Bagaimana Kita Bercanda dalam Keluarga yang Terorganisir?*

Bagaimana Kita Bercanda dalam Keluarga yang Terorganisir?*

Pada suatu kesempatan, saya duduk mendengarkan ceramah singkat dari seorang anggota KMNU IPB yang meski sebaya dengan saya, ilmu beliau jauh melampaui umurnya. Hal yang paling saya ingat sampai sekarang dari apa yang beliau sampaikan yaitu bahwasannya Rosulullah itu ada dalam setiap diri manusia. Coba telisik ke kedalaman masing-masing dari kita, pastilah ada yang selalu membuat penilaian tentang mana yang benar dan mana yang seharusnya tidak kita lakukan. Karena ceramah itu sangat singkat dan hanya untuk mengisi waktu menunggu acara inti, maka saya tidak sempat menanyakan lebih jauh perihal Rosulullah yang ada dalam setiap diri manusia. Saya kemudian menyimpulkan secara pribadi, bahwa mungkin saja yang biasa kita sebut nurani itu sejatinya adalah Rosulullah.

Dalam berorganisasi, apalagi tren organisasi saat ini yang katanya berbasis kekeluargaan, memang tidak afdhol rasanya kalau komunikasi yang terjalin adalah komunikasi yang kaku, terbatas pada struktural, dan tanpa guyonan-guyonan pencair suasana. Jangankan dalam organisasi, dalam kehidupan di luar organisasi pun setiap orang pasti menyukai humor dan memang salah satu kebutuhan manusialah untuk tertawa. Namun ketika candaan kepada sesama teman (yang –kalau konteksnya ‘organisasi kekeluargaan’ atau bahkan ada yang menyebut ‘keluarga yang terorganisir’ – sudah  dianggap saudara) tidak lagi sekedar pengundang tawa tapi ada unsur-unsur lain yang di luar batas, apakah masih pantas kita ini menyebut diri kita saudara dari seseorang yang kita jadikan bahan candaan?

Memang tidak ada garis yang benar-benar menjadi pembatas sampai dimana seharusnya candaan kita kepada sesama teman. Tapi cukuplah kita jadikan Rosulullah yang ada di dalam diri kita masing-masing sebagai pembatas apa-apa yang kita lakukan. Dengarkan nurani bicara dan biarkan ia membuat penilaian tentang pekerjaan kita. Boleh jadi saudara yang selalu kita bercandai itu kita yakini tidak akan marah dengan candaan kita, tapi coba cari Rosulullah dalam diri kita. Apa yang Beliau katakan tentang candaan kita.

Menjadikan saudara sebagai bahan candaan dengan terus menerus menyebut aib-aibnya yang menurut kita lucu, apakah hal yang disukai nurani kita? Seharusnya ada perang berkecamuk di hati kita ketika sedang melakukan hal yang berlebihan, namun bisa saja perang itu tidak kita sadari saking terlalu asiknya kita tertawa dan lupa istighfar. Yang jadi pertanyaan kemudian adalah, bagaimana cara Rosulullah bercanda?

Alkisah, saat Ali bin Abi Tholib masih kanak-kanak, ia pernah memakan kurma bersama Rosulullah SAW. Ali makan begitu lahap dan tanpa disadari telah menghabiskan lebih banyak kurma dari yang dimakan Rosulullah SAW, terlihat dari biji kurma yang dikumpulkan di hadapan masing-masing. Karena biji kurma di hadapan Ali lebih banyak dia mencoba memindahkan dan menggabungkan biji kurmanya dengan biji milik Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam secara sembunyi-sembunyi. Ali bin Abi Thalib kecil pun mencandai Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu!”

Mendengar ucapan polos Ali kecil itu Rasulullah SAW tertawa dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau memakan kurma berikut biji-bijinya.” Sontak, guyonan Rosulullah SAW itu membuat Ali juga ikut tertawa. Alangkah, Rosulullah adalah guru dari semua pengetahuan dan keahlian, termasuk keahlian dalam bergurau. Shollu ‘alan Nabi Muhammad..

Tertawa itu sehat, bercanda bisa mengundang tawa dan membuat orang lain ikut bahagia. Terlebih dalam sebuah ‘keluarga yang terorganisir’ ataupun organisasi yang mengklaim berlandaskan kekeluargaan, bercanda bisa menjadi suplemen pelanggeng hubungan dalam internal organisasi. Tapi satu yang perlu diingat, sesungguhnya jika kita sudah merasa menjadi saudara bagi yang lainnya, bukankah tidak tega rasanya mencandainya dengan candaan-candaan yang berpotensi menyakiti perasaannya? Wallahu a’lam.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah beriman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujarat : 11)

*Artikel ini dimuat dalam Buletin Nahdlatul Qolam Edisi 23. Silahkan unduh buletin full version (.PDF) disini>> download NQ edisi 23

Kontributor: Lalachan (KMNU/50)
Pict. source: i.imgur.com

muhammad

Related Posts
Leave a reply