KHADIJAH, SOSOK SANG CINTA RASULULLAH ﷺ

KHADIJAH, SOSOK SANG CINTA RASULULLAH ﷺ

Hari ini UAS hari keempat selesai. Kepalaku panas serasa ingin didinginkan oleh sedikit aliran air dingin. Betapa tidak, semester ini UAS bertepatan dengan bulan Ramadlan, siapa yang tidak panas? Aku pun melirik jam, masih pukul 9.30. Masih bisa Dluha’ pikirku. Aku pun bergegas ke masjid kampus. Lumayan, sekalian mengistirahatkan diri menunggu dzuhur yang masih lama. Mengumpulkan tenaga untuk aktivitas selanjutnya.

Selepas salat dluha’, laptop menjadi sasaran pertama mencari hiburan. Mencari senandung pengantar tidur. Kubuka file-file lama. Mataku tertuju pada satu file video berjudul نتوسل بالحبابة (Natawassal bil Hubabah). Qashidah berupa syair berbahasa Arab yang bercerita tentang sosok nan wanita mulia yang tak ada duanya disepanjang zaman. Rindu rasanya mendengarkan lagi syair indah itu. Mungkin dapat membantu menghibur hati dan mengistirahatkan mata, pikirku. Walhasil, qashidah itu pun kuputar.

Kupasang earphone agar tidak mengganggu jamaah lain. Kubaringkan badan di karpet masjid sambil mendengarkan qashidah dari laptop. Kupejamkan mata. Kubiarkan pikiranku mengikuti alunan qashidah indah yang kuputar.

Qashidah “Natawassal bil Hubabah” ini bagai membawaku kembali seribu empat ratus tahun lalu. Berbagai riwayat yang telah kupelajari mengenai kemuliaan sosok istri Rasul yang dipuja-puji oleh qashidah ini seperti tampak langsung di depan mata. Ya, istri Rasulullah tercinta. Cinta pertama sang Rasul yang tak pernah padam dan tergantikan dengan yang lain. Dialah Sayyidah khadijah Al-Kubra binti Khuwailid. Istri pertama sang Rasul.

Teringat satu riwayat yang disampaikan oleh salah seorang guru kami bahwasanya Rasulullah ﷺ senantiasa menyebut nama “Khadijah” setiap keluar rumah. Sampai-sampai membuat Sayyidah Aisyah terbakar api cemburu hingga beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ dalam bahasa kiasan “bukankah Allah telah menggantikan untukmu kebun yang hijau lagi indah, mengapa kamu masih memikirkan kebun kering yang sudah binasa!?”.

Kiasan bahwa beliau masih muda ketika dinikahi oleh Rasulullah ﷺ dan masih hidup. Berbeda dengan Sayyidah Khadijah yang sudah janda ketika dinikahi dan sekarang pun telah wafat.

Seketika Rasulullah ﷺ terlihat marah sampai-sampai (kata Sayyidah Aisyah) nampak rambut beliau bergetar menahan marah.

Rasulullah ﷺ pun menjawab dengan bahasa tegas dan lugas “Tidak! Demi Allah tidak ada ganti yang lebih baik daripadanya. Dia beriman ketika semua ingkar. Ia membenarkanku kala semua orang mendustakanku. Ia mencurahkan hartanya ketika orang lain tidak. Darinya Allah mengaruniakan aku anak dan perempuan lain tidak”.

Kata-kata tersebut membuat Sayyidah Aisyah paham betapa tingginya kedudukan Sayyidah Khadijah dan begitu besar cinta Rasulullah ﷺ padanya. Cinta yang tak tergerus oleh masa walau telah ditinggal bertahun-tahun.

Memang, Sayyidah Khadijah meninggal dunia mendahului Rasulullah ﷺ tanggal 10 Ramadlan tahun kesepuluh kenabian diusia 65 tahun. Beliau memberikan lima buah hati bagi Rasulullah ﷺ. Kepergian beliau membuat Rasulullah ﷺ begitu bersedih, hingga ulama sejarah menamakan tahun itu sebagai ‘amul huzn (tahun kesedihan).

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari diceritakan, suatu hari jantung Rasulullah ﷺ berdetak lebih cepat dan badan beliau bergetar karena mendengar suara perempuan dari kejauhan. Suara perempuan tersebut sangat mirip dengan suara Sayyidah Khadijah. Mengingatkan Rasulullah ﷺ kenangan pemilik suara yang menenangkan itu. Suara yang dapat meredakan demam tinggi beliau akibat didatangi Jibril untuk menerima wahyu dimasa awal kenabian.

Rasul pun segera menghampiri asal suara. Beliau tahu Sayyidah Khadijah sudah wafat tapi yang namanya cinta menutup semua alasan logis. Semua yang berhubungan dengan sang kekasih adalah hal yang dapat mengalihkan konsentrasi.

“Ya Allah, ternyata engkau wahai Halah” gumam beliau ketika bertemu pemilik suara. Sayyidah Halah adalah saudara perempuan Sayyidah Khadijah yang ketika itu datang berkunjung ke tempat Rasul di Madinah.

Riwayat terakhir yang sangat terkenal dikalangan ahli hadits dan tarikh (sejarah) bercerita bahwa ketika Fathul Makkah (penaklukkan kota Makkah) Rasulullah ﷺ tidak mau tinggal disalah satu rumah sesiapapun di kota suci tersebut. Beliau lebih memilih mendirikan tenda lusuh dan biasa di daerah Hajun. Salah satu dataran tinggi di kota Makkah. Seraya berkata dan terus mengulang kata-katanya, “Khadijah… Khadijah… Khadijah sedang terbaring disini”.

Ya, tanah suci Hajun adalah tempat Sayyidah Khadijah dimakamkan. Tempat yang awalnya hanyalah dataran tinggi berbatu. Namun semuanya berubah mulia dan harum sejak sang kekasih Rasul dimakamkan di sana.

Aduhai, rindu redam hati ini tuk bertemu dengan beliau. Ibunda kaum muslimin diseluruh penjuru alam disetiap zaman.

Wahai kawan, tahukah engkau jika 10 Ramadlan kemarin adalah hari wafat beliau? Mungkin indah kiranya jika kita bersama-sama membacakan surah Al-Fatihah kepada beliau sebagai hadiah kecil dari kita atas jasanya yang amat sangat besar.

Al-Fatihah…

Demikian sedikit tulisanku, tentang secerca kemuliaan wanita perkasa nan bijaksana. Pendamping Rasul yang mulia. Kekasih beliau yang merupakan hadiah dari Yang Maha Kuasa.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini. Sampai berjumpa dilain kesempatan.

Bogor, 11 Ramadlan 1437 Hijrah
@adhli_alkarni

 

muhammad

Related Posts
Leave a reply