Kritik Informasi

Kritik Informasi

Seiring makin lalu lalangnya informasi yang berpangkal pada ketidak jelasan, perlu adanya kritik atas informasi tersebut. Selama ini sering kali masyarakat maya kurang berpikir lebih panjang. Meminjam istilah Kang Savic Ali, orang yang jempolnya lebih cepat bergerak daripada otaknya.

Kritik pertama ialah kritik sumber. Siapa pembuat artikel tersebut? wajib ditanyakan. jangan mau disodori sumber ‘dari grup sebelah’, ‘dari saudaramu di kep. azores’, ‘dari al-faqir’. jika termuat sumber tersebut, tolak informasinya, masukkan keranjang sampah. Jika ternyata ada, contohnya ‘Dr. Syabalalaa Anthotecha, pakar pemuliaan pasir’ pastikan dulu latar belakangnya. Ada atau tidak? Kalau ada, telusuri lagi. Ada atau tidak kepentingannya di masalah yg digaungkan? Oh ternyata ia salah satu dari pihak yang bertikai. Jangan keburu ditolak, jadikan itu sebagai salah satu rujukan sekunder, karena keberpihakan penulis. Oh, dia ternyata cuma menulis opini, berarti menurun menjadi  rujukan tersier. Oh ternyata dia sebelum-sebelumnya selalu bikin artikel provokatif, tinggalkan. Oh dia tidak linier keahliannya dengan masalah yang dikomentari, kalau saya sih, buang saja. Oh, ternyata dari web sumbernya beritanya hoax banget, buang saja. Oh webnya tidak pernah tabayyun, buang lagi. Saya tekankan lagi. Buang sampah artikel yang anonim, mereka banci.

Kritik kedua, kritik judul. Fase ini bisa langsung  diloncati apabila tidak ada judul. Kritik menitikberatkan pada pemakaian kata provokatif dan huruf CAPSLOCK jebol. Kedua unsur tersebut mengindikasikan penulis artikel lebih menekankan kepada mengajak (opinion maker) daripada memberi info (opinion taker). Berbahaya sekali. Seringkali ditemukan ‘konspirasi’, ‘pengalihan isu’, ‘sebarkan’, ‘berbahaya’, ‘menimbulkan penyakit’, dan lain sebagainya. Tidak disarankan menjadikan artikel seperti itu sebagai rujukan.

Kritik isi yang terakhir, hampir sama dengan judul, seringkali penyebar ujaran kebencian memakai diksi provokatif dan CAPSLOCK jebol. seringkali melakukan pemotongan ujaran hingga ayat/hadits. pemotongan atau pemenggalan kalimat sangat mengurangi esensi dari yang disampaikan narasumber. Sekarang diperkaya gambar editan photoshop dan cropping gambar. Strategi lainnya, memasang foto dari peristiwa lain untuk artikel di peristiwa yang ia pakai, seperti memakai suatu poster/penggalan film untuk dijadikan ‘dokumentasi’ pertempuran di aleppo atau memakai foto tahun-tahun sebelumnya di perang Iraq dan dibumbui caption ciamik.

Penutupnya, titik berat penerimaan berita ada di kritik sumber. Undzur ma qola hanya berlaku di nasehat. Tabayyun nomor pertama. liat siapa penyebarnya siapa pembuatnya apa latar belakangnya.

Jangan sampai kita jadi kaum yang jempolnya lebih cepat daripada otak.

Dirangkai dari berbagai pengalaman.

 

Tabik,

Reza K. Rahmatullah

sempat nyantri di PP Darul Ulum

muhammad

Related Posts
Leave a reply