madzhabnya dianut umat Islam sampai sekarang. Bukan hanya tak memahami ajaran beliau, mendengar namanya pun tak pernah sepertinya. Aneh? Ya, itulah yang aku alami saat itu. Lalu apa yang aku dapat selama mengaji? Aku melaksanakan semua tatacara ibadah berdasar madzhab Imam As-Syafi’i, tapi aku tak pernah merasa mendengar nama beliau. Sampai saat itu. Sampai aku menanyakan, siapakah beliau? Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan mengenal wali-Nya lebih awal.

Dinamika agama dimulai saat aku SMA. Saat ini lah aku mengenal Rohis. Berlatarkan tarbiyah yang begitu kental. Aku tetap ikut di dalamnya meski bapakku melarang. Mengaji tanpa iringan restu dari Bapak, dimanakah berkah akan aku dapat jika semua itu terjadi terus nenerus? Astaghfirullah. Apa yang didapat selama berkecimpung di kelompok tarbiyah sangat banyak. Aku mulai terbiasa dengan beberapa ibadah sunnah meski aku tolak beberapa pemahaman mereka seperti haramnya tahlil dan cinta tanah air. Bagaimana tidak? Kakekku adalah tentara yang nemperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dan ku diharuskan untuk tidak mengenang jasanya? Durhaka lah aku sebagai cucu. Sungguh aku tak paham dengan logika mereka. Tapi yasudah lah, yang penting aku tetap mengaji dengan murabbiku. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan aku untuk mempelajari beberapa sunnahnya bersama mereka.

Aku masih terikat dengan tarbiyah sampai tingkat tiga strata satu di IPB. Tak hanya tarbiyah, bahkan aku pernah ikut kelompok khawarij saat tingkat satu meskipun tidak sampai mendalami. Alhamdulillah… Alhamdulillah… Tak sampai aku mencela para Khulafaur Rasyidin. Semua hal itu mulai terhenti saat aku mengenal kedua adik tersayangku, Rofi’ul dan Hijayat.

…………………Bersambung…………………

*nantikan kisah selanjutnya

muhammad

Related Posts
Leave a reply