[Cerpen] D A L A M

[Cerpen] D A L A M

Akhirnya Kang Mus kami gelandang. Katanya dia mau memberikan konfirmasi tentang lakunya selama ini. Dia selalu mengecam, atau bahkan seperti mengutuk setiap tindakan kami.

“Kang, anda tahu kan tentang dalil yang mengisyaratkan kita saling berbelas kasih kepada sesama kita dan keras kepada yang lain agama?” Tanya Ustadz Rozaq

“Ya, saya tau itu” Jawab Kang Mus santai tapi mantap.

“Tapi kenapa anda selama ini selalu mengecam kami dan membela mereka yang tidak seagama dengan kita? Anda memperlakukan mereka seperti saudara saja dan selalu keras sikap kepada kami. Apa anda sudah melupakan ukhuwah islamiyah?”

Sebelum Kang Mus menjawab serangkaian pertanyaan menuntut jawaban dari Ustadz Rozaq kulihat raut muka Kang Mus. Seperti biasa selalu teduh dan meneduhkan yang menatapnya. Sangat jarang kulihat Kang Mus marah sampai kehilangan kendali. Aku benar-benar ingat saat Kang Mus melontarkan suatu jawaban dari berbagai pertanyaan dariku beberapa hari lalu. Ingatanku melayang ke pertemuanku waktu itu.

 

**

“Kang Mus” Kupanggil Orang yang bernama lengkap Musthofa itu.

“Iya, ada apa dik?” Kang Mus menjawab dengan bersahabat seperti biasanya. Meskipun Kang Mus sudah melanglang nusantara sebagai pejuang HAM. Dia tetap low-profile kepada siapa pun.

“Saya ada pertanyaan kang.”

“Pasti habis ikut majelisnya Ustadz Rozaq ya?”

“Hehehehe, iya Kang.”

“Ah, udah biasa.”

“Gini lho Kang, tadi Ustadz Rozaq membahas tentang kekafiran dan kesesatan dalam beragama, Kang. Saya masih bingung, Kang. Hehehe”

“Kalau Kamu tanyanya begitu, saya aja lho gak bisa menentukan dengan pasti siapa yang kafir, siapa yang muslim, semuanya benar-benar cuma Allah yang tau.”

“Eh, Kang, kok malah tambah bingung aku,” timpalku sambil garuk-garuk kepala.

“Begini lho gampangnya, Kamu tau Baba Ah Kwan, pedagang sembako di Pasar Besar itu?”

“Tau kang, yang Akang sering bertamu kesitu kan, Kang?”

“Ya bener. Dia itu saya rasa lebih islam dari saya lho, dik,”

Lho kok bisa kang? Ah Kwan Kong Hu Cu, Kang!” Aku tiba-tiba seperti naik pitam.

“Bentar bentar dik, santai,” Kang Mus menenangkanku. “Baba Ah Kwan itu sangat adil dalam berdagang, tak pernah menipu, sangat suka berderma dan tak pernah saya melihat Baba Ah Kwan memaki orang lain, saat saya bandingkan dengan umat islam umumnya di pasar dan saya sendiri khususnya. Membuat saya bertanya ke diri sendiri. Sebenarnya siapa yang islam?. Begitulah tercetus di pikiran saya. Saya kembali buka-buka kitab Riyadus Sholihin dan akhirnya menemukan jawaban. Kita cuma bisa menghukumi secara dhohir, masalah batin biarlah Allah saja.”

**

“Ehem..” Kang Mus berdeham, lamunanku buyar seketika dan menandakan kalau Kang Mus sudah siap menjawab.

“Saya bertindak keras itu bukan semata mata karena saya benci kepada kalian, bukan. Malah saya saking sayang dan kasihnya pada kalian. Saya selalu berusaha mengingatkan kalian. Dan kalau dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Dalam anjuran itu kita memang harus keras kepada mereka, tapi pada hal aqidah dan keyakinan saja. Dalam hal bergaul sehari-hari ya kenapa kita harus saling bercuriga dan saling berkeras kepala serta egois? Ukhuwah? saya tak lupa dengan itu, tetap ingat saya malah saya sedang mengembangkannya dengan merangkul orang-orang yang masih belum mendapat hidayah dari Allah. Mungkin saja dengan pendekatan persuatif seperti ini malah lebih efektif dibanding dengan saling berbantahan dan terus saling tuding siapa yang benar atau salah. Coba saja kalian posisikan sendiri diri kalian sebagai mereka, sebagai minoritas hidup di tengah-tengah kaum mayoritas dan tidak punya pelindung dari kita sebagi umat yang mayoritas. Sebagai umat yang unggul dalam hal kuantitas, jangan lupakan unggul juga dalam kualitas. Kita juga harus mengayomi mereka. Ukhuwah Wathoniyah. Sebagai sesama penduduk negara kita ini. Jangan sampai kita lebih kafir dibanding mereka.” Jawab Kang Mus bernada datar dan lancar.

Semua orang terdiam. Aura kewibawaan Kang Mus merasuk hingga hati. cuma Ustadz Rozaq yang terlihat agak gerah dan celingukan.

“Sudah puas Ustadz?” Tanya Kang Mus tiba-tiba.

“Cukuplah untuk hari ini, Mus” Jawab Ustadz Rozaq.

“Kalau masih punya ganjelan di hati, temui saja saya secara pribadi. Saya permisi dulu, saya punya janji ngopi bareng Pak Hudan marbot itu, wassalamuaikum.” Tutup Kang Mus sambil mengeloyor pergi keluar majelis.

Masih kutatap punggungnya. Punggung orang yang kukagumi dan selalu kukagumi.

Dramaga, 5 Agustus 2015

Kontributor:
Reza Kurnia Rahmatullah
Jurusan Silvikultur IPB 2015

muhammad

Related Posts
Leave a reply