Menjadi Mahasiswa Istimewa

Menjadi Mahasiswa Istimewa

Oleh Yunaeni

Setiap manusia terlahir membawa tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Berupaya untuk melaksanakan seluruh bagian kehidupan dengan bijak dan seimbang. Kali ini, kita akan mencoba berdiskusi mengenai secuil kehidupan di bangku kuliah. Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa kehidupan mahasiswa adalah taraf pendidikan yang paling pelik jika dibandingkan dengan  taraf pendidikan yang lain. Nama kita yang tidak disebut sebagai ‘siswa’ lagi, menjadikan kita seolah-olah sebagai manusia yang paling tinggi kedudukannya. Karena embel-embel ‘maha’, membuat kita merasa telah menjadi orang dewasa yang dipenuhi dengan tugas dan masalah.

Saya akan mencoba berbagi pandangan agar peran sebagai mahasiswa tidak membuat kita menjadi manusia yang hanya memiliki jalan satu arah. Kita perlu mejadikan diri sebagai sosok yang mampu berdiri di seluruh ruang dan masa. Kita perlu sosok yang lebih, yakni menjadi seorang mahasiswa istimewa. Lalu, apa saja pandangan mengenai mahasiswa istimewa itu? Mari kita simak uraian berikut ini.

Pertama, mahasiswa istimewa adalah mahasiswa yang mampu menjalankan seluruh jari-jari kehidupannya. Belajar dari bangku sekolah menengah atau dari madrasah aliyyah ke bangku kuliah membuat kita bertambah level, itu pasti. Namun, jangan lupa pula kedudukan kita yang lain. Mengertilah bahwa selain nama MAHAsiswa yang kita sandang, kita juga menyandang peran lain sebagai seorang anak, kakak, adik, cucu, santri, teman, sahabat, kolega atau yang lainnya. “Ingatlah bahwa jari-jari kehidupan kita sangatlah banyak, dan ia akan terus bertambah seiring bertambahnya usia”.  Bukankah akan sangat egois apabila kita hanya menjalankan satu peran saja? Bijaksanakah jika kita hanya mengagungkan status mahasiswa dan melupakan peran lainnya? Lalu bagaimana kita memainkan semua peran itu? Nyatanya waktu kita ini hanya 24 jam sehari, tidak bisa dikurang atau ditambahkan. Waktu yang ada seakan begitu singkat dan tak cukup untuk melakukan seluruh jari-jari kehidupan. Karena katanya, seluruh waktu telah tersita untuk kuliah, mengerjakan tugas dan melaksanakan berbagai program kerja. Lalu? Ya… tentu kita tetap harus menjalankan seluruhnya, bukan memilih, bukan melalaikan atau bahkan meninggalkan salah satunya. Melaksanakan semua bagian hidup merupakan keputusan istimewa. Itu artinya, perlu pengorbanan dan kerja keras yang lebih besar agar peran itu terlaksana.

Yang jelas, mahasiswa istimewa tak pernah lupa dengan keluarganya. Ia tidak lupa menjadi seorang anak yang senantiasa memberi kabar kepada orang tuanya meskipun tugas datang menghadang. Ia tidak lupa menjadi kakak yang siap membimbing adik-adiknyanya meskipun tugas organisasi menghampiri. Iapun tidak pernah lupa menjadi adik yang selalu menjaga silaturahim dengan kakak-kakaknya, tidak lupa menjadi tempat bercerita bagi teman/sahabatnya, tidak lupa dengan orang-orang disekitarnya yang setiap saat membutuhkan ulur tangannya dan ia pun tidak lupa menjadi santri yang dengan tekun belajar ilmu agamanya. Mengaji adalah kewajibannya. Kuliah adalah tanggungjawabnya. Ia sadar bahwa kehidupan bukanlah memandang sesuatu dari satu sisi saja.  Dalam hal ini, saya tidak mampu menjelaskan bagaimana membagi waktu  agar seluruh jari-jari kehidupan itu berjalan, karena saya yakin setiap pribadi memiliki caranya masing-masing. Yang jelas, sosok mahasiswa yang kita agungkan tak akan mampu menghapus peran-peran lain yang sejatinya telah melekat kuat pada diri kita.

Kedua, Mahasiswa istimewa adalah google berjalan yang siap menjadi pusat informasi bagi orang-orang disekitarnya. Rasa kurang peduli atau ‘masa bodo’ dengan lingkungan merupakan sosok yang wajib dan harus kita hindari. Sosok semacam ini senantiasa bergantung dan mengandalkan orang lain disekelilingnya. Bagaimana kau akan menolong orang lain jika menolong dirimu sendiri saja tidak mampu? Jadi, lebih baik kita pikirkan lagi dan berusaha menjadi server bukan user. Berusahalah menjadi ‘google’ yang banyak dicari di seluruh negri. Bukankah sangat menyenangkan jika hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain? Dalam hadistpun disebutkan, bahwa “sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Karena pada kenyataannya, eksistensi manusia ditentukan oleh kemanfaatannya. Apakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya, menjadi parasit buat yang lainnya.

Ketiga, Mahasiswa istimewa adalah ia yang tidak menikmati kemalasan orang lain. Hal ini akan kita alami ketika kita menjalin kerja sama dengan kolega atau teman yang ‘agak pasif’ dalam sebuah kelompok (kelompok organisasi atau kelompok belajar). Tidak perlu iri dengan kemalasan orang lain apalagi mengikuti sifat pasifnya itu dan tidak  perlu mengolok-ngolok teman kita yang tidak berperan dalam sebuah kelompok. Ketika kita sudah mengingatkan, namun tetap tidak ada perubahan, maka biarkan saja. Karena itu adalah pilihannnya, pilihan untuk menjadi golongan orang-orang yang yang gagal. Lalu, langkah apa yang perlu kita ambil? Cukup menjadi diri sendiri, jaga sikap rajin yang kita miliki. “Lebih baik teman kita menikmati sikap rajin kita, daripada kita harus menikmati kemalasannya”. Karena setiap perbuatan akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya.

Yang terakhir, Mahasiswa istimewa adalah ia yang menyukai sebuah proses hidup. “Jadilah semai dulu, jangan langsung jadi pohon”. Di dalam ilmu kehutanan, terdapat beberapa tingkatan yang harus dilalui oleh tumbuhan sebelum menjadi sebuah pohon, yakni semai, pancang, tiang lalu barulah menjadi pohon. Terkadang kita bermimpi untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi tanpa mau mengikuti proses panjangnya. Kita lupa kalau untuk menjadi sebuah pohon yang besar dan menjulang tinggi perlu menjadi semai yang kecil dan tertekan. Kita perlu sebuah perjuangan untuk melawan pohon-pohon besar lainnya, Karena hal itulah yang akan menghantarkan kita menjadi sosok yang istimewa. Tidak perlu tergesa-gesa mengejar kedudukan atau impian, ikuti saja prosesnya. Prestasi dan kemenangan adalah ‘bonus’ yang pasti akan menjadi followers bagi para pejuang sejati.

Bagaimana kawan? Apakah cukup memberikan pandangan baru atau bahkan muncul suatu penolakan pendapat? Hehe, tak apa, karena setiap orang selalu memiliki cara tersendiri untuk menjadi istimewa. Semoga bermanfaat dan jangan pernah bosan untuk belajar agar kita semua dapat menjadi sosok  istimewa diberbagai ruang dan masa.

 

muhammad

Related Posts
Leave a reply