Ruh KMNU : Pentingnya Kajian dan Diba’an

Ruh KMNU : Pentingnya Kajian dan Diba’an

Sebuah kesempatan manis yang dapat dinikmati oleh mahasiswa IPB, khususnya anggota KMNU IPB yaitu turut hadir dalam rutinitas majelis kajian dan pembacaan maulid Diba’i. Kewajiban seorang mahasiswa tentulah menuntut ilmu. Islam memberikan penekanan akan pentingnya menuntut ilmu, karena menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Tak hanya belajar mengenai duniawi, belajar ilmu agama juga sangatlah penting bagi seorang mahasiswa.

Majelis kajian KMNU IPB hadir sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menimba ilmu keagamaan. Dengan mengikuti kajian yang disampaikan oleh guru-guru yang hebat, banyak pelajaran-pelajaran yang dapat kita ambil dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena penting sekali menuntut ilmu dengan berguru dan bersanad dalam islam. Berkata Imam Asy Syafi’i ra : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar di gelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu.” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433)

Akan tetapi apabila menimba ilmu keagamaan dari sumbernya langsung tanpa perangkat yang memadai, maka yakinlah hanya akan berakibat perpecahan umat Islam. Sebagai fenomena yang terjadi saat ini banyak kehancuran, musibah, dan saling menjatuhkan pendapat di dunia maya (media sosial) dikarenakan banyak orang berfatwa menyesatkan yang sebenarnya disebabkan ia langsung menggali hukum dari Al-Qur’an dan Hadist tanpa melalui prosedur ijtihad dan tanpa mempelajari kitab kuning. Selain kegiatan kajian kitab kuning tersebut, KMNU IPB juga mengadakan rutinitas pembacaan maulid Diba’i.

Apa itu Maulid Diba’i ?

Sebagaimana kita ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau tulisan singkat yang berisi bacaan shalawat. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berbentuk buku atau kitab antara lain : shalawat Dala’il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba’iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berbentuk tulisan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah, shalawat Badriyah dan lain-lain.

Dari sekian banyak kitab yang berisi bacaan shalawat tersebut ada yang paling terkenal dan sering dibaca oleh warga Nahdliyyin, salah satunya adalah Shalawat Diba’i. Jadi, pengertian Maulid Diba’i itu adalah membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Rasulullah SAW secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Inilah salah satu bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Walaupun kita berada di tanah rantau, kebiasaan kebiasaan baik kita harus tetap dilakukan. Dengan mengikuti majelis dibaan ini hati kita senantiasa merasa tentram dengan melantunkan  sholawat bersama-sama, kita berharap untuk mendapatkan syafaat dari beliau, Nabi Muhammad SAW. Sesibuk apapun kita sebagai mahasiswa, hal yang terpenting adalah jangan sampai meninggalkan ‘ngaji’ dan amalan-amalan baik lainnya yang sudah biasa kita lakukan sebelumnya. (Himmatul Ulya)

muhammad

Related Posts
Leave a reply