GORENGAN SHOLAWAT

GORENGAN SHOLAWAT

OLEH MUHAMMAD ZIMAMUL ADLI

Hehehehehe….. Izinkan aku tertawa dulu sebelum menceritakan “Gorengan Sholawat” Mungkin aneh judulnya, atau bahkan bid’ah. Soalnya zaman Nabi Muhammad belum ada yang nama “Gorengan Sholawat”. Tapi tak apalah.

Masih cerita yang sama tentang kegiatan di diskotik itu. Gemuruh sholawat tak henti-hentinya terlantunkan setiap malam minggu dengan berjuta kerinduan kami.

Seperti biasa kami memulai aktifitas dengan tawasul kepada Nabi Muhammad SAW, Shohibul Maulid, Muassis Nahdlatul Ulama dan untuk Shohibul Wilayah. Dengan mengaharapkan keberkahan dari beliau dan berharap beliau-beliau semua hadir menemani keluarga kami.

Dilanjutkan Membaca Ya Rabbi Sholli Ala Muhammad, Ya Robbi Sholli Alaihi Wasallim sampai selesai kami baca tak satu bagianpun kami lewati dari rowi dan ba’it Maulid Ad-Dibai. Itulah budaya kami turun menurun dari dulu yang sudah mengakar dan semoga tak satupun bait dan rowi ditinggalkan setiap membaca Maulid Ad-Dibai oleh generasi selanjutnya.

Dan itulah yang dianjurkan kepada kami satu rombongan (Saya, 2 MPO, ketua BPH Regional 2, dan tak lupa BKMNUSER) saat sowan kepada Habib Ahmad bin Abbas bin Abdurrahman Alattas dan kami juga beruntung mendapatkan ijazah dan sanad Maulid Ad-Dibai sampai kepada Abuya sayyid Muhammad Maliki Al-Makiyyi.

Rak terasa sampailah penghujung acara yaitu doa. Setelah berdoa tak jarang kami masih duduk-duduk dan berdiskusi tentang KMNU ataupun yang lainnya sambil menyatap makanan ringan yaitu Gorengan.

Begitu sering bahkan setiap malam minggu sepertinya menjadi ciri khas makanan keluarga kami saat bersholawat bersama. Tapi jangan kira gorengan itu hasil dari iuran kita bersama, atau bahkan dari uang kas yang saat itu masih tipis atau bahkan donatur luar negeri kaya raya yang rela untuk menghibahkan uangnya untuk digunakan untuk membeli gorengan hehehe…

Tapi ada satu orang yang setiap malam minggu menyisihkan uang jajannya untuk membelikan gorengan sholawat itu. Entah kenapa alasan dia rela untuk melakukan hal itu dan akupun tak mau bertanya kepadanya, biar waktu yang akan menjawabnya. Pikirku.

Suatu ketika, Gorengan Sholawat itu tak muncul lagi di diskotik tempat keluarga kami bersenandung. Disitulah seolah menuntunku kepada jawabannya dan dia pun bilang dengan sederhanya “Biarkan dan diam saja mam, kita lihat apakah adik-adik kita meneruskan tradisi keluarga kita apa tidak. Sebenarnya kenapa aku beli gorengan sholawat itu karena aku khawatir setiap kita rutinan ada orang baru atau tamu yang ingin ikut. Lantas, kita tidak kasih apa-apa. Jadi aku jaga-jaga saja” ungkapnya.

Alasan yang simpel nan sederhana tapi memiliki makna yang dalam bagi kita bersama. Dan akhir-akhir ini aku baru mendengar bahwa “siapa yang membuat gembira tamunya Rasul SAW, maka praktis membuat gembira Rasul SAW. dan barang siapa yang membuat gembira Rasul maka dia akan diberikan kegembiraan oleh Allah dan Rasulallah”

Mari kita doakan bersama, semoga ia dan kita semua diberikan kemudahan dan kelancaran semua hajatnya serta mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW didunia maupun diakhirat. Amiin

Terimakasih keluargaku yang telah berbagai kelezatan “Gorengan Sholawat” setiap malam minggu.

muhammad

Related Posts
Leave a reply