Gadget VS Karakter Anak

Gadget VS Karakter Anak

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan yang mencolok antara anak “jaman dulu” dengan anak “jaman sekarang”, terutama terkait kepercayaan terhadap lingkungan sekitar yang sekarang semakin rendah. Dahulu, antar tetangga satu desa pun sering bertegur sapa dan saling bermain ke rumah. Anak-anak bermain sungguh sangat mengasyikkan, tidak adanya rasa kecemburuan ataupun sikap intoleran yang membeda-bedakankan antara laki-laki dan perempuan. Anak-anak pure bermain, tanpa ada rasa yang lain selain bersenang-senang bersama. Namun semua berubah sejak “negara gadget” menyerang. Anak “jaman sekarang” lebih asyik dengan dunianya sendiri daripada bersosialisasi dengan lingkungan disekitarnya.

Kalau dihitung-hitung dengan gramatika ilmiah sosial bahwa anak “jaman dulu” lebih mudah beradaptasi daripada anak “jaman sekarang” memang betul adanya. Mungkin dengan bermain tanpa rasa sungkan itulah yang membuat anak-anak jaman “dulu” menjadi pribadi yang akrab dan mudah bergaul dengan masyarakat. Kebiasaan berupa adab menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda yang dibentuk sejak kecil, memudahkan dalam adaptasi terhadap lingkungan baru. Sedangkan  anak “jaman sekarang” yang sering bermain dengan gadgetnya cenderung agresif atau pemarah, introvet dan pemalu. Anak jaman “sekarang” akan cenderung untuk memilih diam tanpa kata daripada bertegur sapa. Ditambah dengan meningkatnya kejahatan yang terjadi disekitar lingkungan anak yang menyebabkan anak cenderung tidak mau bergaul dengan orang yang baru dikenalnya.

Hal yang terjadi pada saat ini tentu bisa berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Perlu diingatkan orang tua kepada anak-anak bahwa dunianya bukan pada apa yang ada digenggamannya tapi dunia sebenarnya ialah dunia yang ia takuti. Tidak perlu risau mengingat kejahatan yang sekarang tidak mengenal usia. Waspada itu perlu, namun tidak boleh berlebihan. Sebab segala yang bersifat berlebihan itu tidak baik. Untuk itu, anak perlu dibekali dengan kemandirian yang tangguh; seperti disekolahkan pada lokasi yang agak jauh dari zona nyaman anak, kemah di hutan mungkin akan meningkatkan survival anak ketika di alam bebas. Selain itu, diperlukan juga kemah disekitar rumah warga dan meminta anak untuk melakukan wawancara mengenai berbagai hal kepada warga. Kegiatan tersebut tidak perlu berlangsung dalam waktu yang lama, cukup dengan 2-3 hari setiap masa periode tingkat pendidikan. Maksud kegiatan tersebut agar kelak ketika anak sudah tumbuh dewasa dapat dengan mudah beradaptasi dan menyelami kehidupan sekitar.

 

Bersyukurlah bagi kalian yang dibesarkan tanpa adanya gadget. (Wahyu Wulaningsih)0

 

muhammad

Related Posts
Leave a reply