Kekeluargaan bagian dari lita’arofu*

Kekeluargaan bagian dari lita’arofu*

Kekeluargaan memiliki kata dasar keluarga yang mendapat imbuhan awal berupa “ke-” dan akhiran berupa “-an”. Kata keluarga yang dalam kamus bahasa Indonesia berarti ibu dan bapak beserta anak menjadi berubah makna akibat adanya imbuhan tersebut. Makna kekeluargaan menjadi sebuah kata yang mencerminkan nilai-nilai dalam keluarga. Sehingga kekeluargaan dapat definisikan sebagai sebuah rasa yang diciptakan manusia yang berguna untuk mempererat hubungan antar kedua individu ataupun kelompok agar timbul rasa kasih sayang dan persaudaraan.

Pada hakikatnya dalam Islam, Rasululah telah mengajarkan rasa persaudaraan tersebut dalam sebuah hadist:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المسلم اخو المسلم (رواه ابو داود عن سويد بن حنظلة)

Rasulullah SAW bersabda : “orang islam adalah bersaudara bagi orang islam (lain)” (HR. Abu Dawud)

Rasa persaudaraan tersebut tentunya akan lebih kokoh dan indah bila dilengkapi dengan rasa sayang dan cinta seperti yang diajarkan oleh Nabi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أحب أحدكم صاحبه فليأته في منزله فليخبره أنه يحبه لله (رواه احمد والضياء عن أبي ذر).

Rasullulah bersabda: “apabila salah satu dari kalian mencintai saudaranya, maka datangilah ke rumahnya. Sampaikanlah kabar kepadanya bahwasannya Allah mencintainya” (HR. Ahmad dan Dhliya’ dari Abu Dzar)

Konsep kekeluargaan ini mulai dikembangkan oleh pemuda terutama di kampus, baik organisasi eksternal maupun internal. Konsep ini dikembangkan karena dirasa lebih moderat dari pada konsep organisasi murni yang kurang memperhatikan satu individu ke individu lain. Selain itu, nilai-nilai kekeluargaan dirasa lebih relevan dengan budaya Indonesia. Namun dalam pelaksanannya konsep kekeluargaan ini harus diimbangi dengan profesionalitas demi majunya organisasi tersebut.

Sebagai anggota organisasi ataupun individu harus saling menyadari dan mengerti, sehingga terbentuklah suatu keseimbangan. Jadi tidak ada anggota yang hanya ingin selalu difahami  ataupun anggota yang selalu harus memahami. Hal ini relevan dengan Firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  )الحجرات/13(

Hai para manusia, sesungguhnya kami menciptakan kaliam semua dari seorang laki-laku dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-Hujurat ayat 13).

Kata kuncinya adalah “lita’arofu” yaitu saling mengenal. Makna yang lebih lanjut dari “lita’arofu” yaitu memahami individu ataupun kelompok lebih mendalam mulai dari karakakter, kebiasaan, tingkah laku, dan hal penting lainnya. Dengan memahami karakter individu lain, maka akan menentukan  cara bermuasyaraoh dengannya.  Sehingga dengan bekal tersebut, rasa sakit hati tersinggung dan pemikiran negatif yang lain dapat dihindari. Muncullah sikap husnuzdon yang diajarkan oleh Rasullah SAW.

 

*Artikel ini dimuat dalam Buletin Nahdlatul Qolam Edisi 23. Silahkan unduh buletin full version (.PDF) disini>> download NQ edisi 23

Kontributor: Hamzah Alfarisi (KMNU/50)

muhammad

Related Posts
Leave a reply