Puasa Enam Hari Bulan Syawal

syawal-6-hari-copyBismillahirrahmanirrahim..

Syekh Musthafa al Bugho menyataka dalam karyanya, kitab “al Fiqh al Manhaji ‘Ala Madzhabi al Imam as Syafi’i” pada muqadimah bab puasa sunah, bahwa sama sekali tidak ada keraguan kalau puasa merupakan salah satu amalan ibadah yang paling utama. Diriwayatkan dari Abi Said al Khudri, Rasulullah S.A.W. bersabda :

 من صام يوما في سبيل الله باعد الله تعالى وجهه عن النار سبعين خريفا

Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun”. [HR. Bukhari Muslim] [1]

Sunah puasa 6 hari syawal

Puasa sunah itu ada dua macam. Puasa tanpa sebab (puasa dengan niat sunah mutlak mengikuti Rasulullah) dan puasa yang mempunyai sebab (terdapat teks hadits yang menyebutkan hari-hari tersebut secara khusus) [2]. Adapun salah satu macam dari puasa yang mempunyai sebab adalah puasa sunah 6 hari pada bulan Syawal. Diriwayatkan dari Abi Ayyub al Anshari, Rasulullah S.A.W. bersabda :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Barangsiapa yang berpuasa (pada bulan) Ramadhan kemudian diikuti (puasa) enam (hari) pada bulan Syawwal, maka hal itu seperti puasa setahun”. [HR. Muslim] [3]

Apa kiranya maksud teks hadits “maka hal itu seperti puasa setahun”?

Dalam hadits lain yang diriwayatkankan dari Tsauban, Rasulullah S.A.W. bersabda :

من صام رمضان وستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة ، من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها

Barang siapa puasa Ramadhan dan enam hari setelah hari raya Idul Fithri, maka dia seperti puasa setahun penuh, barang siapa melaksanakan satu kebaikan baginya pahala sepuluh kali lipat”. [HR. Ibnu Majah] [4]

Jadi yang dimaksud oleh teks hadits “maka hal itu seperti puasa setahun” adalah bahwa pahala puasa bagi orang tersebut dilipatgandakan oleh Allah sepuluh kali ({30 + 6} = 36 x 10 = 360).

Puasa 6 hari bulan Syawal ini, sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Muhammad az Zuhaily dalam karyanya “al Mu’tamad Fi al Fiqhi as Syafi’i”, boleh dilaksanakan kapan pun dalam bulan Syawal. Baik itu di awal bulan, tengah maupun akhir. Juga boleh dilaksanakan secara berurutan harinya maupun terpisah. Namun yang paling utama adalah dilaksanakan di awal bulan pas setelah hari raya Idul Fithri dan bersambung harinya. [5]

Adab dalam puasa

Dalam pelaksanaannya, baik itu puasa wajib maupun sunah, terdapat adab (hal-hal yang dianjurkan maupun dilarang) di dalamnya. Syekh Wahbah az Zuhaily dalam karyanya “Mausu’ah al Fiqh al Islami wa al Qadhaya al Mu’ashirah” menyatakan, setidaknya ada satu adab pondasi yang diajarkan Rasulullah S.A.W selama menjalani ibadah puasa. [6]

Yaitu hendaknya seseorang yang berpuasa lebih menjaga lisan dan anggota badannya dari berkata serta berbuat sesuatu yang kurang atau tidak berguna. Apalagi dari perkara yang haram seperti berbohong, ghibah, memukul orang lain dan lainnya yang tetap di larang walaupun tidak sedang berpuasa. Juga apabila diganggu atau disakiti oleh orang lain, hendaknya orang yang sedang berpuasa lebih kuat untuk menahan diri dan cukup berkata “saya sedang berpuasa”. Diriwayatkan dari Abi Hurairoh, Rasulullah S.A.W. bersabda :

إذا أصبح أحدكم يوما صائما فلا يرفث ولا يجهل فإن امرؤ شاتمه أو قاتله فليقل إني صائم إني صائم

Bila salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata keji atau berbuat kejahilan. Jika seseorang menghina atau menyakitinya, maka hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa” [HR. Muslim] [7]

Demikian ibadah puasa dalam syariat Islam. Tidak hanya ritual menahan haus dan lapar saja, namun juga mendidik jiwa umatnya untuk menjadi lebih kuat, baik dan bijaksana. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah S.A.W. bersabda :

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش

Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja”. [HR. Thabrani] [8] . Semoga kita tidak termasuk dalam golongan tersebut.

Hikmah puasa

Di atas adalah adab pokok yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W. ketika sedang berpuasa (disamping terdapat adab-adab lainnya), yang kalau kita cermati, renungi dan rasakan sungguh indah hikmahnya. Yaitu bagaimana Allah secara tidak langsung melatih hambanya untuk menjadi individu, serta makhluk sosial terbaik. Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. [9] Ilmu pengetahuan juga telah sedikit mengungkap bahwa puasa mempunyai manfaat yang sangat besar dalam bidang kedokteran, juga beberapa bidang lainnya.

Namun, hikmah yang paling pokok, sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Musthafa al Bugho, adalah tambahnya pengabdian dan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. [10]

 وما يزال عبدي  يتقرّب إِليّ  بالنوافل حتى أُحبّه ، فإذا أحببته : كنت سمعه الذي يسمع به ، وبصره الذي يبصر به ، ويده التي يبطش بها ، ورجله التي يمشي بها

Dan senantiasa seorang hamba mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga aku mencintai-Nya. Jika Aku mencintainya : Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan mendengar, dan Aku menjadi mata yang dia gunakan melihat, dan Aku menjadi tangan yang dia gunakan memegang, dan Aku menjadi kakinya yang dia pergunakan berjalan” [HR. Bukhari] [11]

Karena ketika hikmah pokok ini tercapai (dirasakan oleh pelaksana puasa –atau ibadah lainnya-), insya Allah hikmah-hikmah lainnya akan tercapai juga secara otomatis.

Demikianlah Islam, agama rahmat semesta alam, yang setiap syariatnya mengandung unsur pengabdian dan nilai keluhuran. Semoga kita termasuk muslim yang benar-benar muslim. Berkata dan berperilaku dengan ilmu sesuai ajaran Islam. Bukan mengaku muslim sembarang tapi perilaku jauh menyimpang (kazu beb El-Ibnun)

Wallahu A’lam

[1]  Shahih Bukhori hadits ke 2685 dan Shahih Muslim hadits ke 1153

[2]  Ibrahim al Bajuri, Hasyiah al Bajuri, (Surabaya : Haramain), Juz 1 hlm 295

[3]  Shahih Muslim hadits ke 1164

[4]  As-Syaukani, Nailul Authar, (Cairo: Dar al-Hadits), Juz 4 hlm 602

[5]  Muhammad az Zuhaily, al Mu’tamad Fi al Fiqhi as Syafi’i, (Damaskus : Dar al Qolam), Juz 2 hlm 209

[6]  Wahbah az Zuhaily, Mausu’ah al Fiqh al Islami wa al Qadhaya al Mu’ashirah, (Damaskus : Dar al Fikr), Juz 2 hlm 557

[7]  Shahih Muslim hadits ke 1151

[8]  Thabrani, Al Kabir, hlm 148

[9]  (QS. Ali Imran : 110)

[10] Musthafa al Bugho, Musthafa al Khin dan Ali as Syarihi, al Fiqh al Manhaji ‘Ala Madzhabi al Imam as Syafi’i, (Damaskus : Dar al Qolam) Juz 1 hlm 355

[11] Shahih Bukhari hadits ke 6502

muhammad

Related Posts
Leave a reply