MENJAGA KELEMBAGAAN NU UNTUK PENGENDALIAN SOSIAL*

MENJAGA KELEMBAGAAN NU UNTUK PENGENDALIAN SOSIAL*

Kholilah Dzati Izzah
(Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB, 2013)

 

…Sudah sejak lama NU berakar kuat dalam kehidupan masyarakat khususnya di Pulau Jawa, lebih khusus lagi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Boleh dibilang, NU justru tumbuh di kalangan akar rumput dari bangsa Indonesia, mengingat pesantren-pesantren tradisional –yang dalam hal ini turut menjadi alat dalam penyebaran pengaruh NU – adalah hal yang tidak asing dijumpai di pedesaan. Atau minimal, pada masyarakat beretnis Jawa meskipun tidak berdomisili di daerah tersebut. Maka tidak heran jika sampai ada sekelompok masyarakat di Pulau Jawa yang bahkan tidak tahu ada corak beribadah dalam agama Islam yang berbeda dengan NU, yang bukan merupakan bagian dari kelompok NU sehingga mereka menganggap bahwa kalau bukan NU berarti bukan seorang muslim. Hal ini menunjukkan begitu melembaganya tradisi keislaman yang dilakukan oleh masyarakat NU dan eksistensi NU itu sendiri dalam kehidupan sosialnya. …

 

Paragraf di atas merupakan penggalan esai yang ditulis oleh seorang mahasiswa IPB dalam memenuhi tugas individunya di salah satu mata kuliah. Mata kuliah tersebut membahas mengenai kelembagaan, organisasi dan kepemimpinan dalam rangka pengembangan masyarakat. Mengambil kasus NU dalam analisis keterkaitan kelembagaan dengan dirinya merupakan langkah yang tepat, karena realitanya, NU memang bisa dijadikan contoh bagaimana sebuah organisasi massa Islam ini bukan hanya terbesar secara struktur, namun mampu masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat secara kultural. Tak heran, ketika dipresentasikan di depan kelas, esai ini membuat mahasiswa lain bertanya-tanya bagaimana NU bisa begitu melembaganya dalam kehidupan masyarakat khususnya pedesaan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pahami terlebih dahulu definisi kelembagan. Setiap dari kita tentu merupakan anggota dari suatu sistem sosial, baik berdasarkan etnis, pekerjaan, maupun kategorisasi lainnya. Dalam sistem sosial, kita beraktivitas dengan berpedoman pada aturan baik yang tertulis maupun tidak, juga, baik yang disadari maupun tidak. Aturan yang tidak disadari oleh individu namun nyatanya telah membentuknya untuk “menjadi”, atau “melakukan dan tidak melakukan” sesuatu, pada dasarnya merupakan buah dari pengulangan aktivitas yang telah berlangsung lama. Hal itulah yang kemudian kita sebut kelembagaan, karena aktivitas tersebut telah melembaga dan menjadi pengatur dalam kehidupannya. Seperti halnya perkawinan. Setiap individu secara fitrah memiliki hasrat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun hal itu menjadi hal tabu jika dilakukan tanpa aturan main yang berlaku dalam sistem kemasyarakatannya[1]. Maka dari itu diperlukan suatu aktivitas untuk mengatur dan memberi nilai yang berbeda atas hal yang sebenarnya dianggap tabu tersebut. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan sederhana bahwa kelembagaan juga hadir bukan semata-mata karena pengulangan aktivitas, namun juga dalam rangka pemenuhan kebutuhan individu. Tidak dilaksanakannya hal-hal yang sudah melembaga dalam kehidupan seorang individu atau masyarakat pada umumnya akan menimbulkan kekhawatiran, perasaan ‘tidak lengkap’, atau bersalah.

Kembali ke pertanyaan yang diajukan sebagai tanggapan atas esai di atas: bagaimana NU bisa sebegitu kuat melembaga dalam kehidupan masyarakat akar rumput? Banyak alasan yang menyebabkan hal ini, namun kalau mau kita sederhanakan, maka jawabannya adalah: tanpa pemaksaan dan istiqomah.

Tanpa pemaksaan adalah cerminan nyata dari kesabaran dan keikhlasan para penyebar Islam di Indonesia. Bukan hal yang mudah untuk mendakwahkan Islam di Indonesia jika hanya bermodal iming-iming “..surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. Lha wong Indonesia tidak pernah kekeringan, mau makan buah ini-itu tinggal cari di kebun atau hutan. Begitu juga, tidak mudah mendakwahkan Islam dengan jalan menakut-nakuti dan penaklukan (hingga pertumpahan darah). Bisa-bisa, bukannya tersebar, Islam justru dibuang dan mungkin saat ini kita sebagai anak cucu orang-orang terdahulu masih belum bisa merasakan nikmat Islam. Inilah hebatnya para Wali kita, dengan kreativitas beliau mengadopsi tradisi lokal dengan menyisipkan nilai-nilai Islam.

Yang kedua, istiqomah. NU melembaga karena ulama-ulamanya memberikan tauladan keistiqomahan pada umat. Ibadah bukan semata-mata melakukan sesuatu yang jelas “diumumkan” ganjarannya, namun ibadah karena memang adanya kecenderungan pada Allah dan pada Rosulullah SAW. Artinya, ketika seseorang beribadah, yang dipikirkannya bukan lagi berapa jumlah pahalanya, namun nikmat ibadahnya berupa ridho Allah SWT. Kecenderungan semacam ini tidak mungkin terbentuk tanpa adanya pembiasaan, istiqomah. Selama turun-temurun, NU mewariskan amalan-amalan yang menuntun jama’ahnya untuk istiqomah, contoh sederhananya wirid.

Tidak mengherankan, jika dalam organisasi Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) pun, telah ditetapkan aturan bahwa jika suatu perguruan tinggi akan mendirikan KMNU, hal utama yang harus dilakukan adalah mengistiqomahkan kajian dan sholawatan selama beberapa waktu tertentu. Bukan strukturnya terlebih dahulu, apalagi program kerja ‘profesional’nya. Cukup siapkan istiqomahnya dalam mengamalkan tradisi NU.

Telah disebutkan sebelumnya, bahwa pada umunya, seseorang atau masyarakat akan merasakan ‘ada yang kurang’ jika hal yang sudah melembaga dalam kehidupannya tidak dijalankan. Maka seharusnya, ketika kita yang saat ini telah bernaung di bawah bendera KMNU tidak lagi merasa resah, merasa ‘tidak lengkap’, khawatir, jika menanggalkan amalan NU, masihkah kita bisa menyebut NU adalah jati diri kita? Jangan-jangan, kita hanya bersembunyi di balik tubuh NU dan KMNU untuk melindungi eksistensi diri kita sendiri.

Yang perlu digarisbawahi, kenapa penting untuk menyadari bahwa melembaganya NU dalam masyarakat (melalui keistiqomahannya) merupakan hal yang menguntungkan? Melembaganya sesuatu yang baik dapat menjadi alat pengendalian sosial yang mengarah pada kebaikan pula. Melembaganya tradisi NU seperti selametan, maulid Nabi, wirid, dan lain-lain dapat menjaga bangsa ini dari kerusakan moral. Misal, proses mencintai Rosulullah dapat dimulai dari pembiasaan hadir di majelis-majelis sholawat. Dengan mencintai Rosul, maka seseorang terhalang atau setidaknya akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu yang amoral. Ketika sholawatan tidak lagi menjadi kebutuhan dan kelembagaan sholawatan itu hilang, bukan tidak mungkin orang-orang akan lupa akan panutan terbaiknya, dan kriminalitas lebih banyak lagi terjadi. Tinggal kita, pemuda yang bernaung di bawah organisasi KMNU, yang mengklaim dirinya adalah orang NU, bebas untuk memilih tetap menjadikan kelembagaan NU ini sebagai sarana pengendalian sosial bangsa, atau berkontribusi dalam degradasi kelembagaan NU dalam tubuh KMNU sendiri. Selamat beristiqomah!

 

[1] Yang perlu digarisbawahi di sini, sistem kemasyarakatan tempat seorang individu tinggal dan menjadi bagian dari lingkungannya tidak selalu merupakan gagasan yang orisinil, yang benar-benar dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Bisa jadi, sistem kemasyarakatan merupakan upaya perwujudan dari nilai-nilai suatu agama beserta atributnya, yaitu kitab suci.

*Dimuat juga di Buletin Nahdlatul Qolam Edisi 24. Link download buletin (pdf): https://drive.google.com/file/d/0B7YpmRezUX9fZG5aQkMtQ1NVRjA/view?usp=sharing

Sumber gambar : http://mbahgoogel.com/biografi-kh-hasyim-asyari-pendiri-nahdlatul-ulama-nu/

 

muhammad

Related Posts
Leave a reply